Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Pulang ke rumah


__ADS_3

Di kampung. Santi baru menyadari jika Sasa tidak terlihat di rumah seharian, bahkan saat sore menjelang, dia tidak melihat Sasa di mana pun. Wanita itu pun langsung bertanya ke sang suami yang baru saja pulang dari ladang.


“Pak, Sasa ga ikut Bapak ke ladang?” tanya Santi.


“Nggak,” jawab Abdullah. Pria itu tidak langsung mengatakan jika Sasa pergi ke kota.


“Lah, dia ke mana? Di rumah tidak ada,” ucap Santi begitu cemas.


Wanita itu masuk rumah untuk mencari ponselnya, sedangkan Abdullah memilih pergi ke kamarnya dan mandi agar Santi tidak bertanya kepadanya saat tahu kebenarannya.


“Kamu di mana? Sore begini belum pulang!” Santi langsung menyembur Sasa dengan pertanyaan ketika putrinya itu sudah menjawab panggilannya.


“Di kota, aku mau kerja sama Joya,” jawab Sasa dari seberang panggilan.


“Apa?” Santi begitu emosi hingga dada terlihat naik turun mengetahui putrinya pergi ke kota.


“Pulang sekarang!” perintah Santi.


“Nggak mau! Joya sudah kasih aku pekerjaan, aku mau kerja di sini. Aku juga ga mau dijodohkan, kalau pulang pasti Ibu akan memaksaku menikah!” tolak Sasa dari seberang panggilan.


“Nisa! Kamu mau membangkang!” Santi terlihat begitu emosi, bahkan bola matanya kini membulat sempurna. “Apa gara-gara pemuda kota itu memengaruhimu, sehingga kamu melawan ibu?” Suara Santi terdengar menggelegar.


“Jangan nyalahin Rion, dia tidak salah apa-apa. Semua yang aku lakukan karena Ibu yang terus mengekang dan memaksa menjodohkanku. Pokoknya aku mau kerja dulu, ga mau mikir dijodohkan.”


Santi sangat terkejut dengan ucapan Sasa. Makin terkejut karena gadis itu mengakhiri panggilannya.


“Nisa!” teriak Santi emosi hingga tekanan darahnya naik karena mengetahui putrinya kabur dari rumah.


**

__ADS_1


Hari berikutnya. Sasa berada di mobil yang sama dengan Kenzo dan Joya, dia sudah diterima bekerja di perusahaan Joya dan kini berangkat bersama dua orang itu.


“Yakin dan siap bekerja?” tanya Kenzo kepada Sasa. Dia melirik kakak sepupu Joya itu dari pantulan spion yang terdapat di bagian tengah.


“Siaplah, Mas. Kalau hanya jadi tukang bersih-bersih mah gampang. Di rumah juga sering,” jawab Sasa, meski dirinya hanya bekerja sebagai cleaning service tapi Sasa tidak merasa malu. Ia sadar diri dengan ijazah yang dimiliki.


“Baguslah, aku harap kamu bisa bekerja dengan baik,” ujar Kenzo.


“Apa kamu sudah memberitahu Rion?” tanya Joya pada Sasa.


“Sudah, dia bilang tidak apa-apa asal aku mau,” jawab Sasa dengan senyum penuh kebahagiaan.


Joya mengangguk-angguk, merasa senang karena baik Rion maupun Sasa mau menerima status juga apa yang dimiliki mereka satu sama lain.


“Tapi dia tadi bilang ambil libur hari ini, aku tidak tahu dia mau ke mana,” ucap Sasa kemudian, sedih karena Rion berkata akan ambil cuti dua atau tiga hari.


“Libur?” Joya menoleh Sasa sebelum kemudian beralih menatap Kenzo.


Sasa kemudian diam, meski Rion berkata akan libur secara tiba-tiba, tapi Sasa tidak ingin berpikiran buruk terhadap pemuda itu. Dia percaya kepada Rion, karena pemuda itu meminta dirinya menunggu.


**


Rion ternyata pulang ke rumah orangtuanya setelah sekian tahun tidak pulang sama sekali. Pemuda itu berdiri di depan pagar besi yang tidak terlalu tinggi, cat pagar itu sebagian sudah mengelupas, halaman rumah itu tidak terlalu lebar tapi terlihat tertata rapi. Ia menatap bangunan yang ada di hadapannya, bangunan tua bernuansa kuno ala rumah Belanda.


Rion menghela napas panjang, terlihat ragu untuk masuk ke halaman yang sudah tidak didatanginya hampir tujuh tahun itu.


“Mas Rion?” Seorang wanita paruh baya muncul di belakang Rion, memperhatikan pemuda itu untuk memastikan apakah benar itu Rion.


Rion menoleh, hingga sedikit terkejut melihat siapa yang sudah menatapnya.

__ADS_1


“Iya, Mbok.” Rion tersenyum canggung saat melihat wanita itu. Wanita yang sudah ikut keluarganya bertahun-tahun dan dulu merawat dirinya saat kecil.


“Ya Gusti, akhirnya Mas Rion pulang.” Wanita itu menangis histeris, bahkan langsung memeluk Rion.


Rion menghela napas pelan, lantas membalas pelukan wanita paruh baya itu.


“Mbok kangen sama kamu, Mas. Ibu juga kangen. Kenapa baru pulang?” Wanita itu melepas pelukan, meraba wajah pemuda itu seakan tak percaya jika pemuda yang dulu dirawat dan dijaganya itu pulang setelah sekian tahun.


Rion tidak bisa berkata-kata, hanya memilih diam dan menatap wanita itu menangis.


“Bu! Mas Rion pulang!” teriak wanita itu.


Rion gelagapan saat mendengar wanita itu berteriak, seolah ingin lari tapi bingung harus ke mana.


“Mbok, jangan teriak! Nanti kalau Bapak dengar gimana?” tanya Rion kebingungan.


Meski dirinya tahu jika mungkin ayahnya takkan menerima kepulangannya di sana, tapi entah kenapa Rion sangat ingin pulang.


“Ya, biar mereka tahu kamu pulang, Mas,” jawab wanita itu santai. Ia bahkan langsung merangkul lengan Rion untuk mengajak masuk.


“Mbok, aku beneran belum siap ketemu Bapak,” ucap Rion seraya menahan agar wanita itu tak mengajaknya masuk.


Wanita paruh baya itu mengerutkan dahi, sebelum kemudian menoleh pada anak majikannya itu.


“Lah, terus Mas Rion pulang buat apa? Hanya lihatin rumah, begitu?” tanya wanita itu saat melihat Rion yang cemas dan panik.


“Bukan begitu, Mbok. Aku hanya masih belum siap ketemu Bapak.”


Saat keduanya sedang berdebat tentang Rion tak mau pulang, ternyata dari dalam rumah keluar wanita paruh baya berumur sekitar hampir enam puluhan. Wanita itu menatap Rion yang berada di depan gerbang, sampai bola matanya berkaca saat sadar siapa yang ada di sana.

__ADS_1


Namun, saat wanita itu hendak melangkah untuk mendekat, seorang pria yang tak lain adalah sang suami melangkah terlebih dahulu, membawa tongkat di tangan dan berjalan cepat ke arah gerbang rumahnya.


“Anak kurang ajar! Ngapain kamu pulang?” Suara pria itu begitu lantang, pria berbadan tegap dan gagah itu mengacungkan tongkat yang dipegang ke arah Rion.


__ADS_2