Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Gengsi tapi mau


__ADS_3

Danu duduk di meja makan sambil menatap menu makanan yang ada di meja. Ia menyangga dagu dengan kepalan dua tangan, belum menyentuh sama sekali makanan yang disiapkan oleh Dewi pagi itu.


“Bapak kenapa tidak makan? Sakit?” tanya Dewi cemas karena tak biasanya Danu menunda sarapan.


Danu menghela napas kasar, sebelum kemudian mengurai kepalan tangan dan menyandarkan punggung sedikit kasar.


“Sambal semalam masih ada?” tanya Danu kemudian.


Dewi terperangah hingga melebarkan bola mata, tak menduga jika suaminya akan menanyakan sambal buatan Sasa.


“Sudah habis, semalam tinggal sedikit dimakan simbok,” jawab Dewi.


Danu mengetukkan jari ke meja, sebelum kemudian berkata, “Nanti sore minta Rion pulang sama pacarnya itu, namanya siapa?”


“Sasa.” Dewi benar-benar keheranan dengan sikap Danu.


“Ya itu.” Danu membenarkan. “Minta Sasa buatin sambal buat Bapak,” imbuhnya kemudian.


Dewi terkejut dengan mulut menganga, tak menyangka jika sang suami akan menyukai sambal buatan Sasa, sedangkan awalnya Dewi takut jika Danu tak cocok dengan sambal itu.


“Nanti aku telepon Rion buat datang,” balas Dewi pada akhirnya.


Danu tidak membalas ucapan Dewi, tapi memilih memakan sarapan seadanya meski sedikit tidak berselera.


**


“Ada apa, Bu?” tanya pembantu rumah Dewi karena tadi melihat Dewi dan Danu berbincang soal Rion.


“Bapakmu itu, aneh.” Dewi ke dapur untuk meletakkan piring kosong.


“Lah, Bapak aneh bagaimana lagi, Bu?” tanya pembantu rumah Dewi.


Dewi menoleh ke arah ruang tamu di mana Danu sudah duduk di sana setelah makan, sebelum kemudian terlihat sedikit mencondongkan tubuh ke arah pembantunya dan berbisik.

__ADS_1


“Bapak itu gengsi. Semalam tidak mau mengakui kalau sambal buatan Sasa enak. Eh … nih pagi hari nanyain sambal itu lagi,” bisik Dewi.


Pembantu rumah Dewi terkejut, hingga menatap majikannya dengan rasa tidak percaya.


“Lah, terus bagaimana, Bu? ‘Kan sudah habis?”


“Nah itu, dia bilang nanti sore minta Rion bawa pacarnya lagi ke rumah buat bikinin sambal. Lah, dikira pacarnya Rion ini koki pribadi, minta datang hanya buat bikinin sambal. Dia tuh gengsi tapi mau.”


**


“Kita mau ke mana?” tanya Sasa saat pulang kerja.


Sasa memperhatikan jalan, melihat jika jalan itu bukanlah arah menuju apartemen Joya.


“Tadi siang, Ibu telepon. Beliau minta kita datang ke rumah,” jawab Rion seraya fokus pada jalanan.


Sasa terkejut mendengar jawaban Rion, hingga menatap pemuda itu dengan rasa gugup.


Bertemu Dewi bukanlah sebuah masalah, tapi Danu? Sasa masih takut bertemu pria itu.


Rion menoleh sekilas pada Sasa, melihat kekasihnya itu ketakutan. Apalagi Sasa tampak mencengkeram seat belt begitu erat, sama seperti saat mereka datang pertama kali kemarin.


“Tenang saja, Ibu bilang tidak ada masalah. Hanya ingin kita datang saja,” jawab Rion kemudian.


Sasa memasang wajah memelas, bertemu Danu bak berhadapan dengan guru galak semasa SMA. Tak berkutik dan selalu salah setiap melakukan sesuatu. Namun, Sasa pun harus bisa dan menghadapi Danu, karena komitmen yang dibuatnya untuk bisa bersama Rion. Jangan sampai Sasa bertahan melawan ibunya, tapi malah mundur dalam menghadapi Danu, bukankah itu sama saja dengan sia-sia.


“Apa kita perlu membeli sesuatu?” tanya Sasa kemudian.


“Beli apa?” tanya Rion balik, menoleh sekilas pada Sasa, sebelum kembali fokus pada jalanan yang sedikit macet.


“Ya apa, gitu. Buah atau roti, atau apalah. Kemarin saat datang tidak bawa apa-apa, masa sekarang juga tidak membawa apa-apa,” jawab Sasa.


Rion terlihat berpikir, kemudian mengangguk tanda setuju jika memberikan sesuatu untuk orang rumah. Ia pun mencari toko buah di sekitar jalur yang mereka lalui, hingga Rion membelokkan mobil ke sebuah toko buah yang tak terlalu besar. Mereka pun memilih buah untuk dibawa ke rumah Danu.

__ADS_1


“Ini saja?” tanya Rion ketika Sasa selesai memilih.


“Iya, apa menurutmu butuh yang lain?” Sasa memperhatikan keranjang yang dibawa Rion.


“Ini sudah cukup,” balas Rion, lantas mengajak Sasa menuju kasir.


Buah itu ditimbang dan dihitung harganya. Rion mengeluarkan dompet untuk membayar belanjaan mereka, tapi Sasa langsung meletakkan lembaran uang ke meja kasir.


“Kenapa kamu yang bayar?” tanya Rion keheranan. Ingin mengambil uang Sasa dari meja, tapi langsung dicegah oleh gadis itu.


“Tidak apa-apa, Rion,” jawab Sasa, mencegah Rion yang ingin mengambil uangnya. “Aku yang bertamu di sana, sudah seharusnya aku yang bayar bawaan untuk mereka,” imbuhnya kemudian.


“Tapi apa kamu punya uang lebih? Itu simpan saja untuk kebutuhanmu,” ujar Rion yang tak ingin Sasa kehabisan uang, sedangkan gajian masih lama.


Kasir toko sampai bingung melihat Sasa dan Rion, tidak berani mengambil uang di meja karena Rion masih menahan uang itu.


“Ada kok, lagian Joya tidak membiarkanku kehabisan uang. Sebelum pergi dia meninggalkan kartu debitnya. Kalau uang ini memang tabunganku, jadi nggak apa-apa dipakai untuk beliin buah orangtuamu,” balas Sasa meyakinkan.


Sasa menyingkirkan tangan Rion dari uang yang diletakkannya tadi, lantas menyodorkan ke kasir untuk pembayaran.


Rion memperhatikan Sasa, sungguh gadis itu tidak perhitungan sekali dengannya atau orangtuanya. Akhirnya Rion pun mengalah dan membiarkan Sasa membayar.


Setelah selesai, Rion langsung mengambil kantong berisi buah dan keluar menuju mobil bersama Sasa.


“Besok, kalau kamu butuh uang, jangan sungkan minta padaku,” ujar Rion sambil memasukkan buah ke bagasi.


“Memangnya aku butuh buat apa, belanja berlebih juga tidak pernah,” balas Sasa dengan nada candaan.


“Ya, siapa tahu kamu benar-benar butuh,” ujar Rion lagi, menutup pintu bagasi dan menatap Sasa yang berdiri di sampingnya.


“Jika aku minta uang buat beli rumah, memangnya kamu bakal beri?” tanya Sasa lagi-lagi bercanda.


“Aku belikan kalau kamu mau,” jawab Rion santai.

__ADS_1


__ADS_2