Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Restu Danu


__ADS_3

Di dapur, Sasa membantu Dewi memasak, membuat sambal yang sama dengan kemarin.


“Maaf ya, jadi ngrepotin kamu,” kata Dewi yang tak enak hati.


“Tidak apa-apa, Tan. Lagi pula juga pulang kerja nggak ada kerjaan lain,” balas Sasa menoleh dengan senyum merekah.


Dewi memperhatikan Sasa yang sedang membuat sambal, sedangkan wanita itu menggoreng ikan.


“Kamu di kota, apa orangtuamu nggak cemas, pasalnya kamu ini masih sangat muda,” ujar Dewi ingin mengorek informasi tentang Sasa.


Sasa berhenti menghaluskan sambal, tersenyum getir sebelum kemudian kembali menggerakkan tangan.


“Sebenarnya Ibu tidak setuju, hanya saja aku yang bandel dan nekat ke sini,” balas Sasa dengan takut-takut.


“Kenapa?” tanya Dewi penasaran.


“Soalnya ….” Sasa berhenti bicara, tak bisa mengatakan jika dirinya kabur karena ingin dijodohkan.


Dewi melihat jika Sasa seperti berat bercerita, membuat wanita itu akhirnya mencoba memahami kondisi Sasa.


“Tidak cerita tak apa, jangan dipaksa jika belum siap,” ucap Dewi kemudian.


Sasa menoleh dengan senyum lebar, sebelum kemudian mengangguk dan melanjutkan yang sedang dikerjakan.


Saat sambal sudah siap dan lauk pun matang, mereka menyajikan di meja makan. Dewi memanggil Danu dan Rion untuk makan, mereka pun kini duduk bersama di meja makan untuk kedua kalinya.


Danu melirik Sasa yang duduk dengan sedikit menundukkan kepala, sedangkan Dewi sibuk mengambilkan nasi dan lauk untuk Danu.

__ADS_1


“Nih, katanya tadi pagi dan siang nggak selera makan karena tidak ada sambal ini, sekarang sudah ada, jadi harus makan banyak,” cerocos Dewi karena terheran-heran dengan sikap Danu yang seperti anak kecil susah makan siang tadi.


Danu langsung melotot mendengar istrinya terus bicara, bahkan sampai berdeham untuk mengurai rasa canggungnya.


Kini Rion menahan tawa, ayahnya tadi tak mengakui jika menginginkan Sasa datang untuk membuat sambal, kini Dewi malah membuka kebohongan Danu, membuat Rion sampai ingin menggelengkan kepala.


Mereka pun akhirnya memilih makan malam bersama, Danu tampak lahap makan membuat Dewi dan yang lainnya keheranan. Mereka makan dengan tenang, tidak ada perbincangan atau pertanyaan di meja makan itu.


Setelah selesai makan. Dewi mengajak Rion dan Sasa duduk bersama, tak mungkin juga membiarkan keduanya langsung pulang setelah makan.


Danu masih saja memasang wajah datar, tapi matanya sesekali melirik Sasa yang duduk bersama Rion.


“Rion bilang kalau kalian ingin menjalin hubungan yang serius, apa itu benar?” Pertanyaan itu terlontar dari mulut Danu, membuat Rion dan yang lain terkejut.


Sasa langsung menoleh sekilas pada Rion, bingung harus menjawab apa karena jelas pertanyaan itu ditujukan untuknya.


“Benar, kami memang bertekad untuk menjalin hubungan yang serius,” jawab Sasa pada akhirnya.


Danu langsung menyandarkan punggung mendengar jawaban Sasa, tatapan pria itu terus tertuju pada gadis yang disukai putranya.


“Meski kalian ingin menjalin hubungan serius, tapi bukannya orangtuamu tidak suka sama putraku?” tanya Danu seolah sedang menginterogasi Sasa.


“Pak!” Rion terkejut ayahnya bertanya sampai membahas orangtua Sasa.


Danu langsung mengangkat tangan dan meminta Rion diam, tak ingin jika Rion ikut menjawab pertanyaan untuk Sasa.


Dewi terkejut mendengar pertanyaan Danu, mungkinkah ini alasan Sasa tadi diam dan tak menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Sasa semakin menundukkan kepala, jemarinya tampak saling meremas karena takut menatap Danu. Dalam hatinya sudah begitu ketakutan, mungkinkah Danu kesal karena orangtuanya tak menyetujui hubungan mereka, juga karena ibunya tak menyukai Rion.


“Saya tahu, karena itu saya mau membuktikan. Membuktikan jika memilih Rion adalah hal baik dan benar,” jawab Sasa pada akhirnya.


Rion menatap Sasa, melihat kekasihnya itu sedikit tertekan dengan pertanyaan Danu.


Dewi menoleh sang suami, merasa suaminya bertanya terlalu serius. Ia hanya kasihan pada Sasa jika akhirnya malah takut dengan mereka.


Danu menghela napas kasar, sebelum kemudian berkata, “Jika memang kalian serius, sudah sepatutnya membuktikan. Jika kalian bisa membuktikan mampu dan sanggup bertahan dengan hubungan kalian hingga ke jenjang selanjutnya, maka Bapak pun akan merestui hubungan kalian.”


Sasa dan Rion langsung menatap Danu bersamaan, tak menyangka jika pria itu akan menyetujui hubungan mereka.


Dewi juga sangat terkejut, ketakutannya tidak terbukti karena sang suami tidak menentang hubungan keduanya.


“Bapak serius?” tanya Rion memastikan.


“Kamu kira bapakmu ini suka bercanda!” Danu menjawab dengan memasang wajah garang.


Tak peduli ayahnya galak atau terlihat kejam, bagi Rion pria itu selalu menjadi terbaik. Rion langsung bangun dan mencium punggung tangan pria itu, senang karena akhirnya ada keputusan yang diambilnya, disetujui oleh Danu.


“Terima kasih, Pak,” ucap Rion penuh kebahagiaan.


Danu menatap Rion yang dianggap terlalu berlebihan, sebelum kemudian melirik Sasa yang duduk dengan senyum di wajah tegang.


“Terima kasih sama Sasa, kalau dia tidak bisa bikin sambal enak, maka Bapak juga tidak mau mempertimbangkan untuk setuju dengan hubungan kalian,” balas Danu kemudian.


“Lah … Bapak setuju karena sambal,” ucap Dewi terheran-heran.

__ADS_1


“Ya, ada yang lainnya juga, tapi sambal juga termasuk,” balas Danu santai.


Sasa menahan tawa sampai menutup mulutnya, Dewi menepuk jidat karena sikap suami yang kekanak-kanakkan, sedangkan Rion cukup bahagia karena bisa mendapatkan restu dari orangtuanya, kini tinggal memikirkan cara untuk mendapatkan restu orangtua Sasa.


__ADS_2