
Rion akhirnya mau tinggal demi sang ibu yang masih sangat merindukannya, meski dia pun merasa was-was jika ayahnya kembali marah dan mengayunkan tongkat ke arahnya. Tegas, keras, dan berpendirian kuat, itulah Danu, membuat anak-anaknya takut membangkang dan selalu mengikuti semua ucapan dan arahan pria itu. Mungkin hanya Rion saja yang membangkang, hingga akhirnya membuat pria itu murka dan marah selama bertahun-tahun lamanya.
“Simbok sudah masak makanan kesukaanmu dulu, entah kamu sudah berganti selera atau belum, Ibu harap kamu suka,” ujar Dewi saat melihat Rion keluar dari kamar.
“Apa pun yang Ibu dan Simbok siapkan, Rion pasti suka,” balas pemuda itu sambil menutup pintu kamar.
Dewi mengangguk senang, lantas merangkul lengan putranya itu dan mengajak menuju meja makan. Saat sampai di ruang makan, Rion menengok ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Danu.
“Bapak mana?” tanya Rion karena tak biasanya sang ayah datang terlambat untuk makan malam.
“Mungkin masih marah,” jawab Dewi lirih. Ia sendiri masih kesal karena Danu sangat keras kepala.
Rion merasa bersalah karena telah membuat Dewi dan Danu bertengkar. Ia menengok ke arah kamar sang ayah, sebelum kemudian menatap Dewi yang sedang membuka piring untuknya.
“Rion panggil Bapak dulu, Bu.” Rion kembali berdiri setelah sebelumnya sudah duduk dengan tenang. Ia hanya tak ingin jika kepulangannya membuat renggang hubungan antara kedua orangtuanya.
“Nggak usah, Bapakmu itu keras kepala. Kalau kamu manggil dia, yang ada nanti kena pukul lagi.” Dewi mencegah Rion untuk memanggil Danu.
Rion bisa melihat kekecewaan di mata Dewi, hingga kemudian tersenyum tipis dan meraih tangan Dewi yang sedang mengambilkan makan untuknya.
“Meski Bapak galak dan benci sama Rion, tapi tetap saja dia Bapak yang pernah Rion banggakan. Biar Rion panggil Bapak dulu, bagaimanapun semua ini juga kesalahan Rion, Bu.” Pemuda itu memberikan senyum hangat, meyakinkan Dewi jika dirinya bisa membujuk Danu untuk makan malam bersama mereka.
Dewi menatap Rion, meski seorang laki-laki tapi Dewi tahu jika Rion berhati lembut, sebab itu putranya menolak menjadi seorang tentara. Ia akhirnya mengangguk tanda mengizinkan jika memang Rion berkeinginan membujuk sang ayah. Mungkin sudah waktunya membiarkan pemuda itu menghadapi masalah dengan ayahnya sendiri.
Rion memberanikan diri mendatangi kamar ayahnya. Ia kini sudah berdiri di depan pintu dan mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Rion menarik napas panjang dan menghela perlahan, sebelum kemudian meyakinkan hati jika itu adalah sebuah pilihan, lantas mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
“Pak, ini Rion,” ucap pemuda itu setelah mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari sang ayah, Rion pun kembali mengetuk pintu dan bicara. “Rion ingin bicara dengan Bapak.”
Dewi dan pembantu rumahnya melihat dari kejauhan, merasa takut dan cemas jika Danu kembali mengamuk.
Rion terdiam dan menundukkan kepala saat tak ada jawaban dari ayahnya, hingga pada akhirnya mencoba memberanikan diri untuk membuka pintu dan masuk. Ia harus menyelesaikan semuanya malam ini juga, hanya ingin berbaikan dengan sang ayah, sebelum dirinya benar-benar menjalin hubungan serius dengan Sasa.
“Pak!” panggil Rion saat sudah membuka pintu dan berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Rion melihat Danu masih duduk di kursi yang menghadap ke jendela. Ia pun berjalan perlahan untuk mendekat sebelum kemudian berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki Danu.
‘Pak, Rion pulang karena ingin minta maaf, bukan karena ingin membuat Bapak marah. Rion benar-benar minta maaf karena sudah membuat Bapak kecewa, tapi Rion juga punya keinginan sendiri, Pak. Rion memiliki cita-cita sendiri,” ujar Rion panjang lebar meminta maaf.
”Bukankah cita-citamu lebih penting, ya sudah sana banggakan cita-citamu itu, buat apa peduli dengan pria tua yang sudah cacat ini.” Suara Danu terdengar tegas dan keras. Ia bicara tanpa melihat ke arah Rion.
Rion merasa bersalah jika mengingat tentang kondisi fisik ayahnya. Namun, ia juga memiliki keinginan sendiri yang harus diwujudkan.
“Bukankah Bapak juga memiliki cita-cita? Bapak sudah mewujudkannya, apakah Bapak juga tidak mengizinkan Rion mewujudkan cita-cita Rion sendiri?” tanya pemuda itu lagi.
Danu terlihat mengepalkan telapak tangan, hingga menggebrak meja begitu keras.
Rion sangat terkejut sampai mengedikkan bahu, bahkan kelopak matanya sampai terpejam.
“Hidupmu, bukan lagi urusanku. Lakukan apa yang kamu sukai, tidak usah memikirkan perasaanku!” bentak Danu. Pria itu masih tak mau menoleh Rion.
Rion menundukkan kepala, berpikir tentang kondisi yang dihadapi sekarang. Jika ia mengikuti ego seperti beberapa tahun lalu, maka yang ada hubungannya dengan sang ayah akan semakin buruk. Rion memberanikan diri mendekat, sebelum kemudian berlutut di samping kursi sang ayah tanpa melihat wajah pria tua itu.
“Rion tidak bermaksud melukai hati Bapak, hanya ingin agar Bapak tahu kalau anak-anak Bapak pun memiliki keinginan masing-masing. Rion benar-benar minta maaf, Pak. Rion tidak bermaksud membangkang atau jadi anak durhaka,” ujar Rion mencoba membujuk ayahnya.
“Setiap orangtua pasti punya pengharapan untuk anak-anaknya, kamu anak laki satu-satunya yang kami miliki. Aku menumpukan banyak harapan padamu, tapi apa yang kamu berikan? Kamu memilih mencintai mesin kaca itu dari pada keinginan Bapakmu ini!” Danu bicara seraya memalingkan wajah dari arah Rion berlutut.
“Rion minta maaf, Pak. Rion salah dengan mengabaikan keinginan Bapak, tapi dulu Rion hanya ingin Bapak juga mendukung keinginan Rion. Jika Bapak memang ingin terus membenci Rion yang membangkang, Rion ikhlas. Rion memang tidak berharap mendapat pengampunan, tapi hidup bertahun-tahun tanpa bisa mengucapkan kata maaf itu sangat menyiksa. Rion sekali lagi minta maaf, benar-benar minta maaf.”
Rion menjatuhkan kening di punggung tangan sang ayah yang digenggamnya, sebelum kemudian mencium dengan sedikit air mata yang membasahi kulit keriput karena usia yang semakin tua itu.
Rion tidak berharap ayahnya bisa memaafkan, karena sadar bagaimana kekecewaan yang dirasakan oleh pria itu. Ia lantas berdiri setelah mencium tangan Danu, mengusap sedikit buliran kristal bening yang sempat jatuh tanpa izin.
“Rion akan pergi besok, tak ingin jika kehadiran Rion di sini membuat Bapak tidak nyaman. Terima kasih karena selama ini Bapak selalu menyayangi Rion, semoga suatu saat nanti Rion bisa membalas budi semua yang sudah Bapak beri.” Rion bicara tanpa bisa melihat wajah sang ayah.
Danu memang sengaja memalingkan wajah karena tak ingin melihat Rion, membuat putranya itu tak bisa melihat ekspresi wajah yang sebenarnya.
Rion menghela napas pelan, sebelum kemudian membalikkan badan untuk pergi dari ruangan itu. Baru saja berjalan dua langkah, Rion berhenti kembali karena suara ayahnya.
“Jika kamu keluar lagi dari rumah ini tanpa seizinku, maka aku tidak akan membiarkanmu kembali lagi atau menganggap aku ini Bapakmu!”
__ADS_1
Rion terdiam, tak menoleh atau membalas perkataan Danu.
“Kamu ini benar-benar anak durhaka! Merasa Bapakmu ini marah, lantas tak mau meminta maaf dan pergi begitu saja! Kamu kira Bapak bisa hidup tenang selama ini?” Danu akhirnya mengeluarkan apa yang dirasakannya selama ini.
Rion terkejut dengan ucapan Danu, tak paham dengan maksud yang dibicarakan ayahnya itu.
“Kamu lebih muda, kenapa tidak berniat datang dan menjenguk Bapakmu ini? Apa kamu pikir kalau Bapak marah, lalu akan terus marah?”
Kalimat lanjutan dari Danu membuat Rion memutar badan. Ia melihat sang ayah yang masih duduk memunggungi dirinya, melihat Danu yang memegangi kening.
“Jika Bapak punya ego yang tinggi, kenapa kamu tidak datang untuk mengalah dan menurunkan ego itu? Kenapa kamu malah diam dan tidak mau menengok pria tua cacat ini?” Suara Danu terdengar berat, bahkan bahu pria itu sedikit bergetar.
Rion semakin terkejut, hingga sadar jika sang ayah sepertinya menangis.
“Rion tidak bermaksud seperti itu, Pak. Rion hanya takut Bapak semakin kecewa kalau Rion pulang,” balas Rion dengan sedikit rasa takut.
Danu langsung berdiri mendengar ucapan Rion, membalikkan badan ke arah putranya itu dengan mata merah dan sedikit basah di kelopak mata.
“Kamu memang benar-benar mau jadi anak durhaka! Kamu sengaja tidak pulang karena benci sama Bapak, ‘kan! Kamu tahu Bapak seperti apa, lalu bagaimana bisa kamu menyimpulkan kalau Bapak akan terus marah padamu?” Danu menatap Rion dengan bola mata semakin berkaca.
Dia hanyalah manusia biasa yang juga memiliki rasa sedih, sekuat apa pun pria itu terlihat, tapi pada kenyataannya bisa menangis saat merasa takut kehilangan putra yang selalu diharapkannya.
“Pak, Rion tidak bermaksud seperti itu.” Rion menatap nanar sang ayah yang terlihat ingin menangis.
Danu mendekat ke arah Rion berdiri, hingga mengangkat tangan dan memukul lengan serta punggung putranya itu secara bertubi.
Rion tidak mengelak, menerima pukulan itu jika memang bisa meredakan amarah sang ayah.
“Anak durhaka! Kurang ajar! Kamu memang berniat melupakan Bapak! Kamu tidak sayang sama Bapakmu ini!” umpat Danu berulang dengan tangan masih terus memukul tubuh Rion.
Rion tidak melawan, hanya sesekali memejamkan mata karena merasakan sakit di tubuh.
Sampai Danu berhenti memukul dan sebuah pelukan mendarat pada tubuh yang baru saja digunakan untuk melampiaskan kekesalannya itu. Ia memeluk erat tubuh yang dulu sering digendong dan dibanggakannya itu.
“Bapak minta maaf,” ucap Danu sambil memeluk Rion.
__ADS_1
Rion terkejut dengan apa yang dilakukan dan diucapkan Danu, hingga pemuda itu membalas pelukan ayahnya.
“Bapak jangan minta maaf, Rion yang salah, Pak.”