
“Sa, ini kasih ke Rion biar dia agak tenang,” kata Sarah sambil memberikan secangkir teh ke Sasa.
Setelah Santi tetap tidak setuju dengan hubungan Sasa dan Rion, akhirnya Sarah mengajak muda-mudi itu pulang ke rumahnya.
“Baik, Bi.”
Sasa membawa cangkir itu ke kamar tamu yang disediakan Sarah untuk beristirahat Rion. Rion dan Sasa tidak mungkin langsung pulang sehingga akan tinggal sejenak untuk melepas penat setelah perjalanan dari kota.
Saat masuk kamar, Sasa melihat Rion yang duduk di tepian ranjang. Dia pun mendekat dan duduk di samping kekasihnya itu.
“Minum, mumpung masih hangat,” kata Sasa sambil menyodorkan cangkir di tangan.
Rion menoleh, kemudian mengulas senyum tipis. Dia pun mengambil cangkir dari tangan Sasa, kemudian menyesap teh yang masih mengepulkan uap panas.
“Terima kasih,” ucap Rion setelah minum.
Sasa memandang Rion, melihat kekecewaan di wajah pemuda itu. Dia pun mengambil cangkir dari tangan Rion, lantas meletakkan ke meja sebelum kemudian kembali duduk di samping pemuda itu.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Sasa tidak enak hati karena perlakuan Santi.
Rion menoleh Sasa, kemudian mengangguk dengan senyum kecil di wajah.
Sasa tahu jika Rion pasti sangat kecewa. Pemuda itu sudah menunjukkan semua yang dimiliki demi meminangnya, tapi apalah daya semua itu tetap tidak bisa merubah pemikiran sang ibu. Sasa sedih melihat Rion diperlakukan seperti itu, hingga merangkul lengan Rion dan menyandarkan kepala di lengan kekasihnya itu.
“Rion, maaf karena hubungan kita terus ditentang,” ucap Sasa penuh penyesalan.
Rion terkejut saat Sasa menyandarkan kepala di lengannya, hingga melirik kekasihnya itu yang ikut sedih karena perlakuan buruk yang didapatnya tadi.
__ADS_1
“Tidak masalah, ini sudah resiko,” kata Rion mencoba menguatkan hatinya sendiri, meski merasa sakit saat Santi kembali menghina dirinya.
Sasa bingung harus bagaimana menghibur pemuda itu, Rion sudah sepenuh hati hendak meminang dirinya, tapi lagi-lagi sang ibu dengan berjuta gengsi menolak dengan alasan yang tak masuk akal. Sasa tidak tega melihat Rion yang tampak murung, meski pemuda itu berkata jika baik-baik saja.
Sasa mengangkat kepala dari lengan Rion, hingga melihat ekspresi wajah sang kekasih yang memang banyak pikiran.
“Rion,” panggil Sasa dengan suara lembut karena Rion mengalihkan pandangan darinya.
“Ya.” Rion menoleh Sasa hingga wajah mereka hanya berjarak satu jengkal.
“Aku akan tetap memilihmu, biarlah aku dikutuk jadi anak durhaka, aku akan memperjuangkanmu,” ucap Sasa menatap manik mata Rion begitu dalam.
Rion tersenyum dan mengangguk, hingga hal yang tak diduga dilakukan Sasa. Gadis itu mengecup bibirnya, membuat Rion kehilangan kesadaran sejenak karena begitu syok.
“Apa ini?” tanya Rion dengan wajah merah.
Rion sampai terbatuk mendengar jawaban Sasa, menyukai apa yang dilakukan oleh gadis itu. Keduanya tersenyum dan tampak malu-malu, hingga terdengar suara ketukan pintu. Keduanya pun menoleh dan melihat Sarah yang ada di ambang pintu.
“Sa, Bapakmu di ruang tamu.” Sarah datang untuk memanggil Sasa.
“Bapak?” Sasa mengerutkan dahi. “Mau apa?” tanya Sasa cemas, takut jika Abdullah datang karena ingin membawanya pulang.
Sarah mengedikkan kedua pundak, tidak tahu maksud kedatangan kakak iparnya itu karena hanya berkata jika ingin bertemu Sasa.
Sasa dan Rion saling pandang, seolah sedang saling menebak apa yang diinginkan Abdullah.
**
__ADS_1
Rion dan Sasa menemui Abdullah, mereka duduk berhadapan dengan pria paruh baya itu.
Abdullah memandang Sasa kemudian Rion secara bergantian, Sarah dan Abimayu pun ada di sana untuk menemani.
“Bapak bukannya tidak setuju dengan keputusanmu, Sa. Tapi kamu tahu sendiri jika ibumu sangat keras jika sudah mengambil keputusan.” Abdullah pun membuka perbincangan.
“Meski Ibu tetap bersikukuh tidak setuju, aku tetap akan pada keputusanku, Pak. Sasa hanya ingin diberi satu kesempatan saja untuk memilih, tapi Ibu tidak pernah memberikan itu. Jika Bapak datang hanya untuk mencegahku pergi lagi, maka aku akan memberontak agar bisa pergi,” ujar Sasa menanggapi ucapan Abdullah.
Abdullah menghela napas kasar, tampaknya ibu dan anak itu memang sama-sama kerasnya.
“Bapak tidak akan mencegahmu, jika Bapak berniat seperti itu, sudah sejak dari pertama kamu mau pergi tidak akan mengizinkan. Bapak hanya ingin yang terbaik buat kamu, sebab itu Bapak ke sini sekarang. Meski ibumu belum merestui kalian, tapi Bapak akan memberikan restu.”
Ucapan Abdullah membuat Sasa sangat terkejut, ditatapnya pria yang selama ini memang selalu membelanya. Rion pun tak menyangka jika akan mendapatkan restu dari ayah Sasa, setidaknya memiliki satu poin untuk mendukung hubungannya dengan gadis yang dicintainya itu.
Sarah dan Abimayu juga ikut lega, tahu kalau ipar mereka itu tak sekeras Santi.
Sasa sangat bahagia, hingga langsung berdiri dan memeluk Abdullah dari samping.
“Terima kasih Bapak, Sasa tahu jika Bapak takkan mengecewakan Sasa,” ucap Sasa terharu dan bahagia.
Abdullah mengusap lengan Sasa, tersenyum karena senang melihat putrinya begitu bahagia dengan keputusan yang diambil. Hingga tatapan Abdullah beralih ke Rion.
“Jika kalian benar-benar ingin menikah, Bapak pasti akan datang memberikan restu. Jadi, tolong jangan sampai kalian lupa untuk memberi kabar,” kata Abdullah dengan tatapan tertuju ke Rion.
Rion mengulas senyum, kemudian menganggukkan kepala pelan. “Tentu.”
Akhirnya meski masih tidak mendapatkan restu dari Santi, tapi setidaknya Sasa dan Rion masih mendapatkan restu dari Abdullah. Setelah ini mereka akan semakin yakin untuk memasuki jenjang selanjutnya, sambil menunggu Santi memberi restu.
__ADS_1