Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Tertekan


__ADS_3

Santi begitu kesal karena Sasa tidak pulang dan benar-benar tinggal di kota untuk bekerja.


“Ini semua karena Bapak yang tidak mau menyusulnya! Dia itu anak gadis, bagaimana bisa Bapak membiarkan dia di kota!”


Kini Santi mengamuk Abdullah yang dianggap tidak tegas.


Abdullah hanya bisa menghela napas kasar mendapatkan omelan istrinya, tidak berniat melakukan pembelaan karena tahu jika semua itu akan percuma saja.


Santi sudah mengirimkan banyak pesan, dari amukan, makian, juga ancaman, tapi kenyataannya Sasa sama sekali tidak menanggapi, membuat Santi semakin geram dibuatnya.


**


Sasa menatap ponselnya. Dia sudah selesai bekerja dan kini duduk di ruang ganti dengan suara helaan napas berulang kali.


“Sa, nggak pulang?” tanya salah satu teman bekerja Sasa.

__ADS_1


“Iya, sebentar lagi,” jawab Sasa dengan senyum dipaksakan.


“Oh oke, kalau gitu aku balik dulu. Bye!” Teman Sasa berpamitan, meninggalkan gadis itu di ruangan itu sendirian.


Senyuman Sasa langsung menghilang begitu temannya pergi, dia kembali menatap ke ponselnya. Sasa menurunkan bahu, merasa lemas membaca rentetan pesan yang diterimanya.


Semua pesan ancaman, amukan, serta kutukan itu didapatkannya dari sang ibu. Dia membaca setiap pesan yang dikirimkan ibunya, tapi Sasa tidak berani membalasnya.


“Apa Ibu harus begini? Kenapa dia harus marah seperti ini? Apa salahku yang ingin memilih cintaku sendiri? Kenapa dia mengutukku? Apa aku benar-benar anak durhaka?”


“Ayo, Sa! Kamu pasti bisa!” Begitulah cara Sasa menyemangati dirinya.


**


Hari berikutnya, Rion makan bersama Sasa di kantin. Hubungan mereka yang jelas diketahui oleh staf satu perusahaan, terkadang membuat iri staf perempuan di sana. Pasalnya Rion salah satu staf jomblo yang jadi pujaan di perusahaan itu, kini malah berpacaran dengan cleaning service yang baru saja bekerja di sana, siapa yang tidak iri akan hal itu.

__ADS_1


“Kenapa makanannya hanya diaduk-aduk?” tanya Rion yang melihat Sasa tidak bersemangat.


“Besok Ibu dan yang lain akan datang, bagaimana jika kemudian dia marah lagi lalu memaksaku ikut pulang?” tanya Sasa bingung dan takut.


Rion menatap Sasa, melihat ketakutan di wajah kekasihnya itu.


“Nanti kita hadapi bersama, ketika ada kesempatan, aku akan bicara dan menyampaikan jika menyukaimu, serta benar-benar akan menjalin serius denganmu,” ucap Rion mencoba melegakan hati Sasa.


Sasa langsung menatap Rion, ada binar kebahagiaan terpancar dari matanya, juga ada rasa membuncah yang luar biasa di dada. Pemuda di hadapannya sekarang berkata akan benar-benar serius menjalin hubungan dengannya, bukankah itu adalah hal yang sangat dia inginkan.


“Tapi, kalau Ibu masih tidak setuju bagaimana?” tanya Sasa ragu jika ibunya akan mengerti.


Rion menggenggam telapak tangan Sasa yang berada di atas meja. Dia tersenyum hangat ke gadisnya itu, senyum yang juga membuat staf perempuan di kantin hampir pingsan dibuatnya.


“Semua keputusan ada di tanganmu. Aku akan berusaha meyakinkan ibumu, jika memang beliau masih tidak merestui. Aku akan terima segala keputusanmu akan hubungan kita.”

__ADS_1


__ADS_2