Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Tidak mendapat restu


__ADS_3

Sasa begitu marah melihat ibunya yang murka, tidak mengerti kenapa wanita itu tidak mau memberinya kesempatan untuk memilih. Dia bersiap mengeluarkan kata-kata untuk melawan ibunya, tapi siapa sangka jika Rion langsung menahan dengan cara menggenggam telapak tangan Sasa lagi.


Rion menatap Sasa, memberi isyarat agar kekasihnya itu tidak bicara lagi.


Sasa mengerutkan dahi, kenapa Rion memintanya untuk diam? Dia tidak ingin jika sampai ibunya menang dan memisahkan mereka berdua.


Rion kini beralih menatap Santi, sebagai seorang pria tentu saja dia harus mempertanggungjawabkan apa yang diinginkan.


“Saya tahu jika Anda belum bisa menerima saya karena Anda belum mengenal saya. Namun, tidak bisakah Anda memberi kami kesempatan untuk membuktikan jika kami benar-benar menjalani hubungan yang serius,” ujar Rion mencoba membujuk.


Santi berdecak, merasa jika Rion terlalu berani bicara padanya.


“Kamu pikir siapa? Berani-beraninya bicara padaku! Aku paham pemuda seperti apa dirimu ini, hidup di kota dengan pergaulan bebas dan mungkin hanya mau memanfaatkan putriku saja!” bentak Santi mengemukakan pendapat tentang pemuda yang menyukai putrinya. Tentu saja itu hanya alasan Santi agar Rion mau melepas Sasa.


“Saya memang tinggal di kota, tapi saya tidak pernah melakukan hal yang Anda tuduhkan. Saya besar dan tumbuh di lingkungan yang penuh kedisiplinan, orangtua saya selalu mengajarkan bahwa sopan santun, sikap baik, dan perilaku baik harus saya tanamkan pada diri sendiri,” ujar Rion mencoba meyakinkan.


Sasa terlihat ketakutan, merasa jika ibunya benar-benar tak mau mendengarkan mereka.


Santi berdecak lagi, menganggap jika Rion hanya pintar bicara saja.


“Pokoknya aku tidak setuju dengan hubungan kalian! Aku akan menikahkan Sasa dengan pria yang yang tepat dan aku harap kamu mau meninggalkannya!” perintah ibu Sasa, tetap mempertahankan kemauannya.

__ADS_1


“Aku tidak mau menikah dengan jodoh pilihan Ibu!” tolak Sasa mentah-mentah.


“Kamu jadi anak durhaka setelah mengenalnya! Apa ini yang kamu anggap baik, hah!” bentak Santi dengan satu tangan menunjuk ke arah Rion.


“Aku membangkang dan memberontak bukan karena Rion, tapi semua ini karena sikap Ibu yang begitu keras dan tidak mau memahamiku!” sanggah Sasa akan tuduhan Santi.


“Pokoknya Ibu enggak mau tahu! Kamu harus pulang bersama Ibu, setelah ini putuskan hubungan kalian karena Ibu tidak akan pernah merestuinya!” kekeh Santi mempertahankan keputusannya.


Sasa kini yang murka, langsung menggebrak meja dan berdiri dengan cepat.


Rion sangat terkejut dengan yang dilakukan oleh Sasa, ditatapnya gadis itu yang sudah berdiri dan sedang menatap tajam pada sang ibu.


Santi pun sangat terkejut, bagaimana bisa Sasa berani memukul meja di hadapannya, bahkan kini memberikan sorot mata yang yang tampak begitu membenci dirinya.


Rion ikut berdiri, lantas mencoba menenangkan Sasa agar mau kembali duduk.


“Jangan bicara seperti itu, kembalilah duduk dan kita bicara baik-baik lagi,” bisik Rion mencoba membujuk.


Sasa menoleh Rion, menatap heran pada pemuda itu. Bagaimana bisa Rion masih tetap bersabar, sedangkan ibunya sudah jelas menentang hubungan mereka.


“Aku tidak bisa duduk dengan tenang, aku tidak ingin Ibu terus mengatur. Aku juga tidak ingin berpisah denganmu,” ucap Sasa, kini kelopak mata gadis itu terlihat menggenang siap meluncurkan buliran kristal bening melewati pipi.

__ADS_1


Rion menarik napas panjang, menggenggam telapak tangan Sasa begitu erat, bahkan terlihat seutas senyum manis di wajahnya.


“Aku tahu, tapi kita pun harus bicara dengan baik-baik,” balas Rion. Ia lantas menoleh pada wanita yang sudah melahirkan kekasihnya itu. “Saya tidak tahu apa yang bisa merubah pikiran Anda tentang hubungan kami. Namun, jika Anda mengizinkan, tolong beri kami kesempatan untuk membuktikan jika kami benar-benar serius dan bisa menjalani hubungan ini dengan baik,” pinta Rion membujuk agar ibu Sasa mau mengerti.


“Membuktikan! Membuktikan apa? Sudah jelas kamu tidak pantas untuk putriku, dia harus mendapatkan yang terbaik, karena bagiku putriku adalah segalanya!” tolak Santi seakan menghina.


“Jika dia adalah yang terbaik untuk Anda, seharusnya Anda pun dapat memberikan yang terbaik untuknya, yang bagus bukan berarti baik dan yang tidak baik bukan berarti tak bagus untuknya. Saya bisa menjanjikan jika bisa membahagiakannya, kalau sampai Sasa tidak bahagia bersama saya, maka Anda boleh membawanya pergi.” Meski Rion tidak yakin apakah bisa melakukannya, tapi dia pun ingin tetap mencoba untuk mempertahankan gadis yang disukainya itu.


Sasa sangat terkejut mendengar ucapan Rion, menatap pemuda itu lantas menggelengkan kepala tidak setuju jika sampai kehidupan mereka gagal dan Rion mengembalikannya pada orang tuanya.


Santi terlihat berpikir, melihat keseriusan di mata Rion lantas menatap pada sang putri yang terlihat ingin menangis dan tanpa henti memandang ke arah pemuda yang ada di sebelahnya itu.


“Aku tidak akan memberikan kalian kesempatan, jika Sasa mau membangkang dariku, silakan! Akan aku lepas! Tapi jika suatu hari nanti kalian menghadapi kesulitan, jangan sampai kalian datang padaku dan memohon bantuanku!” Amarah ibu Sasa memuncak, wanita itu sudah tak ingin membujuk atau memaksa lagi tapi juga tak mau merestui.


Santi menatap tajam pada Rion dan putrinya, sebelum kemudian berdiri dan langsung meninggalkan keduanya.


Sasa terkejut melihat sikap ibunya yang seperti itu, kenapa wanita itu sangat keras kepala dan tak mau memahami keinginannya. Ia lantas menoleh Rion, merasa bersalah karena pemuda itu harus menghadapi ibunya yang sangat keras kepala.


“Maaf,” ucap Sasa penuh rasa sesal.


“Kenapa harus meminta maaf?” tanya Rion dengan suara lembut. “Ini sudah menjadi resiko yang harus aku hadapi, bagaimanapun aku tetap harus memperjuangkanmu sesuai janji, jadi jangan pernah meminta maaf padaku. Mari kita hadapi ini semua bersama,” balas Rion masih mencoba tersenyum, meski sedikit kecewa karena ibu Sasa sangat menentang hubungan mereka.

__ADS_1


Sasa mencoba tersenyum meski hatinya merasa sakit melihat Rion yang diperlakukan seperti itu. Ia mencoba percaya jika hubungan mereka bisa berjalan dengan baik di masa depan.


“Akan aku buktikan ke Ibumu, jika aku mampu membahagiakanmu.”


__ADS_2