
Sasa duduk menatap kotak makan yang ada di meja setelah Dewi pergi diantar Rion.
“Ibunya Rion sangat baik, andai Ibu juga begini,” gumam Sasa seraya menatap kotak makan itu.
Sasa membuka kotak makan itu, lantas melihat jika di kotak pertama ada ayam bakar. Sasa membuka kotak kedua, Dewi membawakan sayur juga. Di kotak lain ada lauk lain dan juga potongan buah.
“Perhatian sekali,” gumamnya lagi, tiba-tiba ingin menangis karena ingat akan ibunya.
Bukan karena rindu, dia hanya berpikir andai ibunya juga sebaik Dewi, pasti hubungannya dan Rion akan berjalan dengan lancar.
“Kenapa tidak dimakan?” tanya Rion yang baru saja datang. Dia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Sasa.
Rion baru saja mengantar ibunya mencari taksi, baru kemudian kembali masuk menemui Sasa.
Sasa mengambil sendok dan mencicipi olahan sayuran buatan Dewi, hingga bulir kristal bening yang sejak tadi ingin luruh, akhirnya jatuh dari kelopak mata.
“Lho, kok nangis?” tanya Rion terkejut.
Sasa menggelengkan kepala, dia menyeka air mata yang menetes.
“Ibu kamu terlalu baik, jika tahu kalau ibuku begitu, apa mereka mau menerima?” tanya Sasa tanpa berani menatap Rion. Dia kemudian memasukkan makanan lain ke mulut.
Rion menatap Sasa dengan helaan napas pelan, kemudian mencoba membantu menghapus air mata yang masih menetes.
“Pasti menerima, lagian Ibu dan Bapak sudah menyukaimu. Apa pun kondisinya, pasti menerima,” jawab Rion mencoba optimis, meski dirinya pun sempat ragu dan takut jika Dewi dan Danu tahu alasan ibu Sasa tidak menyukainya karena berasal dari keluarga pas-pasan.
“Lagian, yang akan jadi menantu orangtuaku ‘kan kamu, terus yang bakal sering berinteraksi dengan mereka juga kamu, bukan ibumu,” seloroh Rion kemudian untuk membuat Sasa tertawa.
Benar saja, Sasa tertawa sampai menutup mulutnya sendiri.
“Sudah jangan sedih-sedih, nanti kita pikirkan bersama,” ucap Rion mencoba menenangkan.
**
Hari itu, Sasa terlihat berjalan dari arah luar gedung dengan menenteng tas belanjaan berisi kebutuhan di pantry kantor. Ia semakin senang menjalani hari di kota, serta pekerjaan karena ada dukungan dari Rion. Belum lagi Danu dan Dewi yang sudah merestui hubungan mereka, membuat Sasa yakin untuk terus melanjutkan hubungannya dengan Rion.
__ADS_1
Sasa baru saja menginjakkan kaki di depan lobi, hingga ponsel yang ada di saku kemeja kerjanya berdering. Ia pun berhenti melangkah dan memilih mengambil ponselnya. Sasa terdiam saat melihat nama yang terpampang di layar ponsel, berpikir apakah harus menjawab panggilan itu.
“Jawab atau tidak?” Sasa terlihat ragu, panggilan itu dari ayahnya.
Namun, Sasa kembali berpikir. Ia tidak ada masalah dengan sang ayah, mungkin menjawab panggilan itu pun tak masalah.
“Halo.” Sasa akhirnya menjawab panggilan sang ayah.
“Sa, bagaimana kabarmu?” tanya Abdullah dari seberang panggilan.
“Sasa baik,” jawab Sasa yang merasa canggung karena merasa bersalah pada ayahnya itu.
“Baguslah kalau baik saja,” kata Abdullah.
Sasa terdiam dan hanya menganggukkan kepala pelan.
“Kamu beneran tidak mau pulang?” tanya Abdullah dari seberang panggilan, setelah sebelumnya sempat terdiam beberapa saat.
“Tidak, jika Ibu masih ingin menjodohkanku,” jawab Sasa penuh keyakinan.
“Ibumu sakit, Sa. Dia ingin lihat kamu,” kata Abdullah.
Sasa terdiam mendengar perkataan ayahnya, apakah benar ibunya sakit seperti yang disampaikan.
“Pulanglah, Sa. Jenguk ibumu,” pinta Abdullah.
Sasa masih diam, antara masih kesal juga tidak tega. “Sasa pikirkan nanti, sekarang Sasa harus kerja,” balas Sasa pada akhirnya.
Lagi-lagi terdengar suara helaan napas dari seberang panggilan, sebelum kemudian suara ayah Sasa kembali terdengar.
“Ya sudah, jika kamu bisa pulang, kabari Bapak dulu,” kata Abdullah kemudian.
“Baik.”
Sasa mengakhiri panggilan itu, menatap ke layar ponsel dan terlihat sedikit merasa bersalah karena ibunya sakit.
__ADS_1
“Tapi, apa Ibu beneran sakit?” Sasa merasa tidak yakin dengan kabar yang diberikan sang ayah.
“Apa aku coba tanya Bibi Sarah?” Sasa hanya butuh memastikan sebelum mengambil keputusan.
Sasa akhirnya mendial nomor Sarah, hendak bertanya apakah sang ibu benar-benar sakit.
“Halo, Bi.” Panggilan itu ternyata direspon cepat oleh Sarah.
“Halo, Sa. Tumben telepon, apa di sana ada masalah?” tanya Sarah.
“Tidak ada masalah kok, hanya saja Sasa mau tanya sesuatu,” jawab gadis itu. Sasa masih berdiri di dekat lobi dan belum masuk.
“Oh, tanya saja.” Sarah mempersilakan.
Sasa terlihat ragu, apakah sopan jika menanyakan kebenaran kabar yang didapat. Namun, Sasa juga merasa kalau kabar itu tidak benar, sehingga harus mencari tahu agar yakin.
“Bi, apa Ibu sakit?” tanya Sasa memberanikan diri.
Terdengar hening dari seberang panggilan, sebelum kemudian terdengar suara Sarah lagi.
“Kayaknya nggak, Sa. Tadi pagi saja Bibi masih bertemu ibumu pas beli sayur,” jawab Sarah. Ternyata wanita itu juga bingung kenapa Sasa bertanya demikian.
“Benarkah?” Ada rasa lega mengetahui jika ibunya tidak sakit, tapi juga kesal karena ayahnya berbohong.
“Memangnya siapa yang bilang ibumu sakit?” tanya Sarah penasaran.
“Em … tidak ada, hanya tanya saja,” jawab Sasa yang tak mengaku.
"Oh begitu, Bibi kira kenapa atau ada yang bohongin kamu," kata Sarah kemudian.
Sasa tersenyum getir, memang benar kalau dirinya dibohongi oleh ayahnya.
"Ya sudah, Bi. Sasa balik kerja dulu," ucap Sasa kemudian.
"Baiklah, kamu jaga diri baik-baik di sana," balas Sarah sebelum mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Sasa terdiam lagi menatap ponselnya, tak menyangka jika sang ayah sampai berbohong. Dia benar-benar kecewa dengan sikap ayahnya yang telah berbohong. Meski tahu jika mungkin saja sang ibu yang menyuruh, tapi tetap saja Sasa tidak bisa membenarkan tindakan ayahnya.