
Rion senang karena akhirnya sang ayah bisa memaafkan dirinya. Malam itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama mereka akhirnya bisa kembali bersama, duduk di satu meja makan yang sama menikmati hidangan yang tersedia. Dewi menangis haru, dinding keegoisan suami dan anaknya kini telah runtuh dan mengalirkan udara yang begitu hangat ke hati.
“Makan yang banyak.” Dewi mengambil lauk dan meletakkan ke piring Rion.
“Terima kasih, Bu.” Rion tersenyum penuh kebahagiaan, setelah sekian lama akhirnya bisa kembali merasakan kehangatan keluarga.
Danu memperhatikan istrinya yang terus memberi perhatian kepada Rion, terlihat mengabaikan dirinya yang sama sekali tidak dilayani sejak tadi.
“Ehem ….” Danu sengaja berdeham agar Dewi sadar jika ada dirinya di sana.
Rion dan Dewi menoleh bersamaan, melihat Danu yang bersikap sok tegas padahal ingin diperhatikan. Rion tersenyum, lantas mengambil potongan ikan goreng dan meletakkan ke piring ayahnya.
“Bapak juga harus makan banyak, supaya terus sehat,” ucap Rion.
Danu terkejut melihat Rion mengambilkan lauk untuknya, andai dirinya tidak memikirkan gengsi, mungkin Danu akan menitikkan air mata.
“Kamu juga makan yang banyak, mumpung di rumah,” balas Danu kemudian.
Rion mengangguk, melirik Dewi yang tersenyum ke arahnya. Mereka pun makan bersama, tidak ada perbincangan serius selain bagaimana keseharian Rion sekarang, serta di mana pemuda itu bekerja. Rion sendiri belum memberitahu tentang Sasa, hanya tidak ingin membuat ayahnya terkejut karena kepulangannya malah membahas seorang gadis.
**
Setelah makan malam, Rion duduk di depan teras rumah Danu. Menatap langit bertabur bintang, lantas merogoh ponsel yang ada di saku. Dia mencari nomor Sasa, lantas mendial nomor kekasihnya itu. Seharian dia belum menghubungi Sasa, takut jika kekasihnya itu mencemaskan dirinya.
Di apartemen Joya, Sasa sedang duduk di ranjang menunggui Cherly yang tidur. Sasa akan tinggal di tempat Joya sampai waktu yang tidak ditentukan.
“Rion sudah kasih kabar?” tanya Joya yang melihat Sasa tampak cemas.
__ADS_1
“Belum,” jawab Sasa, menatap ponsel dan menunggu Rion menghubungi.
Joya menghela napas panjang, lantas ikut duduk di ranjang berhadapan dengan Sasa.
Sasa mengangkat kepala, mengalihkan pandangan dari ponsel ke Joya.
“Apa Rion pergi karenaku? Apa dia sebenarnya malu kalau aku ke sini?” Pikiran negatif menyelimuti isi kepala Sasa karena Rion seharian tidak memberi kabar. Terlihat tatapan sendu di mata Sasa, gadis itu takut jika Rion meninggalkannya.
Joya tersenyum menanggapi ucapan Sasa, lantas menepuk-nepuk pundak Sasa.
“Rion tidak mungkin seperti itu,” ucap Joya mencoba menenangkan. “Ken tadi bilang, katanya Rion pergi ke rumah orangtuanya, dia sudah lama tidak pulang,” imbuh Joya lagi.
Sasa terdiam mendengarkan ucapan Joya, mencoba percaya jika itu memang benar.
“Apa Mas Ken nggak bohong?” tanya Sasa ragu-ragu.
Sasa mengangguk dan mencoba bersabar menunggu kabar dari Rion. Ia memang tidak menghubungi, karena takut mengganggu privasi kekasihnya itu. Hanya saja Sasa takut kalau Rion malu punya pacar gadis kampung seperti dirinya.
Baru saja keduanya selesai membicarakan tentang Rion, ponsel Sasa berdering dan nama Rion terpampang di sana.
“Rion!” Sasa terlihat begitu senang melihat pemuda itu menghubunginya.
“Sana cepat angkat!” Joya ikut senang melihat Sasa yang begitu lega dan bahagia.
Sasa pamit keluar kamar untuk bicara dengan Rion, sedangkan Joya memilih merebahkan tubuh di ranjang karena lelah.
**
__ADS_1
“Halo.” Sasa menjawab panggilan Rion begitu berada di ruang tamu.
“Apa aku mengganggumu tidur?” tanya Rion dari seberang panggilan. Rion menghubungi Sasa sambil menatap langit, terlihat senyum tipis di wajah pemuda itu.
“Tidak ganggu, aku juga belum tidur,” jawab Sasa. “Tadi baru ngobrol sama Joya,” imbuhnya. Di tempat Sasa sekarang, gadis itu bicara dengan wajah malu-malu, seolah baru pertama kali bicara dengan Rion.
“Hm … bagaimana hari pertama kerja?” tanya Rion lagi. Rion mengambil batu kerikil, kemudian melempar pelan ke rerumputan yang terpotong rapi di halaman rumah orangtuanya itu.
“Baik, meski ternyata kerja di tempat orang sedikit berat,” jawab Sasa dengan nada candaan.
Rion tertawa kecil dari seberang panggilan, sebelum kemudian Rion kembali bicara. “Ya sudah, namanya juga pertama bekerja. Besok aku sudah berangkat, nanti ketemu di sana.”
Sasa mengangguk senang, sebelum kemudian mengakhiri panggilan itu. Ia merasa sedikit lega karena dugaannya salah.
Rion menatap ponselnya begitu panggilan itu berakhir, sebelum kemudian memilih masuk rumah karena udara mulai terasa dingin.
Dewi ternyata mengamati putranya yang duduk sendiri dan baru saja selesai bicara dengan seseorang dari seberang panggilan.
Rion berdiri dan memutar badan untuk masuk rumah, hingga dia tampak terkejut saat melihat Dewi.
“Eh … Ibu belum tidur?” tanya Rion sedikit canggung, malu jika sampai Dewi mendengar saat dia bicara dengan Sasa.
“Belum,” jawab Dewi, “kamu bicara dengan siapa?” tanya Dewi kemudian.
Rion kini sudah berdiri di hadapan Dewi, terlihat kikuk bahkan sampai menggaruk kepala tidak gatal.
“Ada deh ….” Rion malah cengengesan, lantas merangkul pundak ibunya dan mengajak masuk.
__ADS_1
“Ih … kamu bikin Ibu penasaran.”