Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Seseorang


__ADS_3

Sasa terkejut ada yang memanggilnya dengan nama Nisa, lantas menoleh ke kanan dan melihat seorang pemuda di sana.


“Waduh, kenapa dia ke sini?” Sasa tampak tak senang melihat siapa yang mencarinya.


“Akhirnya kamu turun juga,” kata pemuda itu.


Sasa mengerutkan dahi, jadi benar jika pemuda itu yang mencari.


“Kenapa kamu di sini? Mau ngapain?” tanya Sasa langsung menunjukkan rasa tak suka.


“Apa bisa bicara di tempat yang tenang, mana mungkin kalau bicara sambil berdiri,” kata pemuda itu tak menjawab pertanyaan Sasa.


Sasa menengok ke kanan dan kiri, kemudian merasa kalau ucapan pemuda itu benar. Akhirnya Sasa mengajak ke kafe yang dekat dengan perusahaan, karena tak mau jika banyak karyawan yang melihatnya dengan pemuda itu, kemudian menyebar gosip yang tidak benar.


“Kenapa kamu datang mencariku?” tanya Sasa.


“Aku kebetulan ke kota karena ada urusan, jadi mampir sekalian,” jawab pemuda itu.

__ADS_1


Sasa menghela napas kasar, sepertinya tahu maksud kedatangan pemuda itu mendatanginya.


“Kalau kamu datang karena perintah Ibu, lebih baik urungkan saja niatmu. Aku sudah bilang ke Ibu kalau tidak mau menerima perjodohan kita,” ujar Sasa yang tak mau berbelit-belit.


Pemuda bernama Anton itu memandang Sasa, benar jika mereka dijodohkan tapi Sasa menolak dirinya.


“Ya, bukan hanya karena permintaan ibumu, tapi juga karena aku ingin melihatmu,” kata Anton.


“Ngapain?” Sasa bersikap tak acuh.


Anton memandang Sasa, kemudian mengulas senyum meski gadis itu bersikap cuek.


Sasa menghela napas kasar, kemudian memandang pemuda di depannya. Anton adalah teman kakak Sasa yang sudah menikah, pemuda itu terpaut tujuh tahun darinya dan kini menjadi salah satu perangkat desa di kampung sebelah. Anton sendiri menerima perjodohan karena sudah tertarik dengan Sasa sejak gadis itu masih sekolah.


“Gini, aku benar-benar tidak bisa. Aku tuh sudah suka sama orang lain, bahkan Bapak sudah setuju meski Ibu tidak. Aku tidak mau bersikap atau bicara kasar kepadamu, jadi aku mohon mengertilah. Meski kita dijodohkan, tapi kita tidak saling cinta,” ujar Sasa mencoba memberi pengertian tapi dengan cara halus.


Sasa takut jika bicara kasar, maka akan menyakiti hati pemuda itu. Dia tidak mau ada kejadian penganiayaan atau pembunuhan hanya karena hubungan yang tak mulus.

__ADS_1


“Kamu tidak mencintai karena tidak pernah mau menerimaku, tapi aku sudah mencintaimu sejak kamu duduk di kelas dua SMA,” kata Anton.


Sasa begitu terkejut dengan bola mata membulat lebar, kenapa teman kakaknya itu ternyata menyukai dirinya, apakah Anton bercanda.


“Tapi aku ga ada rasa apa-apa sama kamu,” balas Sasa yang tidak mau memberikan harapan ke pria selain Rion.


“Mungkin sekarang tidak, tapi aku harap kamu pun kasih aku kesempatan,” ujar Anton lagi, tidak ingin patah semangat karena memang sangat menyukai Sasa.


Sasa terlihat bingung, hingga mengalihkan tatapan ke arah lain.


“Cinta itu ga bisa dipaksa, aku ga bisa kalau kamu memaksakan perasaan, sama seperti Ibu yang memaksa agar aku menerimamu. Itu bukanlah sesuatu yang baik, karena pada akhirnya semua akan berjalan dengan buruk karena tidak ada rasa sebelumnya.”


**


Rion sedang berada di ruang Cctv seperti biasa, hingga ponselnya berkedip dan nomor tidak dikenal mengirimkan pesan ke ponselnya.


Pemuda itu mengerutkan dahi, berhenti mengawasi monitor dan memilih membuka pesan yang diterimanya. Satu telapak tangan Rion mengepal saat melihat pesan itu, hingga kemudian meletakkan ponsel dan beralih menekan tombol di keyboard dengan mata mengawasi ke monitor.

__ADS_1


Pemuda itu tiba-tiba merasa gelisah, hingga kemudian memilih berdiri dan meninggalkan tempat kerjanya.


__ADS_2