
Sasa benar-benar nekat pergi tanpa izin ibunya. Dia hanya mendapatkan izin dari Abdullah dan itu sudah cukup baginya.
Sasa tidak mengemas banyak barang karena tidak ingin terlalu mencolok, hanya memasukkan beberapa pakaian dan kebutuhannya ke tas ransel yang tidak terlalu besar.
Sasa tahu jam berapa saja ibunya tidak di rumah, sehingga akan menggunakan kesempatan itu untuk pergi dari sana. Nekat, mungkin itu kata yang pantas dilontarkan untuk Sasa. Dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, karena Santi masih saja tidak mau menuruti keinginannya.
“Ayo, Sa. Pantang mundur!” Sasa menyemangati dirinya sendiri.
Hari itu saat rumah sepi, Sasa pergi dari rumah. Dia pergi dari kampung halamannya naik bis menuju kota. Sasa duduk di dekat jendela, menatap setiap jalanan yang dilewatinya.
Semalam dirinya sempat berbalas pesan dengan Rion, menceritakan semua yang terjadi, termasuk tentang ibunya yang tidak setuju jika dirinya menjalin hubungan dengan Rion.
Pemuda itu sendiri menyerahkan semua keputusan ke Sasa, dia tidak ingin memaksa Sasa menjalin hubungan yang tidak membuat nyaman.
Kini Sasa sudah mengambil keputusan, dirinya akan tetap bertahan dengan cintanya yang tumbuh untuk pemuda yang akan ditemuinya saat ini.
**
Rion duduk menatap ponselnya, dia sedang berbalas pesan dengan Sasa. Hingga ponselnya berdering di mana Sasa menghubunginya langsung dan tak hanya berbalas pesan saja.
__ADS_1
“Kamu sudah sampai?” tanya Rion begitu menjawab panggilan itu.
“Belum, aku masih di bis.” Suara lembut dan masih terdengar seperti remaja SMA itu terdengar dari seberang panggilan. “Nanti aku mau ketemu Joya, kita sekalian ketemu bareng, ya.”
Rion tersenyum senang, bahkan sampai menggoyangkan kursi kerjanya sedikit kencang, membuat Rion hampir terjungkal karena ulahnya.
“Halo.” Sasa bicara lagi karena Rion tak bicara.
Sedangkan Rion bersusah payah tak berteriak karena hampir terjatuh dari kursi. Dia pun berdeham dan duduk dengan benar sebelum bicara lagi dengan Sasa.
“Baiklah, nanti kamu kamu kabari saja ketemuan di mana. Aku akan ke sana,” ucap Rion kemudian. Mengembuskan napas pelan karena terkejut hampir jatuh.
Rion tampak senang karena Sasa akan datang, meski kedatangan gadis itu karena ada maksud akan hubungan mereka yang baru saja dijalin.
**
Sasa—gadis desa berumur dua puluh tahun, memiliki tubuh ideal dan tidak terlalu gemuk. Gadis itu jauh-jauh datang ke kota hanya untuk menemui pemuda yang disukainya sejak pertama kali bertemu. Gadis berambut panjang dan sering diikat itu kini berada di kafe, duduk sambil sesekali mengusap kedua paha karena tampak gugup dan takut.
Sasa terlihat gugup dan takut bukan karena ingin bertemu dengan Rion—pemuda yang menjadi kekasihnya sekarang. Namun, dia gugup karena ingin bertemu dan meminta tolong pada Joya—adik sepupu yang kini bekerja di satu perusahaan yang sama dengan Rion.
__ADS_1
Dia memang langsung ke kafe dekat perusahaan sepupunya bekerja berada. Sasa sudah menghubungi sepupunya dan berkata jika butuh bantuan.
Sasa melirik jam yang ada di ponsel, menanti kedatangan sang adik sepupu. Dia ingin meminta tolong karena tahu jika hanya Joya yang bisa membantunya. Hingga Sasa melihat adik sepupunya baru saja turun dari mobil yang terparkir di halaman kafe, Sasa tersenyum lebar karena akhirnya adik sepupunya itu datang.
“Joy!” Sasa melambaikan tangan saat melihat sepupunya baru saja masuk ke kafe bersama tunangan.
Sepupu Sasa membalas lambaian tangan, lantas berjalan menghampiri gadis itu.
“Maaf mengganggumu bekerja,” ucap Sasa saat Joya sudah sampai di mejanya. Ia menoleh pada Kenzo—tunangan Joya, lantas sedikit membungkukan badan untuk memberi salam.
“Bukankah sudah biasa kalau kamu mengganguku,” balas Joya seraya duduk berhadapan dengan Sasa.
Sasa mencebik, bisa-bisanya Joya menyindir dirinya. Namun, karena dia pun butuh bantuan sepupunya itu, membuat Sasa memilih tidak berdebat karena jelas dirinya harus mengalah demi mendapat bantuan.
“Ada apa? Kenapa kamu terdengar sangat serius di panggilan tadi? Juga kenapa datang ke kota secara tiba-tiba, apa ibumu tidak mencari?” tanya Joya bertubi.
Sasa menghela napas panjang, lantas menyandarkan punggung dengan kasar. “Aku sudah izin sama Bapak, bilang kalau mau ada perlu sama kamu dan menginap di sini.”
Joya mengerutkan dahi, sebelum kemudian menoleh Kenzo yang sama-sama bingung dengan jawaban Sasa.
__ADS_1
“Ada apa sebenarnya?” tanya Joya saat melihat raut wajah sedih sepupunya itu.