Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Andai Ibu dan Bapak tahu


__ADS_3

Saat Sasa ragu untuk menemui siapa yang mencarinya, hingga ponsel yang berada di saku seragam kerjanya berdering, membuat Sasa memilih merogoh saku untuk melihat siapa yang menghubungi.


Sasa melebarkan senyum saat melihat siapa yang menghubungi, hingga kemudian segera menjawab panggilan itu.


“Halo.”


“Apa kamu sedang sibuk? Aku ada di lobi, kamu bisa turun sebentar?” Suara Rion terdengar dari seberang panggilan.


“Tidak sibuk, aku akan segera turun.” Begitu mendengar suara kekasihnya itu, Sasa langsung lupa soal ketakutannya akan didatangi sang ibu.


Gadis itu segera masuk lift dan turun menuju lobi. Sasa keluar dari lift begitu sampai di lobi, melihat Rion yang berdiri di dekat ruang tunggu lobi. Ia pun mempercepat langkah untuk bisa menemui kekasihnya itu.


Rion melihat Sasa sedang berjalan ke arahnya. Ia pun lantas melambaikan tangan untuk menyambut.


“Ada apa meminta ke sini?” tanya Sasa saat sampai di hadapan pemuda itu.


“Ibu yang ingin ketemu,” jawab Rion, menggeser posisi berdiri dan memperlihatkan Dewi yang ternyata ada di sana.


Sasa sangat terkejut, jadi yang ingin bertemu dengannya adalah Dewi. Ia pun merasa sungkan, lantas langsung menyambut wanita itu dengan mencium punggung tangan dengan sopan.


“Kenapa Tante ke sini? Ada perlu dengan Sasa?” tanya Sasa dengan senyum kecil di wajah.


“Tidak ada hal penting, kebetulan Tante baru ada perlu di area dekat sini, jadi sekalian mampir,” jawab Dewi. “Apa bisa kita ngobrol di tempat yang lebih enak?” tanya Dewi kemudian.


Rion menengok ke sekeliling, memang takkan nyaman bicara di sana.


“Bicara di kantin saja!” ajak Rion.


Dewi setuju, lantas mengambil tas besar yang dibawanya. Sasa ingin membantu bawa, tapi ternyata Rion sudah mengambil dulu dari tangan Dewi. Mereka bertiga pun pergi ke kantin bersama.

__ADS_1


“Ibu dari mana sampai bisa ke sini?” tanya Rion ketika sudah berada di kantin.


“Sebenarnya mau ke rumah teman, tapi karena ingat jika dekat dengan perusahaan kalian bekerja, jadi Ibu pikir untuk mampir sekalian,” jawab Dewi.


Dewi membuka tas yang dibawanya, lantas mengeluarkan beberapa kotak makanan berukuran sedang. “Kalian pasti belum makan siang, Ibu tadi sengaja masak dan bawa untuk kalian. Nanti dimakan, ya.”


Dewi tersenyum lebar, menatap Sasa dan Rion bergantian.


Sasa terkejut karena Dewi sampai membawakan mereka makanan. “Kenapa Tante repot-repot?” Sasa merasa tak enak hati.


“Nggak apa-apa, Tante tidak merasa repot sama sekali,” ucap Dewi. Ia menatap sang putra yang terlihat tersenyum, sebelum kemudian menatap pada Sasa.


“Sebenarnya, Tante mau berterima kasih. Sudah sejak lama bapaknya Rion itu tidak bersemangat, tapi kehadiran kalian di rumah, sedikit membuatnya berbeda. Tante senang karena Bapak seperti memiliki semangatnya lagi,” ucap Dewi kemudian. Meskipun tidak menceritakan detailnya, tapi Dewi sangat senang ketika Danu terus memuji masakan Sasa, belum lagi berharap jika gadis itu kelak bisa sering datang ke sana.


Sasa terperangah tak percaya dengan yang diucapkan Dewi, sedangkan Rion langsung menoleh dan bersyukur karena tak salah memilih Sasa sebagai pasangan.


“Tante tidak usah berlebihan. Mungkin saja hanya kebetulan,” balas Sasa yang merasa malu karena dipuji.


“Baiklah, mungkin Tante yang terlalu senang, tapi tak salah juga berterima kasih,” ucap Dewi kemudian.


Sasa hanya mengangguk-angguk menanggapi ucapan Sasa.


“Ya sudah, Ibu ke sini hanya ingin mengantar makanan ini, kalian jangan lupa makan karena terlalu serius bekerja,” ucap Dewi kemudian pada Rion.


Rion dan Sasa mengangguk membalas ucapan Dewi.


Wanita itu lantas berdiri kemudian berpamitan karena harus pergi ke tempat lain.


“Jika ada waktu, main ke rumah,” kata Dewi saat berpamitan dengan Sasa.

__ADS_1


“Baik, Tante,” balas Sasa.


Dewi kemudian memandang putranya, bahagia karena akhirnya bisa sewaktu-waktu melihat kondisi sang putra.


Rion mengantar Dewi keluar dari gedung hingga ke depan, sekalian mencarikan taksi untuk wanita itu.


“Bapakmu sudah terlanjur suka sama Sasa, jadi kalian baik-baiklah dalam menjalani hubungan,” ucap Dewi memberi pesan ketika sedang menunggu taksi.


“Ya, Bu. Kami pasti akan menjaga hubungan dengan baik,” balas Rion meyakinkan.


“Oh ya, ibunya Sasa apa benar-benar tak setuju dengan hubungan kalian?” tanya Dewi lagi yang masih penasaran akan hal itu.


“Ya begitulah, tapi Rion pasti akan berusaha untuk membujuk orangtua Sasa agar setuju,” jawab Rion.


Dewi mengangguk paham, sebagai wanita tentu saja penasaran seperti apa ibu Sasa. Kenapa wanita itu tak menyukai putranya, serta apa alasan tak mau merestui hubungan Rion dan Sasa.


“Ya sudah, sekarang Bapakmu sudah menerima dan setuju dengan hubungan kalian. Jika memang ada masalah, kamu bisa bilang pada kami,” ucap Dewi lagi, mengusap pipi putranya itu dengan lembut.


“Pasti, Ibu tenang saja,” balas Rion.


Rion melihat taksi dan melambaikan tangan agar mau berhenti. Taksi itu berhenti tepat di depan Rion dan Dewi, pemuda itu langsung membukakan pintu untuk sang ibu.


“Oh ya, jika kalian ada waktu, ajak Sasa main ke rumah,” kata Dewi saat sudah masuk mobil.


“Tentu, kami akan sering main ke rumah,” balas Rion dengan senyum kecil di wajah.


Dewi tersenyum kemudian meminta sang sopir untuk segera melajukan mobil.


Rion menatap taksi itu pergi, kemudian menghela napas kasar.

__ADS_1


“Andai Ibu dan Bapak tahu alasan orangtua Sasa menolakku, apa kalian akan tetap mau menerima jika memiliki calon besan seperti itu?” Rion bergumam sendiri, sebelum kemudian memilih berbalik ke perusahaan lagi.


__ADS_2