
Sasa dan Rion sudah sampai di kampung. Keduanya langsung pergi ke rumah Sarah.
“Kamu tadi bilang butuh bantuan, bantuan apa?” tanya Sarah saat sudah menyambut dan meminta Rion juga Sasa duduk.
Abimayu juga menemani, kedua orang tua itu kini duduk berhadapan dengan Sasa dan Rion.
“Gini, Bi. Bibi ‘kan tahu jika Ibu tidak merestui hubungan kami. Jujur saja, aku merasa lelah karena Ibu terus memaksaku menikah dengan pilihannya, serta tidak memberi kesempatan kepada Rion untuk membuktikan jika mampu membuat aku bahagia. Aku dan Rion datang untuk kembali meminta restu, misal Ibu masih bersikukuh tidak mau memberi, maka aku pun mungkin akan memilih benar-benar mengabaikan Ibu. Seperti Ibu mengabaikan perasaanku,” jawab Sasa panjang lebar.
Sasa tahu jika apa yang dilakukannya salah kalau sampai mengabaikan ibunya, tapi tidak punya pilihan karena Santi terlalu keras kepala.
Rion menatap Sasa, sebesar itu cinta gadis yang umurnya enam tahun lebih muda darinya itu, sampai mau mengabaikan orangtuanya sendiri hanya demi dirinya.
Sarah dan Abimayu saling tatap, kemudian memandang Sasa dan Rion bergantian.
“Jadi kalian ingin pulang ke rumah ibumu?” tanya Sarah.
“Ya, Bi. Tapi kami ingin Bibi dan Paman menemani, kalian tahu sendiri bagaimana Ibu. Dia pasti akan memaksaku tinggal, saat Ibu melakukan itu, Rion pasti tidak akan bisa melawan, tapi jika ada kalian, Ibu pasti akan berpikir dua kali,” jawab Sasa dengan mantap.
Sarah mengangguk paham, hingga kemudian mengangguk. “Baiklah, Bibi dan Paman akan menemani kalian.”
Sasa begitu lega, tahu jika Sarah tak mungkin mengabaikan dirinya.
**
Rion dan Sasa akhirnya pergi ke rumah Santi ditemani Sarah dan Abimayu. Mereka kini sudah duduk berhadapan dengan Santi dan Abdullah.
“Akhirnya kamu pulang juga, Sa.” Abdullah membuka percakapan karena sejak tadi hanya terasa keheningan di sana.
Santi memalingkan wajah sejak tadi, seolah tak sudi menatap karena ada Rion di sana.
“Ya Pak.” Sasa membalas ucapan Abdullah, tapi ekor mata melirik Santi.
__ADS_1
“Sebenarnya, saya mengajak Sasa pulang, karena memang ingin bertemu dengan kalian,” ujar Rion bicara karena Abdullah sudah mau membuka percakapan.
Rion memandang Abdullah yang tampak bingung, kemudian beralih ke Santi yang masih tak acuh.
“Jika diizinkan, saya ingin melamar Khaerunisa,” ucap Rion memberanikan diri demi hubungannya dengan Sasa.
Sarah dan Abimayu masih mendengarkan. Sasa langsung menatap Rion dan melihat kekasihnya itu begitu serius, sedangkan Abdullah bingung memberi keputusan, hingga menoleh Santi yang masih tak mau bicara.
“Dipikir kamu ini siapa? Berani melamar Khaerunisa begitu saja! Meski kami bukan orang kaya, tapi aku juga tetap tidak suka dengan pemuda kota macam kamu!” Santi akhirnya bicara, tapi tentu saja karena menolak niatan Rion.
Sarah sendiri cukup terkejut mendengar ucapan sang kakak, kenapa Santi sangat keras kepala dan tak mau memahami keinginan putrinya sendiri.
“Bu!” Sasa tak senang dengan ucapan Santi.
“Apa?” Santi melotot mendengar putrinya memanggil. “Kamu sejak kenal pemuda macam dia, jadi membangkang dan tak ada hormat sama sekali kepada orangtua! Kamu itu sudah mendapat pengaruh buruk karenanya, tapi masih saja kamu mempertahankan dan malah berani melawan orangtua!” geram Santi mengeluarkan apa yang membuatnya kesal semenjak Sasa pergi dari rumah.
“Mbak, apa tidak bisa bicara baik-baik dulu,” kata Sarah mencoba menengahi.
“Maaf, tapi kenapa Anda sangat membenci saya? Saya benar-benar tulus ingin menjalin hubungan dengan Sasa, kenapa Anda begitu tak menyukai saya? Berikan saya satu saja alasan selain karena dari kota, yang membuat Anda menentang hubungan kami,” pinta Rion masih bicara dengan nada rendah dan sopan.
Sarah dan yang lain memilih diam, membiarkan Rion sebagai pria menghadapi Santi sendiri.
“Karena kamu tidak layak, apa alasan itu cukup?” Santi memandang kesal ke Rion.
“Apa yang membuat saya tidak layak mendapatkan Sasa?” tanya Rion lagi, masih tidak puas akan jawaban Santi.
Santi diam dan enggan menjawab, bahkan kembali memalingkan wajah dengan bersungut kesal.
Sasa tampak ketakutan, tak ingin jika sampai Santi memisahkannya dari Rion. Ingin rasanya Sasa langsung mengajak pergi saja Rion dari sana.
“Harta? Apa karena itu Anda menilai saya tidak layak? Apa karena Anda berpikir saya tidak memiliki harta yang cukup untuk membahagiakan Sasa?” tanya Rion menebak karena Santi diam.
__ADS_1
Pertanyaan Rion cukup menohok di hati Santi, tapi tentu saja wanita itu tidak akan mengakuI jika hartalah yang dipandangnya sebagai tolak ukur agar bisa mendapatkan putrinya.
“Berapa harta yang harus saya punya agar bisa meminang Sasa?” tanya Rion lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Santi. Dia tak bisa lagi bersabar karena Santi tampak terus meremehkan dirinya. Rion sudah memantapkan hati, jadi dirinya harus meyakinakn Santi jika layak untuk Sasa.
Sasa dan yang lainnya sangat terkejut mendengar pertanyaan Rion, hingga mereka langsung memandang pemuda itu kecuali Santi.
“Saya memang tak tampak kaya, karena saya memang tidak suka hidup dengan kemewahan. Jika Anda bertanya harta yang saya miliki di luar dari harta yang orangtua saya berikan, maka saya akan menunjukkannya,” ujar Rion kemudian, mencoba menjatuhkan keangkuhan Santi demi mendapatkan Sasa.
Sasa sangat terkejut mendengar semua ucapan Rion, selama ini memang dirinya tak pernah tahu seberapa kaya pemuda itu sebenarnya.
Rion membuka tas yang dibawa, dirinya sudah mempersiapkan semua semenjak berniat pergi menemui orangtua Sasa.
“Saya memiliki sepuluh persen saham di perusahaan suami Joya.” Rion meletakkan stopmap berisi berkas saham miliknya di perusahaan Kenzo.
Sasa, Sarah, Abimayu, dan Abdullah langsung melongo mengetahui hal itu, mereka menatap stopmap yang ada di meja.
“Tabungan? Saya sudah menabung sejak berumur tujuh belas tahun, semua adalah uang hasil kerja keras saya sendiri. Tabungan saya terbagi di empat bank berbeda dengan nominal yang bisa Anda cek sendiri.” Kini Rion mengeluarkan empat buku tabungan ke meja. Dirinya terpaksa meninggi karena tak ingin Santi terus menghina dirinya tak layak untuk Sasa.
Abdullah mengambil satu buku tabungan Rion, hingga pria itu langsung megap-megap seolah kekurangan oksigen ketika melihat nominal yang tertera di sana. Santi sendiri hanya mendengar tanpa mau melihat, baginya kini Rion malah sedang menyombongkan diri dan pamer kepadanya.
“Jika itu tidak cukup untuk meminang Sasa, saya masih memilih sertifikat tanah dan deposito, apa perlu saya keluarkan semua?” tanya Rion sambil memandang Santi.
“Cukup!” Santi menggertak dengan suara begitu lantang, membuat semua yang ada di sana terkejut dan memandangnya.
“Kamu hanya ingin pamer! Meski hartamu banyak, aku tetap takkan setuju dengan hubungan kalian!” Santi bicara dengan amarah berapi-api.
Santi kemudian berdiri setelah bersikukuh tak ingin merestui hubungan Rion dan Sasa, meninggalkan ruang tamu menuju kamar.
Sasa sangat kecewa dengan sang ibu, kemudian menoleh Rion dan menggenggam telapak tangan sang kekasih. Sasa tahu jika Rion pasti sangat sakit hati, terlebih karena sudah berusaha memperlihatkan apa yang dimiliki, tapi malah dianggap semakin buruk oleh Santi.
“Rion, maaf.”
__ADS_1