
Sasa akhirnya turun bersama Rion, mereka pun berjalan bersama menuju rumah orangtua Sasa. Meski sedikit takut, tapi Sasa benar-benar percaya pada Rion.
“Bapakku orangnya sedikit keras, tapi kalau Ibu orangnya lemah lembut,” ucap Rion mencoba memberi tahu bagaimana kedua orangtuanya.
Mendengar kata keras, membuat langkah Sasa berhenti seketika.
“Keras gimana? Kayak Ibu?” tanya Sasa tiba-tiba merasa takut lagi.
Rion ikut berhenti melangkah, sebelum kemudian menoleh Sasa yang berdiri mematung di sebelahnya.
“Beda,” jawab Rion. “Bapak memang keras, tapi itu karena dia mantan tentara,” imbuh Rion menjelaskan.
Sasa terlihat berpikir lagi, tapi kemudian mencoba memberanikan diri untuk bertemu orangtua Rion.
Rion pun kembali mengajak Sasa berjalan, keduanya kini sudah berdiri di depan pintu rumah. Saat Rion baru saja akan mengetuk pintu, ternyata pembantu rumah orangtua Rion sudah terlebih dulu membuka.
“Eh … Mas Rion datang juga. Ayo masuk, Mas. Ibu sudah nunggu.” Wanita paruh baya itu membuka lebar pintu untuk mempersilakan Rion dan Sasa masuk.
Sasa tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala pada wanita paruh baya yang menyambut mereka.
“Ya, Mbok. Ini juga habis pulang kerja langsung ke sini,” balas Rion.
Pemuda itu pun mengajak Sasa masuk, keduanya langsung menuju ruang tamu. Di sana ternyata sudah ada Dewi dan Danu, keduanya sedang menikmati teh dan camilan.
“Pak, Bu,” sapa Rion begitu melihat keduanya duduk bersama.
Dewi dan Danu menoleh bersamaan, melihat putra bungsunya itu datang.
Sasa kembali takut dan malu, hingga berdiri di belakang Rion.
“Eh … kamu sudah datang.” Dewi langsung bangun untuk menyambut putranya itu.
Namun, tatapan Dewi langsung tertuju pada sosok yang berdiri di balik pungung putranya. Ia mengulas senyum dan langsung menyapa Sasa.
“Kamu Sasa, ya?” tanya Dewi langsung.
Sasa awalnya sedikit terkejut, tapi kemudian memberanikan diri maju dan berdiri di samping Rion.
Rion sendiri menoleh Sasa, melihat kekasihnya itu malu-malu mensejajari dirinya.
“Ya, Tante,” jawab Sasa dengan kepala sedikit menunduk. “Saya Sasa, tapi nama asli saya Khaerunisa,” imbuh Sasa memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan ke arah Dewi.
__ADS_1
Dewi menyambut uluran tangan Sasa dengan hangat, lantas membalas perkenalan diri gadis polos itu. “Aku Dewi, ibunya Rion. Rion pasti sudah cerita, ‘kan?”
Sasa hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Dewi, sebelum kemudian melepas genggaman tangan wanita itu. Ternyata yang dikatakan Rion bukanlah sebuah kebohongan, wanita yang sudah melahirkan pemuda itu sangat ramah dan baik.
“Ayo duduk, kenalan sama Bapaknya Rion juga,” kata Dewi mengajak Sasa.
Sasa mengangguk malu, lantas menoleh Rion seolah minta untuk ditemani. Rion sendiri tahu maksud Sasa, lantas mengajak gadis itu duduk bersama.
“Ini Bapaknya Rion,” kata Dewi memperkenalkan. Ia pun duduk di sebelah suaminya.
“Sore, Om,” sapa Sasa sedikit merasa takut, apalagi garis wajah Danu begitu tegas dan memperlihatkan jika pria itu adalah orang yang keras juga berwibawa.
Danu hanya mengangguk untuk membalas sapaan Sasa, sebelum kemudian melirik sang putra yang sudah duluan duduk.
“Mbok, buatin minum buat Rion dan Sasa!” teriak Dewi memberi perintah pada pembantu rumahnya.
“Baik, Bu!” teriak pembantu rumah dari belakang.
“Kamu umur berapa?” tanya Danu tiba-tiba, mungkin karena melihat wajah Sasa yang masih seperti pelajar.
“Dua puluh tahun, Om,” jawab Sasa, meski awalnya sedikit terkejut mendengar Danu yang tiba-tiba bertanya.
Dewi dan Danu tampak terkejut, keduanya saling pandang sebelum menatap Rion dan Sasa bergantian.
Sasa menunduk dan menggelengkan kepala, kembali merasa takut jika status pendidikan dipermasalahkan oleh keluarga Rion.
“Sudah tidak belajar? Kenapa? Tante pikir masih sekolah, karena kamu masih muda,” kata Dewi lagi, menatap Sasa yang menunduk, sebelum kemudian menatap Rion.
Rion menoleh Sasa, sadar jika kekasihnya itu pasti takut untuk menjawab jujur pertanyaan orangtuanya. Ia berniat membuka mulut untuk menjelaskan, tapi ternyata Sasa sudah terlebih dulu bicara.
“Itu, Tan. Saya ‘kan dari kampung, bagi orangtua saya, anak perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, apalagi sampai kuliah. Saya hanya sekolah sampai SMA, setelah lulus hanya di rumah membantu pekerjaan orangtua,” jawab Sasa dengan suara sedikit gemetar karena takut.
Danu tetap memasang wajah datar saat mendengar jawaban Sasa, sedangkan Dewi malah terlihat bersimpati karena ternyata masih ada pemikiran kolot di zaman yang serba modern.
Rion sendiri terus menatap Sasa, melihat jika gadis itu sedikit kecewa, mungkin karena membandingkan status pendidikan dengannya.
“Tidak apa-apa, mungkin orangtuamu banyak pertimbangan juga,” ujar Dewi mencoba menenangkan agar Sasa tak sedih.
Pembantu rumah Rion datang, menyuguhkan dua cangkir teh untuk Sasa dan Rion, sebelum kemudian pamit undur diri ke belakang.
Sasa tidak membalas ucapan Dewi, masih menundukkan kepala dengan jari saling meremas.
__ADS_1
Dewi sendiri malah merasa tak enak hati membahas masalah pendidikan, apalagi melihat Sasa yang terlihat sedih dan takut.
“Kamu bilang dari kampung, lalu di sini tinggal sama saudara, atau memang dijemput Rion dari kampung ke sini?” tanya Dewi kemudian, mencoba memecah kecanggungan setelah pertanyaan sebelumnya.
Sasa sedikit tersenyum mendengar perkataan Dewi sebelumnya, kemudian mencoba mengangkat kepala dan memberanikan diri menatap Dewi.
“Saya ikut Joya, temannya Rion. Dia adik sepupuku, lalu bantu aku cari kerja di sini,” jawab Sasa.
“Oh … sekarang sudah kerja, ya bagus gadis bisa mandiri,” balas Dewi dengan seulas senyum.
“Kerja apa?” tanya Danu kembali membuka suara.
Sasa kini beralih menatap Danu, melihat mata pria itu membuat Sasa menundukkan kepala.
“Cleaning service, di tempat Rion bekerja juga,” jawab Sasa lirih.
Danu menghela napas kasar, sebelum kemudian mengambil cangkir tehnya dan memilih menyesap daripada membalas jawaban Sasa.
Dewi menoleh sang suami, sebelum kemudian menatap Sasa. Rion sendiri mencoba membaca pikiran sang ayah, jangan sampai ayahnya tak setuju karena mengetahui umur Sasa yang masih terbilang belia dan pekerjaan kekasihnya itu hanya cleaning service.
Dewi mencoba memecah keheningan, sedikit tawa kecil membuat Sasa menatap padanya.
“Tidak apa-apa, cleaning service juga bukan pekerjaan buruk. Setidaknya kamu mau bekerja,” kata Dewi.
Sasa mengangguk kecil, masih merasa malu dan menganggap jika dirinya tak sebanding dengan Rion.
“Oh ya, kalian pasti belum makan. Ibu akan bantu simbok masak untuk makan malam,” ujar Dewi kemudian, lantas berdiri untuk pergi ke dapur.
Mendengar kata masak, Sasa langsung ikut berdiri dan membuat Rion juga yang lainnya terkejut.
“Saya di kampung sering membantu Ibu masak, boleh saya bantu Tante masak?” tanya Sasa sopan.
Dewi bingung harus menjawab apa, melirik Rion dan melihat putranya itu mengangguk kecil, seolah meminta agar Dewi menyetujui tawaran Sasa.
“Kalau kamu tidak keberatan, tidak masalah jika mau bantu,” jawab Dewi kemudian.
Sasa senang karena diperbolehkan membantu, setidaknya dia tidak harus duduk bersama Danu yang terus memasang wajah datar dan tampak tak menyukai dirinya. Ia pun akhirnya mengikuti Dewi menuju dapur.
Saat Dewi dan Sasa sudah pergi, Danu langsung menatap Rion yang sedang memandang Sasa.
“Kita perlu bicara berdua!” Danu berdiri setelah mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
Rion terkejut dan menatap ayahnya yang sudah berdiri. Ia mengangguk dan berdiri, sebelum kemudian mengikuti langkah ayahnya itu.