
“Apakah aku pura-pura hamil saja agar Ibu setuju?” Tiba-tiba ide gila muncul di kepala Sasa, setelah beberapa hari yang lalu gagal mendapatkan restu dari ibunya.
Rion yang sedang meminum softdrink, langsung tersedak begitu mendengar pernyataan Sasa. Ditatapnya sang kekasih yang duduk di sampingnya, sambil mengusap permukaan bibir dengan punggung tangan.
Sasa menoleh saat mendengar Rion terbatuk, tapi memandang dengan ekspresi wajah datar seolah tak peduli jika kekasihnya itu sedang begitu terkejut.
“Kenapa kamu bilang begitu?” tanya Rion keheranan karena Sasa sampai berpikir demikian.
“Ya, bagaimana lagi. Aku sudah buntu ide menghadapi Ibu,” jawab Sasa.
Rion menghela napas panjang, kemudian memosisikan duduk hingga berhadapan dengan Sasa. Mereka berada di apartemen Sasa tinggal, sebenarnya Rion ingin sekali mengajak Sasa ke kontrakannya, tapi takut jika gadis itu merasa canggung.
“Nanti masalah ibumu, kita urus belakangan. Lagi pula Bapakmu sudah setuju,” kata Rion.
Sasa menoleh Rion dengan wajah lesu. Dirinya takkan tenang sampai sang ibu merestui, karena tahu jika Santi pasti takkan menyerah untuk membuat dirinya berpisah dari Rion.
“Kamu tidak tahu saja bagaimana Ibu, dia pasti akan melakukan segala cara agar kita berpisah,” balas Sasa dengan kedua pundak merosot lemas.
Rion menatap Sasa, dirinya juga bingung harus bagaimana sekarang.
“Ya memang, tapi bukan berarti kita harus bohong juga, Sa.” Rion mencoba memberi pengertian.
__ADS_1
Sasa tetap merasa sedih dan tidak bersemangat, hingga menjatuhkan kepala di sandaran sofa.
“Atau kita kawin lari saja, Rion. Biar Ibu tidak bisa memisahkan kita lagi.”
Ucapan Sasa tentu saja membuat Rion makin tersedak, kenapa gadis itu kini makin aneh-aneh idenya, hanya karena tidak mendapatkan restu dari Santi.
“Hust … jangan mengada-ada. Mana bisa kawin lari,” balas Rion kemudian kembali menenggak softdrink.
Sasa menoleh Rion dengan wajah tertekuk begitu sedih, pemuda itu tidak akan tahu bagaimana perasaannya saat ini.
**
“Joya libur, ya?” tanya Sasa saat tidak melihat adik sepupunya di ruangan.
Sasa mengantar minuman yang dipesan oleh Kiyara—asisten Joya.
“Dia kemarin bilang kalau pagi ini akan ke Paris, karena ada urusan penting,” jawab Kiyara, mengambil cangkir yang tadi diberikan Sasa, kemudian menyesap isinya.
“Lah, jauh sekali. Padahal dia ‘kan lagi hamil,” kata Sasa keheranan, apalagi Joya sedang hamil enam bulan.
Kiyara meletakkan cangkir di meja, kemudian membalas perkataan Sasa. “Bilangnya sih mau jemput Cheryl, mungkin mau dibawa ke sini lagi.”
__ADS_1
“Lagi pula, Joya seperti tidak bersemangat waktu Cheryl pergi, mungkin dengan kedatangan Cheryl lagi, bisa membuatnya lebih ceria,” ujar Kiyara kemudian.
Sasa mengangguk-angguk paham, memang benar jika Joya begitu kehilangan saat Cheryl pergi. Benar jika Joya tidak bisa melepas Cheryl begitu saja, apalagi gadis kecil itu sudah dirawat Joya sejak bayi seperti anak sendiri.
“Ya sudah, Mbak. Saya permisi.”
Sasa pun keluar dari ruang divisi, berjalan menuju pantry dan bertemu temannya.
“Sa, ada yang nyari kamu,” kata teman Sasa.
“Siapa?” tanya Sasa dengan dahi berkerut.
“Tidak tahu, Sa. Tadi bagian resepsionis yang bilang suruh nyariin kamu,” jawab teman Sasa.
Sasa terlihat berpikir, mungkinkah Dewi yang datang berkunjung. Bisa saja memang wanita itu, bukankah dulu juga Dewi tiba-tiba datang mengantar makanan.
Sasa pun akhirnya turun untuk melihat apakah benar Dewi yang datang, begitu bersemangat karena hubungannya dengan keluarga Rion semakin baik.
Sasa menengok ke kanan dan kiri, mencari-cari siapa yang mendatanginya.
“Nisa.”
__ADS_1