Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Pacaran


__ADS_3

Sasa begitu senang karena mendapatkan nomor ponsel Rion. Ini adalah pertama kalinya dirinya begitu antusias ingin mengenal seorang pemuda, biasanya dia hanya akan bicara untuk merespon ucapan yang mengajaknya bicara.


Namun, bersama Rion membuatnya menjadi orang lain. Sasa benar-benar tertarik dengan pemuda itu. Bahkan, baru saja Rion pergi siang tadi, sepanjang sorenya Sasa terus berbalas chat dengan pemuda itu.


[Dalam hitungan menit, kamu dengan cepat membalas chatku. Apa tidak ada yang akan marah?]


Sasa berada di kamar, sedang membaca pesan chat yang dikirimkan Rion.


[Tidak ada, memangnya siapa yang akan marah.]


Sasa pun membalas pesan Rion, kemudian menunggu kembali balasan pesan chat dari pemuda itu. Namun, bukannya pesan chat yang diterima, melainkan sebuah panggilan masuk terpampang di layar.


Sasa hampir menjatuhkan ponsel karena terkejut, dia terlihat gugup dan kikuk saat Rion malah menghubungi dirinya. Dia tidak mungkin mengabaikannya, hingga akhirnya Sasa menerima panggilan itu.


“Halo.”


“Hai, Sa.” Suara Rion terdengar dari seberang panggilan.


Jantung Sasa tidak terkondisikan, kenapa jantungnya berdegup kencang.


“Sa, boleh aku tanya sesuatu, tapi aku juga takut kamu tersinggung,” ucap Rion dari seberang panggilan.


“Tanya apa? Tanya saja,” balas Sasa.


“Janji tidak tersinggung?” tanya Rion.


Sasa berkata tidak akan tersinggung.


“Sa, apa kamu sudah punya pacar?” tanya Rion dengan suara lirih di akhir kata Pacar.


Jantung Sasa berdegup dengan cepat, benarkah pemuda itu bertanya tentang statusnya. Dia harus jawab apa, jujurkah atau balik bertanya kenapa Rion menanyakan hal itu.


Sasa sendiri tentunya tidak tahu jika Rion pernah melihat postingan Desi tentang dirinya.

__ADS_1


“Tidak punya, kenapa kamu tanya begitu?” Sasa merasa gugup, jantungnya kini benar-benar bergemuruh hebat hanya mendengar pertanyaan itu.


Terdengar hening dari seberang panggilan, membuat Sasa berpikir apakah Rion hanya iseng bertanya demikian.


“Sa, boleh aku jadi pacarmu?”


Pertanyaan itu membuat Sasa terkejut hingga hampir menjatuhkan ponselnya. Tiba-tiba pandangannya buram, desiran aneh menjalar di tubuh, serta jantung memompa darah semakin cepat.


“Pa, pacar? Kamu serius?” Sasa tergagap karena syok tapi juga senang.


“Terlalu cepat, ya?” Terdengar suara kekecewaan dari seberang panggilan.


“Ti-tidak. Hanya memastikan karena kita baru kenal,” ucap Sasa malu-malu. Andai Rion ada di depannya, mungkin pemuda itu akan melihat semburat merah di wajah gadis itu.


“Lalu?” Rion seolah memancing pengakuan Sasa jika mau menjadi pacarnya.


“Kalau kamu mau sama gadis kampung sepertiku, aku pun mau,” ucap Sasa malu-malu. Dia menjatuhkan tubuh ke ranjang, lantas menggigit ujung bantal karena gemas juga entah perasaan aneh apa yang singgah di hatinya.


“Kita pacaran, meski jarak jauh?” tanya Rion memastikan.


Di rumah Rion. Pemuda itu itu berjingkat kegirangan, sejak kuliah memang tidak pernah melirik atau berpacaran sama sekali, tapi entah kenapa kali ini dirinya ingin menjalin hubungan, semenjak melihat Sasa. Gadis desa yang manis dan mampu membuat hatinya meleleh.


**


Sasa begitu bahagia karena akhirnya mendapatkan pacar sesuai dengan hatinya. Hingga saat panggilan itu berakhir, suara pintu terbuka dan Sasa sangat terkejut sampai bangun dari posisi berbaring.


“Pacar apa?” Santi mendengar Sasa menyebut kata pacar.


Sasa gelagapan, jangan sampai ibunya tahu terlebih dahulu, atau wanita itu akan melarangnya berpacaran.


“Siapa? Aku baru saja teleponan dengan Desi, dia bilang punya pacar. Memangnya Sasa salah?” Gadis itu mencoba menyembunyikan fakta.


“Sasa apanya? Namamu itu Nisa!” bentak Santi karena keheranan putrinya menyebut nama Sasa.

__ADS_1


“Ya bener kalau Sasa. Coba mangilnya Sa, nah ‘kan Sasa,” elak Sasa.


“Jangan aneh-aneh kamu. Jangan juga berpikir pacaran, karena kamu sudah ada yang melamar!”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Santi pun keluar dari kamar Sasa.


Kedua pundak Sasa turun karena lemas, kenapa ibunya masih saja membahas tentang perjodohan yang tidak pernah dia inginkan.


“Aku tidak mau dijodohkan,” lirih Sasa dengan wajah memelas.


**


Sejak pulang dari acara pertunangan Kenzo dan Joya, Rion kini seakan lupa dengan cinta pertamanya—komputer. Dia kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama ponselnya, di mana selalu ada pesan chat dari Sasa yang menemaninya. Mungkin jika komputernya memiliki mulut untuk bicara dan perasaan untuk marah, benda persegi itu pasti sudah mengamuk kepada Rion yang berani mengabaikannya, gara-gara Rion memiliki teman wanita.


Seperti siang ini. Rion berada di depan beberapa layar monitor yang menampakan video dari CCTV yang terpasang di seluruh perusahaan. Namun, ternyata tatapan pemuda itu tak tertuju pada monitor, melainkan pada ponsel.


Dia duduk menyandarkan punggung, sedangkan dua kaki disilangkan naik ke atas meja. Rion terlihat senyum-senyum sendiri membaca pesan dari gadis bernama Sasa.


[Kalau aku pergi ke kota, lalu mencari pekerjaan di sana. Bagaimana menurutmu?]


Rion tengah membaca pesan dari Sasa.


[Memangnya kenapa kamu ingin bekerja di sini?] Rion membalas pesan Sasa dengan pertanyaan.


[Entah, aku hanya bosan di desa. Setiap hari hanya memandang sawah dan kebun, terkadang sapi yang sedang digembala.]


Rion tersenyum membaca pesan dari Sasa, meski baru dua hari mengenal, tapi baik dirinya maupun Sasa merasa cocok satu sama lain.


[Coba nanti pikirkan bersama, kamu tidak mungkin datang ke kota tanpa persiapan. Jangan lupa juga untuk minta izin ke orangtuamu jika ingin ke kota.] Rion membalas pesan Sasa dengan sebuah nasihat.


Rion menatap ponselnya, menunggu balasan dari Sasa. Dia mengerutkan dahi, tak biasanya Sasa membalas pesannya sangat lama, biasanya hitungan detik gadis itu membalas. Hingga pesan balasan dari Sasa terpampang di layar, Rion langsung buru-buru membacanya.


[Tentu saja, aku akan bicara dan meminta izin pada mereka.]

__ADS_1


[Aku harus pergi dulu, nanti kita sambung lagi.]


Rion membaca pesan terakhir yang dikirimkan Sasa, tapi tak membalas karena Sasa sudah terlanjur off. Namun, Rion juga merasa senang, jika Sasa datang ke kota, bukankah itu baik bagi hubungan mereka, apalagi Rion benar-benar tertarik dengan Sasa yang dianggapnya manis dan lucu.


__ADS_2