
“Apa Ibu akan bersikap seperti ini terus? Kenapa Ibu bersikukuh mempertahankan keinginan yang membuat Nisa pergi dari rumah?”
Hari itu Abdullah berusaha bicara dengan Santi, berharap istrinya mau mengubah keputusan dan menerima keputusan Sasa.
“Pak, Nisa itu anak kita. Dia seharusnya menuruti perkataan kita karena itu yang terbaik buat dia. Nisa itu masih kecil, dia itu labil dan belum bisa memilih mana yang baik dan tidak,” balas Santi yang tidak mau tahu, baginya penilaiannya adalah yang paling benar.
“Ibu itu egois, apa Ibu pikir kalau memaksa Nisa, bisa membuatnya bahagia? Bagaimana kalau putri kita setelah itu depresi? Tuh si Rina, dulu dijodohkan, malah blangsak kebanyakan hutang hanya demi hidup mewah sedangkan dia ga mampu bayar. Semua hanya rasa gengsi karena harta. Ibu mau nantinya Nisa begitu?” Abdullah tampaknya sudah tidak bisa sabar menghadapi istrinya yang keras kepala.
Santi terdiam mendengar ucapan Abdullah, hingga kemudian memalingkan wajah karena merasa kalah bicara.
“Bu, sekali saja beri kesempatan kepada Nisa untuk memilih. Pemuda itu juga baik dan bertanggung jawab, aku yakin kalau Nisa akan bahagia sama dia,” ujar Abdullah lagi mencoba membujuk agar Santi mau berubah pikiran.
Bukannya mendengarkan, Santi berdiri dan memilih meninggalkan suaminya di ruang keluarga sendirian. Abdullah mendesau melihat Santi yang mengabaikannya, berpikir kenapa susah sekali membujuk istrinya itu.
__ADS_1
**
Sasa sudah selesai bekerja, baru saja mengambil tas di loker dan bersiap keluar dari ruangan untuk turun ke bawah menemui Rion. Sudah menjadi kebiasaan jika Rion akan menunggunya, yang memang selalu pulang sedikit terlambat dari pegawai lainnya.
Saat baru saja keluar dari lift yang terbuka di lobi, samar-samar Sasa mendengar suara Rion sedang bicara dengan seseorang. Sasa pun penasaran, hingga berjalan ke arah suara Rion dengan perlahan.
“Jangan pernah lakukan itu lagi!”
Sasa semakin mendengar dengan jelas suara Rion, dia melihat kekasihnya itu berdiri memandang ke seseorang yang terhalang dinding.
“Benar atau tidaknya dia, aku yang lebih tahu tentangnya. Kamu hanya memandangnya sebelah mata, karena mungkin kamu tidak menyukainya. Jadi, apa pun penilaian dan juga informasi yang kamu berikan, aku tidak akan pernah memercayainya,” ujar Rion penuh penekanan.
Sasa tersenyum mendengar kekasihnya itu sangat memercayai dirinya. Dia senang karena Rion tidak mudah percaya dengan ucapan orang lain dan lebih suka mencari tahu kebenarannya sebelum menghakimi.
__ADS_1
“Cukup kamu memfitnahnya, aku tidak akan membiarkanmu kembali menuduhnya dengan bukti yang sama sekali tidak benar.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rion pun membalikkan badan untuk pergi meninggalkan wanita yang diajaknya bicara itu.
Sasa terlihat merapikan rambutnya karena Rion bersiap berjalan ke arahnya, bahkan dia sudah tersenyum manis untuk menyambut kekasihnya itu. Hingga senyum itu memudar saat melihat yang terjadi selanjutnya.
Rion bersiap melangkah pergi, hingga wanita yang bicara dengannya memeluk dari belakang, membuat Rion sangat terkejut dibuatnya.
“Aku menyukaimu sejak lama, tapi kenapa kamu malah lebih memilih cleaning service itu.”
“Lepaskan!” Rion hendak melepas kedua tangan wanita itu dari pinggangnya, hingga matanya menangkap sosok Sasa yang berdiri memandang dirinya.
Rion panik karena Sasa berdiri diam sambil terus memandang ke arahnya yang sedang dipeluk. Dia takut kalau Sasa salah paham kepadanya.
__ADS_1
“Sa.”
Wanita yang memeluk Rion, memandang ke arah Rion menatap. Bukannya melepas pelukannya dari pemuda itu, wanita itu malah mempereratnya dan berharap jika Sasa akan salah paham.