Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Izin ke kota


__ADS_3

“Sini kamu, biar diukur badannya!” perintah Santi saat melihat Sasa datang.


Sasa kebingungan, menatap wanita yang membawa alat untuk mengukur kain.


“Kamu harus membuat kebaya untuk acara lamaran nanti, jadi mumpung masih ada waktu, kita buat dulu,” ujar Santi meminta Sasa mendekat.


Sasa tidak berkutik, hingga akhirnya menuruti ucapan ibunya.


Setelah tukang jahit pergi, Sasa langsung menatap sang ibu yang duduk santai di sofa.


“Aku belum setuju buat nikah, Bu.” Sasa mulai melayangkan protes.


“Ibu ga butuh kamu setuju atau ga, yang penting kamu nikah sama pilihan Ibu,” jawab Santi santai.


Sasa kesal, kenapa ibunya sangat egois. Dia tidak bisa diam saja, harus mengungkapkan apa yang diinginkan.


“Aku sudah suka sama cowok lain, Bu. Dia baik dan dari kota,” ujar Sasa memberanikan diri mengatakan jika dirinya sudah berpacaran dengan Rion.


Santi membulatkan bola mata mendengar ucapan Sasa, wanita itu langsung berdiri dengan raut wajah penuh kemarahan.


“Cowok kota mana? Kamu pikir cowok kota bisa diandalkan! Kamu ini masih muda, mana tahu yang buruk dan baik!” Santi tidak akan setuju jika Sasa menyukai pemuda selain pilihannya.


“Bisa, dia sudah punya pekerjaan di perusahaan sebagai kepala keamanan. Kenapa Ibu menganggapnya tidak bisa diandalkan, jika Ibu saja tidak mengenalnya!” Sasa pun tidak mau kalah dari ibunya.


“Cowok kota punya apa? Tanah berhektar aja paling ga punya, apalagi dia kerjanya hanya jadi satpam!” cibir Santi.


“Ibu pokoknya tidak akan setuju, kamu tetap harus menikah dengan pria pilihan Ibu, dia yang terbaik!” Tidak ingin berdebat lebih lama, Santi pun meninggalkan Sasa.


Sasa kesal juga sedih, kenapa Santi tidak memahami keinginannya. Kenapa Santi tidak seperti ibunya Joya yang selalu menerima keputusan putrinya.


Gadis itu resah, hingga akhirnya berbalas pesan dengan Rion. Dia berkata jika ingin pergi ke kota untuk alasan pekerjaan. Rion terlalu baik, bahkan menanyakan apakah orangtuanya setuju, Sasa sendiri berkata jika akan meminta izin, meski mungkin izin itu tidak akan didapatkan.


Saat sedang berbalas pesan dengan Rion, Sasa melihat ayahnya yang baru pulang dari sawah. Dia pun lantas meminta izin Rion untuk pergi karena ingin bicara dengan Abdullah.


“Bapak!” Sasa memanggil sang ayah yang baru saja mematikan mesin mobil pick up.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Abdullah, kemudian keluar dari mobil.


“Aku mau ngomong sama Bapak,” jawab Sasa.


Sasa malah meminta ayahnya kembali masuk dan mengajak jalan pakai mobil. Dia tidak mau Santi mendengar apa yang akan dibicarakan dengan Abdullah, kemudian rencananya gagal.


“Ada apa, Sa. Kenapa kamu ngajak jalan naik pick up, padahal Bapak baru pulang?” tanya Abdullah.


“Pak, apa ga bisa bujuk Ibu biar batalin perjodohan itu. Aku ga mau dijodohkan, Pak.” Sasa mulai meminta bantuan ayahnya, meski mungkin hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.


“Kamu tahu kalau ibumu itu ga suka ditentang, kenapa kamu ga nurut saja?” Abdullah menoleh putrinya yang duduk di sampingnya.


“Masalahnya aku suka pemuda lain, Pak. Tapi Ibu malah menghina kalau dia ga kaya,” ujar Sasa akhirnya jujur ke sang ayah. “Bapak, tolong aku kali ini saja. Aku benar-benar suka dia, Pak. Aku ga mau dijodohkan. Aku mau bebas, mau kerja dulu baru nikah juga. Dia mau menunggu kalau aku mau kerja dulu, jadi Bapak izinin aku pergi ke kota nyusul Joya, ya.”


Abdullah bingung, Sasa adalah putri kesayangannya, tapi juga tidak bisa menentang istrinya, membuat Abdullah kebingungan dalam memberikan keputusan.


“Tolonglah, Pak. Sekali ini saja, aku mau buktiin ke Ibu jika aku bisa mendapatkan pria baik selain pilihan Ibu. Aku janji tidak akan mengecewakan Bapak,” ucap Sasa membujuk.


Abdullah tidak tega melihat putrinya sampai memelas seperti itu, hingga akhirnya mengangguk dan mengizinkan Sasa pergi ke kota, tanpa persetujuan istrinya.


Hari itu Rion sudah duduk di kursi kerjanya sambil menatap layar ponsel yang menyala. Dirinya memang berada di depan banyak monitor, tapi tetap saja matanya tertuju pada ponsel di tangan. Hingga tiba-tiba ada yang merebut ponsel, membuat Rion sangat terkejut dibuatnya. Ia berdiri ingin mengamuk, tapi urung ketika melihat siapa yang berdiri di belakang kursinya.


“Asik main ponsel, lantas mengabaikan perintahku, hm?” Kenzo—atasannya, bicara dengan satu tangan berkacak pinggang dan tangan satunya menggerakkan ponsel Rion di udara. Melotot ke arah Rion yang menjadi teman dan juga kepala keamanan di perusahaannya itu.


“Ah … masalah begitu kenapa sampai marah?” Rion tahu jika Kenzo sampai datang ke sana, artinya temannya itu siap untuk marah.


Rion hendak mengambil ponselnya, tapi Kenzo langsung menjauhkan dari temannya itu.


“Berikan salinan videonya itu dulu, atau aku sita ponselmu!” ancam Kenzo.


Rion mencebik, kemudian mengajak Kenzo berjalan ke komputer yang ada di ruangan itu. “Memangnya kamu sangat membutuhkan rakaman itu hari ini juga, sampai-sampai menyempatkan datang ke sini untuk memintanya sendiri.”


Rion bicara sambil menggerakkan kursor, mencarikan rekaman CCTV di studio saat Grisel memaki Joya, sebelum kemudian menyalin dan mengirimkan ke ponsel Kenzo. Tentu saja rekaman itu akan digunakan Kenzo untuk melawan Grisel, karena sebelumnya model itu mengancam jika akan membalas rasa malunya hari kemarin.


“Memang tidak terburu-buru, hanya buat berjaga,” ujar Kenzo menjelaskan. “Jangan sampai waktu aku membutuhkan, malah belum memiliki dan tidak bisa menghubungimu. Apalagi sepertinya kini temanku ini sedikit malas bekerja dan sibuk chatting dengan seseorang,” sindir Kenzo, memandang layar ponsel Rion, di mana ada beberapa chat dari satu nama yang sama.

__ADS_1


“Wah … apa kamu sekarang punya pacar, hm?” tanya Kenzo menggoda karena melihat pesan yang diterima atas nama seorang gadis.


Rion langsung berdiri saat mendengar pertanyaan Kenzo, apalagi temannya itu mengintip layar ponselnya. Ia merebut dengan cepat dengan memasang wajah kesal.


“Jangan suka mengintip ponsel orang! Tidak sopan!” Rion memilih memasukkan ponselnya ke saku jas, jangan sampai Kenzo mengintip isi pesan yang terkirim untuknya. “Itu rekaman sudah aku kirim, sana pergi!” Usir Rion kemudian.


“Beraninya mengusirku! Apa kamu mau aku pecat, hm?” Kenzo mengangkat tangan seolah ingin memukul.


Rion secara impulsif mengangkat kedua tangan di wajah untuk menghalau pukulan yang mungkin akan dilayangkan Kenzo, tapi siapa sangka jika tunangan Joya itu hanya menggertak saja.


Kenzo menurunkan tangan saat melihat Rion yang memejamkan mata dengan mengangkat tangan, sebelum kemudian memilih memukul lengan temannya itu dengan sedikit keras.


“Aw!” Rion memekik karena kena pukul.


“Makanya, kalau mendapat perintah segera lakukan dengan benar! Jangan sampai aku datang ke sini sendiri,” ujar Kenzo mengingatkan.


Rion mengusap lengan yang kena pukul, lantas mencebik karena kesal Kenzo sudah membuatnya jantungan.


“Ya, aku ‘kan hanya lupa,” sangkal Rion.


Kenzo menggelengkan kepala pelan, mengecek pesan di mana Rion sudah mengirimkan video itu padanya.


“Ya sudah, lain kali perhatikan lagi.” Kenzo memperingatkan sekali lagi.


“Iya, bawel bener sekarang kamu,” keluh Rion. “Mentang-mentang mau nikah, lagi belajar bertanggung jawab, ya?” Rion meledek Kenzo.


Kenzo mengangkat tangan lagi, membuat Rion kembali mencoba menghadang dengan kedua lengan. Sampai pemuda itu memilih menurunkan tangan lagi, lantas membalas ledekan temannya itu.


“Lebih baik aku yang mau nikah dan belajar bertanggung jawab, daripada kamu yang jadi jomblo seumur hidup,” ledek Kenzo yang kemudian memilih keluar dari ruangan Rion.


Rion membulatkan bola mata lebar mendengar ledekan temannya itu, hingga kemudian mengejar sampai pintu dan berteriak, “Menghina! Aku sudah punya pacar, lihat saja! Akan aku kenalkan dia, biar kamu tidak menghinaku sebagai jomblo!”


Tentu saja teriakan Rion membuat para stafnya melongo, apalagi pemuda itu membahas masalah jomblo, mereka serentak menatap ke arah Rion yang berdiri di ambang pintu.


Kenzo sendiri hanya tersenyum, sebelum kemudian melambaikan tangan dan terus melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2