
“Aku sebenarnya sedang kesal sama Ibu,” jawab Sasa. Mengaduk-aduk jus yang dipesan, sebelum kemudian menyedotnya.
Joya menaikkan satu sudut alis, baru kali ini mendengar Sasa mengatakan kesal kepada ibunya sendiri. Ia tahu jika Sasa sangat menurut pada ibunya itu dan tidak pernah membantah sama sekali.
“Kenapa kesal?” tanya Joya penasaran.
Kenzo hanya mendengarkan dua gadis itu bicara, setelah sebelumnya memesan minuman juga makanan untuknya dan untuk kedua gadis itu.
“Gimana nggak kesal? Ibu melarang aku pacaran, malah bilang kalau aku mau dijodohkan sama anak Pak lurah kampung sebelah. ‘Kan aku kesel, Joy,” keluh Sasa menjawab pertanyaan Joya.
Ibu Sasa memang sedikit gila harta dan status, wanita paruh baya itu selalu menjodohkan anak mereka dengan juragan tanah atau yang memiliki jabatan di kota mereka. Termasuk kini Sasa yang juga akan dijodohkan, sedangkan Sasa sendiri sudah menyukai pemuda lain yaitu Rion.
Joya dan Kenzo dibuat melongo dengan jawaban Sasa.
“Bukannya biasanya kamu nurut sama ibumu?” tanya Joya menyelidik, hanya penasaran kenapa Sasa sekarang seolah ingin membangkang.
Sasa menarik napas panjang dan menghela perlahan, sebelum kemudian menjawab, “Aku bukannya nggak mau nurut, Joy. Hanya saja aku benar-benar suka sama cowok lain. Aku boleh dong memilih pasanganku sendiri, aku nggak mau melulu hidup diatur-atur terus. Ibu nggak mau ndengerin permintaan aku, dia sebenarnya bersikukuh ingin aku menerima perjodohan itu.”
Joya semakin keheranan, penasaran dengan alasan Sasa kini menentang permintaan ibunya. Ia tahu jika semua sepupunya sangat penurut pada keluarga, tidak ada yang membantah entah itu masalah perjodohan atau pendidikan.
“Memangnya cowok mana yang kamu sukai?” tanya Joya.
“Pesanannya, Mbak, Mas.” Belum juga Sasa menjawab, pelayan sudah datang menyajikan pesanan mereka, membuat perbincangan mereka terpotong.
“Terima kasih,” ucap Kenzo ketika pelayan selesai menyajikan makanan di meja.
Joya memilih meminum jus yang dipesankan Kenzo, sekedar membasahi tenggorokannya yang sedikit kering. Sasa mengambil kentang goreng dan mencocol saus kemudian memasukkan ke mulut sebelum menjawab pertanyaan Joya.
“Siapa cowok yang kamu sukai? Apa juga berasal dari kampung?” tanya Kenzo yang juga ikut penasaran.
Sasa menggelengkan kepala. “Bukan cowok kampung, dia cowok kota. Tapi Ibu tetap tidak setuju, karena katanya pekerjaannya biasa saja dan juga bilang kalau diminta mahar tanah satu hektar paling nggak sanggup beli. Makanya aku kesel dan memilih pergi untuk meminta bantuan Joya,” jawab Sasa panjang lebar.
Joya dan Kenzo melongo mendengar jawaban Sasa, bisa-bisanya ibunya Sasa berpikir untuk meminta mahar tanah. Belum juga ada rencana menikah, sudah membahas hal seperti itu.
__ADS_1
“Kenapa ibumu itu yang dipikirkan selalu saja harta, tebang-pilih. Memangnya dia masih tidak mau belajar dari kakakmu atau saudara lainnya?” Joya jadi kesal sendiri mendengar permintaan ibu Sasa yang terdengar seperti sebuah hinaan untuk kekasih Sasa. Joya juga tahu bagaimana sifat bibinya.
“Makanya itu, Joy. Aku mau minta bantuan, siapa tahu kamu bisa meyakinkan Ibu supaya mau merestui hubungan kami. Kami hanya mau menjalani hubungan pelan-pelan, jika cocok ya mau lanjut. Aku juga mau cari kerja di kota, nggak mau kalau diminta ngurus rumah terus. Aku nggak mau diatur kalau Ibu seperti itu.” Sasa mengungkapkan maksud kedatangannya.
Joya yang memang tak suka dengan sikap dan sifat para bibinya, tentu dengan senang hati malah menyanggupi untuk membantu Sasa.
“Nanti aku bantu cari kerja sesuai dengan ijazahmu. Lalu, kamu belum menyebutkan, siapa cowok yang kamu suka,” kata Joya.
Sasa menelan kentang goreng yang baru dikunyah, sebelum kemudian sedikit menegakkan badan dengan tatapan tertuju pada pintu masuk kafe. Sasa melambaikan tangan, terlihat senyum merekah di wajah gadis itu.
“Itu dia!” Sasa menunjuk menggunakan dagu.
Joya dan Kenzo sangat penasaran, keduanya lantas menoleh ke arah pintu yang dipunggungi. Hingga Joya langsung tersedak ludah ketika melihat siapa pemuda yang dimaksud Sasa.
“Seriously?”
Rion baru saja sampai di kafe, ketika berjalan menuju meja tempat Sasa dan yang lain duduk, pemuda itu melihat ekspresi aneh di wajah dua orang yang dikenalnya itu.
Kenzo langsung bersedekap dada menatap Rion, jadi pemuda itu pagi tadi berbalas pesan dengan Sasa dan mengabaikan perintahnya.
“Tunggu! Seriusan kalian berpacaran? Sejak kapan?” tanya Joya sampai menunjuk pada Rion dan Sasa bergantian. Sepupu Sasa itu tahu Rion tidak pernah berpacaran, lalu Sasa juga hidup di desa, bagaimana mereka bertemu dan kini menjalin hubungan.
“Seriuslah, masa bohongan,” jawab Sasa.
“Kami menjalin hubungan sejak pertunangan kalian, kenapa reaksi kalian seperti itu? Memangnya aneh?” tanya Rion karena seolah Joya dan Kenzo tak setuju dirinya memacari Sasa.
Joya membuang napas dengan mulut, sebelum kemudian menata dua anak manusia itu
“Cepat sekali kalian menjalin hubungan, baru juga beberapa hari kenal,” cibir Joya, takut jika keduanya hanya main-main saja.
“Benar, apa kalian benar-benar serius berpacaran. Belum lagi kalian ini kenal sekilas, bertemu juga baru sekali,” timpal Kenzo, menatap Sasa dan Rion bergantian.
Rion menoleh Sasa yang ternyata juga memandangnya, lantas keduanya sama-sama memandang Joya dan Kenzo bergantian.
__ADS_1
“Memang kami baru kenal, serta bertemu juga baru dua kali ini,” ucap Sasa membenarkan.
“Namun, kami benar-benar serius menjalin hubungan. Selama beberapa hari ini juga kami sering berkomunikasi,” timpal Rion kemudian.
Joya menggeleng kepala pelan, tak menyangka jika keduanya sangat kompak hingga menjawab pertanyaan saja bisa saling bersahutan.
“Benar-benar serasi, cocok.” Joya bicara dengan nada sindiran.
“Jangan gitu dong, Joy. Kami benar-benar serius mau mencoba hubungan ini, bantu aku sesuai janjimu tadi,” ujar Sasa mengingatkan Joya agar tak lupa dengan janji yang dibuat.
Rion menatap Kenzo yang terlihat meragukannya, lantas pemuda itu pun bicara untuk memberikan pembelaan karena sadar jika temannya itu masih menatapnya penuh curiga.
“Zo, kamu tahu aku bagaimana. Kita sudah saling kenal sejak masih SMA, kamu paham betul bagaimana sifatku, apa mungkin aku hanya mau main-main?” Rion malah menjelaskan keseriusannya pada Kenzo, seolah sedang bicara dengan orangtuanya.
Kenzo menghela napas, lantas menoleh Joya yang masih menatap Sasa.
“Ya, itu hak kamu, aku juga tidak ada hak meragukan. Hanya saja aku merasa semua terkesan tiba-tiba, tapi bukan berarti tidak percaya,” balas Kenzo.
“Tapi kalian benar-benar yakin dan tidak main-main?” tanya Joya kemudian memastikan, menatap bergantian Sasa dan Rion seolah mencari keseriusan di ekspresi keduanya.
Sasa dan Rion mengangguk, meyakinkan jika mereka memang ingin menjalin hubungan.
Joya kini menghela napas panjang, sebelum kemudian menyandarkan punggung dengan tatapan terus tertuju pada Sasa.
“Rion tahu soal ibumu?” tanya Joya kemudian, jangan sampai Rion syok ketika mengetahui bagaimana sifat dan sikap keluarga Sasa.
Sasa mengangguk dengan cepat, menoleh sekilas pada Rion, sebelum kemudian menatap Joya. “Aku sudah menceritakan padanya, bagaimanapun kami berpikir untuk menjalin hubungan yang serius, sehingga aku akhirnya jujur karena tak ingin ada masalah di belakang,” jawab Sasa menjelaskan.
Kini Joya menatap Rion, sebelum kemudian melontarkan pertanyaan pada pemuda itu. “Kamu sudah tahu bagaimana keluarga Sasa, lantas bagaimana tanggapanmu?”
Rion tersenyum kecil, menoleh Sasa lantas menatap Joya dan Kenzo bersamaan. “Aku sudah siap mental, bahkan sudah siap menghadapi jika itu perlu.”
Akhirnya Joya bersedia membantu Sasa mencari pekerjaan dan juga akan dibantu bicara dengan keluarganya. Sasa cukup senang dan berterima kasih, dengan begini dirinya bisa sedikit lega. Sasa juga akan tinggal di rumah Joya untuk sementara waktu, selama dirinya berada di kota dan bekerja di sana.
__ADS_1