
Hari pernikahan sepupu Sasa pun tiba. Sasa kini harus menghadapi masalah yang sudah dihindarinya sejak berhari-hari ini.
Sasa duduk diam seraya menundukkan kepala, bahkan jemarinya saling meremas untuk menyamarkan rasa takut.
Di hadapan gadis itu, ada ibunya yang memang sudah datang bersama anggota keluarga lain. Mereka datang untuk untuk melakukan persiapan dan menghadiri pernikahan Joya yang akan diadakan esok hari.
Santi terlihat kesal menatap putrinya, sepertinya masih tidak bisa menerima jika Sasa tinggal di kota dan berpacaran dengan Rion.
“Setelah pernikahan Joya, Ibu mau kamu ikut pulang!” perintah Santi memecah keheningan ruangan.
“Tidak mau!” tolak Sasa. “Di sini enak, aku bisa bekerja dan bebas!” Sasa memberi alasan.
Ibunya kembali murka, bahkan langsung berdiri dan mengangkat tangan untuk memukul Sasa.
“Kamu ini lama-lama kelakuan dan ucapan jadi ngelunjak juga tidak bisa diatur, hah!” Santi siap memukul Sasa karena terus mengabaikan dirinya.
Namun, tentu saja Joya yang juga ada di sana, tidak tinggal diam melihat hal itu. Ia langsung berdiri di hadapan Sasa dan menatap tajam pada bibinya.
“Minggir kamu, Joy!” Usir sang bibi.
“Ini rumahku, jika Bibi mau membuat gara-gara hari ini, mending Bibi pergi saja!” Usir balik Joya.
Sang bibi membulatkan bola mata lebar, tidak menyangka jika Joya berani menentangnya.
“Sasa itu anakku!” Tentu saja Santi takkan mau mengalah.
Semua yang ada di sana menatap Joya dan ibu Sasa bergantian, kedatangan mereka yang seharusnya membawa kebahagiaan karena pernikahan Joya yang akan dilaksanakan, malah jadi ajang debat dan saling bersitegang.
“Dia memang anakmu, tapi kamu tidak menganggapnya sebagai anak!” sembur Joya. “Dia punya pilihan, kamu malah menjadikannya boneka yang harus menuruti semua ucapanmu! Memang kewajiban anak untuk menurut pada orangtua, tapi anak juga punya hak untuk memilih apa yang diinginkan, selama itu baik! Pilihan Sasa benar, sebab itu aku akan mendukung dan membelanya!”
Joya terus menatap tajam bibinya, takkan membiarkan wanita itu semena-mena di rumahnya.
Santi terperangah mendengar ucapan Joya yang jelas-jelas menentang dan membangkang padanya. Merasa jika keponakannya semakin berani pada orang tua.
“Kamu beraninya--” Santi bersiap mengumpat, tapi terjeda karena dipotong cepat oleh Sarah—ibu Joya.
“Sudah! Kita ke sini tidak untuk membahas Sasa!” Potong Sarah cepat. Ia menatap kakaknya yang dirasa sudah melewati batas.
__ADS_1
“Bukannya Mbak sudah janji tidak akan membahas masalah Sasa, setidaknya sampai acara pernikahan Joya selesai!” Kini Sarah yang mengamuk karena merasa kakaknya tidak ada sopan-sopannya di rumah Joya, belum lagi kakaknya membuat suasana yang seharusnya penuh kebahagiaan menjadi begitu tegang.
“Benar kata Sarah, lebih baik kita bahas nanti. Kita di sini untuk membantu mempersiapkan pernikahan Joya, kenapa malah berdebat?” Kini Abdullah juga angkat bicara.
Santi terlihat kesal, lantas menatap sang suami juga yang lainnya secara bergantian. Ia pun memilih duduk, bersedekap dada seraya memalingkan wajah.
Joya pun menyingkir dari hadapan Sasa, kembali duduk di sebelah kakak sepupunya itu.
“Sasa tetap akan kerja di sini, dia sudah senang dan mendapat banyak pengalaman. Biarkan dia mandiri, agar kelak tak menyusahkan orang lain jika mendapat masalah, biarkan dia memiliki tanggung jawab atas apa yang dilakukannya,” ujar Joya mencoba memberi pengertian.
Sasa mengangguk cepat untuk mengamini ucapan Joya, sebelum kemudian menimpali karena merasa ini adalah masalahnya. “Benar, Bu. Aku bekerja karena ingin mandiri. Aku suka bekerja di sini, lagi pula Joya dan Mas Ken juga jaga aku di sini.”
Santi masih tidak mau mendengarkan, tetap tak mau mengerti dengan ucapan dan keinginan Sasa.
“Mas, ajak Mbak istirahat saja dulu. Masalah Sasa, bisa kita bicarakan nanti saja,” ujar Sarah pada kakak iparnya.
Abdullah mengangguk, kemudian mengajak sang istri keluar dari apartemen Joya ke unit apartemen yang memang disewa untuk istirahat keluarga Joya.
Semua orang kembali ke kegiatan mereka, ada yang sedang mempersiapkan bawaan untuk keluarga Kenzo, ada juga yang sibuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan.
Joya menoleh Sasa, paham jika kakak sepupunya itu pasti sedikit tertekan karena perselisihan dengan ibunya.
Sarah terkejut karena putrinya masih saja bisa bercanda setelah berdebat, sampai melempar bantal ke arah Joya.
“Kamu ini, baru saja berdebat tapi bisa-bisanya bercanda,” ujar Sarah.
Joya tertawa saat Sarah melemparnya dengan bantal, sebelum kemudian membalas ucapan wanita itu. “Ya gimana, Mi. Kalau nggak bercanda, ntar stres.”
Sasa bisa sedikit tersenyum ketika mendengar candaan Joya. Ia tidak tidur bersama kedua orangtuanya karena takut, memilih tetap berada di tempat Joya dan tidur di sana.
Di unit apartemen yang disewakan khusus untuk keluarga sepupu Sasa. Santi meluapkan amarah karena terus dibantah oleh Sasa.
“Dia sudah bukan Nisa yang dulu, dia banyak berubah. Pokoknya aku tidak akan membiarkan dia terus tinggal di sini. Lama-lama dia itu tidak tahu sopan santun kepada orangtua dan akan terus membangkang!” geram Santi.
“Sabar dulu, Bu. Ibu seharusnya juga tidak membuat keributan tadi.” Abdullah mencoba menenangkan.
“Bapak juga! Bukannya membela, malah diam saja dan ngajak Ibu pergi, ngeselin!”
__ADS_1
Lagi-lagi Abdullah kena amukan Santi dan pria itu hanya bisa menghela napas kasar.
**
Hari berikutnya. Acara pernikahaan Joya pun digelar. Sasa dan yang lainnya sudah berada di hotel untuk menghadiri acara sakral itu.
[Kamu di mana?]
Sasa membaca pesan dari Rion. Gadis itu tersenyum-senyum sendiri mendapat pesan dari Rion.
[Masih di kamar, nemenin Joya.]
Sasa secepat kilat membalas pesan dari rion.
[Apa Ibumu datang?] Rion kembali mengirimkan pesan.
Membaca pesan Rion yang menanyakan soal ibunya, membuat senyum Sasa hilang. Dia bingung bagaimana nantinya jika Rion bertemu dengan Santi.
[Ya, apa kamu yakin ingin bertemu dengan Ibu? Semalam Ibu marah, dia minta aku buat pulang bersamanya.]
Sasa kembali mengirimkan pesan ke Rion.
[Tentu saja, bukankah aku sudah berkata jika akan menemuinya. Apa pun hasilnya, kita harus mencoba.]
Sasa kembali tersenyum mendapat pesan dari Rion, lantas membalas jika akan bertemu setelah akad pernikahan Joya.
**
Setelah akad pernikahan Joya. Rion dan Sasa menemui Santi, mereka bicara di luar ruangan pesta. Santi tampak tak senang karena putrinya begitu dekat dengan pemuda yang dianggap tak pantas bersanding dengan sang putri.
Santi terus memandang keduanya secara bergantian, rasa kesal karena Sasa membangkang hanya demi pemuda itu kembali muncul.
“Pokoknya Ibu minta kalian putus!” perintah Santi ke Sasa.
Sasa sangat terkejut dengan perintah itu, tentu saja takkan mau menuruti ucapan ibunya.
“Tidak mau! Aku tetap akan memilih Rion!” tolak Sasa begitu tegas. Bahkan dia langsung menggenggam tangan Rion, membuat Santi langsung mendelik melihatnya.
__ADS_1
Santi memukul meja, membuat Sasa dan Rion terkejut hingga mengedikkan bahu.
“Kamu benar-benar ingin menjadi anak durhaka dan pembangkang, hah!” bentak Santi. “Bahkan sekarang kamu berani mengabaikan pesan dari Ibu!” hardik Santi lagi ketika ingat semua pesannya hanya dibaca dan tidak dibalas Sasa.