Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Ego masing-masing


__ADS_3

Di kampung, Santi terus memikirkan Sasa yang kabur dari rumah. Dia semalaman tidak bisa tidur nyenyak hingga kepalanya terasa pusing dan pagi ini hingga siang dia tidak bisa ke mana-mana karena kepala yang terasa berputar.


“Sasa tidak memiliki uang banyak untuk pergi, dari mana dia dapat uang untuk kabur ke kota?” tanya Santi ke suaminya pagi itu.


Abdullah mengedarkan pandangan ke arah lain, tentunya tidak berani mengaku jika telah memberikan Sasa sejumlah uang sebelum pergi.


“Mungkin Sasa memiliki tabungan, makanya digunakan untuk ongkos pergi ke kota,” jawab Abdullah agar terhindar dari amukan istrinya.


Santi memijat kening, kepalanya semakin berdenyut terasa sakit.


“Bapak telepon dia, minta dia buat pulang! Pokoknya dia harus pulang sebelum pernikahan Joya!” perintah Santi.


“Kenapa tidak nanti diajak pulang pas sekalian ke kota waktu pernikahan Joya saja, sekarang biarkan Nisa bebas dulu. Biar dia merasakan dan membandingkan enaknya hidup di kota dan desa,” ujar Abdullah yang sebenarnya sedang mengulur waktu.

__ADS_1


Santi memicingkan mata, tapi kemudian berpikir jika sepertinya yang diucapkan suaminya benar.


**


Sementara itu di rumah orangtua Rion, Danu berada di kamarnya setelah melihat Rion pulang. Pria itu duduk di kursi seraya menatap jendela, melihat semak yang tumbuh bersama bunga di halaman samping kamarnya. Sampai pintu kamar terbuka, tapi pria itu tak menoleh untuk melihat siapa yang datang.


Dewi masuk setelah meminta Rion mandi dan istirahat. Ia hendak bicara dengan suaminya agar tak bersikap kasar pada putra bungsu mereka itu.


“Rion akan menginap nanti malam,” ucap Dewi membuka pembicaraan.


Dewi menghela napas kasar, entah kenapa sangat sulit bicara dan membujuk suaminya itu. Ia pun mendekat dan duduk di kursi yang berhadapan dengan sang suami, menghalangi pandangan Danu ke arah jendela.


“Ini sudah bertahun-tahun, sampai kapan Bapak mau marah terus sama Rion?” tanya Dewi, tak tahan melihat kerenggangan hubungan ayah dan anak itu.

__ADS_1


“Kalau dia bisa mikir aku akan marah, seharusnya dia itu mau menuruti ucapanku.” Akhirnya Danu mau bicara.


“Ini sudah bertahun-tahun, Pak. Sampai kapan Bapak mau membahas hal itu terus? Apa Bapak nggak kesepian setelah Rion tidak pernah pulang? Apa ego Bapak lebih penting daripada kebersamaan kita?” tanya Dewi bertubi.


Danu menatap tajam pada sang istri, tatapan yang bisa membuat nyali siapa saja menciut.


“Dia itu anak laki-laki satu-satunya yang kita miliki, apa tidak bisa dia itu menuruti ucapanku sebagai bapaknya? Apa susahnya dia itu jadi tentara, daripada belajar komputer tak jelas!” Danu mulai mengungkit masalah yang membuatnya bertengkar dengan Rion.


Danu menginginkan Rion menjadi seorang tentara, mengikuti jejaknya untuk mengabdi bagi negara. Namun, sayangnya Rion lebih tertarik dengan komputer, bahkan pemuda itu sudah menekuni hobinya itu sejak sekolah dasar, membuat Danu geram ketika Rion menolak saat akan dimasukkan ke sekolah militer.


“Tapi dia juga punya hak untuk memilih, Pak. Jangan paksa kehendak yang tidak disukainya! Apa Bapak lebih memilih dia tidak bahagia dengan pilihan yang Bapak inginkan daripada dia bahagia dengan pilihan yang dia inginkan? Seharusnya Bapak juga memikirkan perasaannya, bukan hanya perasaan dan keinginan Bapak saja.”


Setelah sekian tahun, akhirnya Dewi berani bicara. Ia hanya tak ingin kehilangan atau berpisah lagi dengan Rion.

__ADS_1


“Ibu menderita, Pak. Apa tidak cukup anak-anak kita yang lain hidup jauh dari kita. Apa Bapak tak ingin jika Rion dekat dengan kita? Ibu ingin Rion di rumah, Pak. Rion tidak salah dengan mempertahankan impiannya, Bapak tidak salah jika memiliki harapan padanya, tapi di sini yang salah adalah ego Bapak. Bapak terlalu berambisi, sampai lupa cara membahagiakan anak. Jika Bapak tidak mau memaafkan atau menerima Rion, Ibu juga mau pergi. Ibu mau tinggal sama Rion, biar saja Ibu dibilang durhaka sama suami. Tiga puluh lima tahun nikah sama Bapak, Ibu tidak pernah minta apa-apa, sekarang Ibu hanya ingin Bapak memaafkan Rion, dia itu putra kita, Bapak harus ingat itu.”


Dewi pergi setelah meluapkan apa yang dipendamnya, meninggalkan sang suami yang keras kepala untuk berpikir.


__ADS_2