Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Kecupan di pipi


__ADS_3

Rion mengantar Sasa pulang setelah selesai berbincang lama dengan Danu dan Dewi. Mobil mereka kini sudah berada di depan gedung apartemen Joya.


“Aku naik dulu,” kata Sasa setelah melepas seat belt.


“Ya, istirahatlah yang cukup,” balas Rion, menatap Sasa sebelum keluar.


Sasa hendak membuka pintu, tapi urung dan kembali menatap Rion.


“Terima kasih,” ucap Sasa.


“Untuk apa?” tanya Rion keheranan karena ucapan Sasa.


“Karena mengenalkan orangtuamu kepadaku, saat bicara dengan ibumu, aku merasa begitu tenang, tidak terlalu memikirkan Ibu yang mungkin masih marah padaku,” jawab Sasa dengan senyum mengembang di bibir, ada sebuah kelegaan di pancaran matanya.


Rion mengulurkan tangan dan mengusap rambut Sasa. “Tidak usah berterima kasih, bukankah semua ini akhirnya juga untuk kita,” ujar Rion kemudian.


Sasa mengangguk, lantas tangannya meraih pintu dan membuka. Namun, sebelum itu Sasa kembali berbalik dan mendaratkan kecupan di pipi Rion.


“Selamat malam,” ucap Sasa sebelum kemudian kabur dari mobil.


Rion cukup terkejut, hingga memegangi pipi tanpa membalas ucapan Sasa. Ada binar kebahagiaan di mata, tatapannya kini terus tertuju pada punggung Sasa yang berlalu pergi.

__ADS_1


**


Sasa sudah berada di kamar, langsung merebahkan tubuh dengan posisi telungkup. Kedua tangan menutup wajahnya sendiri, sebelum kemudian membalikkan badan dan membuka wajahnya. Dia menatap langit-langit kamar dan tersenyum-senyum sendiri.


Sasa malu, bagaimana bisa dirinya mencium Rion dulu. Apa yang ada di pikirannya tadi, bagaimana bisa dia bersikap demikian.


“Ah … bagaimana caranya menghadapinya besok kalau ketemu?”


Sasa terlihat kebingungan sendiri. Dia tadi terlalu bahagia, hingga tiba-tiba berani mencium Rion, meski hanya di pipi.


Sasa tersenyum-senyum sendiri, lantas kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bahkan menendangkan kedua kaki di udara seperti anak kecil.


**


“Gadis itu, kenapa dia agresif sekali.” Rion geli sendiri, tangan masih mengusap pelan pipi yang dicium Sasa.


**


Sasa bekerja semakin rajin. Ia kini sedang membuatkan minum untuk karyawan di divisi Joya.


Gadis itu melangkah riang dengan nampan berisi cangkir minuman di tangan, berjalan masuk ke ruang divisi untuk memberikan minuman pesanan staf di sana.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Kiyara saat mendapatkan jatah minum dari Sasa. “Oh ya, Sa. Apa Joya menghubungimu?” tanya Kiyara membuat langkah Sasa yang ingin pergi terhenti.


“Nggak, Mbak. Mungkin Joya sedang bersenang-senang, jadi lupa buat menghubungi orang di sini,” jawab Sasa, dirinya sendiri juga takut menghubungi karena tak ingin menganggu.


“Ah … benar juga, ya sudah.” Kiyara akhirnya memilih menyesap kopi buatan Sasa.


Sasa pun pamit karena harus mengerjakan tugas lain. Gadis itu keluar dari ruang divisi dan bertemu dengan office boy di divisi itu.


“Untung ketemu kamu di sini,” kata pemuda itu.


“Memangnya ada apa?” tanya Sasa bingung.


“Ada yang mencarimu, tadi pihak resepsionis memintaku untuk memanggilmu,” jawab office boy itu.


“Mencariku?” tanya Sasa setengah tak percaya, siapa yang mencarinya.


Pemuda itu mengangguk, sebelum kemudian meminta agar Sasa cepat turun untuk menemui tamunya.


Sasa berjalan menuju lift seraya menggaruk kepala tidak gatal, sedang menerka siapa yang mencarinya.


“Tidak mungkin Ibu, ‘kan?”

__ADS_1


Sasa tiba-tiba menghentikan langkah, takut jika yang mencarinya adalah sang ibu kemudian menyeretnya pulang.


“Bagaimana kalau beneran Ibu?” Sasa benar-benar ragu untuk turun.


__ADS_2