
“Jangan kapok main ke sini, ya.” Dewi mengantar Sasa dan Rion hingga ke mobil, sedangkan Danu hanya berdiri di depan teras rumah.
“Nggak, Tan. Saya malah senang bisa ngobrol sama Tante,” ujar Sasa. Dia lantas melirik ke belakang Dewi, di mana Danu berdiri dan menatap dari kejauhan tanpa kata.
Dewi melihat gelagat Sasa, tampaknya kekasih putranya itu masih syok dengan sikap keras dan dingin Danu.
“Bapaknya Rion memang begitu, kalau belum kenal yang diam dan menakutkan. Tapi kalau nanti kamu sudah sering ngobrol sama dia, pasti kamu tidak akan takut lagi,” ujar Dewi, sadar jika Sasa pasti tertekan berhadapan dengan Danu.
Sasa terkejut mendengar ucapan Dewi, hingga kemudian merasa canggung karena ketahuan melirik ke arah Danu karena takut.
“Iya, Tan. Terima kasih karena sudah nerima saya di rumah ini,” ucap Sasa dengan sedikit menganggukkan kepala.
Dewi tersenyum dan mengangguk, sedangkan Rion hanya tersenyum mendengar pembicaraan dua wanita itu.
Rion dan Sasa pun masuk mobil, tampak melambaikan tangan sebelum kemudian mobil itu meninggalkan pekarangan rumah Danu.
Dewi melambai hingga mobil itu benar-benar berlalu pergi, mendesau pelan sebelum kemudian melirik ke arah suaminya. Dewi juga terkejut dengan sikap Danu, kenapa suaminya itu sangat keras bahkan dengan Sasa yang lemah lembut. Dia pun kemudian berjalan kembali ke rumah, di mana Danu masih berdiri di sana.
“Bapak ini, memangnya tidak bisa bersikap lunak sedikit? Bagaimana kalau pacar putramu itu takut, lantas tidak mau sama ke sini lagi?” tanya Dewi kemudian mencebik.
__ADS_1
“Ya, kalau dia benar-benar mau sama Rion, seharusnya dia nggak masalah dengan sikapku. Dia bakal sama Rion, nantinya akan sering berinteraksi dengan kita, Bapak tidak mau ya pura-pura baik apalagi kalem, tapi nantinya dia tahu sifat asli Bapak seperti apa. Lebih baik dia tahu sejak awal, agar setelahnya tidak syok. Emang Ibu mau, kita seperti orangtua yang awalnya baik, tapi nanti akhirnya mengeluarkan sifat aslinya setelah sering bertemu, nggak ‘kan? Mending seperti Bapak, jujur apa adanya!” jawab Danu panjang lebar menyangkal semua ucapan Dewi.
Namun, ucapan pria tua itu memang benar. Alangkah baik menunjukkan sifat aslinya sekarang, daripada nanti setelah akrab, dengan begini Sasa pun akan belajar mengerti serta terbiasa dengan kondisi yang ada.
Danu lantas beranjak masuk setelah selesai bicara, meninggalkan Dewi yang masih termangu di teras.
Dewi melongo mendengar ucapan sang suami, tapi sedetik kemudian mencebikkan bibir. “Jujur apanya, Pak. Suka sama sambal buatan Sasa aja nggak mau ngaku.”
**
Sasa sudah bersiap untuk bekerja keesokan harinya. Kemarin dirinya cukup senang bisa makan malam bersama orangtua Rion juga berbincang lama dengan Dewi, meskipun Danu masih bersikap dingin padanya.
“Halo, aku baru keluar lift,” kata Sasa saat melihat nama Rion terpampang di layar ponsel.
“Aku sudah di depan lobi,” balas Rion dari seberang panggilan.
Mendengar sang kekasih sudah menunggunya, Sasa berjalan cepat untuk bisa bergegas menghampiri Rion. Ia melihat mobil pemuda itu di depan lobi dan langsung melambaikan tangan. Sasa pun mengakhiri panggilan dan membuka pintu mobil untuk bisa segera masuk.
“Sudah lama?” tanya Sasa begitu masuk dan memakai seat belt.
__ADS_1
“Tidak juga, tepat aku sampai kamu sudah turun,” jawab Rion.
Sasa tersenyum lebar, sebelum kemudian duduk dengan benar.
Rion melajukan mobil begitu Sasa sudah memakai seat belt dengan benar untuk segera berangkat ke perusahaan.
“Soal Bapak kemarin, kamu tidak memasukkan sikapnya ke dalam hati, ‘kan?” tanya Rion di sela mengemudi.
Rion hanya merasa tak enak hati karena Danu sangat dingin dan terkesan tak bisa menerima Sasa.
Sasa terkejut Rion bertanya seperti itu. Ia menoleh dengan senyum yang dipaksakan.
“Nggak kok, ya wajar kalau Bapakmu tak langsung setuju. Ibumu terlihat menyukai dan menerimaku saja aku sudah senang,” jawab Sasa yang tentu saja tak mau menambah beban pikiran Rion, meski dalam hatinya sedikit sedih karena sikap Danu.
Kini Sasa bisa merasakan bagaimana perasaan Rion, pemuda itu pasti sama halnya dengan dirinya saat bertemu ibunya dulu. Sedih karena tidak diterima.
“Bapak memang seperti itu, keras dan tegas tapi sebenarnya hatinya baik. Mungkin jika sudah mengenalmu lebih jauh, juga mengetahui keseriusan hubungan kita, Bapak akan paham dan mau menerima hubungan kita,” ujar Rion mencoba melegakan hati Sasa.
Sasa tersenyum lebar meski tak menunjukkan deretan gigi, lantas mengangguk dan akan bersabar dalam menghadapi sikap Danu.
__ADS_1