
Hubungan percintaan Rion dan Sasa berjalan dengan baik, keduanya sering berkunjung ke rumah Danu karena pria tua itu mengundang hanya ingin merasakan sambal buatan Sasa.
Namun, dibalik restu Danu dan Dewi, hubungan percintaan Sasa masih terkendala restu Santi. Bahkan wanita itu terus menghubungi Sasa dan mengancam serta meminta gadis itu pulang. Sasa tetap akan dijodohkan dengan pria pilihan Santi, tapi tentu saja Sasa terus menolak dan bersikukuh takkan pulang.
Siang itu Sasa duduk di pantry seraya memegang cangkir berisi teh hangat. Dirinya sedang memikirkan cara agar ibunya setuju dengan hubungannya dan Rion. Sasa sendiri sudah menceritakan semuanya ke Rion, tapi sayangnya sang kekasih selalu menolak idenya untuk kawin lari.
Bukan Rion tidak ingin menikah, tapi karena pemuda itu ingin menikah berlandaskan restu dari orangtua mereka. Rion tidak ingin rumah tangga yang akan mereka jalin mendapatkan karma karena tidak meminta restu orangtua Sasa.
“Apa yang harus aku lakukan agar Ibu terpaksa memberi restu? Apa aku pura-pura hamil?” Tiba-tiba ide gila melintas di kepala, entah setan apa yang datang hingga membuat Sasa berpikir demikian.
Mungkin lebih tepatnya karena Sasa lelah terus diancam ibunya, serta dihubungi karena diminta untuk pulang dan menikah dengan pilihan sang ibu.
**
Malam itu Rion mengajak Sasa makan di luar. Keduanya tampak menikmati hidangan yang disajikan sebuah warung tenda yang mereka datangi.
“Ini enak, coba dulu,” kata Rion sambil menyuapkan makanan yang dipesannya.
Sasa membuka mulut, kemudian membiarkan Rion menyuapinya.
“Enak?” tanya Rion.
“Iya, enak,” jawab Sasa.
__ADS_1
Rion senang saat melihat Sasa berwajah ceria. Itu karena tahu jika Sasa sebenarnya tertekan dengan menjalani hubungan tanpa restu. Apalagi Santi terus menelepon dan mengancam Sasa, membuat kekasihnya itu beberapa hari yang lalu sering murung.
“Mau pesan lagi?” tanya Rion saat melihat menu makan malam Sasa hampir habis.
“Tidak usah, ini sudah cukup,” jawab Sasa menolak.
Rion memperhatikan Sasa makan, kemudian berkata, “Sa, kalau pulang kampung bagaimana?”
Sasa terkejut mendengar perkataan Rion, hingga menoleh kekasihnya itu dengan rasa tak percaya.
“Kenapa? Kamu mau mengembalikanku ke Ibu?” tanya Sasa dengan bola mata berkaca. Dia tidak akan rela jika Rion menyerah terhadapnya hanya karena tidak ada restu dari Santi.
“Bukan,” jawab Rion. Dia mengambil tisu dan mengusap ujung bibir Sasa yang sedikit belepotan.
“Aku ingin melamarmu langsung, bagaimana?” tanya Rion kemudian.
Sasa terdiam tak bisa berkata-kata, ditatapnya Rion yang dikiranya hanya bercanda.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Rion karena Sasa terdiam.
“Bagaimana kalau Ibu masih tetap tidak memberi restu?” tanya Sasa balik.
“Aku akan tetap berusaha, kalau perlu mengikuti apa yang ibumu inginkan,” jawab Rion penuh keyakinan.
__ADS_1
Sasa menatap Rion, merasa terharu dengan keinginan Rion untuk mempertahankan hubungan mereka.
“Jika Ibu masih tidak setuju, aku tetap akan ikut denganmu,” ucap Sasa ingin menangis, tapi malu karena berada di tempat umum.
Rion menggenggam telapak tangan Sasa, kemudian menganggukkan kepala setuju.
**
Pagi itu Rion tampak sudah berada di depan lobi apartemen tempat Sasa tinggal. Setelah percakapan semalam dengan Sasa, mereka memutuskan untuk pulang ke kampung halaman setelah mendapat izin cuti dari Kenzo.
Sasa keluar dari lift, hingga melihat Rion yang berdiri di samping mobil. Dia lantas berlari kecil untuk segera menghampiri kekasihnya itu.
“Kita benar-benar akan pulang?” tanya Sasa saat sudah berdiri di hadapan Rion.
Rion mengangguk, kemudian menjawab, “Ya, agar kamu tak lagi cemas akan keseriusan hubungan kita.”
Sasa mengembangkan senyum, kemudian mengangguk dan masuk mobil.
Mereka pun berangkat, menumpukan harapan pada sebuah tekad. Mereka tidak tahu apakah kedatangan keduanya akan diterima, ataukah akan mendapat penolakan lagi, yang terpenting bagi mereka adalah berusaha.
“Aku menghubungi Bibi Sarah, bilang kalau mau pulang tapi minta jangan bilang ke Ibu dulu,” kata Sasa saat keduanya sudah berkendara menuju kota tempat Sasa tinggal.
“Berarti kita ke tempat bibimu dulu?” tanya Rion sambil fokus menyetir.
__ADS_1
“Iya, menurutku lebih aman ke tempat Bibi dulu, mengingat bagaimana tidak sukanya Ibu sama hubungan kita. Setidaknya Bibi sama Paman bisa bantu kita nantinya waktu bicara dengan Ibu,” jawab Sasa. Bagaimanapun Sarah sudah tahu bagaimana sikap Santi ke Rion, Sasa yakin jika Sarah yang memiliki pemikiran modern dan terbuka, bisa membantunya nanti.
“Baiklah, aku mengerti.”