
Sasa kembali ke perusahaan setelah bicara dengan Anton, serta tetap bersikeras tidak akan menerima perjodohan mereka. Meski Anton berkata jika menyukainya sejak SMA, tapi tetap saja Sasa tidak memiliki rasa apa pun karena pada dasarnya sudah sangat mencintai Rion.
“Semoga dia tidak mencariku lagi,” gumam Sasa.
Saat baru saja sampai di lobi, Sasa bertemu dengan Rion yang ternyata ada di sana.
“Rion.” Sasa merekahkan senyum, lantas berjalan menghampiri Rion.
Rion sendiri memang menunggu Sasa, tahu jika gadis itu pergi dari perusahaan.
“Kamu dari mana?” tanya Rion dengan wajah ekspresi datar.
“Dari luar,” jawab Sasa sambil menunjuk ke pintu lobi, senyum di wajah hilang saat melihat tatapan Rion yang sedikit berbeda.
“Ayo kita bicara,” kata Rion sambil menggandeng tangan Sasa.
Sasa merasa aneh dengan sikap Rion, tapi memilih diam dan mengikuti ke mana kekasihnya itu mengajak pergi.
__ADS_1
Rion mengajak Sasa masuk ke pintu akses tangga darurat, kemudian duduk di salah satu anak tangga yang ada di sana.
“Rion, ada apa?” tanya Sasa tiba-tiba cemas.
Rion mengeluarkan ponsel, kemudian memperlihatkan sesuatu ke Sasa.
“Aku tidak mau berburuk sangka, jadi aku ingin kamu menjelaskan dengan jujur, karena aku pun percaya kepadamu,” kata Rion sambil menunjukkan foto di ponselnya.
Sasa mengambil ponsel Rion, melihat foto di benda pipih milik kekasihnya itu. Hingga Sasa terkejut karena ternyata ada yang mengambil foto dirinya dan Anton saat di kafe.
“Kurang kerjaan sekali,” geram Sasa.
Rion sendiri sudah mengecek rekaman CCTV perusahaan, melihat Sasa saat bicara dengan Anton di lobi, sebelum kemudian keduanya pergi keluar. Namun, Rion sendiri memiliki pemikirannya sendiri, yakin jika Sasa pasti memiliki penjelasan yang masuk akal untuknya.
Sasa memilih duduk di samping Rion, hingga keduanya kini saling tatap.
“Dia ini Anton, pemuda yang mau dijodohkan denganku,” ujar Sasa menjelaskan.
__ADS_1
Rion menegakkan badan saat mendengar jika pria yang ada di foto adalah calon pilihan Santi, ditatapnya sang kekasih dengan rasa tak percaya.
“Dia mau apa?” tanya Rion dengan raut wajah tak senang.
“Ibu nyuruh dia nyusul aku ke sini, minta aku buat nerima perjodohan kami. Aku tolak dan minta dia pulang, terus minta bilangin ke Ibu jika aku tetap tidak akan pernah mau dijodohkan,” jawab Sasa. Namun, Sasa tidak jujur jika Anton menyukainya, takut jika Rion semakin marah dan tidak bisa mengontrol emosi.
“Jadi dia sudah pergi?” tanya Rion yang mulai terpancing emosi.
Selama ini Rion dengan sabar menghadapi masalah yang menyangkut tentang hubungannya dengan Sasa, tapi kali ini tidak bisa tinggal diam apalagi pria yang dijodohkan dengan Sasa sampai datang ke kota.
“Sepertinya, karena aku minta dia pergi,” jawab Sasa dengan wajah tertekuk. Takut jika Rion marah, juga kesal karena ada yang membuat Rion curiga kepadanya.
Rion memandang Sasa, melihat kalau gadis itu pasti tertekan lagi. Dia pun meraih kepala Sasa, kemudian menyandarkan dalam pelukan.
“Maaf jika aku langsung bertanya tentang kebenaran foto itu, daripada aku memendam sendiri kemudian kita bertengkar, lebih baik begini karena semua akhirnya menemukan kebenarannya,” ucap Rion masih memeluk Sasa.
“Ya, aku senang kamu mau bertanya, takut jika kamu malah hanya diam dan mencurigaiku tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya serta hanya percaya ke foto,” balas Sasa.
__ADS_1
“Foto ini sungguh laknat, siapa sih ini yang kirim? Kenapa dia iseng sekali mengambil fotoku lalu ngirim ke kamu? Atau jangan-jangan dia menyukaimu dan ingin kita pisah, dengan cara memanfaatkan foto ini?” Sasa tiba-tiba merasa curiga dengan orang yang iseng mengambil foto dirinya dan Anton.
Sasa menjauhkan kepala dari dekapan Rion, agar bisa memandang wajah pemuda itu. Rion sendiri tampak berpikir, mungkinkah yang dikatakan Sasa benar, tapi dirinya pun tidak ingin gegabah menyimpulkan jika yang mengirimkan foto menyukai dirinya, karena selama ini sebelum dirinya berpacaran dengan Sasa, semua tampak biasa saja.