Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Saling bantu


__ADS_3

Sasa baru saja keluar dari lift karena hendak bekerja. Joya sudah mengajak untuk berangkat bersama, tapi Sasa menolak karena dirinya harus datang lebih awal, sedangkan Joya nanti masih mampir ke rumah orangtua Kenzo untuk menitipkan Cheryl—anak asuh Joya, membuat Sasa memilih naik bis.


Gadis itu berjalan di lobi, mengenakan kaus yang dipadukan dengan jaket dan celana jeans biru. Dia berjalan sambil mengikat rambut panjangnya, hingga langkah terhenti saat melihat siapa yang berdiri di luar lobi memandang dirinya.


“Rion.” Sasa tersenyum lebar, tidak menyangka jika pemuda itu ada di sana.


Sasa pun berjalan dengan cepat untuk segera menghampiri kekasihnya itu. Rion tersenyum melihat Sasa yang kini berjalan ke arahnya.


“Kenapa tidak kirim pesan dulu kalau mau datang?” tanya Sasa ketika sudah berdiri di hadapan Rion.


“Mau jemput pacar sendiri pun harus kirim pesan dulu.” Rion membalas pertanyaan Sasa dengan nada candaan.


Seketika wajah Sasa merona mendengar ucapan Rion, hingga membuatnya mengatupkan bibir karena malu.


“Aku dari rumah orangtuaku, lantas langsung ke sini,” ujar Rion, kemudian membukakan pintu mobil agar Sasa bisa masuk.


“Tapi, kalau kamu kirim pesan, setidaknya aku tidak akan berangkat duluan. Kalau tiba-tiba aku sudah berangkat, bagaimana?” tanya Sasa, hendak masuk mobil tapi urung dan menatap Rion.


Rion tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Sasa, sebelum kemudian menjawab, “Kalau begitu nasib tidak bertemu denganmu.”


Sasa tertawa kecil, lantas memilih masuk mobil. Rion segera menutup pintu sebelum kemudian berjalan memutari mobil, lantas masuk dan duduk di belakang kemudi. Dia menjalankan mobil begitu Sasa sudah memasang seat belt dengan benar.


“Masalahnya sudah selesai?” tanya Sasa ketika mobil sudah melaju meninggalkan apartemen. Rion semalam hanya berkata pulang ke rumah orangtuanya karena ada masalah yang harus diselesaikan.


“Sudah dan aku merasa lega,” jawab Rion, menoleh sekilas ke arah Sasa.


Sasa menoleh dan memandang Rion, melihat sedikit aura berbeda yang terpancar di wajah pemuda itu. Rion tampak lebih ceria dari sebelumnya.


“Ada masalah apa kemarin?” tanya Sasa memberanikan diri.

__ADS_1


Rion terkejut mendengar pertanyaan Sasa, menoleh sekilas ke arah gadis itu sebelum kemudian kembali fokus ke jalanan.


Sasa merasa jika pertanyaannya terlalu membebani Rion, hingga kemudian dia kembali berkata, “Jika itu hal yang sangat pribadi, tidak dijawab pun tak apa.”


“Sebenarnya masalah keluarga,” ucap Rion menjawab pertanyaan Sasa. Mencoba jujur karena tidak ingin Sasa berburuk sangka kepadanya. Rion pun menceritakan semua masalahnya, termasuk kerenggangan hubungan dengan Danu.


“Tapi semua kini sudah berakhir, aku merasa lega sekarang,” ucap Rion setelah selesai bercerita.


Sasa terdiam, mungkinkah dirinya juga akan saling diam dengan ibunya sampai bertahun-tahun karena keegoisan masing-masing. Namun, kasusnya berbeda, jelas ayah Rion dan ibu Sasa adalah dua orang dengan kepribadian serta pemikiran berbeda. Ibu Sasa hanya gila akan harta, hingga tidak bisa melihat mana yang baik dan buruk.


“Syukurlah kalau semua sudah baik-baik saja,” balas Sasa kemudian.


Rion mengangguk, lantas berkata, “Aku belum menceritakan tentangmu kepada mereka, tidak apa-apa, ‘kan?”


Sasa terkejut mendengar perkataan Rion, kenapa pemuda itu bertanya seperti demikian, sedangkan dia saja sebenarnya memang belum siap jika hubungan mereka diketahui oleh keluarga Rion.


“Tidak apa-apa, lagi pula aku juga belum siap,” balas Sasa.


“Aku ingin kita menjalin hubungan lebih jauh, hanya saja kita butuh kesiapan untuk melakukannya. Aku tidak mau sebuah hubungan yang didasari keterpaksaan atau terlalu terburu-buru dalam memutuskan segala hal. Aku ingin kita bisa saling mengerti, sebelum membuat orang lain paham. Hingga pada waktunya nanti, aku pasti akan membawamu ke rumah orangtuaku,” ujar Rion panjang lebar


Sasa mengangguk paham, lantas keduanya berjanji untuk membuktikan jika hubungan mereka bukan hanya sekedar main-main. Sasa akan membuktikan kepada ibunya jika dia dan Rion bisa bersama dengan cara mereka, sedangkan Rion menunggu waktu yang tepat untuk bicara kepada kedua orangtuanya, mengingat dia baru saja berbaikan dengan Danu.


**


Siang itu Sasa masih berada di pantry tempat ruang divisinya bekerja karena belum selesai membersihkan. Dia baru saja mengepel lantai sepanjang koridor dan kini tengah membersihkan pantry. Gadis itu sangat giat dan tidak pernah mengeluh, selalu ramah hingga membuat banyak staf di divisi itu yang menyukainya.


“Mau dibantu?” Suara Rion terdengar di pantry hingga membuat Sasa terkejut.


Sasa menoleh, melihat Rion yang berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“Kok kamu di sini?” tanya Sasa keheranan.


“Aku mengirimimu pesan, tapi kamu tidak membalas. Jadi aku langsung ke sini,” jawab Rion, kini sudah berdiri di samping Sasa.


Sasa menaikkan kedua sudut alis, lantas meraba saku seragam kerja dan celana, baru ingat kalau tidak membawa ponsel.


“Aku lupa ponselku di ruang ganti sedang dicaz, semalam lupa ngisi daya,” ujar Sasa.


Rion hanya tersenyum menanggapi penjelasan Sasa, menatap kekasihnya itu yang kembali mengelap meja pantry.


“Kenapa tidak istirahat makan siang?” tanya Rion karena di ruang divisi dan pekerja lain sudah pergi ke kantin.


“Sebentar lagi, tidak enak kalau meninggalkan tempat kerjaan dalam kondisi kotor,” jawab Sasa tanpa menoleh Rion.


Sasa terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah dengan sempurna, kini semua itu juga diterapkan dalam pekerjaannya. Rion sendiri tampak bangga mendapat kekasih seperti Sasa, hingga berpikir jika Dewi melihat Sasa yang begitu rajin, ibunya itu pasti akan suka dengan Sasa.


Rion menengok ke kanan dan kiri, hingga melihat gelas dan cangkir kotor di washbak. Dia pun menaikkan ujung lengan jas dan kemeja lantas meraih sabun untuk mencuci.


“Eh … mau ngapain?” tanya Sasa saat melihat Rion meraih sabun dan spon.


“Membantumu biar cepat selesai,” jawab Rion.


“Jangan! Nanti pakaianmu kotor dan basah!” Sasa mencoba mencegah apa yang ingin dilakukan Rion, bahkan hendak mengambil spon dari tangan Rion.


Rion mengangkat tangan ke udara, hingga Sasa tidak bisa mengambil spon dari tangannya.


“Tidak apa-apa. Aku ingin membantumu agar cepat selesai,” ujar Rion.


“Tapi ….” Sasa ingin menolak, tapi urung karena Rion memberi isyarat dengan jari untuk tidak bicara.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Kamu kamu kerjakan yang lain, aku akan mencuci gelasnya, oke.” Pemuda itu tersenyum manis, bola matanya memancar indah di balik kacamata yang bertengger.


Sasa akhirnya mengangguk, membiarkan Rion mencuci gelas untuknya.


__ADS_2