Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Dari sambal turun ke hati


__ADS_3

Danu mengajak Rion ke halaman samping, mereka duduk di kursi yang ada di sana menghadap ke taman kecil.


“Kamu di telepon bilang kalau mau memperkenalkan gadis itu, memangnya kamu serius sama dia?” tanya Danu membuka perbincangan tanpa menatap Rion. Pria itu memandang semak kecil dan tanaman bunga yang ada di taman.


Rion menundukkan kepala sejenak, menatap ke sepuluh jarinya secara bergantian, sebelum kemudian menarik napas panjang lantas menghela perlahan dan siap menjawab pertanyaan Danu.


“Tentu saja,” jawab Rion penuh keyakinan. “Selama ini Rion tidak pernah namanya pacaran atau melirik gadis, Pak. Tapi Sasa bisa membuat Rion melihatnya. Mungkin ini namanya jodoh, Sasa sendiri juga tulus mencintai Rion,” imbuhnya kemudian. Ia ikut menatap bunga yang mekar di taman itu.


Danu menoleh Rion setelah putranya itu selesai menjawab, menatap sang putra yang terlihat serius tapi juga ada rasa takut.


“Memangnya dari mana kamu yakin jika dia tulus?” tanya Danu yang tentu saja meragukan masalah cinta, apalagi bagi Danu Rion masihlah seorang pemuda labil.


Rion kini menoleh Danu, lantas tersenyum kecil pada ayahnya itu. “Keluarganya sebenarnya tidak merestui hubungan kami, Pak. Ibunya menganggap jika anak kota sepertiku tidak baik untuk gadis seperti Sasa. Rion awalnya berpikir jika Sasa akan memilih nurut sama ibunya, tapi siapa sangka jika dia malah milih membangkang demi mempertahankan hubungan kami,” jawab Rion.


Danu terkejut dengan jawaban putranya, apalagi saat tahu jika Sasa membangkang kepada kedua orangtua.


“Jadi anak itu harus nurut sama orangtua, kenapa pacarmu malah membangkang?” tanya Danu kemudian.


“Ya karena Rion,” jawab Rion. “Sasa tulus menerima Rion apa adanya, Pak. Dia tidak pernah tanya apa pekerjaan Rion sebelumnya, atau berapa penghasilan Rion. Bahkan dia tidak pernah nuntut apa pun dari Rion, hanya meminta agar Rion sering menghubunginya saat kami berjauhan,” jawab Rion lagi, bagaimanapun dirinya tidak mau menerima penolakan dari Danu. Ia harus mendapatkan restu dari ayahnya.


Danu melihat keseriusan di mata putranya itu, lantas mengalihkan pandangan ke taman dan terdengar menghela napas kasar.


“Memangnya kalian mau serius sampai mana? Lagian gadis itu juga masih kecil, bagi Bapak dia itu masih anak-anak,” ujar Danu kemudian.


“Ya, Rion tidak bisa mengecewakannya, Pak. Selama Tuhan mengizinkan, serta Bapak dan Ibu setuju dengan yang Rion lakukan, maka Rion akan menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan,” jawab Rion sangat yakin tanpa keraguan sedikitpun.


Danu terdiam, tidak membalas ucapan Rion lagi. Pria itu memilih menatap taman, seraya menikmati embusan angin sore yang menerpa.


Rion menatap sang ayah, mencoba membaca pikiran pria itu dari tatapan mata. Namun, Danu memasang wajah datar, tak menunjukkan ekspresi wajah apa pun, membuat Rion hanya bisa diam dan berdoa, berharap agar ayahnya tak ikut menentang hubungannya dengan Sasa.


Di sisi lain. Sasa membantu Dewi dan pembantu memasak, meski Dewi melarang Sasa melakukan banyak hal, tapi gadis itu memaksa dan dengan senang hati membantu.

__ADS_1


“Tante suka sambal? Bapak Sasa juga suka makan sambal, bahkan kalau Sasa yang buat, Bapak selalu nambah saat makan,” ucap Sasa saat melihat Dewi menggoreng bahan untuk sambal.


“Yang suka sambal itu Bapaknya Rion, beliau memang suka pedas,” balas Dewi, menoleh Sasa dengan seutas senyum, sebelum kemudian fokus pada penggorengan.


Sasa terlihat berpikir, sebelum kemudian merasa harus melakukan sesuatu. “Apa boleh Sasa yang buatin, barangkali Om suka?” tanya Sasa hati-hati.


Dewi terkejut dengan pertanyaan Sasa, menatap gadis itu sebelum kemudian menoleh pembantunya.


“Boleh kalau kamu mau coba,” jawab Dewi memberikan kesempatan pada gadis itu.


Sasa tersenyum lebar, merasa senang karena Dewi memberinya kesempatan. Akhirnya gadis itulah yang membuat sambal, dengan cekatan menyiapkan cobek untuk menghaluskan bahan sambal.


Dewi cukup terkesima dengan Sasa, gadis itu sangat cekatan saat di dapur, melakukan segalanya dengan cepat dan tanpa kesalahan, membuat kegiatan mereka di dapur bisa selesai dengan cepat.


Kini di meja makan sudah ada gurami bakar lengkap dengan sambal dan lalapan, ada juga olahan sayur lain yang tersaji.


“Aku panggil Rion dan bapaknya dulu,” kata Dewi saat melihat Sasa sedang membantu pembantu menata piring di meja.


Pembantu Dewi pun merasa kagum dengan Sasa, gadis itu tanpa ragu membantu pekerjaan dapur, sedangkan jika gadis lain mungkin akan memilih duduk manis dan menunggu makanan siap tersaji.


“Mbak Sasa pintar masak juga ternyata,” kata pembantu memuji Sasa.


Sasa tersenyum mendengar pujian itu, kemudian membalas, “Nggak juga, Bu. Hanya terbiasa saja lihat Ibu Sasa di rumah memasak, jadi sedikit tahu cara masak.” Sasa merendah karena tak ingin dibilang sombong.


“Tapi kalau saya lihat, Mbak Sasa memang pandai masak. Beruntung Mas Rion dapat Mbak Sasa, jadi bisa bantu Mas Rion masak buat makan sehari-hari,” ujar pembantu itu lagi.


Sasa mengangguk dengan senyum malu-malu, merasa semakin besar kepala karena terus dipuji.


Dewi mencari keberadaan Danu dan Rion, hingga wanita itu mendapati keduanya di samping rumah. Ia melihat dua pria itu saling diam menatap taman, sebelum kemudian berdeham hingga membuat keduanya menoleh.


“Makanannya sudah siap, kita makan bareng, yuk!” ajak Dewi.

__ADS_1


Rion mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya, sedangkan Danu terlihat menghela napas kasar dan menepuk kedua paha sebelum bangun. Danu berjalan terlebih dahulu, kemudian diiringi oleh Rion dan Dewi.


Mereka berjalan ke ruang makan, di sana Sasa tidak berani duduk dan memilih menunggu Dewi juga yang lain datang. Ia sempat membungkukkan badan saat melihat Danu, tapi pria itu masih saja memasang wajah datar dan terkesan mengabaikan dirinya.


Dewi merasa tak enak hati karena Danu bersikap tak acuh pada Sasa, sebelum kemudian memilih tersenyum ketika Sasa memandangnya.


“Ayo duduk dan makan!” Dewi mempersilakan.


Sasa mengangguk dan duduk di sebelah Rion, sedangkan pemuda itu duduk di kursi sebelah Danu.


Dewi mengambilkan nasi untuk Danu beserta lauk dan sambal yang tadi dimasak, sedangkan Sasa menunggu Dewi selesai, sebelum kemudian mengambilkan makanan untuk Rion dan dirinya.


Danu terus memperhatikan cara Sasa melayani Rion, sebelum kemudian kembali tak acuh dan memilih menyantap makanannya.


“Kenapa makannya sedikit?” tanya Rion sedikit berbisik saat melihat Sasa mengambil makanan sedikit.


“Nanti kalau kurang gampang nambah,” jawab Sasa lirih.


Dewi senang melihat Sasa dan Rion yang terlihat akur, sebelum kemudian melirik suaminya yang sedang mulai makan, sedikit was-was apakah pria itu akan protes jika rasa sambalnya berbeda.


Namun, dugaan Dewi salah, Danu tampak lahap makan dengan sambal, seolah menikmati menu pedas itu. Sasa memberanikan diri melihat Danu makan, sedikit tersenyum saat mengetahui Danu menyukai sambal buatannya, terlebih pria itu sampai meminta tambah.


“Sambalnya tumben beda, lebih enak.” Tiba-tiba Danu bicara di sela makan, membuat Dewi dan yang lain langsung memandangnya.


“Itu, yang buat sambalnya Sasa,” ucap Dewi, melirik Sasa sebelum kemudian menatap sang suami, takut jika suaminya tidak berkenan.


Danu awalnya terkejut, tapi kemudian kembali bersikap biasa. Ia menoleh Sasa sekilas, sebelum kemudian memandang sang istri yang terlihat takut.


“Habiskan makanannya, sayang kalau dibuang. Boros dan mubadzirkan makanan.” Danu hanya mengucapkan kalimat itu, sebelum kemudian kembali makan tanpa bicara.


Rion dan yang lain kebingungan, apa sebenarnya yang hendak disampaikan Danu, merasa senang karena sambalnya enak, atau kesal karena tahu yang membuat Sasa.

__ADS_1


__ADS_2