
Sasa melongo mendengar jawaban Rion, apa pemuda itu serius dengan jawabannya, ataukah sama-sama bercanda seperti dirinya.
“Ih … aku hanya bercanda, jangan dibuat serius,” ucap Sasa, memilih berjalan ke depan dan masuk mobil.
Rion menyusul dan langsung masuk ke belakang kemudi. Ia menatap Sasa yang sedang mengenakan seat belt.
“Tapi aku serius jika kamu memang mau,” balas Rion.
Sasa kembali dibuat terkesiap, menganggap jika Rion terlalu berlebih menanggapinya. Sasa sendiri tidak tahu apa pekerjaan Rion dulu, semua uang hasil bekerja Rion saat kuliah, masih disimpan rapat hingga sekarang. Sasa juga tidak tahu jika rumah kecil yang ditinggali Rion adalah milik sendiri, Sasa mengira jika rumah kekasihnya itu adalah sewaan. Itu karena Sasa sendiri tidak pernah bertanya, takut jika Rion tersinggung jika membahas masalah pribadi terlalu dalam. Sasa hanya ingin Rion sendiri yang bercerita tanpa ditanya.
“Sudah jangan dibahas lagi, aku benar-benar bercanda. Kita ke rumah bapakmu dulu, takutnya nanti kemalaman.” Sasa mencoba mengalihkan perbincangan soal candaan rumah yang dilontarkannya.
**
Mobil Rion akhirnya sampai di rumah Danu. Ia memarkirkan mobil di depan gerbang usang orangtuanya.
“Ayo turun!” ajak Rion.
Sasa mengangguk dan turun bersama pemuda itu. Rion membuka bagasi untuk mengambil buah yang mereka beli tadi. Sasa ingin membantu tapi Rion tidak memperbolehkan.
“Itu berat, biar aku bantu bawa semangkanya,” kata Sasa karena semangka yang dibeli cukup besar, belum lagi kantung buah lainnya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, kamu jalan dulu,” tolak Rion, tak mungkin membiarkan Sasa membawa barang-barang itu.
Sasa mengedikkan bahu, lantas memilih berjalan di samping Rion menuju rumah. Baru saja menginjakkan kaki di teras, pintu rumah Danu terbuka dan Dewi sudah berdiri dengan senyum hangat di wajah.
“Kalian sudah datang, kenapa sangat sore? Apa di jalan macet?” tanya Dewi, menatap muda-mudi itu bergantian.
Sasa sendiri langsung maju ketika melihat Dewi, meraih tangan wanita itu dan mengecup punggung tangan sebagai rasa hormat.
Dewi tersentuh dengan sikap Sasa yang sangat sopan, hingga terus mengulas senyum saat Sasa berdiri dengan tegap.
“Sasa beliin buah untuk Ibu dan Bapak,” ucap Rion seraya menunjukkan kantung buah yang dibawanya.
“Tidak apa-apa kok, Tan,” balas Sasa.
Dewi pun meminta Rion membawa masuk buah ke dapur. Ia sendiri berjalan bersama Sasa di belakang Rion.
“Apa Rion sudah memberitahumu alasan Tante minta kalian datang?” tanya Dewi setengah berbisik.
Sasa menggelengkan kepala karena Rion memang tak memberitahu.
Dewi langsung menatap punggung putranya, bertanya-tanya kenapa pemuda itu tidak memberitahu Sasa.
__ADS_1
“Sebenarnya gini, jika kamu tidak keberatan, Tante minta kamu bikinin sambal buat bapaknya Rion. Beliau sepertinya suka dengan sambal buatanmu,” ucap Dewi akhirnya menjelaskan maksud mengundang Sasa ke sana.
Sasa terkejut mendengar ucapan Dewi, hanya tidak menyangka jika Danu akan menyukai sambalnya, sedangkan kemarin pria itu terus memasang wajah datar dan tampak kecewa karena ekspresi wajahnya biasa saja.
“Tidak keberatan kok, Tan. Nanti biar saya buatkan sambal seperti kemarin,” balas Sasa dengan senyum kecil di wajah.
Sasa langsung masuk ke dapur karena diminta membuat sambal, sedangkan Rion keluar dan menemui Danu yang berada di halaman samping.
“Sore, Pak.” Rion menyapa ayahnya, sebelum kemudian duduk di kursi yang ada di sana.
Danu melongok ke arah Rion datang, sebelum kemudian menatap putranya itu.
“Sendiri?” tanya Danu berbasa-basi.
“Sama Sasa, tapi dia di dapur bantuin Ibu. Kata Ibu, Bapak yang minta kami datang,” jawab Rion, seraya menatap heran ayahnya.
Rion awalnya berpikir jika Danu takkan mau menemui Sasa lagi, sebab tak menyukai kekasihnya itu.
“Oh … hanya minta ibumu biar minta resep sambal, tapi siapa nyangka malah orangnya yang suruh datang.” Danu terlalu menjaga harga diri untuk mengakui jika menyukai sambal buatan Sasa.
Rion mengerutkan dahi, tak percaya jika Danu hanya meminta resep, sedangkan Dewi jelas-jelas berkata jika Sasa diminta datang untuk buatin sambal. Tak ingin berdebat dengan sang ayah, Rion pun memilih diam.
__ADS_1