
Rion panik mendengar suara bentakkan dari pria yang ada di depan rumah, pria yang sudah mendidiknya dengan kedisiplinan hingga membentuk pribadi yang bertanggung jawab dalam diri seorang Rion. Suara lantang pria itu membuat Rion ketakutan. Pemuda itu langsung bersembunyi di balik punggung wanita yang dulu merawatnya.
“Lihat Mbok! Bapak ngamuk!” teriak Rion yang memang sangat takut dengan ayahnya itu.
Wanita yang tadi berdiri di teras, lantas berlari untuk menyusul sang suami. Ia tak mau suaminya marah lantas membuat anak bungsunya itu kembali pergi dan tidak pernah pulang.
“Pak, sabar!” seru wanita itu sambil memperlebar langkah.
“Anak durhaka! Kurang ajar! Untuk apa kamu pulang?” Pria itu sudah dekat dengan Rion berdiri, langsung mengangkat tongkat dan siap mengayunkan ke arah Rion.
“Pak, ampun! Dengar dulu!” pinta Rion mencoba memelas. Kabur pun sekarang tidak ada guna.
Pria bernama Danudara Hutama itu melayangkan tongkat dan tepat mengenai lengan Rion, membuat pemuda itu memekik kesakitan.
“Pak, aku pulang, tapi kenapa selalu kena pukul!” protes Rion sambil terus mencoba menghindar.
Wanita paruh baya yang bersama Rion terus melindungi, tapi sayangnya amukkan Danu lebih ganas dari yang dikira.
“Anak durhaka! Tidak berbakti! Aku tidak punya anak sepertimu!” amuk Danu, masih terus mengayunkan tongkat untuk memukul pemuda itu.
“Pak, aku minta maaf. Tapi jangan terus memukul!” Rion masih terus mencoba menghindar, sampai akhirnya ditarik oleh sang ibu dan disembunyikan di belakang wanita yang sudah tidak muda lagi itu.
“Cukup! Dia anakku! Kalau Bapak tidak mau menerimanya, biar aku yang menyambutnya!” sembur Saridewi Hutama—Ibu Rion.
Rion bersembunyi di balik punggung ibunya, sedangkan Danu berhenti mengayunkan tongkat dan menatap Rion yang seperti penakut dengan mata merah menahan amarah.
“Manjakan terus dia! Anak laki seperti banci!” Danu mencoba menahan amarah yang sudah meluap-luap saat melihat putra satu-satunya dari empat bersaudara, sebelum kemudian mendengkus kasar dan berjalan kembali ke rumah.
Wanita paruh baya yang menjadi pembantu rumah Hutama, menghela napas lega karena majikannya sudah berhenti memukul Rion. Sedangkan Rion setengah takut melirik sang ayah yang sudah berjalan masuk rumah.
__ADS_1
Dewi membalikkan badan, menatap sang putra yang masih memandang ke arah rumah. Bola matanya berkaca, setelah sekian tahun akhirnya kini bisa bertemu dan melihat putranya itu.
“Akhirnya kamu pulang, Nak.” Wanita yang kerap disapa Dewi itu mengulurkan tangan, mengusap wajah putra yang sangat dirindukan.
Rion menatap ibunya, melihat mata sendu dan penuh kerinduan. “Ya, aku pulang, Bu.”
Dewi sangat senang, dia sampai memeluk Rion sebelum kemudian menangis.
“Ibu sangat merindukanmu, Rion. Kenapa baru pulang?” Dewi bicara sambil menangis, sedangkan kedua tangan mengusap lembut punggung putranya itu.
Wanita paruh baya pembantu di rumah Dewi dan Danu juga senang karena akhirnya anak bungsu majikannya mau pulang, setelah bertahun-tahun lamanya memutus hubungan dengan orangtuanya sendiri.
**
Hanya demi mendapat dukungan keluarga untuk bisa menjalin hubungan serius dengan Sasa, Rion pulang ke rumah di mana bertahun-tahun lalu dirinya diusir dari sana. Pemikirannya dan sang ayah yang tak sejalan, membuat Rion akhirnya memilih menerima untuk tak dianggap dan menjalani hidupnya hingga sekarang.
Namun, kini dirinya harus kembali. Selain rindu, Rion juga ingin meminta restu. Restu agar cinta pertamanya kepada seorang gadis bisa dipertahankan, Rion tidak mau seperti kedua temannya yang pernah mengalami patah hati, di mana satunya sudah bisa bersama dengan sang kekasih, tapi satunya masih menjomblo abadi.
Pemuda itu menolak masuk rumah, takut jika sang ayah mengamuk lagi. Bahkan Rion sesekali melongok ke arah pintu ketika bicara dengan ibunya, takut jika ayahnya tiba-tiba muncul di sana.
“Sehat, Bu. Ibu bagaimana?” tanya Rion mencoba mengulas senyum meski ada rasa was-was.
Dewi tahu ketakutan dan kecemasan putranya. Sang suami yang memang memiliki watak keras dan jiwa pemimpin serta hidup disiplin, selalu mengutamakan keputusan pria itu tanpa memikirkan pendapat orang lain.
“Ibu baik,” jawab Dewi, “nggak usah takut, paling Bapakmu di kamar,” imbuhnya kemudian, paham jika Rion cemas dengan kehadiran ayahnya.
Rion mengangguk-angguk paham, hingga kemudian mengedarkan pandangan ke bangunan tua itu, melihat jika tidak ada yang berubah sama sekali di sana.
“Kamu nginep ‘kan, Nak. Ibu nanti minta simbok masakin makanan kesukaanmu,” kata Dewi, berharap sang putra mau singgah sejenak agar dirinya bisa melepas rindu sepuasnya.
__ADS_1
Rion menatap ibunya, melihat keinginan yang besar di mata wanita tua itu. Meski dirinya takut pada ayahnya, tapi juga tak tega dengan sang ibu. Rion pun akhirnya mengangguk, setuju menginap meski hanya semalam.
Sang ibu sangat senang, lantas mengajak Rion masuk menuju kamar pemuda itu.
Rion melangkah sedikit ragu, tapi saat kaki menginjak di dalam rumah, kepingan kenangan akan rumah yang sudah menjadi tempatnya tumbuh itu terlintas kembali. Di dinding dengan cat tua itu Rion masih melihat bingkai-bingkai tua terpajang, foto mereka saat dirinya dan kakak-kakaknya kecil pun masih ada di sana. Hingga langkah pemuda itu terhenti saat menatap satu bingkai besar dengan foto keluarga di sana.
Rion menatap wajah sang ayah yang saat itu masih muda dan terlihat begitu segar, dirinya masih berumur lima tahun dan berada di pangkuan sang ibu. Sedangkan kakak-kakak perempuannya berdiri di belakang ayah dan ibunya yang duduk. Danudara Hutama adalah pensiunan tentara, pria itu pensiun lebih awal karena mengalami kecelakaan dan salah satu kaki mengalami kecacatan.
Pemuda itu menghela napas kasar, sebelum kemudian memilih memalingkan wajah dan kembali mengikuti langkah ibunya.
“Kamarmu selalu dibersihkan simbok, tidak ada yang berubah, semua tetap sama dan berada di tempatnya,” ujar Dewi begitu membuka pintu kamar Rion.
Rion menatap kamar itu, ranjang kuno dari besi dengan kelambu terpasang di sana. Jam dinding model kuno juga tempat lilin kuno ada di sana, ayahnya pecinta barang antik, sebab itulah sebagian besar perabotan di rumah itu sangat kuno dan antik.
“Apa Mbak tidak pernah pulang?” tanya Rion, tentu saja yang dimaksud adalah kakak-kakaknya.
Dewi merapikan sprei kasur putranya, lantas menoleh untuk menjawab pertanyaan pemuda itu. “Pulang, tapi ya kamu tahu sendiri, tidak bisa tiap tahun. Namun, setidaknya masih mendingan daripada kamu yang sama sekali tidak pulang.”
Dewi berhenti menepuk sprei, hingga terduduk dengan kepala menunduk. Air mata mulai luruh, kenapa keras kepala suami dan anaknya membuat dirinya menderita.
Rion melihat kesedihan di mata wanita yang sudah melahirkannya itu. Ia pun mendekat dan berlutut di hadapan Dewi, meraih kedua telapak tangan dan menggenggamnya erat.
“Maafin Rion, Bu,” ucap pemuda itu sebelum kemudian mencium punggung tangan ibunya.
Dewi semakin menangis, di usia senjanya hanya ingin bisa berkumpul dengan keluarga, tapi kenapa keinginan sederhananya itu sangat sulit dikabulkan, membuat wanita itu kesepian bertahun-tahun ini.
“Maafin Bapakmu, Nak. Jangan termakan ego sendiri,” ucap Dewi, menepuk pelan punggung putranya itu.
Rion hanya bisa menunduk, sebelum kemudian membalas, “Rion tidak pernah marah sama Bapak, Bu. Bapak yang tidak bisa maafin Rion.”
__ADS_1
Dewi tidak bisa berkata apa-apa, awalnya berpikir jika dua atau tiga bulan setelah pertengkaran Danu dan Rion, akan membuat keduanya akur. Namun, pada kenyataannya hubungan anak dan ayah itu semakin renggang, apalagi Danu melarang Dewi mengunjungi Rion jika pemuda itu tak mau menuruti kemauan Danu.
Rion meletakkan kepala di pangkuan Dewi, mencoba mendapatkan kasih sayang yang sudah lama tidak dirasakannya. Dewi sendiri mengusap rambut hingga punggung putranya itu, bagaimanapun kesalahan anak, baginya Rion tetaplah anaknya.