
Sasa duduk terdiam di kamar apartemen Joya. Setelah Joya menikah dan tentunya akan tinggal dengan Ken, adik sepupu Sasa itu berkata jika tempat itu boleh terus ditinggali Sasa selama berada di kota itu.
Sasa melihat ke arah luar di mana ada burung yang terbang serta gumpalan awan putih yang bergerak karena tiupan angin. Dia duduk menekuk kedua kaki, lantas memeluk dan meletakkan dagu ke atas siku.
“Ibu benar-benar tidak akan merestui hubungan kami, apa yang harus aku lakukan?” Sasa berpikir dengan keras. Dirinya yang ingin bebas memilih, serta cintanya yang dianggap tidak masuk akal, membuatnya benar-benar kalut menghadapi ibunya.
Ternyata Santi dan Abdullah langsung pulang ke kampung, setelah Santi mengatakan jika tidak akan pernah memberikan restu kepada Sasa dan Rion. Bahkan pulang tanpa berpamitan dengan Sasa, maupun Joya. Hanya mengirimkan pesan ke Sarah.
Sasa menghela napas kasar, kemudian menengok ke ponsel. Dia kesepian di sana, hingga kemudian memilih menghubungi nomor Rion.
“Rion, apa kamu bisa datang ke apartemen? Aku bosan di sini sendirian, mau makan pun tidak berselera.”
**
Di sisi lain. Rion sedang duduk berhadapan dengan komputernya, dia mendapat pekerjaan dari Susan untuk membobol salah satu sistem keamanan di sebuah perusahaan.
“Kamu belum selesai?” tanya Susan dari seberang panggilan.
“Sabar, San. Ini baru lima menit aku mengerjakan,” jawab Rion sambil menggelengkan kepala pelan.
“Biasanya tiga menit kelar,” seloroh Susan diakhiri gelak tawa.
“Ya kalau hanya membobol sistem di minimarket, satu menit kelar,” balas Rion.
Terdengar gelak tawa Susan dari seberang panggilan, hingga Rion melihat panggilan masuk dari Sasa. Dia langsung menghentikan pergerakan jemarinya di atas keyboard, kemudian mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di samping keyboard.
“San, aku akhiri panggilannya. Tapi kupastikan lima menit lagi pekerjaan ini selesai,” ujar Rion ke Susan, dia ingin segera menjawab panggilan Sasa.
“Oh, kenapa? Tumben kamu mengakhiri panggilan?” tanya Susan penasaran.
“Pacarku telepon, sudah ya, bye! Nanti kuberi informasinya.” Rion buru-buru mengakhiri panggilan setelah berpamitan, dia lantas berganti menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan Sasa.
“Halo, Sa.” Rion menyalakan pengeras suara, kemudian meletakkan ponsel ke meja. Tangannya kembali bergerak di atas keyboard dengan mata tertuju pada layar komputer.
Rion mendengar suara Sasa, menyadari jika kekasihnya itu terdengar tidak bersemangat.
“Baiklah, aku akan ke sana. Kamu mau makan apa? Biar aku belikan sekalian jalan ke sana?” tanya Rion menanggapi keluhan Sasa.
“Tidak usah, Bibi Sarah meninggalkan banyak makanan di apartemen. Aku hanya bosan makan sendiri,” jawab Sasa dari seberang panggilan.
“Baiklah, aku akan segera ke sana,” ucap Rion kemudian.
Pemuda itu pun mengakhiri panggilan, kemudian dengan cekatan menyelesaikan pekerjaannya, demi bisa segera pergi ke apartemen tempat Sasa tinggal.
**
Rion tampak keluar dari lift, berjalan di koridor menuju unit apartemen Sasa tinggal. Begitu sampai di depan pintu unit, Rion langsung menekan bel dan Sasa tampak cepat membuka pintu.
“Akhirnya kamu datang.” Wajah Sasa tampak sumringah melihat kedatangan Rion.
“Apa keluargamu sudah pulang semua?” tanya Rion.
“Sudah pagi tadi, aku bosan sendirian di rumah,” jawab Sasa sambil berjalan masuk.
“Apa ibumu sudah menghubungi lagi?” tanya Rion kemudian.
Sasa baru saja berjalan ke arah dapur, lantas menghentikan langkah dan menoleh Rion.
__ADS_1
“Tidak,” jawab Sasa. “Tapi tidak masalah,” imbuhnya dengan seutas senyum.
Sasa membuka tudung saji dan memperlihatkan makanan yang memang tadi ditinggalkan Sarah. Ia lantas mengambil piring juga alat makan lain, sebelum kemudian menata di meja.
Rion memperhatikan Sasa, tahu jika gadis itu sebenarnya sedih karena hubungan mereka tidak direstui oleh orangtua Sasa.
“Temani aku makan, ya. Sedikit aneh saat harus makan sendiri, aku belum terbiasa,” ucap Sasa yang sudah duduk di meja makan.
Rion pun mendekat dan duduk di kursi sebelah Sasa. Gadis itu langsung mengambilkan makanan untuk Rion dan dirinya penuh semangat.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rion sedikit cemas.
Sasa menoleh Rion, lantas mengembangkan senyum.
“Aku baik-baik saja, memangnya kenapa? Aku hanya butuh teman bicara dan menemani makan saja,” jawab Sasa, meski sedih tapi mencoba menutupinya dari Rion.
Sasa hendak mengambil sendok, tapi tangannya langsung digenggam Rion.
“Soal ibumu, jika bukan karena aku, kamu pasti tidak akan bertengkar dengannya. Aku tahu jika kamu pasti sedih dan merasa berat sebab bertengkar dengan orangtuamu,” ujar Rion mencoba memahami perasaan Sasa.
Sasa terdiam dengan tatapan tertuju pada tangan yang digenggam Rion, lantas menoleh dan lagi-lagi mencoba untuk tersenyum.
“Aku benar-benar tidak apa-apa,” balas Sasa. “Kata Joya, mungkin Ibu hanya butuh waktu berpikir agar mengerti. Jika aku terus mengikuti keinginan Ibu, mungkin aku pun selamanya takkan tahu apa itu kebebasan dan keinginan,” imbuhnya.
Sasa tersenyum lebar, sebelum kemudian kembali bicara. “Kamu jangan cemas, mungkin awalnya aku syok dan terkejut, tapi aku yakin jika bisa melaluinya asal kamu tetap ada untukku.”
Rion tersenyum mendengar ucapan Sasa yang seperti sedikit memiliki semangat. Ia semakin menggenggam telapak tangan kekasihnya itu, mencoba menyalurkan ketegaran dan kekuatan untuk bisa menjalani keputusan yang mereka ambil.
“Aku berjanji akan membahagiakanmu, aku tidak akan mengecewakanmu,” ucap Rion. Baginya yang tidak pernah berpacaran sama sekali, mengenal Sasa dan bisa langsung jatuh cinta pada gadis itu adalah luar biasa. Sasa adalah sebuah jendela yang memperlihatkannya sebuah dunia yang penuh akan cinta dan kasih sayang.
“Baiklah, sudahi merayu,” balas Sasa yang sebenarnya sudah malu karena ucapan Rion yang mampu menyentuh hatinya. “Saat ini aku benar-benar lapar,” imbuhnya kemudian.
**
Rion duduk termenung di mobil. Dirinya masih berada di basement Sasa, meski sudah berpamitan akan pulang sejak setengah jam yang lalu. Rion mengeluarkan ponsel, kemudian menatap nomor Dewi. Rion pun mendial nomor wanita itu, kemudian menempelkan ponsel ke telinga.
“Bu.”
“Ada apa, Rion?” tanya Dewi dari seberang panggilan.
“Bu, jika Rion menyukai serta ingin serius menjalin hubungan dengan seorang gadis, apakah Ibu akan merestui?” tanya Rion balik.
Terdengar hening dari seberang panggilan, hingga kemudian kembali terdengar suara Dewi.
“Memangnya kamu lagi suka sama gadis?” tanya Dewi dari seberang panggilan.
Rion mengulum bibir, awalnya dia tidak ingin membicarakan hal ini ke keluarganya dulu, tapi karena Sasa sedih akibat pertikaian dengan ibunya, membuat Rion berpikir jika harus melakukan sesuatu.
“Ya, Bu. Rion menyukai seseorang, dia manis dan baik.”
**
Sasa bekerja seperti biasa, tapi sekarang Rion menjemputnya dan mengajak berangkat bersama karena tentu saja pemuda itu tidak bisa membiarkan Sasa sendirian.
“Nanti sore sepulang kerja, aku mau mengajakmu ke suatu tempat,” kata Rion saat keduanya baru saja sampai di area parkir perusahaan.
“Mau ke mana?” tanya Sasa, melepas seat belt sambil menoleh Rion.
__ADS_1
“Pokoknya ada, kamu ikut saja,” jawab Rion.
Sasa mengangguk dan menurut saja, lagi pula di sana dirinya hanya bisa dekat dan pergi dengan Rion karena belum kenal siapapun.
Rion mengajak Sasa turun dari mobil dan masuk perusahaan.
**
Saat sore hari. Rion menunggu Sasa selesai bekerja, pemuda itu menunggu di lobi perusahaan dan menjadi pusat perhatian beberapa karyawan karena tak biasanya pemuda itu di sana.
Sampai Sasa keluar dari lift dan melambaikan tangan, sebelum kemudian berjalan cepat untuk menghampiri kekasihnya itu.
“Maaf lama, tadi harus membersihkan pantry,” kata Sasa begitu berdiri di hadapan Rion.
“Tidak masalah,” balas Rion. Pemuda itu langsung menggandeng tangan Sasa dan mengajak kekasihnya itu keluar dari perusahaan.
Sasa cukup senang, lantas mengikuti langkah Rion menuju parkiran.
Keduanya kini sudah berada di mobil, Sasa sendiri belum tahu ke mana Rion akan mengajaknya.
“Kita mau ke mana?” tanya Sasa.
“Ke tempat di mana kamu tidak akan merasa sepi,” jawab Rion, menoleh sekilas pada Sasa, sebelum kemudian kembali fokus pada jalanan.
Sasa menaikkan satu sudut alis, bingung mau diajak ke mana karena Rion menjawab secara ambigu.
Mereka berada di dalam mobil hampir setengah jam, tapi Sasa masih tidak tahu mau ke mana. Hingga mobil itu berhenti di depan gerbang sebuah rumah, rumah bernuansa klasik yang tak lain adalah milik orangtua Rion.
“Ini rumah siapa?” tanya Sasa seraya mengamati.
“Orangtuaku,” jawab Rion seraya melepas seat belt.
Sasa membulatkan bola mata, menoleh Rion dengan wajah panik.
“Kenapa mengajakku ke sini? Aku belum siap bertemu orangtuamu,” kata Sasa seraya menggenggam erat seat belt.
Rion tersenyum kecil, sebelum kemudian berkata, “Aku juga tidak siap bertemu orangtuamu, tapi nyatanya aku bisa menghadapi mereka.”
“Semalam aku sudah bilang ke Ibu dan Bapak kalau mau pulang mengajakmu, jadi mereka sudah tahu kalau kamu akan datang,” imbuh Rion kemudian. Setelah menghubungi Dewi waktu itu, serta menceritakan kesedihan Sasa, Dewi pun meminta Rion untuk mengajak gadis itu ke rumah.
Sasa terlihat kebingungan, antara takut dan panik. “Rion, bagaimana kalau orangtuamu tidak menyukaiku?” tanya Sasa dengan wajah penuh ketakutan.
“Mereka pasti menyukaimu,” jawab Rion penuh keyakinan.
“Bagaimana kalau tidak, Rion? Aku hanya gadis kampung, apalagi sekarang orangtuaku saja tak mau mengakui.” Tiba-tiba Sasa merasa kepercayaan dirinya hilang, hanya ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.
Kejadian di mana sang ibu yang tak setuju dengan hubungannya dengan Rion, cukup meninggalkan rasa trauma bagi Sasa, membuatnya tak siap jika harus bertemu dengan orangtua Rion secara mendadak seperti ini.
“Hei, kita sudah memilih jalan ini, bukankah kita berjanji untuk saling mengerti dan menguatkan? Percayalah padaku, orangtuaku pasti menyukaimu,” ucap Rion mencoba meyakinkan.
Sasa masih terlihat ragu dan takut, menoleh ke arah rumah orangtua Rion, sebelum kemudian menatap kekasihnya itu.
“Aku tidak siap,” ucap Sasa, masih dengan menggenggam erat seal belt yang belum dilepas.
“Kita tidak tahu kapan siap atau tidak, jika tak menghadapinya sendiri. Cobalah untuk percaya padaku, yakinlah kalau aku akan melindungimu,” ucap Rion mencoba membujuk dan meyakinkan.
Sasa masih takut, kembali menatap rumah orangtua Rion.
__ADS_1
“Kalau kamu bisa menentang orangtuamu demi mempertahankan ‘ku, maka aku pun bisa menentang kedua orangtuaku demi mempertahankanmu jika mereka tak setuju,” ujar Rion lagi meyakinkan kesekian kalinya.
Sasa menatap Rion, masih dengan perasaan yang campur aduk tak karuan. Hingga kemudian mencoba percaya, ia menganggukkan kepala tanda setuju untuk ikut dan turun bersama pemuda itu.