Bukan Kawin Lari

Bukan Kawin Lari
Ngambeknya Sasa


__ADS_3

“Sa.” Rion sudah ketakutan melihat ekspresi wajah Sasa. Dia berusaha melepas kedua tangan wanita yang memeluknya, kemudian sedikit maju untuk menghindar.


Sasa berjalan cepat menghampiri Rion, kemudian menarik tangan kekasihnya itu lantas membawa ke belakang punggungnya seolah sedang melindungi.


Rion tampak terkejut melihat tindakan Sasa, tapi lega karena kekasihnya itu seperti tidak marah kepadanya.


“Jadi cewek jangan kegatelan! Rion sudah bilang kalau hanya suka sama aku, kenapa kamu masih maksa. Jadi cewek tuh punya harga diri dikit, jangan main peluk!” amuk Sasa tidak terima jika kekasihnya dipeluk wanita lain.


Rion menahan senyum, bahagia karena Sasa ternyata membela dan tidak terima dirinya dipeluk.


“Suka-suka akulah.” Bukannya merasa malu, wanita itu malah bersikap semakin tidak tahu diri.


Sasa sangat geram, tapi juga tidak mau membuat masalah. Dia lantas merangkul lengan Rion, menunjukkan kemesraan mereka.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau aku peringatkan, tapi sekali lagi lihat kamu peluk-peluk kekasihku, bukan kata-kata yang akan meluncur dari mulutku, tapi ini!” ancam Sasa sambil memperlihatkan kepalan tangan di hadapan wajah wanita itu.


Sasa lantas mengajak Rion pergi dari sana, mengabaikan wanita gila yang tidak punya harga diri.


Rion terus menatap Sasa sambil tersenyum, tidak menyangka jika Sasa bisa seprotektif itu kepadanya.

__ADS_1


“Lain kali ga usah ngomong berdua sama dia, nanti jadi fitnah,” ujar Sasa, mencoba sabar meski ada rasa kesal.


Sasa berusaha mengontrol diri, jika Rion saja bisa bersabar kepadanya, kenapa dia tidak.


“Makasih karena sudah percaya kepadaku, untung kamu datang tepat waktu,” ucap Rion memuji karena senang.


Sasa berhenti melangkah, membuat Rion ikut berhenti.


“Kamu pasti senang dipeluk wanita itu, ‘kan? Apalagi dadanya ….” Sasa berhenti bicara, kemudian melirik ke bagian dadanya yang tidak sebesar wanita tadi.


“Ish … apaan, aku malah risih,” ujar Rion tahu maksud Sasa.


“Kamu pasti senang.” Sasa memicingkan mata curiga.


“Mana ada, Sa. Berani sumpah kalau aku merasa risih,” ujar Rion memastikan.


Sasa membuang muka, kemudian berjalan menuju parkiran. Rion serba salah, kemudian memilih mengejar Sasa.


“Sa, jangan ngambek. ‘Kan kamu tahu kalau satu-satunya di hatiku,” ujar Rion merayu Sasa agar tidak marah.

__ADS_1


“Gombal! Ga usah ngerayu, ekspresi wajahmu tadi membuktikan kalau kamu sebenarnya suka tuh ditempel-tempel sama penghasil susu,” balas Sasa terus mengayunkan langkah.


“Astaga Sasa!” Baru kali ini Rion melihat Sasa ngambek.


**


Malam itu, tanpa sepengetahuan Sasa, Rion pulang ke rumah Danu.Tentu saja hendak membahas masalah hubungannya dengan Sasa.


“Jadi mereka menolakmu?” tanya Danu.


Rion dan Danu bicara berdua sebagai seorang ayah dan anak.


“Ya, Pak. Sebenarnya bapaknya setuju, tapi ibunya tidak setuju karena terlanjur ga suka sama Rion. Rion hanya ga mau hubungan kami terus ada masalah, Rion benar-benar serius ingin menikahinya. Bapak mau bantu Rion, ‘kan?”


Rion menatap Danu penuh harap, dirinya berusaha jujur dengan mengatakan langsung alasan Santi menolak dirinya.


Danu terlihat berpikir, masalah ego dan ambisi memang susah ditangani. Namun, tidak hal yang tidak mungkin jika mau berusaha.


“Tentu saja, asal kamu serius dan memang ingin bersama Sasa, Bapak pasti akan bantu dan dukung.”

__ADS_1


Danu menepuk-nepuk pundak Rion, memberikan kekuatan agar putranya itu lebih kuat dan bersabar demi bisa bersama gadis yang disukai.


__ADS_2