BUKAN YANG KETIGA

BUKAN YANG KETIGA
bab 11


__ADS_3

"Entah lah apa ini benar atau tidak, aku hanya bisa pasrah dengan semua nya.semoga indah pada waktunya."


Ziva memutuskan untuk menelfon Amira,dan menyetujui persyaratan gi la yang di ajukan oleh Amira.


Keesokan harinya mereka bertemu di sebut kafe yang telah mereka sepakati,bukan mereka tapi tepatnya Amira lah menentukan tempatnya.Dan membawa surat perjanjian untuk berjaga -jaga.


Ziva sampai duluan di tempat itu, dan menunggu Amira sambil hati nya gugup.Sekali lagi di tanya pada hatinya apakah ini semua sudah benar. tapi lagi-lagi hanya kekacauan yang ada di dalam hatinya. Saat sedang berusaha menenangkan diri Amira datang memegang bahu Ziva.


''Hai Ziva, maaf aku telat ya. ''


''Tidak Amira kau tidak telat, mungkin hanya aku yang datang terlalu cepat. ''


Amira duduk dan memesan minuman, dilihat Ziva yang cemas Amira pun berusaha meyakinkan agar Ziva tidam membatalkan nya.


''Hai Ziva sudah jangan terlalu tegang begitu, ini tidak seburuk yang kau bayangkan. ''


Tapi Ziva hanya tersenyum getir...


sore menyapa kedua nya sudah berpisah saat keluar dari kafe.


Sesampai di rumah Amira sudah tidak


sabar ingin memberi tahukan semua ini pada sang suami, dia ingin sang suami melakukan apa yang telah di rencanakan nya.


brumm....


brumm...


brumm...


Suara mobil Rafa sampai di halaman depan rumah mereka. Amira langsung berlari menemui sang suami sambil tersenyum manis.


''Hai sayang, kelihatan nya kau sangat senang hari ini. ''sahut Rafa.


''hmm iya aku sangat senang sayang, ayo duduk aku akan menceritakan semuanya. Ah tidak sebaik nya kau mandi dulu Rafa baru kita berbicara, aku telah menyiapkan air untuk mu mandi. ''


''Baik lah, tunggu aku.'' mengecup kening Amira.

__ADS_1


selang berapa lama Rafa selesai dan langsung menuju pada Amira karna dia sangat penasaran tentang apa yang akan di bicarakan Amira.


''Sayang sudah, sekarang ayo bicara.''


''Jadi begini sayang, aku menemukan orang yang bersedia mengandung untuk kita. ''


''Apa? '' Rafa begitu kaget mendengar apa yang telah di ucapkan istri nya. entah dari mana ide gi la itu datang dan setan apa yang telah merasuki istrinya sehingga berfikir seperti itu.


''Sayang dengar dulu jangan marah ok. ''


Rafa mendengar kan perkataan Amira. lalu Amira menceritakan semuanya pada Rafa. tapi Rafa tetap tidak menyetujui nya. karna baginya ini sangat lah konyol.


dengan sekuat tenaga Amira berusaha meyakinkan Rafa agar mau mencoba nya. dan akhirnya Rafa menuruti semua kemauan Amira.


''Siapa gadis itu Amira? ''


'' Hmm dia adalah Ziva. ''


Tapi lagi-lagi Rafa dibuat terkejut dengan ucapan Amira. bagiamana tidak dia tau bahwa sang sahabat juga sangat mencintai Ziva.


''Tapi itu tidak mungkin Amira, Cova juga sangat menyukai Ziva bagaimana mungkin aku merebutnya. ''


Amira mengatur kencan Rafa dan Ziva serapi mungkin agar semua berjalan dengan lancar.


''Astaga ini sangat gi la. '' batin Ziva


diliriknya Rafa yang hanya diam dan serius mengendarai mobil. Ada raut kesal dalam diri Rafa tapi tak bisa ia lampiaskan pada Ziva, karna ini semua ide gi la Amira.


''Kenapa kau tidak menolak semua ini. '' Rafa geram Ziva yang mau saja menuruti permintaan Amira.


Tapi Ziva tak mampu berkata apapun karna dia juga membutuhkan uang itu.


'' Maafkan saya pak. ''hanya kata maaf yang bisa di ucapkan Ziva saat ini.


''Apa maaf mu itu cukup untuk menghentikan ini semua hah. '' teriak Rafa.


Lagi-lagi Ziva hanya diam dan tak terasa bulir bening lolos begitu saja di pipi mulus nya. melihat itu Rafa langsung menghentikan mobil nya.

__ADS_1


''Hai kau dengar, aku tidak akan pernah menyentuhmu kau ingat itu. ''


tapi Ziva hanya diam saat pipi nya di tekan oleh Rafa lalu melepaskan secara kasar. Ziva hanya meringis merasakan sakit di kedua pipi nya karna Rafa menekan dengan sangat kuat.


Saat sampai di dalam mall dan menuju toko baju langganan Rafa dan Amira telfon Rafa berbunyi dia menurun Ziva untuk masuk duluan dan melihat-lihat.Tapi naas saat melangkahkan kaki kedalaman Ziva langsung di sambut oleh karyawan toko dengan sangat tidak ramah. Dia memperhatikan Ziva dari atas sampai bawah,mengejek penampilan Ziva.


''Hai kau nona apa kau tidak salah masuk tempat seperti ini, apa kau sanggup membayar baju disini sangat lah mahal. aku rasa kau tak akan mampu membeli baju-baju disini. ''


mendengar perkataan karyawan itu hati Ziva merasa tersayat-sayat. penghinaan yang di terima sangat lah menyakitkan. hingga Ziva tak sanggup lagi menahan air matanya. tapi saat akan berbalik ternyata Rafa sudah ada di sana dan mendengar semua penghinaan itu. Rafa geram mendengar omongan karyawan tersebut.


''Dimana bos mu cepat panggil kesini.'' dengan sorot mata yang tak bersahabat menatap karyawan wanita itu.


''Ada,,,ada di dalam tuan tunggu saya panggil kan. '' sambil berjalan gugup karna dia tau siapa yang sedang ada di hadapan nya tadi.


''Ada apa ini.'' tapi setelah melihat siapa yang ada di hadapan nya sang pemilik butik langsung memohon maaf kepada Rafa.


'' Tuan Rafa maafkan kelalaian karyawan saya. hai kau cepat minta maaf pada tuan Rafa. ''


''Tidak padaku tapi pada gadis ini karna dia telah merendahkan nya. ajari dia sopan santun untuk melayani pembeli karna pembeli adalah raja, jangan sembarangan menghina orang karna penampilan nya. ''terang Rafa panjang x lebar.


akhirnya karyawan itu melayani Ziva dengan sangat ramah dan memperlihatkan rancangan terbaru dari butik itu. Ziva disuruh mencoba satu persatu baju yang di ambilkan. sampai Ziva menemukan baju yang pas di badannya dan terlihat sangat anggun di kenakan Ziva, tapi Rafa tetap tak mempedulikan nya. Karna hatinya telah di butakan akan cintanya pada sang istri.


Sementara itu Cova yang mendengar itu semua hanya bisa pasrah karna tak bisa melawan sang bos sekaligus sahabatnya itu. dia merelakan Ziva


''Mungkin ini yang terbaik untukmu Ziva dan semoga kau terbebas dari ayah mu yang berengsek itu.'' batin Cova.


Setelah berbelanja Rafa membawa Ziva ke restoran yang telah di pesan oleh Amira tempat itu sangat romantis. Amira berharap suaminya bisa melakukan apa yang telah dia rencanakan.


Saat sedang makan Ziva merasa gugup karna belum pernah ketempat mahal seperti itu dan bahkan dia tidam tau bagaimana cara memegang garpu dan pisau yang ada di depan nya. tapi Rafa masih tetap asik dengan makanan tanpa menghiraukan Ziva yang kesulitan memotong makanan nya.


''Hais apa kau tak pernah memakai nya, kenapa kau cuma memandangnya. ''


''Sa... saya tak pernah makan dengan ini pak. ''


'' Ya sudah ambil lah punya ku. ''Rafa memberikan makanan yang telah di potongan terlebih dahulu dan mengambil punya Ziva.


Bersambung......

__ADS_1



gaun yang dikenakan ziva


__ADS_2