BUKAN YANG KETIGA

BUKAN YANG KETIGA
bab 15


__ADS_3

Kak bagaimana keadaan mu,aku khawatir padamu kenapa tidak tinggal di rumah kita saja kak. ''


''Hahhh aku tak bisa menolak Zia. aku hanya bisa pasrah kau jaga diri baik-baik ya selama tidak ada kakak di rumah.Aku pasti akan merindukan mu sayang. '' jawab Ziva.


''Aku juga pasti merindukan mu kak. rumah akan terasa sepi kalau kau tak ada. ''


Dan mereka pun berpisah untuk berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


***********


Setelah pulang dari kantor Ziva bergegas untuk pulang,namun saat akan menaiki kendaraan nya Ziva melihat abang tukang seblak melintas di depan nya.


''Kenapa aku sangat ingin makan seblak ya?''


Melihat Ziva yang cuma bengong di parkiran sontak Cova langsung menuju arah pandangan Ziva.


''Bang seblak nya 2 ya yang satu gak pedas.'' Cova memesan seblak nya.


''Eh buat siapa Cov kamu memesan nya.?''tanya Ziva heran.


''Satu buat aku dan satu buat kamu .'' sambil mengerlingkan alisnya.


''Ah tapi gak usah repot-repot Cov aku sudah mau pulang ini.''Walau sebenarnya dalam hati sedang bersorak karna keinginan nya di penuhi oleh Cova.


''Sudah kau makan saja dulu aku tau kau juga sangat menginginkan nya.''


Pesanan mereka pun datang ,mereka menikmati seblak buatan si abang.Tapi baru beberapa suapan seblak itu masuk ke mulut Ziva tiba-tiba saja Rafa datang menghampiri mereka.


''Hai kau kenapa makan sembarangan begini,kalau terjadi apa-apa pada anak ku bagaimana.?apa kau bisa bertanggung jawab?'' Rafa mengambil mangkok yang ada di tangan Ziva dan membuang nya.Lalu pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.


Ziva hanya bisa melongo dan menahan sesak di dadanya.bulir benih itu hampir jatuh dari mata indah nya,melihat muka Ziva yang memerah karna menahan tangis nya.Akhirnya Cova berusaha membujuk Ziva agar tak bersedih lagi.


Lalu Ziva memutus kan untuk segera pulang, dengan di antar oleh Cova .karna Cova memaksa untuk mengantar kan nya.

__ADS_1


Saat di perjalanan Ziva hanya terdiam sambil melihat ke arah kaca jendela,mencoba meredam hatinya yang sedang sesak.melihat Ziva hanya terdiam Cova menggenggam tangan nya memberikan kekuatan pada Ziva agar ia bisa kuat dan tegar menghadapi semua ini.


''Kau harus kuat Ziva percayalah ini akan segera berlalu.''Hibur Cova.


''Entah lah Cov rasanya aku menyesal telah mengambil keputusan sulit ini,tapi apalah daya semua sudah terjadi. sepertinya menyesal pun tak akan mengembalikan semua seperti semula.''


Tak lama mereka sampai di kediaman Rafa. Ziva pun bergegas untuk turun karna tak mau ada masalah lagi dengan Rafa.


Saat melewati ruang keluarga Ziva di kaget kan dengan suara Rafa.


''Hebat ya baru pulang jam segini bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan anak yang ada di dalam perut mu itu. '' bentak Rafa.


''Maaf kan aku pak.'' hanya kata itu yang mampu Ziva lontar kan.


''Apa kau bilang, kau jangan panggil aku pak!! Panggil aku tuan apa kau mengerti.'' mendorong kasar wajah Ziva.


''Sa... saya mengerti tuan. ''


Saat mereka terlibat pertengkaran Amira langsung datang melerainya.


''Terserah kau saja urus dia dengan baik aku bosan melihatnya. ''sambil melangkah keluar rumah.


''Ziva maaf kan sifat Rafa yang sedikit emosian ya. Biasanya dia tidak seperti itu.''


''Iya Mir aku mengerti kok. Aku permisi dulu ya aku lelah sekali. ''dengan langkah gontai masuk ke dalam kamar.


Sampai di dalam kamar Ziva mengunci kamar nya dan menangis sambil tergugu. kenapa selalu kenyataan pahit yang harus dia terima di setiap langkah nya. kapan kah ini akan berakhir dan kapan kebahagiaan itu akan datang. Ziva meringkuk di kasus nya yang tak begitu luas sambil terus meratapi semuanya. Dan terlelap dalam kesedihan hingga malam menjelang.


''Rafa kau dimana ini sudah malam. '' Amira mondar mandir di dalam kamar nya menunggu kepulangan Rafa.


Sementara itu Rafa sedang di bar yang di temani oleh Cova. Rafa melampiaskan kemarahan nya pada minuman alkohol. melihat Rafa yang sudah terlalu banyak minum akhirnya Cova berusaha menghentikan nya.


''Sudah lah Rafa jangan minum lagi. Kau sudah terlalu banyak minum.''

__ADS_1


''Lepas kan. biar kan aku minum sepuasnya malam ini, agar semuanya hilang. Aku benci mereka Cov ,mereka mempermainkan ku. ''


''Hai tidak ada yang salah Rafa. Kau hanya perlu menerima semua ini dengan ikhlas agar semua bisa berjalan dengan baik. Cobalah kau lihat dari sudut pandang Ziva dia sudah mengalami banyak masalah tapi kau terus menambah masalah baru padanya. apa sebenci itu kah kau padanya?.''


''Ya aku benci bahkan sangat benci padanya. ''


Cova hanya menggeleng kan kepala nya. percuma berbicara panjang x lebar pada kondisi Rafa seperti ini dia tetap tidak akan mendengar nya.


Melihat Rafa yang telah tertidur di meja,Cova lalu mengantar kan nya pulang. Tak berapa lama mereka sampai di kediaman Rafa. mendengar suara mobil berhenti Amira pun bergegas keluar.


''Astaga Rafa kau kenapa?'' pekik Amira.


''Sudah jangan banyak tanya Mir cepat bantu aku bawa dia kedalam. '' setelah itu Cova pamit pulang pada Amira. tapi sebelum pulang dia berpesan pada Amira untuk menasihati Rafa agar tidak terlalu keras pada Ziva. karna bagaimana pun Ziva tak bersalah dalam semua ini.


''Baiklah Cov aku akan selalu mengingat kan nya. terimakasih telah mengantarkan Rafa.!!''


Dan malam itu Cova pulang dengan perasaan sedikit lega karena dia telah menyampaikan semuanya pada Amira. Walaupun itu semua sebenarnya bukan lah urusan dia. Tapi melihat Ziva yang di tindas seperti itu membuat hatinya sangat sakit.


Malam yang begitu suram dan muram berganti dengan embun pagi yang sangat sejuk sehingga siapa pun yang merasakan nya akan menarik kembali selimut mereka. Tapi tidak bagi Ziva dia harus memaksa matanya untuk bangun dan kembali menjalani rutinitas pagi nya. Bergelut dengan dapur dan pergi ke kantor, tapi saat melangkah menuju dapur dan mengambil bahan masakan tiba-tiba mbok nah datang.


''Nona sedang apa ?apa Nona mau memasak lagi?'' tanya mbok nah lembut.


''Iya mbok seperti biasa aku akan membuat sarapan. ''


''Hmm tapi Tuan melarang Nona untuk memasak.Saya takut dia akan memarahi Nona lagi. Jadi biarkan saya saja yang memasak ya Non. ''


''Baik lah mbok. tapi saya tetap akan memasak bekal saya sendri.'' tersenyum pada mbok nah.


Mereka pun berkutat dengan kegiatan nya masing-masing.Dan bergegas pergi agar tak berpapasan lagi dengan Rafa.


Tapi naas saat akan berangkat mereka di pertemukan lagi. Ziva hanya bisa menekuk wajahnya dan berjalan keluar menuju gerbang karna ojek online pesanan nya sudah datang.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


**YUHUU RAFA MINTA DI GETOK NIH KASIAN ZIVA ELAH...


JANGAN LUPA TINGGAL KAN JEJAK YA KK KOPI JUGA BOLEH... HEHEHE MAAF TERLALU BANYAK MAU NYA NIH SI AUTHOR 🤭🤭😚**


__ADS_2