BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 10 "Kunjungan Desa Kranji"


__ADS_3

Akhir Pekan datang lagi. Hari ini kegiatan ku dan anggota UKM Pencinta Alam akan berkunjung ke Desa Kranji, Purwokerto Jawa Tengah. Untuk pertama kalinya kami berlima turun ke lapangan langsung. Tugas kami berkunjung ke desa tersebut adalah untuk mengurangi sampah yang ada di Sungai Kranji, perencanaan pembuatan bank sampah dan membuat serta menjual kerajinan tangan dari botol bekas atau plastik bekas. Kurang lebihnya seperti itu gambaran kegiatan UKM Pencinta Alam di Desa Kranji Purwokerto, Jawa Tengah ini. Yo mulai wae.


Desa Kranji, Purwokerto Jawa Tengah. Tepatnya di sungai Kranji.


Kami berlima sedang di beri tugas untuk membersihkan sampah yang ada di sungai tersebut. Sedangkan anggota lainnya melakukan sesuai tugas yang telah dibagi Bang Kris. Kami para anggota UKM Pencinta Alam dibagi tugas menjadi 3 misi oleh Bang Kris. kami berlima di wilayah sungai. Mba Lili, Mba Betti dan Bang Doel dibagian membuat dan menjual kerajinan botol bekas, sedangkan Bang Kris, Bang Betrus dan Bang Opik menjelaskan program bank sampah ke para warga di Balai Desa.


Seperti biasa si Budi mulai melakukan live streaming siarannya.


"Hay guys bertemu lagi dengan si Budi sang pahlawan bumi. Ini sekarang kita lagi ada di kali sing bahasa Indonesia ne sungai....Engko disit aku takon (nanti dulu aku tanya)," ucapnya menghentikan siarannya dulu.


"Heh Lam, jeneng e apa yah sungai iki?(heh Lam namanya apa ya sungai ini?)," tanyanya padaku.


"Sungai Kranji Bud," sahutku memberi tahu sambil mengambil sampah dan memasukkannya ke kantong kresek.


"Ya Sungai Kranji di Desa Kranji mestinya," Budi melanjutkan tugasnya merekam kembali.


"Hih Frank, cacing. Jangan diambil ya," ucap Clara memperingati.


"Frank aja Frank... FRANKY..." Clara berteriak kenceng gara-gara takut dengan hewan melata itu.


"Heh Frank, ko ya udah tahu si Clara wedi, takut masih wae di weden wedeni tak geplak ko,(heh Frank, kamu ya udah tau si Clara takut masih aja kamu takut-takuti tak pukul kamu)," bela si Sinta.


"Hi serem. Iya aku buang," ucap si Frank nurut.


"Weh cepetan bersihin malah asyik main," teriak seseorang. Sebuah suara dari atas jembatan dan ternyata itu Bang Kris yang mengecek kegiatan kami.


"Iya Bang," sahutku.


Bang Kris lalu pergi lagi menyiapkan bahan untuk rencananya.


"Weh udah. Lanjut na, Bang Kris wis ngomel-ngomel,(Weh udah. Lanjutkan Bang Kris sudah marah-marah)," kataku menyuruh teman-teman.


"Iya Lam aku dah selesai sampahnya banyak banget yoh," lapor Franky padaku.


"Nah maka dari itu, kita harus jaga alam yoh Lam," ucap Sinta padaku.


"Bener Sin," kataku mengiyakan.


"Lam tadi si Frank nakal," adu Clara padaku sambil berteriak.


"Tapi tenang udah di geplak sinta," teriaknya memberi tahu.


Budi juga menghentikan siarannya. "Sampai disini jumpa lagi," ucapnya mengakhiri siarannya.


"Weh....." Suara orang entah darimana mengangetkan ku kembali. Aku menengok sumber suara terlihat tiga orang sedang berjalan mendatangi ku.


"Punten ana apa ya Mas?"(maaf ada apa ya Mas?)," tanyaku sopan.


Tiba-tiba tanpa aba-aba salah satu orang tersebut merampas kantong yang berisi sampah dari ku dan langsung di buang ke sungai kembali olehnya. Aku merasa tak terima karena hasil jerih payah kami mengumpulkan sampah malah dibuang oleh orang orang ini.


"Arep di kapakna Mas sampahe?(mau diapakan Mas sampahnya?)," tanyaku lagi.


Aku seketika terperangah dengan apa yang mereka lakukan dengan sampah-sampah kami. Aku pun langsung tersadar.


"Heladalah deneng di buang maning,(heladalah kok dibuang lagi)," ucapku tak percaya.


"Mas aja dibuang mbok dadi kotor maning mbok angel bersihi ne,(Mas jangan dibuang jadi kotor lagi kan susah bersihkannya)," tegurku sambil mencoba merebutnya kembali. Namun usaha gagal karena di cegat oleh dua orang temannya.


"Apa? Masalah?", tanyanya melotot kearah ku.


"Yo masalah dasar re mas iki sapa main asal guang wae,(Ya masalah dasarnya mas ini siapa main asal buang saja)," jawabku marah.


"Aku iki wong sing ra seneng karo kegiatan sing ko pada nglakuk na kiye, (aku ini orang yang gak suka dengan kegiatan yang kalian lakukan ini)," jelas Mas yang satunya.


"Heh Mas iki kiye pegawean bener, ora bener sing kepriwe,(heh mas ini itu kegiatan bener gak bener yang bagaimana)," bela Budi sambil marah padanya. Ia ternyata merekam semua kejadian itu di Hpnya.


"Halah pokoke aku ra seneng karo ko ko pada sing sok dadi pahlawan bumi,(halah pokoknya aku gak suka sama kalian yang sok jadi pahlawan bumi)," ucapnya lagi lalu melihat ke arah si Budi.


"Ko ngapa kue malah ngrekam, ngeneh hp ne,(kamu ngapain itu malah ngrekam, sini hpnya)," sadar melihat Budi sedang merekam tindakannya, ketiga orang tersebut langsung merampas paksa hpnya.


"Wan ko cekel awake,(Wan kamu pegangin badannya)," suruhnya pada temannya untuk memegangi si Budi agar tak melawan.


"Heh ngeneh balek na hp ku, sot na,(heh sini kembalikan hp ku, lepaskan)," pinta si Budi sambil mencoba melepaskan diri.


"Berisik meneng ko,(berisik diam kamu)," gentak orang yang memeganginya.


Sedangkan orang yang merampas hp Budi melihat video yang Budi rekam tadi. Aku tak bisa diam saja melihat temanku ini diganggu aku pun berusaha menolongnya.


"Mas minggir, cul na batirku,(Mas minggir, lepaskan temannku)," suruhku sambil. berusaha melawannya.


"Git ko urus bocah kuwe, (Git kamu urus bocah itu)," suruhnya lagi pada teman yang satunya.


"Iya Yo," ucapnya dan langsung mencekal ku dari belakang.


"Heh lepas na aku," tanpa aba-aba aku menyikut dadanya dan jatuh karena sikutan ku ternyata kuat. Aku langsung berlari menolong Budi.


"Heh kayane si Alam ro Budi kena masalah,(heh kayaknya si alam sama Budi dapet masalah)," ucap si Clara memberi tahu Frank dan Sinta. Mereka bertiga yang berada tak jauh dariku langsung pergi untuk membantu.


"Iya," jawab si Sinta.


"Gawat Iki, samperin," si Frank lalu langsung menyuruh si Sinta dan Clara untuk membantu ku.

__ADS_1


"Heh mandeg,(heh berhenti)," teriak si Frank sambil berlari mencoba menolong ku dan Budi.


"AWASS FRANKK," seketika Frank berhenti lalu menyingkir memberi jalan.


Si Sinta tiba-tiba berlari dengan kencang layaknya jet ke arah orang yang sedang melihat video rekaman Budi. Karena ia berdiri tepat di pucuk sungai maka dengan tendangan mautnya si Sinta akhirnya berhasil membuat orang itu jatuh ke sungai.


"KYAAA," teriaknya sambil menendang.


"PLUNG BYURR", satu orang itu tercebur tapi si Budi malah melongo karena handphonenya ikut tercebur. Hp si Budi seketika jadi korban sebab tadi masih di pegang olehnya


"Kurang asem," ucap Aryo si bos mereka berdua marah.


"Git lunga wae yuh lagian tugas kita wis rampung,(Git pergi aja yuk lagian tugas kita dah selesai)," ajak si Wawan padanya sambil melepaskan si Budi.


"Iya hayu," ucapnya setuju lalu mengakhiri pertengkarannya begitu saja.


Dua orang itu meninggalkan kami berlima. sedangkan Bos bernama Karyo itu berusaha naik kepermukaan sendiri dan ikut pergi meninggalkan kami.


"Awas ko (kamu)," ucapnya menunjuk-nunjuk kami sambil berjalan pergi.


"Sana pergi dasar manungsa ra genah (manusia gak jelas)," usir si Sinta sambil marah-marah.


"Bud kowe kenang apa?(Bud kamu kenapa?)," tanyaku karena melihat ekspresi si Budi tak biasa.


"Hebat kan aku sekali tendang langsung kabur," ucap si Sinta membanggakan dirinya.


"Hebat apa ne Sin, Hp ku melu kecemplung mental pas ko nendang,(hebat apanya sin HP ku ikut kecebur, mental pas kamu tendang)," jawab si Budi sambil mengacak-acak rambutnya karena bingung.


"Aduh hp ku, piye iki (gimana ini)," gumamnya.


"Halah iya sih Bud maaf maaf ra ngerti aku,(halah iya sih Bud, maaf maaf gak tau aku)," si Sinta langsung merasa bersalah karena membuat handphonenya ke cemplung.


"Sin ko madang apa nyampe tenaga ne rosa kaya kuwe,(Sin kamu makan apa sampe tenaganya kuat begitu)," ledek si Franky padanya.


"Sega leh,(nasi lah)," timpal si Clara menjawab.


"Mbuh lah Clar,(au ah Clar)," ucapnya kesal.


"Maaf ya Bud aku bener-bener ra (gak) sengaja," ucap si Sinta meminta maaf kembali


"Sebenere ra papa sin aku esih duwe serep hp tapi momen live streaming sing di gawe ning kana karo jadwal tugas kuliahku melu luput,(sebenarnya gak papa sin aku masih punya hp cadangan tapi momen live streaming yang aku buat sama jadwal tugas kuliahku iku hilang)," jelasnya meratapi nasib.


"Wis ra usah sedih si Sinta ra senguja,(dah jangan sedih si Sinta gak sengaja)," kataku sambil merangkul si Budi.


"Iya aku ngerti iki kabeh gara-gara wong mau, sapa jan ne kae?Teka-teka gawe masalah,(iya aku ngerti kok ini semua gara-gara orang tadi, siapa sih sebenarnya mereka? datang-datang buat masalah)," ucapnya sambil masih merasa marah.


"Wis hayu beresi maning masa Bang Kris balik maning sampah e esih wutuh,(dah ayo bereskan lagi masa Bang Kris datang lagi sampahnya masih ada)," suruhku pada lainnya.


"Iya Lam," jawabnya. Di dalam hati Budi sebenarnya masih merasa sedih karena harus kehilangan hp canggihnya itu, tapi ia tak menyesalinya karena tau itu bukan salahnya si Sinta.


"Wis ra papa sin aku malah kesuwun wis di tulungi,(dah gak papa sin aku malah makasih sudah di tolongin)," si Budi malah berbalik mengucapkan terimakasih padanya yang membuat hati si Sinta jadi lega. Dirinya sudah mengikhlaskan kepergian handphonenya.


"Alhamdulillah Budi emang Lanang apik (cowok baik)," puji si Sinta senang karena di maafkan.


"Aduh malah di puji seketika ilang sedih e aku,(aduh malah di puji seketika hilang rasa sedih ku)," ucap si Budi yang jadi malu sendiri karena pujiannya.


Bang Kris datang kembali. Tapi kami malah belum selesai selesai alhasil kami berlima di tegur kembali.


"Aduh kalian berlima ini perasaan aku tadi ke sini sudah sedikit sampahnya kok sekarang jadi banyak lagi," omelnya lagi.


"Maaf Bang Kris tadi ada orang iseng main buang sampah yang udah di kumpulin Bang," jelasku.


"Iya ngantek gelut hpne Budi dadi korban,(iya nyampe berantem hpnya Budi jadi korban)," tutur si Frank melanjutkan.


Si Budi hanya manggut-manggut mengiyakan tuturan si Frank.


"Ya udah cepat bereskan kakak tunggu di balai desa," Bang Kris menyuruh kami berlima untuk segera membereskan kembali sampah-sampah nya dan setelah selesai kami disuruh menyusulnya ke balai desa


"Iya Kak, siap," jawab kami berlima kompak.


...🌍🌎🌏🌍🌎🌏...


Di Balai Desa Kranji.


Bang Kris dan anggota senior lainnya sedang meminta izin untuk membuka program bank sampah di desanya. Namun ternyata reaksi kepala desa tidak seperti yang dibayangkan oleh kami semua. Ia terlihat tak yakin dengan perencanaan kami ini.


"Maaf Pak Karso jadi lama menunggu," ucap Bang Kris lalu duduk. Mba Lili juga ikut duduk disebelahnya. Pak Karso adalah seorang kepala desa di desa Kranji ini.


"Iya tidak apa-apa," jawabnya santai.


"Ngomong-ngomong Mas Mba iki (ini) dari universitas mana?" tanyanya.


"Kami dari UKM Pencinta Alam universitas Sudirman Pak," jawab Bang Kris sopan.


"Oh esih cedek (masih dekat)," katanya.


"Iya," ucap Bang Kris dan Mba Lili sambil tersenyum.


"Ada apa kalau boleh tau?" Pak Karso menanyakan tujuan mereka berdua.


"Kami disini ingin membuat rencana pembangunan bank sampah untuk desa ini, apakah bapak setuju dengan rencana kami ini," jelas Bang Kris.

__ADS_1


"Ini Pak silahkan di baca keseluruhannya ada di sini," Mba lili lalu memberikan beberapa lembar kertas berisi perencanaan kami dan menyuruhnya untuk melihatnya.


Pak Karso membuka lembar demi lembar kerta yang berisi perencanaan kami itu.


"Sepertinya akan susah untuk melakukan perencanaan ini," katanya lalu mengembalikan kertasnya seperti semula.


"Kenapa bisa begitu Pak?" tanya Bang Kris penasaran.


"Sebab warga disini sudah terbiasa membuang sampah di Sungai Kranji dan warga pasti menolak tentang perencanaan ini. Sebenarnya kalian juga percuma membersihkan sungai itu besoknya pasti akan ada sampah lagi di sana," jawabnya menjelaskan.


"Maka dari itu Pak kita harus membangunkan rasa kesadaran mereka bahwa membuang sampah di sungai itu tindakan yang merusak alam," jelas Bang Kris untuk membuka pikirannya.


"Benar kadang jika hujan datang kali Kranji akan meluap karena saking banyaknya sampah," ucapnya sambil manggut-manggut.


"Kalau begitu siapa yang rugi Pak pasti Bapak dan warga disini kan," kata Mba lili ikut membuka pikirannya lagi


"Iya mas baiklah akan saya usahakan untuk memberikan pengumuman pada warga kami tentang perencanaan ini. Saya akan menyuruh warga desa untuk berkumpul di sini besok," ucapnya akhirnya menyetujui rencana kegiatan kami ini.


"Syukurlah semoga bisa membantu ya Pak," kata Mba Lili lega.


"Iya terimakasih ya," ucapnya.


"Sama-sama Pak," balas mereka berdua lalu keluar.


Bang Kris dan Mba Lili sudah keluar dari balai desa. izin kepada kepala desa sudah selasai. Walau begitu mereka berdua masih merasa khawatir takut kalau Pak Karso tak bisa mengumpulkan warganya besok. Sementara aku baru sampai karena harus mengangkat sampah yang kita kumpulkan ke truk pengangkut sampah terlebih dahulu.


"Kalian sudah selesai?" tanya Bang Kris padaku.


"Sudah Kak," jawabku.


"Sebene re kae sampah ana pirang ton ya akeh pisan,(sebenarnya itu sampah ada berapa ton ya banyak banget)," gerutu si Frank.


"Iya abot banget senggane 5 kandi dewek,(iya berat banget gak salah lah 5 karung sendiri)," timpal si Budi.


"Bang golet pangan yuh aku kencot,(Bang cari makan yuk aku lapar)," pinta ku padanya.


"Ya hayu," ucap Bang Kris setuju.


Kami semua pergi istirahat untuk makan siang mengisi perut untuk menambah energi.


Di Rumah Makan Ngalor Ngidul.


"Bang Kris bagaimana tadi pak kepala desa setuju?" tanyaku ingin tahu.


Pak Kepala Desa masih mikir mikir katanya, jawabnya sambil mengambil ayam didepannya.


"Kenapa Kak?" tanya si Sinta ingin tahu juga.


"Masalahnya ada satu kendala yaitu warga desa sini kemungkinan menolak perencanaan bank sampah tersebut," jawab Mba Lili.


"Kok bisa?" ucap si budi sambil mengunyah makanannya


"Kata Pak Kepala Desa warga sini sudah terbiasa membuang sampahnya ke kali jadi mungkin akan susah untuk membujuk nya," jelas Bang Kris.


"Mas Mba iki dari Unsoed apa?", tanya seorang Ibu-Ibu pemilik rumah makan memastikan. Ia lalu menaruh gelas pesanan kami di meja.


"Iya Bu," jawab Bang Kris mewakili.


"Sebenarnya Ibu setuju dengan perencanaan kalian ini yang bertujuan untuk mengurangi sampah, kebetulan ibu juga tidak menyukai tindakan warga disini yang seenaknya membuang sampah," ucapnya jujur.


"Iya kah Bu, Ibu warga sini juga?" Mba Lili senang dengan perkataan Ibu itu ia akhirnya bertanya padanya.


"Iya Ibu tinggal tak jauh dari lokasi sungai," jawabnya.


"Oh mengonoh (begitu)," ucap si Budi mangut-mangut.


"Ibu cokan geram deleng warga sini asal cemplang cemplung sampahe arep di omongin mbok dadi kesuh ya Ibu jor na, eh semakin di jor na semakin akeh sing melu buang,(Ibu suka geram melihat warga sini asal cemplang cemplung sampahnya, mau di omongin takut jadi marah ya Ibu biarkan, eh semakin di biarkan semakin banyak yang ikut buang)," jelasnya pada kami.


"Ibu ngerti alasan warga disini memilih membuang sampahnya ke kali?" tanyaku ingin tahu.


"Kalau gak salah mereka memilih cara tersebut karena lebih mudah bahkan di desa ini hanya beberapa orang yang memiliki tempat sampah di rumahnya," jawabnya.


"Hah," ucap yang lainnya terkejut tak percaya. Bahkan aku hampir tersedak minumanku sendiri karena mendengar jawaban aneh darinya.


"Mereka pernah bilang ke Ibu jerene kita Iki tinggal ning jejer kali ngarah penak ya buang sampahe langsung bae meng kali. Begitu Mas, Mba,(mereka pernah bilang ke ibu katanya kita ini tinggal di dekat sungai ngarah gampang buang sampahnya langsung ke sungai aja. Begitu Mas, Mba)," tuturnya pada kami semua.


"Oh begitu ya Bu matursuwun (makasih) ya Bu infomasi menika," ucap Mba Lili berterima kasih padanya.


"Nggih (iya) Ibu tak pergi dulu ya," ucapnya lalu pergi


Kami semua menunduk lalu tersenyum padanya.


"Sekarang gimana Kak?" tanyaku lagi pada Bang Kris.


"Kita tunggu keputusan Pak Kepala Desa," jawabnya.


"Baiklah lah," ucapku.


"Besok kalian berangkat langsung ke sini ya," Bang Kris lalu menyuruh kami berlima untuk datang langsung ke Desa.


"Siap Kak," jawab kami berlima kompak. Kami semua pun melanjutkan makan kami.

__ADS_1


Perjalanan di Desa Kranji ini belum selesai. Kami akan kembali lagi besok untuk melakukan perencanaan bank sampah milik kami. Kami akan menjelaskan program tersebut kepada para warga agar mereka memahami tujuan baik dari kegiatan ini.


Bersambung.....🌲🌲🌲


__ADS_2