BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 11 "Perencanaan Bank Sampah"


__ADS_3

Bank Sampah, apa sih itu? Bagaimana sistem kerjanya? Dan apa sih manfaatnya? Semuanya akan di bahas dan kemas oleh ku dan temen-temen dari UKM Pencinta Alam.


Hari esok telah datang, aku dan ke empat temanku langsung berangkat menuju Desa Kranji dengan mobil milik kampus. Mobil ini dikhususkan bagi UKM Pencinta Alam untuk pergi ke desa-desa melakukan kegiatannya. Dan sekarang kami semua sudah kembali berkumpul di Balai Desa Kranji.


Kami semua menunggu warga yang datang ke Balai Desa. Hampir setengah jam menunggu hanya terlihat beberapa warga saja dan itupun ternyata satu keluarga yakni keluarga Bu Sarti pemilik warung makan kemarin. Padahal Pak Karso sudah membagikan undangannya pada warganya. Setelah lama menunggu ternyata cuma ada 10 orang yang hadir ke Balai Desa.


"Bagaimana Mas sepertinya hanya segini warga yang saya bisa kumpulan?", ucap Pak Karso mulai resah dan bingung.


"Apakah warga menolak untuk datang?" tebak Mba Lili bertanya.


"Sepertinya begitu Mba," jawabnya.


"Ya sudah tak apa kita mulai saja," usul Bang Kris pada semuanya.


"Monggo Mas. Maaf ya," ucap Pak Karso mempersilahkan lalu meminta maaf pada kami semua dengan merapatkan kedua tangannya.


Bang Kris hanya tersenyum ramah padanya. Dirinya mulai memegang mic dan mulai menyambut para warga yang hadir.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatu," Bang Kris mengucapkan salam pembuka untuk memulai rapatnya.


"Waalaikum salam warahmatullahi wa barakatu," seru 10 warga yang hadir.


"Bapak Kepala Desa Kranji ingkang (yang) kula (aku) urmati (hormati) sekalipun Bapak Ibu warga desa ingkang kula urmati pula," sapa Bang Kris lagi kepada Pak Karso dan warganya menggunakan campuran bahasa Jawa Krama.


"Alhamdulillah kula panjatkan pada junjungan Nabi besar kita Muhammad Saw. yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kita semua bisa hadir berkumpul disini. Kula matursuwun sanget Bapak lan Ibu nyempat aken hadir di acara menika (ini), ucapnya memanjatkan doa kepada junjungan nabi Muhammad Saw.


Kami semua ikut duduk di samping panggung. Mendengarkan Bang Kris memulaikan acaranya


"Nah Bapak Ibu sedaya (semuanya) kula langsung sampaik na materi kami niki yang akan di pandu oleh Mba Lili dari UKM kami manika," ucapnya sambil memberikan mic-nya kepada Mba Lili. Mba lili mulai menjelaskan materinya.


"Warga sekalian apa sih itu Bank Sampah iku (itu)?, Bapak Ibu pernah denger mboten (tidak)," tanya Mba Lili pada para warga.


"Mboten mba sengerti ku Bank kuwi kaya Bank BRI, BCA lan liyane (lainnya)," ucap Bu Sarti mewakili warga yang lain.


"Oh ini tentu berbeda dari Bank-Bank pada umumnya jika Bank pada umumnya hanya menabung uang lain ceritanya dengan Bank Sampah yang bisa menabung sampah + mendapatkan uang," jelasnya.


"Bank Sampah sendiri merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Warga yang menabung yang juga disebut nasabah akan memiliki buku tabungan dan dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam," tambah Mba Lili terus menjelaskan.


"Kaya kue kepriwe sistem kerjane?" tanya satu warga lagi.


"Mengenai hal ini akan dijelaskan oleh rekan saya Mba Betti Widiyanti," jawab Mba Lili memberi tahu.


Pada saat Mba Betti akan menjelaskan segerombolan warga datang beramai-ramai ke balai desa. Aku merasa banyak bersyukur karena akhirnya warga mau mengikuti rapat ini. Baru aku mau senang ternyata warga datang untuk menolak. Alasan mereka menolak terdapat dua faktor satu penolakan pembangunan dan yang kedua mereka khawatir akan dampak lingkungan dari Bank sampah seperti penyakit, bau busuk, hingga lalat akan merajalela.


"Akhirnya kalian semua datang silahkan duduk para warga ku sekalian," ucap Pak Karso lega.


"Apa apaan iki kita semua teka udu nggo melu rapat kita semua teka nggo protes,(apa-apaan ini kita semua datang bukan untuk ikut rapat, kita semua datang untuk protes)," tukas si Karyo orang yang kemarin mengganggu ku.


Kami semua terpaksa berhenti dan keluar untuk melihat dan menghadapi para warga.


"Kita semua menolak program Bank Sampah iki, sampah sing kepenak gari di buang malah kon di kumpul na, engko mambu kesampak buang kali sih langsung ilang ke gawa kelu,(kita semua menolak program bank sampah ini, sampah yang mudah tinggal di buang malah harus dikumpulkan nanti bau menyeluruh, buang ke sungai sih langsung hilang terbawa arus)," protes salah satu warganya.


"Iya urung maning program kiye bisa dadi ora jalan seteruse kur andon dadi gundukan sampah tok, (iya belum lagi program ini bisa jadi tidak dijalankan seterusnya dan hanya menjadi gundukan sampah saja)," timpal si Karyo.


"Pak Bu Terkait dengan Bank Sampah yang akan dibangun di desa ini, Bapak atau Ibu tak usah khawatir kalian bisa mengelola sampah masyarakat ini agar bisa di daur ulang maupun dijadikan pupuk kompos, nantinya dalam pengelolaan itu dilibatkan masyarakat dalam manajemen pengelolaannya," jelas Bang Kris membujuk mereka.


"Dalam pengelolaannya nanti kita akan melibatkan masyarakat sehingga bisa menjadi tambahan ekonomi masyarakat," tambahnya.


"Heh Lam wong wingi tengan-tengan, (heh Lam orang kemarin ternyata)," bisik Budi padaku setelah melihat si Karyo yang ternyata memimpin rombongan demo ini.


"Iya Bud," ucapku mengiyakan.


"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Mas-Mas, Mba-Mba hayu masuk sit tak jelasna kepriwe pentinge bank sampah iki, (Bapak-Bapak Ibu-Ibu Mas-Mas Mba-Mba ayo masuk dulu akan dijelaskan bagaimana pentingnya bank sampah ini)," ajak Mba Lili pada warga disana.


"Kepriwe mlebu apa ra?" (bagaimana masuk atau tidak?)," tanya si Karyo pada yang lain.


"Mlebu wae kita semua ringokna sit,(masuk saja kita semua dengarkan dulu)," jawab Ibu-Ibu berdaster mewakili lainnya.


Akhirnya warga setuju untuk mendengarkan penjelasan kami tentang Bank Sampah ini.

__ADS_1


...🌍🌎🌏🌍🌎🌏...


Warga yang tadi berdemo sudah duduk berjejer rapi siap untuk mendengarkan penjelasan kami mengenai Program Perencanaan Bank Sampah yang akan di lanjutkan oleh anggota senior kami.


"Mba Betti lanjutkan," suruh Mba Lili mempersilahkan temannya untuk melanjutkan penjelasannya yang tertunda.


Mba Betti memberikan tanda 'Ok' ke Mba Lili. Lalu ia memulai untuk menjelaskan.


"Sistem kerja Bank Sampah ini bisa dibilang mudah Kaka, Kaka hanya perlu menjadi anggota dari Bank Sampah agar bisa menyetorkan sampahnya. Akan ada petugas Kaka yang membantu, diantaranya petugas yang mencatat berat sampah yang disetorkan anggota, pengelola tabungan yang mencatat hasil setoran, dan yang terakhir adalah petugas yang melakukan negosiasi terhadap pengepul sampah kemudian menerima uang dari pengepul Kaka," jelasnya.


"Bank Sampah bisa olih duit ra kuwe?(Bank Sampah bisa menghasilkan uang atau tidak itu?)," tanya si Wawan penasaran.


"Aku saja yang jawab," pinta si Sinta yang maju berbisik pada Mba Betti. Si Sinta langsung meneruskannya.


"Ya mesti Pak, Bu. Bank Sampah iku konsep pengumpulan dan pemilahan sampah kering yang dijalankan layaknya Bank dimana masyarakat dapat menabung sampah dan mendapatkan uang. Nasabah bank sampah juga dapat meminjam uang yang kemudian dikembalikan dengan menyetorkan sampah, jawabnya menjelaskan," jawab si Sinta sambung menjelaskan.



"Kira-kira seperti itu gambaran dari perencanaan bank sampah ini," ucap si Sinta setelah Bang Doel menggeser layar yang ada di depan menggunakan laptopnya.


"Kuwe berarti kita semua ngumpulna sampah terus disetor na kayakuwe? (itu berarti kita semua mengumpulkan sampah terus disetorkan seperti itu?)," simpul salah satu warga lagi dengan bertanya.


"Ya sekiranya begitu Pak," jawab si Sinta mengiyakan.


"Kuwe sampah apa bae jere? (Kalau boleh tau itu sampah apa saja ya?)," tanyanya lagi.


"Bisa kaleng dan aluminium berbentuk gelas contohe kaleng biskuit, kemasan minuman ringan, sampai dengan kaleng susu formula, terus koran dan arsip putih, botol kemasan limbah rumah tangga, plastik bening berbentuk gelas, kaya belas aqua gelas teh gelas lan liyane, bisa juga barang elektronik, botol kaca, atau tembaga," lanjut si Sinta.


"Itu bisa di lihat ada kolom jenisnya jadi Bapak atau Ibu bisa menyetorkan sesuai jenisnya ya," tambahnya menunjuk ke layar LCD.


Para warga mengangguk-angguk mengerti.


"Keuntungan apa sing bisa di olih kang program kiye jajal?,(Keuntungan apa yang bisa di dapat dari program ini coba?)," tanya satu warga dengan agak ngegas. Dan itu adalah si Sigit yang mulai unjuk diri untuk bertanya.


Kali ini tinggal aku yang menjelaskan tujuan dari perencanaan ini. Sedangkan yang lain menyimak dan mendengarkan saja.


"Tujuan dari didirikannya Bank Sampah itu sendiri adalah 1. Untuk memecah permasalahan sampah yang sampai saat ini belum juga bisa teratasi dengan baik, 2. Membiasakan warga agar tidak membuang sampah sembarangan, 3. Memotivasi warga agar mau memilah sampah sehingga lingkungannya bersih, 4. memaksimalkan pemanfaatan sampah bekas," jelasku dengan rinci.


"SETUJU," seru ku keras.


"Setuju....," saut lirih para warga.


Ternyata orang yang jawab setuju hanya beberapa saja sementara yang lainnya hanya diam saja bahkan ada yang tertidur pulas.


"Lah piwe wong wong e ra kompak,(lah gimana orang-orang pada gak kompak)," bisik si Budi pada Frank.


"Iya malah ada yang turu (tidur), ini warga gimana ya," jawab si Frank menatap heran ke arah warga.


"Entahlah," ucap si Budi sambil mengangkat kedua bahunya.


"Mba, Mas pembangunan Bank Sampah itu akan di bangun dimana ya?" tanya Bu Sarti ingin tahu.


"Oh iya," celetukku yang terlanjur duduk kembali.


"Kita akan menempatkan pembangunan di dekat Sungai Kranji," jawab Bang Kris mewakili ku.


"SETUJU," seru Bang Kris.


"Kenapa disana?" tanya Pak Handoko suami dari Bu Sarti.


"Karena warga yang akan membuang sampah di kali akan langsung melihat ada bank sampah disana dan memilih untuk menaruhnya di bank sampah untuk di pilah," jawab Bang Kris jelas.


"Oh begitu ide yang bagus dari mas Mba ini," puji Pak Handoko tepuk tangan hingga diikuti warga lainnya.


"Sudah mengerti semua," ucap Bang Kris keras menggunakan mic nya.


"Mengerti!," seru mereka sedikit kompak.


Warga yang tadi tertidur seketika terbangun dan langsung ikut mengatakan 'mengerti' seperti yang lainnya.

__ADS_1


"Hah mengerti," ucapnya lirih karena sedikit kaget.


"Syukurlah," kata Bang Kris lega.


"Baiklah Bapak-Bapak, Ibu-Ibu sekalian sekiranya cukup sekian penerapan perencanaan kami ini sekarang kami tunggu di tepi sungai untuk bapak dan ibu disini membantu kita untuk membangun bank sampahnya," ucap Bang Kris mengakhiri rapat hari ini. rapat di buka oleh Bang Kris dan diakhiri olehnya juga.


"Mohon maaf bila ada salah kata, Wassalamu'alaikum warahmatullahi hi wa barakatu," tambahnya memberikan salam di akhir.


"Waalaikum salam warahmatullahi wa barakatu," jawab para warga yang hadir sambil beranjak dari bangku duduknya.


Para warga berbondong-bondong keluar dari balai desa. Sedangkan kami semua merasa lega dan sekarang kami semua beralih menuju ke lokasi dekat Sungai Kranji untuk mendirikan tempat untuk Bank Sampah.


...💮🌸💮🌸💮🌸...


Di dekat wilayah sungai Kranji. Aku bersama Anggota UKM Pencinta Alam dan para warga desa sudah mulai membangun mendirikan Bank Sampah. Namun ternyata si Samsul sedang mengawasi kami semua dari kejauhan dan sedang bersembunyi di semak-semak dekat sungai.


"Bos sepertinya suap yang bos beri tak berguna lah bos," ucap si Domu pelan pada si Samsul.


"Iya Bos para warga sepertinya sudah setuju," timpal si Made lirih.


"Gawat, ini tak boleh terjadi ini, ucap si Samsul pelan sambil menikmati ide lainnya.


Lalu si Samsul melihat Aryo dan kedua temannya ia pun bersuit memanggilnya.


"Besh besh besh...," panggil si Samsul dengan kode.


Aryo mendengar suara dari semak-semak dan menengok ke arah tersebut. Terlihat si Samsul sedang memberikan kode tangannya untuk menuju ke padanya.


Mereka berdua berinteraksi dari kejauhan menggunakan bahasa isyarat. Setelah mengerti Aryo mengajak kedua temannya untuk diam-diam kabur menemui di Samsul


"Bro," instruksi si Karyo pada kedua temannya dengan menggerakkan kepalanya.


Kedua temannya mengangguk mengerti.


Sementara aku dan lainnya membantu membangun Bank Sampah yang sedikit berbentuk seperti rumah kecil sederhana.


Dengan kerja sama yang baik, akhirnya bangunan Bank Sampah sudah jadi dan siap digunakan. Bang Kris lalu mengucapkan terimakasih kepada para warga yang sudah antusias mengikuti kegiatan ini.


"Terimakasih Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dengan adanya ini semoga para warga di sini bisa membuang sampahnya dengan baik dan benar ya," ucap Bang Kris berharap.


"Aamiin," ucap para warga serta aku dan lainnya yang ikut mengaminkan harapan Bang Kris.


"Nah Bapak-Bapak, Ibu-Ibu dengan cara ini kita bisa membersihkan bumi dari sampah dan dapat mengurangi permasalahan lingkungan yang ada. Banjir juga tak akan lagi mengancam desa kalian dengan adanya kegiatan ini," jelasku mewakili lainnya.


Setelah itu aku mengajak mereka untuk tidak membuang sampah ke kali lagi.


"Yuk mulai sekarang kita jalankan aktivitas kita dengan membuang sampah ditempatnya dan memilah sampah untuk disetorkan ke bank sampah," ajakan ku memberi tahu para warga.


"Iya Mas, Mba kami semua akan usahakan semoga progam ini berjalan lancar," ucap Pak Karso berharap.


"Aamiin," ucap kami semua mengaminkan.


Di tempat Samsul berada.


Aryo, Sigit dan Wawan sedang dimarahi oleh Samsul karena pekerjaannya melarang warga gagal. Mereka bertiga memohon ampun dan tidak akan mengecewakannya lagi.


"Heh kalian bertiga gimana bukannya buat warga menolak malah kalian bertiga ikut-ikutan," marah si Samsul pada mereka bertiga. Sedangkan Domu dan Made memukul kepala mereka satu persatu dari belakang.


"Maaf Bos Samsul kami bertiga sulit menolak," kata si Karyo menunduk diikuti kedua temannya.


"Tapi saya sudah memiliki rencana lain bos untuk menghentikan mereka." Seketika si Karyo mendongak dan langsung mengutarakan idenya untuk membuat rencana kami gagal lagi.


"Baguslah kerjakan," suruh si Samsul menyetujui usul si Karyo.


"Dan ingat harus berhasil kalau tidak saya akan minta ganti rugi pada kalian bertiga dan tidak akan memberikan upah pada kalian juga," ancam si Samsul pada si Karyo dan kedua temannya.


"Siap siap Bos Samsul," ucap si Karyo sambil mempersilahkan si Samsul dan antek-anteknya pergi.


Si Samsul dan kedua anteknya pergi meninggalkan mereka bertiga. Entah rencana apa yang akan mereka bertiga lakukan lagi demi uang yang didapat dari si Samsul tak melayang dan harus ganti rugi.

__ADS_1


Bersambung.......💮🌸💮


__ADS_2