BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 9 "Akar Permasalahan Lingkungan"


__ADS_3

Berbicara tentang Akar Masalah Lingkungan sebagai dari kita pasti sudah mengetahuinya. Akar permasalahan lingkungan ini bisa berasal dari dua faktor yakni akibat peristiwa alam dan akibat ulah manusia. Gunung meletus, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan adalah contoh pemicu rusaknya alam. Nah disini aku dan anggota UKM Pencinta Alam lainnya akan membahas masalah tentang ini. Yuk intip bersama!


Di universitas Jenderal Soedirman, Ruang UKM Pencinta Alam.


Semua anggota UKM Pencinta Alam berkumpul termasuk aku. Kami semua berkumpul untuk berdiskusi membahas tentang permasalahan lingkungan.


"Akhir akhir ini cuaca sedikit terasa panas bukan," Bang Kris membuka bahan diskusinya.


"Iya Bang deleng keringet ku ngucur kaya lagi adus,(Iya Kak lihat keringatku, ngalir kaya sedang mandi) ," timpal si Budi sambil mengelap keringatnya dengan tangan.


"Ya masalah itu diakibatkan adanya pemanasan global dari efek rumah kaca. Pemanasan global (global warming) adalah proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Karena fenomena pemanasan kumulatif ini mengakibatkan suhu Bumi semakin hangat dan panas setiap tahunnya," jelas Bang Kris pada kami semua


"Bang sebenarnya efek rumah kaca ini baik bagi bumi atau buruk sih?" tanyaku ingin tahu lebih.


"Sebenarnya efek rumah kaca ini juga bagus untuk bumi. Efek rumah kaca ternyata bisa menghangatkan bumi sampai 59 derajat Fahrenheit atau 15 derajat Celcius. Dengan demikian, bumi menjadi tempat yang baik dan layak huni. Tanpa peran serta efek rumah kaca, dunia hanya akan menjadi tempat yang beku dan tidak layak huni," jawabnya menjelaskan lagi.


"Tapi, efek rumah kaca ini menyebabkan bumi kita orang jadi tak seimbang Kaka," tukas Mba Betti.


"Nah itu dia sayangnya efek rumah kaca ini memiliki dampak yang tak baik bagi bumi. Contohnya pemanasan global seperti yang sedang terjadi ini," jelasnya lagi.


"Kak di wilayah Indonesia khususnya di Provinsi Riau kemarin kan terjadi kabut asap dan diduga karena kebakaran hutan. Apa itu semua gara-gara efek rumah kaca juga?" Clara mengajukan pertanyaan untuk membenarkan pemahamannya.


"Iya Clar kebakaran hutan juga termasuk dari dampak efek rumah kaca ini. Panas yang berlebihan membuat hutan jadi terbakar dengan sendirinya," jawab Mba Lili membenarkan.


"Oh begitu toh penyebabe," ucap Budi mangut-mangut. Aku dan lainnya juga ikut mangut-mangut.


"Kak aku pernah denger katanya mengurangi penggunaan plastik dan tisu bisa membuat efek rumah kaca berkurang, apakah benar Kak?" si Sinta ikut bertanya tentang benar atau salahnya pemahaman yang didapatnya pada anggota senior UKM.


"Betul sin contohnya saja tisu kalian pasti selalu menggunakan tisu untuk mengelap sisa makanan, mengelap tangan dll kan?", jawab Mba Lili lalu memberikan contoh dan memberikan kata tanya di akhir pada kami .


"Iya Kak," jawab kami berlima kompak.


"Mulai sekarang kurangilah kalian bisa menggantinya dengan sapu tangan," ucapnya memberikan solusi pada kami.


"Iya macam Kaka ini Kaka sering menggunakan sapu tangan ketimbang tisu. Menggunakan sapu tangan Beta bisa mencucinya dan setelah di cuci ini sapu tangan bisa Beta gunakan lagi. Tapi jika Beta menggunakan tisu, tisu akan cepat habis dan membuat banyak sampah saja," timpal Bang Betrus menjelaskan tentang perbedaan antara keduanya.


Pada saat Bang Betrus menjelaskan, Frank meminum air nya yang ia beli. Dan Budi juga minum tapi dari Tumbler yang dibawanya.


"Nah nah itu kalian berdua adalah contoh perbedaan mengurangi dan menambah sampah plastik," ucap Bang Doel tiba-tiba mengejutkan ku dan lainnya termasuk Budi dan Frank yang berubah menjadi saling pandang tak mengerti.


"Maksud Bang Doel apa ya?", tanya Budi tak mengerti sambil melihat botol Tumbler miliknya dengan botol kemasan plastik milik Frangky untuk dibandingkan.


"Maksudnya itu lihat kamu minum menggunakan Tumbler yang dibawa sendiri olehmu," Mba Lili mulai menjelaskan perbedaannya pada kami semua.


Budi mengangguk-angguk.


"Sedangkan Frank tadi minum menggunakan botol plastik kemasan yang dibelinya," jelasnya lagi.


Si Frank membolak-balikkan botol minuman kemasannya karena sedikit tak paham.


"Menggunakan Tumbler lebih baik dari pada membeli minuman kemasan. Karena minuman kemasan jika sudah habis pasti dibuang tapi sedangkan Tumbler bisa di cuci dan digunakan kembali," Mba Lili menjelaskan kembali pada kami semua. Kami semua menyimaknya dengan serius.


"Oh kaya gitu Kak, lah aku gak tau nek botol plastik kiye penyebab masalah lingkungan ngesuk tah aku gawa Tumbler bae kaya ko Bud," ucap si Frank yang sudah sedikit mengerti.


"Iya Frank aja tuku mending gawa sekang ngumah, banyune godong dewek lewih enak maning rasane gara-gara murni tanpa ana campur tangan bahan liyane,(iya Frank jangan beli lebih baik bawa dari rumah, airnya direbus sendiri lebih enak lagi rasanya, gara-gara murni tanpa campuran bahan lainnya)," timpal si Budi memberikan sebuah solusi padanya.


"Bagus kancaku iki good lah," ucapku bangga pada si Budi. Sampai aku memberikan tanda jempol padanya.


"Ya ra Lam, good ngendi ne aku mbok Budi udu Bagus," bantahnya yang membuat aku bingung.


"Lah genah iya ko Budi sapa sing ngarani ko Bagus, maksude bagus apik,(lah memang iya kamu Budi siapa yang bilang kamu bagus, maksudnya Bagus, bagus)," jelasku agar si Budi mengerti maksudnya.


"Oh ngomong ya," jawab Budi manggut-manggut mengerti.


"Lah," gumam ku pelan karena heran.


"Dek adek malah ribut kita kembali ke permasalahan saja taye," ucap Bang Opik menghentikan perdebatan kami berdua.


"Oh iya iya Bang maaf maaf Alam sih, "ucap si Budi sambil menyalahkan ku.


"Lah ko aku," gumamku sedikit tak terima.


"Weladalah Bud Bud," gumamku lagi sambil geleng-geleng kepala.


"Siapa yang di sini masih gunakan motor tapi knalpot e berisik asep ngebul hayo," Bang Doel seketika mengajukan pertanyaan yang membuat kami berlima jadi deg-degan.


"Frank ko mbok,(Frank kamu kan)," ucap si Budi mengunduhnya.


"Iya kah?" tanya Bang Doel ingin tahu kebenarannya.


"Ora Mas ora kemarin tah aku terpaksa nganggo ne, kae mbok motore Kaki ku,(tidak Kak tidak kemarin mah aku terpaksa pakainya, itu kan motornya Kakek ku)," jawabnya mengelak.


"Lah perasaan aku weruh ko nganggo motore Kaki ne wae,(lah perasaan aku lihat kamu pake motor Kakekmu terus)," tukas si Budi padanya.


"Lah mbuh motor ku mbuh apa ne sing bodol ra dadi dadi,(lah tak tau itu motor ku apanya yang rusa gak jadi-jadi)," jelasnya.


"Dah dah kok ribut lagi," ucap Bang Kris menghentikan mereka berdua.


"Hehe sorry Bang," kata si Budi sambil membuat tanda peace pada tangannya.


"Bang nganggo sepeda wae kaya aku mbe bener iya toh,(Kak pake sepeda saja kaya aku baru bener iya kan)," pendapatku.


"Iya Lam pinter kamu pakai sepeda untuk mengganti motor. Bersepeda juga lebih sehat," kata Bang Kris menyetujui pendapat ku.


"Iya aku be gara-gara meluni Alam numpak pit otot sikil ku dadi kuat ra gampang lara,(iya aku juga gara-gara ikut Alam naik sepeda otot kaki ku jadi lebih kuat tak gampang sakit)," ucap si Budi menimpalinya.

__ADS_1


"Ramah lingkungan pula," ucapnya lagi.


"Bener ternyata junior-junior ku ini hebat-hebat," kata Mba Betti memuji kami semua.


"Allahu Akbar Allahu Akbar," suara deru adzan tiba-tiba berkumandang.


"Eh adzan apa kiye?" tanya si Budi.


"Dhuhur Bud," jawabku.


"Hualah ra kerasa wis wektu dhuhur wae," ucapnya.


"Hayu pada shalat sit nanti tak lanjut lagi masih banyak yang harus di bahas," Bang Kris menunda diskusinya dan mengajak kami semua untuk shalat.


"Siap Kak," jawab kami berlima.


"Betrus Betti kalian berdua tunggu di sini dulu ya," perintahnya pada mereka berdua.


"Siap Kris," jawab si Kembar dari Flores kompak.


"Bang Betrus karo Mba Betti ra sholat?" tanyaku sebelum pergi.


"Kami kristani Lam," jawabnya.


"Oh maaf Bang Mba," ucapku sambil merapatkan kedua tanganku.


"Iya tak apa kita orang cinta damai," jawabnya.


Aku memancungkan kedua jempol ku pada mereka berdua setelah itu baru aku pergi menyusul yang lain ke masjid.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


Setelah 10 menit selesai shalat dhuhur Clara dan Sinta menemani Mba Lili membeli sesuatu sedangkan aku, Budi dan Frank kembali ke ruang UKM bersama Bang Kris, Bang Opik dan Bang Doel.


Di Alfamart.


Mba Lili sudah membeli barang yang di belinya. Tapi saat kasir ingin memasukkan belanjaannya ke kantong keresek," Mba Lili memberikan tas belanja padanya.


"Mba pakai ini aja jangan pakai plastik," kata Mba Lili sambil memberikan tas belanja yang dibawanya ke kasir


"Oh iya Mba," ucapnya mengangguk. Lalu dirinya memasukkan belanjaan milik pembelinya ke tas belanja.


"Makasih," ucap Mba Lili sambil menerima belanjaannya.


"Sama-sama Mba," kata pegawai kasir sambil tersenyum merapatkan kedua tangannya.


Saat keluar dari Alfamart Clara langsung bertanya tentang Mba Lili yang menolak untuk tak menggunakan plastik.


Mba kok Mba tadi tidak pakai plastik saja kan ribet kalau bawa bawa tas belanja begini?, tanyanya sedikit heran.


"Benarkah," ucap Clara sedikit tak percaya.


"Iya Clar Ibuku juga kalau ke pasar bawa keranjang sendiri, kalau harus pakai plastik jadi tambah ribet katanya bawanya juga jadi susah kata Ibuku," jelas si Sinta menjelaskan.


"Oh iya iya aku bayangin kalau kita pakai plastik harus tenteng sana tenteng sini eh ujung-ujunge jadi jatuh karena susah pegang nya, tapi kalau pakai tas belanja lebih mudah ya, hasil belanjaan kita langsung masuk ke tas belanja atau keranjang kita," ucap si Clara sambil membayangkan perbandingan diantara keduanya.


"Bener kan? Jadi, Mba mau tanya pilih plastik atau bawa kantong belanja sendiri?" tanya Mba Lili pada mereka berdua.


"Sendiri Kak," jawab si Sinta.


"Lebih simpel," timpal si Clara menjawab.


"Nah sudah paham kan," kata Mba Lili pada mereka berdua.


Mereka berdua mengangguk.


"Yo kita ke ruang UKM lagi pasti mereka semua sudah menunggu kita," Mba Lili lalu mengajak Sinta dan Clara kembali ke Ruang UKM.


"Siap Mba," jawab mereka berdua kompak.


Sekarang kami semua sudah berkumpul kembali di ruang UKM.


"Kalian ingin mengurangi efek rumah kaca ini gak," tawar bang Kris pada kami semua.


"Emange efek rumah kaca kiye bisa dikurangi karo cara sing penak Kaka menika?(emang efek rumah kaca ini bisa di kurangi dengan cara yang mudah Kaka sekalian)," tukas ku bertanya.


"Bisa, contohnya tadi Budi yang menggunakan Tumbler untuk pengganti botol kemasan, Bang Betrus yang menggunakan sapu tangan karena tak boros, seperti alam yang memilih sepeda daripada motor karena ramah lingkungan dan Mba yang menggunakan tas belanja ketimbang plastik, jawab Mba Lili menjelaskan.


"Oh jebule kuwe melu salah sijine sawejening contoh toh,(oh ternyata itu juga termasuk salah satu contohnya)," ucap ku yang sudah mulai paham.


"Betul tapi kita juga bisa melakukan cara lainnya seperti melakukan reboisasi hutan atau penanaman hutan kembali. Seperti yang waktu itu pernah Kaka ajarkan di awal kalian masuk," timpal Bang Kris memberikan contoh lainnya.


"Dadi pas nanem pohon wektu OSPEK juga termasuk pengurangan efek rumah kaca juga toh," kataku sambil manggut-manggut.


"Iya jebule,(iya ternyata)," ucap si Budi menimpali ku.


"Kaka manika kan jere kita aja numpak motor lah nek jarak e adoh masa iya kita numpak sepeda bukane sehat malah merengkel dadine,(Kaka sekalian kan katanya jangan naik motor lah kalau jaraknya jauh masa iya kita naik sepeda, bukannya sehat malah pegel-pegel jadinya)," si Sinta mengutarakan isi pendapatnya ke anggota senior UKM.


"Kita tak harus menggunakan sepeda selalu, kita bisa memanfaatkan transportasi umum seperti kereta, busway, taxi dan lain-lain," jelas Mba Lili lagi.


"Oh ku kira," jawab si Sinta mengerti.


"Juniorku tidak lah nanti kita orang jika naik itu sepeda jarak jauh bisa-bisa pingsan lah kita di jalan repot lah nanti," canda Mba Betti.


"Hwahahaha....," gelak tawa memenuhi ruang UKM kami.

__ADS_1


"Sudah sudah sekarang Kaka ingin tahu, apa saja sih contoh buruk yang dapat merusak alam?" Bang Kris menghentikan tawa kamu dan mulai memberikan pertanyaan lagi pada kami.


"Huo Samsung Bang Samsung," jawab si Budi mantap mengangetkan kami semua.


"Samsung sapa taye?" tanya Bang Opik tak mengerti.


"Maaf Bang, Samsul maksud Budi," jawabku memberi tahu.


"Oh memang kenapa dengannya taye?" tanyanya lagi.


"Kenapa Budi? Kenapa kamu malah menyebut nama orang lain?" tanya Bang Kris juga padanya.


"Lah iya Bang, kae si Samsung eh maksude Samsul iku penyakit dunia gawe bumi kotor ben dinane,(memang iya Bang, itu si Samsung eh maksudnya Samsul itu penyakit dunia buat bumi kotor setiap harinya)," jawabnya.


"Contohnya?" tanya Mba Lili ingin tahu.


"Wingi kebakaran parkiran lah gara-gara si Samsul buang putung udud e janjian,(kemarin kebakaran parkiran sebab si Samsul buang putung rokoknya asal)," jawab si Frank memberikan bukti yang pertama.


"Iya, ada lagi Kak pas wektu malem Minggu si Samsul juga mbuang sampah duwene sembarangan,(iya, ada lagi Kak pas waktu malam Minggu si Samsul buang sampah miliknya sembarangan)," timpal si Sinta memberikan bukti yang ke dua.


"Aja kelalen si Samsul juga gawe polusi udara karo mobil ngebul e, kemutan Bud?(jangan kelupaan si Samsul juga buat polusi udara dengan mobil ngebulnya, ingat Bud?)," ucapku memberikan bukti terakhir sambil mengingatkan si Budi pada kejadian waktu itu.


"Yo kemutan wong kita dihukum Yo gara-gara kuwe,(ya ingat kan kita dihukum ya gara-gara itu)," jawab si Budi jadi rada kesal karena mengingat hal itu.


"Jadi kesimpulannya kita jangan seperti si Samsul yang memberikan contoh buruk dan pengaruh buruk bagi bumi. Mengerti," ucap Bang Kris menyimpulkan semuanya dan berpesan pada kami.


"Siap Bang, Kak, Mba," jawab kami berlima satu persatu.


"Bagus hindari contoh buruk buatlah contoh baik," ucap Mba Lili pada kami berlima.


Kami berlima tersenyum ria mendengar pujian Mba Lili pada kami.


"Nah akhir pekan ini Kaka berencana mau ke Desa Kranji untuk membantu mengurangi sampah disana, Kaka harap kalian semua bisa ikut berpartisipasi dengan baik," ucap Bang Kris memberikan sebuah pengumuman di akhir-akhir diskusinya.


"Siap Bang," jawab kami berlima setuju.


"Siaplah nyong mbok pahlawan bumi ya kudu siap sedia,(siaplah aku kan pahlawan bumi ya harus siap sedia)," ucap si Budi sambil membusungkan dadanya.


...🍄🍄🍄🍄🍄🍄...


Sementara di tempat tongkrongan si Samsul. Seperti biasa dia dan antek-anteknya lagi nambah penyakit maksudnya sedang merokok bersama.


"Untung aku dapat tempat baru untuk kita ngerokok jadi gak bakal ketahuan sama si alam yang sok jadi pahlawan bumi," ucap si Samsul senang.


"Iya Bos, eh ngomong pahlawan bumi si Alam dan kawan-kawan nya macam kartun Boboiboy kesukaanku dulu," timpal si Domu sambil membahas kartun kesukaannya waktu kecil.


"Kau lihat Boboiboy ngapa gak ikut alam dan lainnya juga Mu," suruh si Samsul padanya.


"Macam pula bos nih, aku suka tengok Boboiboy aku tak suka sama Boboiboy nya aku sukanya sama Adudu si Alien kotak dan robotnya Probe lah macam seru tengoknya saat mereka melawan di Boboiboy," jelasnya.


"Hahahaha Mu benar sekali," tawa Samsul keras.


Tiba-tiba si Made yang habis membeli makanan dan minuman berlari kencang untuk melapor.


"Eh eh macam pula kau Made lari mu macam tak ada rem nya saja," tegur si Domu padanya.


"Maaf maaf," ucapnya.


"Ada apa Made seperti ada berita yang tak terduga?" tanya si Samsul menebak.


"Bos gawat si alam dan teman-temannya membicarakan bos yang selalu membuat masalah," lapornya.


"Apa? Berani-beraninya mereka membuat citra ku buruk saja," ucap si Samsul tak terima sambil membuang putung rokoknya lalu menginjaknya dengan sepatu.


"Apa yang mereka bilang?" tanyanya kesal.


"Katanya si Bos si penyakit dunia," jawabnya.


"Eh bos kan memang penyakitnya dunia ya," si Made malah membenarkan jawabannya sendiri.


"Kurang ajar, kalian berdua juga sama," marahnya.


"Iya maaf Bos," ucap si Made minta maaf.


"Heh Made kau ini buat bos kesal saja," tegur Domu padanya lagi.


"Hehehe," ucap Made cengengesan sambil mengusap belakang kepalanya.


"Heh Made kamu dengar apa lagi?" tanya si Samsul ingin tahu lebih tentang hasil mengupingnya.


"Katanya mereka mau pergi ke desa Kranji akhir pekan ini kalau gak ngurangi sampah atau apalah," jawabnya setengah tak yakin.


"Desa Kranji ya sampah nya," si Samsul mulai berpikir.


Seperti biasa ide buruk menyerbu pikiran si Samsul apa yang akan dilakukan oleh si Samsul dan antek-anteknya kali ini. Aku harus waspada.


Ini saat Made mendengar pembicaraan dan pembahasan kami semua di Ruang UKM.


Si Made yang sedang berjalan menuju markas si Samsul seketika berhenti di ruang UKM kita, gara-gara mendengar kami tertawa membicarakan si Samsul. Dirinya langsung berjongkok dan menempelkan satu daun telinganya ke tembok bawah jendela untuk menguping pembicaraan kami.


"Wah parah Alam dan teman-temannya bicarain Bos gak bisa dibiarkan ini," batinnya.


"Aku harus lapor ke Bos tentang ini," ucapnya lagi dalam hati.


Lalu setelah merasa cukup menguping pembicaraan kami semua dirinya kembali sambil berjalan pelan di bawah jendela dan pada akhirnya berlari setelah melewati ruangan kami.

__ADS_1


Bersambung........🍁🍁🍄🍄


__ADS_2