BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 16 "Kondisi Bumi Kita"


__ADS_3

Mengenai masalah kondisi bumi, bumi kita ini sehat atau tidak ya menurut kalian. Kalau menurut ku sih bumi ini kurang sehat. Di lihat dari para penghuni bumi yang kurang mencintai alam sekitar. Buang sampah sembarangan, penebangan hutan, perusakan ekosistem, penangkapan hewan langka, dan masih banyak lagi. Nah untuk itu kita harus saling menjaga dan mengingatkan satu sama lain agar saling melindungi alam. Aku dan teman-teman ku akan membahas seputar kondisi bumi dan bagaimana sih cara supaya Bumi sehat kembali. Yuk mulai kan!


Pagi yang cerah di Kota Purwokerto. Kilauan cahaya matahari menusuk mataku yang sedang menunggu angkutan umum. Aku hari ini terpaksa menggunakan bus untuk menuju ke kampus, sebab si Onel yang sedang sakit. Ya sepedaku ini mungkin karena sudah tua, rantainya sering kali copot dan ban pun sering kali kempes. Aku belum sempat membawanya ke rumah sakit sepeda untuk di obati.


Si Budi teman setiaku juga ikut bersama menaiki bus trans Banyumas denganku. Padahal dirinya bisa berangkat duluan menggunakan si Hero motornya. Tapi dirinya tak mau meninggalkan ku sendiri katanya. Kami berdua sekarang sudah duduk bersama di dalam bus. Agar tak bosan kami mengobrol sedikit tentang bumi kita ini. Budi duduk di kursi penumpang sedangkan aku berdiri di sampingnya untuk mengobrol.


"Lam ko pernah krungu nek warga Bumi jere arep di gotong meng mars? (Lam kamu pernah denger kalau warga Bumi katanya mau di gotong ke Mars?)" tanyanya padaku.


"Pernah krungu sepisan, tapi aku ya bingung piwe gawane secara warga bumi kue akeh, terus karo mandan percaya ora percaya (pernah denger sekali, tapi aku ya bingung gimana bawanya secara warga bumi itu banyak, terus sama sedikit percaya gak percaya sih)," jawabku.


"Iya Lam, aku malah dadi mikir bayang na dewek di gawa nganggo roket siji-siji (iya Lam, aku malah jadi berpikir membayangkan kita di bawa pake roket satu-satu)," katanya sambil setengah membayangkan.


"Ko pengin pindah meng Mars Bud? (kamu mau pindah ke Mars Bud?)" tanyaku ingin tahu pendapatnya.


"Moh Lam aku betah ning Bumi (gak Lam aku betah di Bumi)," jawabnya. "Tapi apa alasan ne warga bumi kon pindah meng mars ya?(tapi apa alasannya warga bumi harus pindah ke mars ya?)" tanyanya balik setelah berpikir.


"Mungkin gara-gara Bumi kita wis tua terus wis lagi tua tua ne di gawe bodol ning penghuni ne (mungkin gara-gara bumi kita sudah tua terus sudah lagi tua-tuanya di buat rusak oleh penghuninya)," jawabku menduga.


"Iya Lam kaya kae, deleng esih Bae ana wong sing guang sampah meng kali (iya Lam seperti itu, lihat masih saja ada orang yang buang sampah ke sungai)," tunjuk Budi ke luar jendela. Kebetulan bus sedang berhenti di sebuah jembatan sebentar dan tak lama jalan kembali.


"Iya padahal wis ngerti bahaya ne, karo wingi nek langka kaki ne Frank mesti hutan itu wis gundul terus longsor (iya padahal sudah tau bahayanya, sama kemarin kalau gak ada kakeknya Frank pasti hutan itu sudah gundul terus longsor)," timpalku sambil mengingatkan kejadian Minggu lalu.


"Iya untung bae ana dewek dadi bisa bantu (iya untung saja ada kita jadi bisa membantu)," katanya lega.


"Eh Lam wis enggal tekan (eh lam udah mau nyampe)," ucapnya memberitahu ku.


Aku tersadar tak terasa bus sudah sampai saja. "Eh iya, ngobrol e lanjut mengko karo batir liyane ya (eh iya, ngobrolnya di lanjut nanti sama teman lainnya ya)," usulku.


Si Budi mengangguk sambil beranjak sedangkan aku langsung memberikan tanda agar bus segera berhenti.


"Kiri pak....," teriakku keras sambil mencetak langit-langit bus.


Bus lalu berhenti dan kami berdua pun turun bersama.


Kalian semua pasti pernah tau obrolan ku dengan Budi diatas, tentang warga bumi yang katanya mau di pindahkan ke mars. Apakah berita itu benar? Cari tau sendiri ya dari sumber tertentu. karena hal tersebut belum tentu benar.


...🌏🌍🌎🌏🌎🌎...


Di Ruang UKM Pencinta Alam.


Semua anggota berkumpul untuk membahas diskusi tentang kondisi bumi kita ini. Termasuk aku dan keempat temanku juga. Seperti biasa Bang Kris yang pertama memulai pembahasan ini.


"Ok teman-teman ku pertama aku ingin bertanya Bumi kita ini bersih atau kotor ya menurut kalian?" tanyanya pada kami semua.


"Kotor lah Bang mesti ne di deleng kang menungsa ne (kotor lah Bang pastinya di lihat dari manusianya)," jawab si Budi berpendapat.


"Iya kaya ne Bumi kita emang kotor karo ra bersih ra sehat juga (iya sepertinya Bumi kita emang kotor gak bersih gak sehat juga)," timpalku yang setuju dengannya.


"Terus di tambah bencana alam yang kian datang tak berhenti," kata si Sinta menambahkan.


"Makin kasihan aku dengan planet ku ini," ucapku bersedih.


"Benar gunung meletus, banjir, tanah longsor dll bencana lainnya kalau bukan faktor alam ya faktor manusia. Gempa dan tsunami juga kerap melanda di daerah tertentu sebab bergesernya lempeng bumi," ucap Bang Kris membenarkan.


"Bisa di lihat di layar. Inilah Bumi kita saat ini," suruhnya sambil menunjukkan sebuah gambar di layar LCD.



"Beginilah kondisi bumi jika di lihat dari luar angkasa," ucapnya memberitahu.


"Astaghfirullah apa kue planet ku," ucapku terkejut ketika melihat gambar Bumi muncul di layar


"Iya ini adalah di mana planet kita ini sudah sebagian mengalami kebakaran hutan seperti di Indonesia sendiri yaitu daerah Riau yang menyebabkan kabut asap. Kebakaran hutan Amazon yang menyebabkan puluhan hewan yang hidup di sana menjadi berkurang karena pada menjadi korban," jelas Mba Lili melanjutkan.


"Astaghfirullah kondisi ne bumi dewek nyedih na temen dadi pengin nangis aku (Astaghfirullah kondisinya Bumi kita menyedihkan sekali jadi pengin nangis aku)," ucapku terkejut lagi dan makin bersedih.


"Ya begitulah kondisi Bumi sekarang. di tambah lagi, di belahan bumi Amerika khusunya kawasan hutan Amazon. bukan hanya kebakaran yang terjadi deforestasi juga ikut serta," timpal Bang Doel.


"Deforestasi iku apa ya?" tanya si Frank.


"Deforestasi itu penggundulan hutan Frank," jawab Bang Doel.


"Oh mengonoh. Apa ada tujuane deneng hutan di gunduli?(Oh seperti itu. Apa ada tujuannya kenapa hutan di gundulin?)" tanyanya lagi.


"Ada Frank penggundulan hutan dilakukan agar lahan bisa dialihkan untuk hal lain, seperti pertanian, peternakan, dan kawasan tinggal atau perkotaan juniorku," jelas Bang Betrus.


"Penggundulan hutan di Brazil dilakukan kolonialis sebagai cara membuka lahan, tempat untuk menanam tanaman komersial seperti karet, gula, dan tembakau," tambah Bang Kris.


"Pengurangan lahan terlihat sangat signifikan dari tampilan foto udara. Ini mengakibatkan Amazon melepas lebih banyak Co2 dari yang bisa diserapnya dalam 10 tahun terakhir," lanjut Mba Lili.



Kami semua memperhatikan gambar yang tertera di layar LCD. Benar-benar gundul bumi kita ini sudah seperti kepala yang rambutnya poak sebelah. Memprihatinkan sekali bukan?


"Innalillahi alas e gundul dul bumi ne dewek wis ra ijo berubah coklat garing (Innailaihi hutannya gundul dul buminya kita dah gak hijau berubah jadi coklat kering) aku pengin nangis," ucapku terkejut dan terasa mataku ini ingin menangis.


"Dah jangan nangis laki kok nangis," suruh Bang Doel padaku.


"Iya juniorku jangan bersedih," ucap Mba Betti juga.


"Aku nelangsa Bang," ucapku sambil mengelap air mataku yang hampir menetes.

__ADS_1


"Iya Lam. Aku ngerti," ucap si Budi sambil menepuk-nepuk pundakku.


"Dah jangan nangis kita lanjut diskusinya," suruh Bang Kris.


"Iya Bang," jawabku.


Aku mengelap air mataku lagi yang sedikit masih menetes. Aku benar-benar sedih melihat kondisi bumi ini. kapan kondisi bumi kita ini kembali seperti semula.


''Eh Bang aku boleh tanya apa benar nek ana (kalau ada) tumbuhan lumut ijo tanda bumi esih (masih) dikatakan sehat," ucap si Budi mengajukan pertanyaan.


"Aku juga belum pasti untuk ini tapi katanya keberadaan lumut ijo menandakan Bumi kita ini masih sehat," jawab Bang Kris.


"Tapi kayaknya lumut ijo sekarang sudah jarang terlihat," pikir Mba Lili.


"Oh kaya kuwe urung genah ternyata (oh begitu belum jelas ternyata)," ucap si Frank sambil manggut-manggut.


"Iya tapi yang jelas kita harus melindungi dan ingat untuk tidak merusaknya karena kita sebagai anggota Pencinta Alam, juga semestinya harus mencintai planet tempat kita tinggal ini," jelas Bang Kris.


"Dan ingat kita sebagai manusia harus saling mengingatkan agar bumi kita aman dan sejahtera," tambah Mba Lili


"Siap Kak," ucap kami kompak.


"Ok pembahasan berhenti dulu kita lanjut di hari berikutnya, silahkan yang mau kembali ke urusan masing-masing," Bang Kris mengakhiri pembahasan kali ini dan mengizinkan anggotanya meninggalkan ruangan.


"Suwun Bang Kris aku karo kancaku pamit ke kelas (makasih Bang Kris aku sama temanku pamit ke kelas)," pamit ku mewakili teman-teman.


"Iya Lam hati-hati kalian dan ingat untuk saling mengingatkan satu sama lain," pesan Bang Kris pada kami.


"Siap Bang," ucap kami kompak.


Aku pun dan lainnya pergi ke kelas Dosen Ali. Di kelas kami membahas sebentar tentang rantai makanan yang ada di ekosistem mangrove.


"Materi hari bapak akan menjelaskan tentang ekosistem mangrove. Silahkan perhatikan ke layar LCD di depan," ucapnya lalu menyuruh kami semua menghadap ke layar.



Pandangan mata kami semua yang ada di sana langsung tertuju pada layar LCD didepan. Aku dan lainnya menyimak dan mendengarkan penjelasan darinya.


"Ekosistem hutan mangrove sendiri adalah hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam," jelas Dosen Ali pada kami semua.



"Ini adalah contoh gambar fauna perairan yang hidup di ekosistem mangrove," tunjuk pak Ali ke layar LCD. Lalu Dosen Ali melanjutkan membahas materinya.


"Interaksi yang terjadi antara makhluk hidup yang berada dalam ekosistem hutan mangrove secara umum di bagi menjadi dua yakni ; 1. Predasi: Pemangsaan karang oleh predatornya (Ular dan Buaya).



Hasil metabolisme crustacea digunakan mangrove sebagai pupuknya," lanjutnya menjelaskan.



"Pak Ali selain interaksi itu apa ada interaksi lainnya?" tanyaku sambil mengangkat tangan.


"Iya Alam. Tidak hanya interaksi di atas, ada juga interaksi yang kompleks seperti jaring makanan yang melibatkan berbagai makhluk hidup yang ada dalam ekosistem hutan mangrove, yang secara umum dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu : 1. Kelompok produsen yang terdiri dari organism autotrof. Terdiri dari semua flora yang ada di hutan mangrove.


Dan yang ke 2. Kelompok konsumen yang merupakan organism heterotrof. Terdiri dari predator dan fauna yang ada dihutan mangrove. Disini berlaku siapa yang kuat maka dia yang bertahan hidup," ucap Dosen Ali lalu lanjut menjelaskan kembali.


Kami semua yang di kelas mangut-mangut mengerti dan lanjut mendengarkannya lagi.


"Biasanya fauna berukuran lebih kecil selalu menjadi mangsa buat fauna yang berukuran lebih besar. Untuk mempertahankan hidup, dari masing-masing spesies yang ada di hutan mangrove mempunya cara tersendiri. Ada yang bersimbiosis namun ada juga yang tidak," tambahnya lagi.


Begitu kurang lebih materi yang Dosen Ali sampaikan pada kami. Kelas pun usai waktunya aku dan lainnya untuk berpisah pulang.


"Kanca-kanca ku aku karo Budi pamit sit (teman-teman aku sama Budi pamit dulu)," pamit ku pada lainnya.


"Iya Lam Bud. Ati-ati," balas si Frank mewakili.


Sekiranya seperti itu perpisahan singkat kami. Frank, Clara dan Sinta juga pergi ke arah berbeda sedangkan aku dan Budi biasa menunggu Bus di halte yang tak jauh dari kampus.


...🌍🌏🌎🌍🌏🌎...


Sore harinya. Seperti biasa aku dan Budi setelah Shalat Ashar kembali melakukan aktivitas yang lainnya. Aku dan Budi berencana untuk lari sore mengelilingi taman dekat kos-kosan.


Aku sudah rapi memakai pakaian olahraga dan sepatu olahraga lengkap. Aku sedang pemanasan terlebih dahulu sambil menunggu Budi mengikat tali sepatunya.


"Wis urung Bud (dah belum Bud)," panggilku sambil melakukan pemasaran.


"Yuh wis (dah ayo) ucapnya sambil beranjak.


Aku pun mulai berlari sementara Budi mengikuti ku dari belakang.


Sesampainya di taman aku dan Budi istirahat sebentar sambil duduk di bangku taman. Kami berdua meminum air yang telah kami beli sebelumnya. Disaat aku minum, mataku melirik ke samping. Aku melihat ada bapak bapak duduk di bangku yang berbeda sambil memakan sebungkus nasi. Aku sedikit heran dengan bapak itu sebab makan di taman. Aku pun berpikir apakah mungkin dirinya itu tidak kuat menahan lapar sehingga setelah membeli nasi langsung mencaploknya. Aku terus memperhatikannya sambil menutup botol minumanku.


Terlihat bapak itu memang sangat lapar dari cara ia memakan. Dalam waktu kilat bapak itu sudah menyelesaikan makanannya. Aku kembali meminum air ku karena ternyata aku masih merasa haus. Saat sedang minum untuk kedua kalinya, aku seketika beranjak dan membuat Budi kaget. Aku melihat bapak itu meninggalkan sampahnya begitu saja tanpa di buang ke tempat semestinya terlebih dahulu.


"Lam kowe ngageti wae dus bae keselek (Lam kamu ngagetin aja hampir saja keselek)," ucapnya terkejut.


Dengan cepat aku menutup kembali botol minum ku dan berlari ke bangku tadi mengambil sampah yang ditinggalkan bapak itu di samping bangku.


"Lam kowe reo ngendi (Lam kamu mau kemana)?" tanyanya padaku.

__ADS_1


aku meninggalkan Budi begitu saja dan terus memanggil bapak tadi. karena Budi penasaran dengan ku, ia pun dengan cepat menyusul ku.


'Pak Pak," panggilku sambil menepuk pundak bapaknya.


Bapak itu berputar dan menanyakan tujuan ku "Ada apa Dik?" tanyanya.


"Apakah bapak memiliki barang yang sengaja tinggalkan?" tanyaku balik dengan basa-basi.


"Tidak perasaan bapak semua masih ada dompet dan juga hp. Bapak gak ngerasa punya barang lain selain itu," jawabnya kebingungan.


"Lalu ini apa Pak," ucapku sambil menyodorkan sampahnya


"Oh itu kan sampah kenapa bapak harus bawa, bapak sengaja meninggalkannya," katanya.


"Tapi maaf Pak, Bapak semestinya tidak meninggalkan sampahnya begitu saja. bapak kan bisa menyimpannya dan membuangnya ketika bapak melihat tempat sampah," ucapku menasehatinya


"Eh Bapake perasaan kae tempat sampah di depan Bapake tadi di duduk kan tinggal di buang bukannya di tinggalkan," saut si Budi tiba-tiba dari belakangku.


"Biarkan saja nanti juga ada petugas yang kebersihan yang memungut nya," ucapnya lagi.


"Tapi ini masalah kesadaran kita Pak," ucapku lagi.


"Iya apa susah e buang males temen dadi wong (iya apa susahnya membuang males banget jadi orang), timpal si Budi yang mulai kesal.


"Ko ko pada selot suwe gawe bapak emosi ya (kalian lama-kelamaan buat bapak emosi ya). sok kenal sok nasehati," kata Bapak itu mulai kesal.


"Wis aja kesuh. Yah Pak sampahe buang ya (dah jangan marah. ini Pak sampahnya buang ya)," ucapku sedikit meledek sambil diam-diam menaruh sampah miliknya di tangannya.


"Hayu Lam mlayu maning (ayo Lam lari lagi)," si Budi lalu mengajak ku untuk berlari lagi.


"Iya Bud," jawabku.


Kami berdua pun berputar dan berlari kembali untuk pulang. Saat aku sedang berlari, sebuah pukulan keras melesat ke pipiku.


"BUGH," suara pukulan begitu keras mengenai pipiku ini.


Diam-diam ternyata bapak itu berjalan menarik ku lalu memukul ku. Pukulan itu terasa kuat hingga membuat ku jatuh ke tanah.


Bapak-Bapak tadi rupanya tak terima dengan perilaku ku yang sempat meledeknya sambil memberikan sampahnya kembali.


"Eh Bapake janjian temen main jotos kancaku (eh Bapake asal banget main pukul temenku)," marah si Budi tak terima.


"Hayu menyat Lam (ayo berdiri Lam)," si Budi lalu membantu ku berdiri.


Aku berdiri sambil memegangi pipiku yang sedikit lebam.


"Ada apa Pak kenapa bapak jotos aku?" tanyaku sambil masih memegangi pipi.


"Aku kesuh karo ko malah neken sampah balik, ko sing buang ya kena (aku marah pada mu malah beri sampah balik, kamu yang buang kan bisa)," jawabnya sambil marah.


"Eh Pak sampahe bapak masa kita sing buang na mesti ne bapake dewek sing kudu ne sadar diri (eh Pak sampahnya Bapak mas kira yang buang kan harusnya Bapak sendiri yang harusnya sadar diri)," ucap si Budi meladeni.


"Tapi Pak buang sampah sembarang di larang disini," ucapku memberi tahu.


"Kenapa bisa? Apa ada peringatannya?" tanyanya.


"Ana (ada) Pak," jawabku


"Ning ngendi (di mana)?" tanyanya lagi dengan penasaran.


"Bapake mlinge deleng jejer wit (Bapake nengok lihat samping pohon)," jawab Budi memberitahu.


Bapak itu menurut dengan perintah Budi dan menengok ke arah yang dimaksudnya.


"Weruh siki (lihat sekarang) Pak? tanya ku.


"Weladalah kalingan ra ketok (Weladalah ke halang gak kelihatan)," jawabnya sedikit malu.


Aku pun sempat heran kenapa papan peringatannya bisa oleng jadi menyender ke pohon yang di sebelahnya. Aku pun mengira mungkin karena angin yang mengenainya.


"Ku pikir olih engko petugas kebersihan sing tugas jimoti (ku pikir boleh nanti petugas kebersihan yang tugas memungutnya), ucapnya.


sebenarnya langka petugas kebersihan ning kene pak, anu kiye tah kudu butuh kesadaran ne dewek. Nek dewek ra sadar ya dadi kaya bapak. Emosian (sebenarnya gak ada petugas kebersihan di sini Pak, anu ini mah harus butuh kesadarannya sendiri. Kalau kita gak sabar ya jadi seperti Bapak. Emosian)," jelasku sambil memberitahu.


"Oh kaya kuwe (seperti itu) bapak minta maaf ya. Bapak jimot sampahe ya (bapak ambil sampahnya ya)," ucapnya yang masih merasa malu sambil mengambil sampah miliknya kembali.


"Iya Pak aja maning maning ya lara iki (iya pak jangan lagi-lagi ya sakit ini)," ucapku sambil masih memegangi pipiku.


"Iya iya Bapak sepisan maning (sekali lagi) minta maaf ya," katanya meminta maaf.


"Yah duit nggo tuku obat nambani pipimu (nih uang buat beli obat ngobatin pipimu)," Bapak itu tiba-tiba memberikan uang ganti rugi padaku.


"Ora usah (gak usah) Pak," tolak ku.


"Yah terima wae (saja). Bapak pamit," ucapannya lalu pergi.


Aku pun terpaksa menerima uang pemberiannya. Bapak itu pun pergi dan tak lupa membuang sampahnya sampahnya ke tempat sampah yang sudah di sediakan.


Nah dengan kejadian singkat itu kita bisa menyimpulkan bahwa manusia sendiri lah yang harusnya sadar akan kesalahan yang di buatnya. Dan kita sebagai manusia juga harus saling menasehati dan mengingatnya.


Bersambung.......🌏🌎🌍

__ADS_1


__ADS_2