BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 27 "Camping"


__ADS_3

Acara peringatan Hari Bumi belum berakhir. Kini tinggal acara penutupan. Untuk acara penutupan, kami dari berbagai jenis mahasiswa perwakilan kampus mengikuti Camping di alam terbuka. Camping dilaksanakan di Bukit Rajawali. Bukit Rajawali terletak di Desa Ketenger, Kec. Baturaden, Kab. Banyumas. Menjalani keseharian yang itu-itu saja kadang menjenuhkan pikiran serta hati, layaknya reaksi kimia jika sudah jenuh maka dibutuhkan asupan pelarut yang masih segar agar kejenuhan berkurang.


Makanya, jika sudah jenuh perlu lah kita larutkan kejenuhan dengan udara segar alami dan pemandangan hijau nan memikat hati. Tentu nya saja dengan mengikuti acara Camping bersama ini. Selain untuk menghilangkan rasa jenuh, kita bisa menjadi persaudaraan dengan mahasiswa lain dari berbagai kampus.


Bukit Rajawali, salah satu destinasi wisata yang layak anda kunjungi. Dengan alam yang masih terjaga, udara segar, sejuk serta pemandangan yang asri dijamin mampu melarutkan kejenuhan anda. Cocok untuk menjadi tempat berkemah juga. Apalagi ditambah pemandangan sunrise dari Bukit Rajawali yang begitu indah dan akan terlihat juga Gunung Sindoro dan Sumbing yang eksotis.


Sekarang semua peserta Camping sedang bekerja sama mendirikan tenda masing-masing. Begitu juga denganku dan yang lainnya.


"Heh Lam iki kepriwe masange (heh Lam ini gimana masangnya)?" tanya Budi padaku.


"Lah piwe sih Bud bocah alam kok ra teyeng masang tenda (lah gimana sih Bud anak Alam kok gak bisa masang tenda)," jawabku sambil bercanda.


"Lah sing alam tah ko aku tah Budi (lah yang Alam mah kamu, aku mah Budi)," tukasnya.


"Wakakay wis ngeneh tak rewangi tapi kowe bantu juga nyekeli (wakakay ya sini tak bantuin tapi kamu bantu juga megangi)," ujarku sambil terkekeh.


"Ok lah Lam," ucapnya setuju.


Aku dan Budi bekerja sama membangun tenda milik kami. Saat aku sedang menancapkan patokan untuk tenda. Seseorang tak sengaja menendang patokan tenda kami dan mengakibatkan tenda kami roboh. namun dirinya tak mau disalahkan dan berbalik menyalahkan kami berdua.


"Eh sing bener dong masang tendanya bikin orang celaka aja," marah seorang gadis tiba-tiba karena hampir tersandung. Dirinya hampir tersandung karena kakinya tak sengaja menendang patok tenda kami.


"Halah iku tah kowe sing salah Mba, tiba tiba dewek nyalahi kita (halah itu mah kamu yang salah Mba, jatuh-jatuh sendiri nyalahin kita)," tukas Budi tak terima.


"Mba maaf tapi Mba e juga bodol na tenda ku gegara di pancal mba patoke lho (Mba maaf tabu Mba nya juga ngerusak tenda ku gara-gara di pancal Mba patoknya lho)," ucapku meluruskan.


"Iya laku ra madep ngarep madep hp wae (iya jalan gak lihat depan lihat hp terus)," timpal Budi kesal.


"Kok jadi saya yang salah," elaknya.


"Lah memang dirimu salah toh," ucapku.


"Cepet bener na tenda kita meneh balek na semula (cepet betulkan tenda kita lagi kembalikan semula)," kata si Budi meminta pertanggungjawaban


"Ih opo sih udu (bukan) aku sing (yang) salah juga," sangkalnya lalu pergi meninggalkan kami begitu saja.


"Lah malah lunga (pergi)," ucap Budi terkejut sambil berkacak pinggang.


"Cek cek cek," decak nya sambil menggelengkan kepalanya heran.


"Wis ben lah, mending kita dandani maning. Sedela maning acara dimulai (udah biarkan lah, mending kita betulkan kembali. Sebentar lagi acara dimulai)," ujarku.


Aku dan Budi akhirnya kembali membenarkan tenda milik kami. Setelah beberapa menit tenda pun berdiri dengan benar.


Disisi lain kegiatan ternyata tengah dimulai. Kegiatan hari ini adalah bermain dan bersenang-senang. Terlihat dari para peserta camping yang sedang menguji nyali dengan bermain Flying fox dari atas bukit ke bawah.


"HWAAAAAAA...." Suara teriakan orang yang sedang meluncur dari ketinggian karena bermain Flaying Fox. Mereka terlihat senang, ada juga yang merasa ketakutan karena jantung akan terasa melayang dibuatnya.


Aku dan teman-teman baru tiba di lokasi bermain. Semua peserta sedang mengantri untuk di coba nyalinya dengan ketinggian. Begitu pula dengan ku dan yang lainnya juga ikut mengantri. Ada yang aneh dari Frank dia sepertinya enggan untuk bermain Flying fox.


"Lam aku ra melu ya (Lam aku gak ikut ya)," pinta Frank tiba-tiba.


"Ngapa sih Frank? Aa....wedi duwur ya ko (kanapa Frank? Aa... takut ketinggian ya kamu)," tanyaku sambil menebak.


"Lah deneng ngerti (lah itu tau)," jawabnya.


"Halah Cemen," timpal Budi meledek dirinya.


"Berisik ko (kamu) Bud," suruh Frank padanya.


Tak terasa tinggal kita berlima lah yang bergiliran mencoba bermain Flying fox. Sinta dan Clara sudah meluncur duluan dan mereka tidak merasakan takut sama sekali melainkan sangat menikmati pemandangan alam dari atas bukit. Bak permadani di kaki langit. Seperti lirik lagu saja he-he-he.


Sudah waktunya giliran Budi, ia pun tengah siap meluncur setelah alat pengaman selesai di pasang di badannya.


"MAMAKE ....BAPAKE...," teriaknya saat dirinya meluncur. Dirinya sampai menyebut ibu dan bapaknya saat berteriak.


Sebab itu, aku jadi tertawa kecil melihat tingkah Budi yang cukup lucu dan menghibur. Ternyata dirinya tak jauh beda dengan si Frank tadi yang sudah meluncur setelah Clara. Cuma bedanya dia tak berteriak tapi dirinya hanya diam kaku yang menunjukkan bahwa dirinya sedang tegang.

__ADS_1


"Halah si Budi ngomongi aku wedi ya tengan pada wae (halah si Budi ngomongin aku takut ya ternyata sama aja)," cetus Frank dari bawah sambil melihat si Budi yang sedang meluncur.


"Iya tapi mending jemprit dari pada ko meneng bae kaku metegeng kaya kanebo garing (iya tapi mending teriak dari pada kamu diam aja kaku membeku kaya kanebo kering)," timpal si Sinta sambil menghina.


"Ngapa ra jemprit bae Frank kon dadi rileks (kanapa gak teriak aja Frank supaya jadi rileks)," ujar Clara.


"Saking wedi ne suara ku keteken ra isa metu Clar (saking takutnya suara ku kehenti gak bisa keluar)," jawabnya.


Budi yang baru aja turun langsung ditanyai oleh si Frank. Saat ditanyai dirinya hanya mengacungkan jempolnya dan menggelengkan kepalanya saja. Tanda bahwa dirinya cukup baik-baik saja


Tinggal diriku seorang yang tengah bersiap meluncur. Saat meluncur diriku terasa seperti terbang di awan. Melihat pemandangan indah dari atas sungguh sangat menakjubkan. Aku juga ikut berteriak seperti yang lain. teriakkan ku ini bukan berarti takut atau pun tegang melainkan menunjukkan rasa kagum ku pada Alam.


"HUWAAAA...," teriakku kencang. Teriakan ku ini bukan berarti aku takut melainkan aku takjub.


Setelah sampai dibawah semua teman-teman bertepuk tangan padaku.


"Prok Prok keren Lam," sanjung Budi sambil tepuk tangan dan bergeleng.


"Wah kowe bener bener menikmati pemandangan," ucap si Sinta kagum.


"Iya ra yanka seru ne luar biasa," kataku senang.


Semua peserta camping sudah di uji nyalinya lewat ketinggian. Dan sekarang tinggal acara pementasan seni. Acara tersebut rencananya akan diadakan nanti sore. Untuk kali ini, karena semua peserta Camping terlihat sangat lelah, kami semua beristirahat dahulu merilekskan badan dengan menikmati alam sekitar.


...⛺⛺⛺⛺⛺⛺...


Sore silih berganti, semua peserta Camping sudah berkumpul di halaman tenda. Yang berarti acara pertunjukan pentas seni akan segera di mulai. Kami duduk melingkar untuk melihat berbagai kesenian yang ditampilkan oleh berbagai mahasiswa yang join berpartisipasi. Ada berbagai macam kesenian yang ditampilkan mulai dari musik, drama tentang alam, ataupun pertunjukan yang lainnya.


Dari Tim UKM kami, kami semua berencana menunjukkan drama tema tentang alam. Yang bercerita tentang seorang pahlawan bumi yang mencoba mengalahkan musuh bumi yaitu alien kotak yang ingin merampas isi Bumi. Untuk acara ini kami harus melibatkan beberapa orang senior yakni bang Opik dan Bang Doel. Karena mereka berdua lah yang sedang memiliki waktu luang.


Bang Opik dan Bang Doel lah yang akan berperan sebagai dua alien perusak bumi. Sedangkan kami berlima berperan sebagai pahlawan bumi yang siap menyelamatkan bumi. Agar memiliki kesan humoris kami menambahkan sedikit komedi didalamnya.


Sesekali semua penonton tertawa melihat akting kami. Mereka semua cukup terhibur dengan apa yang telah kami tampilkan.


Sesudah pementasan.


Kami berlima bersama bang Opik dan Bang Doel mulai berganti pakaian. Tiba-tiba ada suatu insiden yang terjadi pada Bang Doel saat melepas topeng kepala alien nya.


"Ana apa Doel?" tanya Bang Opik padanya.


"Ini lho topeng ku rasanya seret banget gak bisa dilepas," jawabnya sambil berusaha melepaskan topengnya.


"Di jajal alon-alon taye (dicoba pelan-pelan taye)," suruhnya.


"Sudah tapi gak bisa," jawabnya pasrah.


Aku yang melihat bang Doel yang sedang mencoba untuk menarik kepala alien dari kepalanya, langsung menghampirinya dan bertanya. "Bang Doel kepriwe?"


"Iku lho Lam endas alien ne ra gelem ucul (itu lho kepala alien nya gak mau lepas dari kepalanya si Doel)," jawab Bang Opik mewakili.


Teman-teman yang lainnya jadi ikut merapat untuk melihat.


"Weh bantu aku lah ini susah banget," pintanya


"Halah kayak ne endase bang Doel karo ukuran endas golek alien ne pas-pasan. dadi angel (halah sepertinya kepalanya Bang Doel sama ukuran kepala boneka aliennya pas-pasan. Jadi susah)," tebak si Budi menjelaskan.


"Iya iki piwe gak mau lepas," ucap bang Doel makin panik.


"Hayo kabehan rewangi Bang Doel (ayo semuanya bantu Bang Doel)," ujarku.


Belum juga bantu, ternyata mereka semua dipanggil untuk berkumpul ke halaman tenda kembali.


"Bang maaf kita dipanggil kita meng nganah sit," ucapku minta maaf lalu pergi. Yang lainnya juga ikutan pergi pada akhirnya.


"Lah lah pada pergi bantuin aku dulu," panggilnya.


"Pik Pik bantu aku," pintanya pada Bang Opik.

__ADS_1


"Maaf Doel aku be ada urusan," ucapnya lalu pergi juga.


"Dasar temen pada laknat semua," ucapnya kesal.


Akhirnya dirinya terpaksa berusaha sendiri melepas kepala boneka alien yang terpasang di kepalanya. Namun ternyata belum bisa terlepas juga setelah berusaha. Bang Doel akhirnya terpaksa keluar untuk menyaksikan acara pentas seni selanjutnya dengan masih memakai kepala alien.


"Astaghfirullah kaget aku," ucapku terkejut akan kehadiran manusia alien.


"Ana alien kabur...," ledek si Frank langsung.


"Iya Frank kabur," timpal Budi ikut-ikutan.


"Weh sembarangan sini kalian," marah Bang Doel.


"Ampun Bang Jago eh Bang Alien," ledek mereka berdua sambil merapatkan kedua tangannya. Mereka berdua malah jadi keterusan nyanyi Bang Jago yang membuat kami semua jadi terhibur dibuatnya.


"Bang Doel durung bisa wae apa itu pala alien copot Bang?" tanyaku.


"Belum ini masih seret mana jadi malu aku," jawabnya sambil menutupi mukanya.


"Coba pelan-pelan, Bismillah," saran ku.


Bang Doel pun mencoba melepaskannya pelan-pelan. Dan apa yang terjadi? Akhirnya kepala alien terlepas juga dari kepalanya.


"Alhamdulillah lepas juga, "ucapnya lega. dasar pala alien nakal," marahnya sambil memukul kepala alien nya.


Kami semua jadi tertawa lagi melihat kelakuanku Bang Doel saat marah pada kepala boneka alien nya.


...🪂🪂🪂🪂🪂🪂...


Sementara disisi lain tepatnya di basecamp tempat kumpulnya Badrol dan kawan-kawan. Domu dan Made tiba-tiba saja teringat dan kangen pada bos asli mereka kalo bukan si Samsul. Eh iya yah apa kabar dia di Singapura?


"Bos Drol boleh nanya kabar bos Samsul disana gimana?" tanya si Made tiba-tiba.


"Mana ku tahu dia tak pernah mengabari," jawabnya.


"Alamak macan mana pula kau ini kan saudaranya," kata si Domu kaget.


"Heh kita saudara tapi tak begitu akrab," tukasnya. "Dia cuma titip pesan untuk jadiin kalian anak buah ku," katanya.


"Hayya sudah punya bos baru masih saja ingat bos lama," saut Lang-Lang yang sedang asyik mengutak-atik hpnya.


"Heh Lang kita berdua ini bukan kacang yang lupa ma kulitnya. Masih setia kita berdua sama bos Sul," jawab si Made sedikit kesal.


"Betul itu," timpal Domu membenarkan.


"Heh kau berdua berdoa saja moga bos pertama mu baik-baik saja," saran Badrol pada mereka.


"Bos Drol jika ada kabar dari bos Sul kabari kami berdua ya," pinta Made padanya.


"Iya iya," ucapnya sambil menyulutkan api ke putung rokoknya.


"Bos kita nyusul ke tempat kemah nya si anak-anak UKM yuk," ajak Made tiba-tiba lagi.


"Mau apa kita kesana?" tanyanya sambil menghisap rokoknya.


"Daripada disini aku agak bosan mending kita kesana siapa tau ada hiburan seru," jawabnya.


"Bener juga," pikirnya. "Ok lah cus berangkat," ucapnya setuju.


"Yee liburan," sorak si kembar China.


"Eh dimana merasa ngadain acaranya?" tanya Badrol pada Domu dan Made.


"Bukit Rajawali Bos Drol," jawab Made.


"Ooo woke gas meluncur," ucapnya.

__ADS_1


Bandrol and the gang akhirnya pergi menyusul ke tempat dimana acara camping hari bumi dilaksanakan. Apa ada rencana lain yang akan mereka lakukan disana nanti? Hem aku juga penasaran gimana kabar Samsul di luar negeri apakah waras atau makin menjadi? Tunggu di kelanjutan ceritanya saja!


Bersambung........🪨🪨🪨


__ADS_2