
Di Area Parki Kampus.
Putung rokok yang dibuang si Samsul mulai menyalakan percikan api ke daun. Karena cuaca juga lagi panas dan daun di bawah semak juga ada yang sudah kering. Jadi api dengan mudah membakarnya.
Sekitar 15 menit api sudah agak besar. Pak Samsudin yang seorang rektor hendak menuju ke parkiran untuk mengambil motornya. Tapi dirinya terkejut karena mendapati api yang sedang membakar semak-semak di depan area parkir.
"A....api.... tolong kebakaran kebakaran," teriak Pak Samsudin panik.
Pak Udin yang seorang tukang kebun disana mendengar teriakan Pak Samsudin. Kebetulan sekali Pak Udin sedang berada di kamar mandi terdekat. Ia pun keluar sambil berlari membawa air. Sedangkan Pak Samsudin masih terus berteriak minta tolong.
"Tolong.... api kebakaran tolong...," teriaknya lagi.
Setibanya disana, Pak Udin langsung menyiram semak-semak yang terbakar tepat didepannya.
"Pak rektor bantuan datang tang tang," teriaknya sampai menggema.
"BYURRR" air disiram tepat mengenai sasaran.
Memang api sudah dipadamkan tapi ternyata Pak Samsudin juga ikut ke siram karena tenaga Pak Udin terlalu kuat. Pak Udin tak tahu kalau Pak Samsudin ternyata ada di sebelah yang berbeda. Jadi gini Pak Udin datang dari sebelah kanan sedangkan Pak Samsudin berdiri dan berteriak dari sebelah kiri.
Keduanya terbengong terkejut lalu tak lama Pak Samsudin sadar bahwa dirinya disiram dari arah seberangnya. Ia pun berteriak marah kepada Pak Udin.
"UDINNNN...," teriaknya greget dan marah.
"Gimana sih kamu kok aku ikut di siram?" tanyanya marah-marah kepada Pak Udin.
"Maaf bapake aku ra sengaja tapi yang penting api nya padam bapake," jawabnya.
"Iya padam tapi aku ikut basah," marahnya lagi.
"Huh basah semuanya," gumamnya kesal
"Lagian ini siapa ini siapa yang nglakuin ini? SIAPAAAA...?" marahnya sampai ke ujung pandang berteriak sampai mahasiswa yang mendengarnya berlari menghampirinya. Pak Samsudin marah sambil menunjuk-nunjuk bekas kebakaran.
Pak Rektor marah besar sampai berteriak kencang. Aku dan Budi baru keluar dari masjid selesai ikut kegiatan Rohis. Sedangkan teman-temanku yang lain langsung pulang setelah shalat. Aku dan Budi terkejut karena mendapati banyak orang yang berlarian, aku pun menghentikan salah satu mahasiswa yang tengah berlari.
"Hei hei.. ada apa ya Kak?" teriakku mengehentikan Kakak Mahasiswa dan bertanya.
Mahasiswa itu berhenti "Ada kebakaran," jawabnya panik.
"Kebakaran? Ning ngendi (di mana)?" tanya si Budi padanya dengan muka terkejut.
"Ning parkiran kae, Pak Rektor lagi bada budu," jawabnya sambil menunjuk ke arah parkiran.
"Ya wis ya tak kesana duluan," pamitnya lalu lanjut berlari.
"Heladalah, hayu melu kesana Bud," ujarku mengajak si Budi.
"Hayu Lam penasaran aku," jawabnya.
Aku dan Budi ikut pergi ke area parkir dan masih menggunakan sarung. Ternyata di area parkir sudah rame banyak orang. Terlihat Pak Rektor sedang marah-marah sambil bertanya pada para mahasiswanya.
"Heh kamu yang ngelakuin ya?" tanyanya marah menuduh salah satu mahasiswa yang ada disana.
"Bu..b-bukan Pak," jawabnya gugup karena takut.
Aku dan Budi berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Lah beneran ana kebakaran," ucapku agak terkejut.
"Iya Lam," timpal si Budi.
"Pak Pak Bapake ini ada kaya putung rokok sapa yang buang disini ya?" panggil Pak Udin karena menemukan bekas putung rokok yang setengahnya sudah terbakar.
Pak Rektor menghampiri Pak Udin dan langsung melihat serpihan putung rokok disana.
"Ini siapa yang berani beraninya ngerokok disini? Buang sembarang pula," marahnya kembali sambil melihat ke arah mahasiswa yang ada disana.
"Siapa....?" lalu pak rektor melihat aku dan Budi. Ia langsung memarahi kami berdua yang tak tau apa-apa.
"Oh ini pasti kamu berdua ini yang ngerokok disini terus buang sembarang," tuduhnya langsung kepada kami berdua.
"Bu.. bukan Pak kita aja dari tadi di masjid," jawab si Budi sedikit gugup.
"Lam kok malah kita sing dimarahi," bisiknya padaku.
"Punten Pak Rektor aku saja cinta alam masa ngerusak alam karo awak ku. Kami berdua tidak merokok dan melakukan ini semua. Kami berdua ini berdasar pada dasa darma Pramuka ke 2 yang cinta alam dan kasih sayang terhadap manusia," aku mencoba menjelaskan bahwa kita berdua tak salah.
"Halah jangan bohong kamu," tuduhnya lagi.
"P-pak rektor itu Samsung yang tadi ngerokok disini mah. Yah Lam," tutur si Budi sambil melihat ke arah ku untuk memastikan ucapannya benar.
Aku mengangguk setuju, "Hush Samsul Bud, Bapake kuwe," bisikku karena sadar si Budi salah ucap nama Samsul dihadapan Pak Rektor.
"Oh iya," celetuknya pelan.
"Anake Bapak sendiri Pak yang ngelakuin," tuturnya lagi agar jelas.
"Kalian malah menuduh anakku, sembarangan yah," Pak Rektor malah makin marah pada kami karena menuduh anaknya.
"Lah memang iya," gumam Budi kesal sambil ngelihat ke atas. Tak sengaja ia melihat kamera cctv yang terpasang disana.
"Lam kae apa sing ireng ireng diatas pinggir saka?" tanyanya pada ku seketika.
Aku pun melihat ke atas ke arah yang Budi maksud.
"CCTV kuwe," jawabku.
Tiba-tiba aku menemukan ide cemerlang yang bisa menyelesaikan ini semua yaitu CCTV.
"Pak Rektor coba kita periksa di cctv parkiran," ucapku memberikan usul padanya.
"Bener Bapake cek CCTV," timpal Pak Udin yang menyetujui usulku.
Mahasiswa masih banyak yang berkumpul untuk melihat kejadian itu. Pak Rektor pun membubarkan mereka semua. Sedangkan aku dan Budi serta pak Udin pergi keruang CCTV yang tak jauh dari area parkir bersama Pak Rektor.
"Kalian semua kenapa masih di sini? Bubar semuanya biar Bapak yang tangani ini," suruh Pak Rektor kepada para mahasiswanya.
Mereka bubar satu persatu meninggalkan area parkir. Saat aku dan Budi ingin pergi juga, Pak Rektor menghentikan langkah kami berdua.
"E..e...ehh kalian berdua mau kemana?" cegatnya.
"Pulang Pak, jawab si Budi.
"Ikut Bapak kita buktikan siapa yang salah," suruhnya pada kami berdua.
"Iya Pak," jawab kami berdua menurut.
"Awas saja jika kalian berdua yang salah. Bapak hukum kalian," ancam Pak Rektor pada kami berdua sambil berjalan diikuti tunjukkan tangannya ke arah kami.
Aku dan Budi hanya bisa menelan ludah mendengar ancamnya. Karena jika CCTV salah kami pasti akan dihukum berat lagi seperti waktu itu.
Di Ruang CCTV.
Pak Darto yang menjaga ruang CCTV sedang tertidur. Seketika dirinya terkejut karena di bangunkan oleh Pak Rektor.
"Darto malah tidur kamu," tegurnya tegas.
"Eh iya Pak Rektor ada apa?" tanyanya sambil mengusap mukanya yang masih mengantuk.
"Coba kamu periksa area parkir pukul....," Pak Rektor menyuruh Pak Darto untuk memeriksanya tapi dirinya tak tau pukul berapa kejadian itu terekam, aku pun langsung memberi tahunya.
"Pukul 3 sore Pak," sambung ku.
"Iya pukul 3 coba cek," Pak Rektor mengulangi kata-kata ku dan langsung menyuruh Pak Darto untuk mengeceknya.
Pak Darto menurut dan membuka rekaman cctv pukul 3 sore dan di perlihatkan pada kami semua.
"Awas saja jika kalian pelakunya," ancamnya lagi yang masih menuduh kami berdua.
Tiba-tiba Pak Udin melihat anak Pak Rektor yaitu Samsul end the gang sedang merokok disana dan membuang putung rokoknya ke semak-semak. Semua terlihat cukup jelas di rekaman CCTV dan cukup juga untuk membuktikan bahwa aku dan Budi tak bersalah.
"Eh Bapake bukannya itu anake Bapake," ucapnya memberi tahu Pak Rektor sambil menunjuk ke layar komputer.
Jangan sembarangan kamu anak saya mana pernah ngerokok. Lihat yang benar," katanya lalu menyuruhnya untuk melihatnya lagi.
Pak Udin menurut melihat lagi. Dilihatnya dengan teliti sampai matanya hampir mendekat ke layar komputer.
"Lah bener ora salah. Coba Bapake yang lihat," katanya lalu menyuruh Pak Rektor untuk melihat sendiri saja.
Pak Rektor pun melihat ke rekaman CCTV tersebut.
"Kurang ajar," Pak Rektor seketika marah dan hendak pergi.
"Pak kita gak dihukum," cegah ku.
"Nggak pulang sana," jawabnya membebaskan kami sambil marah-marah.
Pak Rektor kembali melanjutkan langkahnya dengan cepat dan marah. Lalu tak lama ia kembali lagi.
"Darto kirimkan rekaman itu ke nomor saya," suruhnya dari depan pintu.
"Baik Pak," jawab Pak Darto nurut.
Pak Rektor pulang dengan perasaan marah dan malu sendiri kerena mengetahui bahwa anaknya sendirilah pelakunya.
Sedangkan Di Rumah Samsul.
__ADS_1
Si Samsul sedang asyik bermain Mobil Legend di handphone masing-masing bersama kedua anteknya Domu dan Made.
"Heh serang Made maju," suruh si Samsul greget padanya.
"Iya Bos iya," jawabnya sampai kewalahan dan mencoba menyerang tapi tak berhasil.
"Macam mana pula kau Made beban kau," marah Domu padanya.
Tiba-tiba saja Pak Samsudin sudah sampai dirumah dan langsung melempar jasnya ke arah si Samsul.
"Kurang ajar," marahnya sambil melempar jasnya dengan keras tepat di tengah-tengah mereka.
Seketika mereka bertiga langsung berhenti bermain dan terkejut. Terlihat Pak Samsudin yang sangat marah sampai mukanya memerah.
"Apa sih yah datang langsung marah-marah?" tanya Samsul sedikit kesal.
"Lihat kamu, apa yang kamu lakukan dengan teman-temanmu hah," marah Pak Samsudin sambil menunjuk mereka bertiga.
"Apa sih?" tanya si Samsul masih tak tahu.
Pak Samsudin melempar handphonenya ke arah si Samsul.
Si Samsul melihat rekaman video dirinya sedang merokok bersama kedua anteknya. Domu dan Made juga ikut melihat video itu.
"Gawat," batin Domu. Ia lalu mengarahkan pandangannya ke Made sambil membuat kode menyuruhnya kabur.
"Bos, Pak Rektor kami pulang dulu," pamit Domu mendadak pada Pak Rektor dan si Samsul.
"Permisi Pak," pamit Made juga sambil melakukan tanda peace ke arah Pak Rektor lalu berlari menyusul Domu.
Mereka berdua pulang begitu saja. Ternyata mereka menghindar dari masalah yang dibuatnya.
"Eh kalian berdua, malah pulang. Kurang ajar," ucap Pak Rektor kesal.
"Dasar temen-temen tak guna," gumam si Samsul sedikit kecewa.
"Samsul, Ayah sangat malu dengan kelakuanmu," ucapnya yang masih sedikit emosi pada Samsul.
"Kamu tau akibat dari kelakuan mu itu lahan parkir sekolah hampir saja hangus terbakar karena ulahmu itu," tambahnya.
"Sekarang sudah padam kan Yah?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
"Sudah tapi...," jawab Pak Samsudin yang langsung dipotong oleh Samsul.
"Sudah juga, masalah clear kan Yah?" ucapnya begitu saja tanpa rasa bersalah lalu pergi meninggalkan Ayahnya.
"Mau kemana kamu?" tanyanya masih dalam keadaan marah.
"Ke kamar. Tidur," jawabnya acuh tak acuh.
"Dasar anak tak tau diri," marah Pak Samsudin sambil membuka kancing kerahnya.
...🪴🪴🪴🪴🪴🪴...
Keesokan Harinya.
Masih Dirumah Samsul.
Si Samsul hendak pergi ke Kampus menggunakan mobil sport nya. Tapi dirinya tak mendapati mobil miliknya itu. Lalu ia pun berteriak memanggil sang Ayah.
"Yah.... Ayah mana mobil punyaku?" tanyanya teriak-teriak.
Pak Samsudin keluar dari rumahnya "Ada apa kamu teriak-teriak pagi hari begini?" tanyanya.
"Mana mobil Samsul Yah?" tanyanya.
"Kamu masih berani minta mobil mu kepada ayah setelah apa yang telah kamu perbuat hah," jawabnya agak marah.
"Yah, bukannya ayah sudah mengambil mobil Samsul, lalu dimana sekarang?" rengeknya sambil bertanya lagi.
"Ayah sudah jual mobil mu itu," jawabnya ketus.
"Kenapa?" tanya si Samsul tak terima.
"Kenapa katamu? Bapak malu saat sedang mengambil mobil mu. Pak Bambang sampai mengatakan bahwa ayahmu ini tak mengajarimu dengan benar," jawabnya masih dalam keadaan marah.
"Lalu kenapa ayah menjualnya itu kan mobil Samsul?" lagi-lagi si Samsul terus bertanya pada ayahnya.
"Itu dibeli pakai duit ayah ya seterah ayah mau apakan itu mobil. Lagipula kamu sudah tak boleh berkendara dijalan lagi oleh Pak Bambang," jelasnya lagi.
"Pak Bambang kan polisi kenapa gak di suap aja kaya polisi yang lainnya? Perasaan polisi lainnya kalau di beri uang masalah selesai," ujarnya memberikan saran pada Ayahnya.
"Pak Bambang ini polisi jujur, ayah sudah mencoba untuk menyuapnya malah dirinya mengatakan akan menjebloskan ayahmu ini ke penjara karena memberi suap kepada polisi," tuturnya.
"Lalu Samsul kalau ingin jalan sama temen naik apa coba?" protesnya.
"Ya itu seterah kamu sudah ayah mau ke kampus dulu," jawab Pak Samsudin sambil mengenakan helmnya.
"Tapi Yah Ayah..," Samsul berteriak memanggil ayahnya yang telah pergi menggunakan motornya.
"Sialan," ucap si Samsul kesal.
Kerena si Samsul kena hukum oleh ayahnya, jadi dia lebih baik mencari Domu dan Made. Tapi dirinya bingung karena tak ada kendaraan, ia pun terpaksa menyuruh teman-temannya saja untuk datang menjemputnya. Si Samsul lalu menelpon salah anteknya.
"Heh Domu cepat jemput aku ke rumah," suruhnya langsung lewat telepon.
"Maaf Bos saya tak bisa Bos saya kena skor pagi ini jadi tak ke kampus lah," jawabnya sambil menolak perintah si Samsul.
"Aku tau, tapi kita main kemana yuk," katanya sambil mengajak si Domu untuk pergi keluar.
"Maaf bos saya tak boleh keluar keluar Papah saya marah dan saya sekarang sedang membantu papah saya bersih-bersih," tolaknya lagi sambil menjelaskan keadaannya.
"Bagiamana dengan Made?" si Samsul lalu menanyakan kabar antek keduanya padanya
"Itu orang pun sama Bos," jawabnya.
Ternyata mereka berdua juga ikut kena hukum oleh pak Samsudin. Mereka berdua diberi tahu lewat Group Sekolah tentang jenis hukumannya pagi tadi.
"Sudahlah Bos, Bos diam saja dirumah aku sedang sibuk," ucapnya mengakhiri percakapan dan menyuruh si Samsul untuk tetap di rumah saja.
"Heh heh...., si Samsul marah karena teleponnya di putus ole si Domu.
"Dasar temen gak guna," marahnya lagi lalu kembali masuk ke rumah.
Pukul 12.30 siang.
Hari ini kami pulang awal karena sudah tak ada kegiatan lagi di kampus. Aku dan Budi sekarang sedang pulang menuju kos-kosan setelah selesai melaksanakan shalat Jumat di masjid.
"Lam syukur kita gak dihukum tadi pagi," ucapnya sambil mengayuh sepedanya dan berjejer denganku.
"Iya Bud untung ada CCTV," kataku yang juga terus mengayuh sepedaku pelan.
"Iya kae CCTV ana guna ne selain kon aja ana maling juga berguna nggo lainnya," ucapnya lagi
"Iya," jawabku mengangguk.
Tiba-tiba kita berdua melihat bapak-bapak yang sedang menebas pohon di pinggir jalan. padahal pohon itu pohon milik pemerintah dan bukan miliknya. Aku dan Budi pun berhenti dan menegurnya.
"Pak Bapeke jangan di tebas pohonnya," panggil ku lalu menegur Bapak-Bapak yang kepalanya botak itu.
"Macam mana pula kau ini. Kau tahu ini pohon menghalangi pemandangan rumah ku yang bagus," jelasnya dengan logat Batak.
"Haduh Bapake tapi kan pohon di sini tak boleh di tebas karena milik pemerintah," aku menasehatinya kembali.
"Iya mbok adem sejuk suasananya kalau pohon ditebas nanti fungsinya hilang Bapake," ucap si Budi menambahkan.
Macam mana pula kau ni aku tak butuh ceramahan dari kalian. Aku sudah muak mendengar ceramah di masjid dari sini tadi," Bapak tersebut malah marah pada kami berdua dan mengatai isi ceramah di masjid tadi yang juga membahas alam.
"Alam, Budi kau rupanya," suara tiba-tiba dari arah belakang kami yang ternyata adalah Domu si antek pertama si Samsul.
"Ada apa Pah?" tanyanya pada ayahnya.
"Anakku kau sudah pulang," ucapnya.
"Iya Pah," jawab si Domu agak bingung melihat keberadaan kamu berdua disana.
"Kau kenal dengan mereka?" tanya ayah Domu pad anaknya.
"Iya Papah, musuh bos ku itu," jawabnya sambil melihat ke arah kami berdua.
"Eh Domu tolong nasehati Bapakmu supaya jangan menebas pohon sembarangan," aku menyuruh Domu supaya menasehati Ayahnya.
"Emang kenapa jika papaku menebasnya masalah untuk mu?" si Domu malah ikut-ikutan marah tak suka pada kami berdua yang menasehatinya.
"Ya masalah Mu, ini kan pohon pemerintah setahuku jika menebas pohon jalan tanpa izin akan dikenakan denda jutaan," kataku menjelaskan lagi.
"Pemerintah lebay sekali menebas pohon pun di denda," marah ayah Domu tak terima.
"Ya memang peraturannya seperti itu," timpal si Budi membenarkan.
"Sudah sana kalian berdua pergi saja. Kalau didenda juga uang kita cukup kok buat bayar. Yah Pah," si Domu malah mengusir kami berdua sambil menyepelekan aturan pemerintah.
"Betul anakku," ayahnya malah menimpali ucapan si Domu.
"Hufh.......," aku dan Budi hanya mengambil nafas panjang dan menggeleng-geleng kepala saja melihat warga yang tak taat dengan aturan seperti itu.
"Hayu Lam cabut wae," ajak si Budi padaku.
__ADS_1
"Iya Bud lah percuma di omongin ra ana guna ne," jawabku lalu mengayuh sepeda ku pergi meninggalkan mereka.
Di perjalanan, sepeda kami berjejer dan mengobrol.
"Lam kae Bapake Domu pa?" tanyanya penasaran.
"Iya kali," jawabku yang masih sedikit kesal dengan tindakan dan tingkah mereka tadi.
"Lah nek iya patutlah," ucap si Budi.
"Patut ngapa?" tanyaku tak mengerti.
"Patut angel di kandani," jawabnya.
Aku dan Budi geleng-geleng kepala dan tertawa kecil sambil mengayuh sepeda kami pulang menuju kos-kosan.
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
Sore harinya setelah sholat Ashar.
"Bud sepedaan yuh muter-muter jalan-jalan sore, teriak ku sedikit keras mengajak Budi untuk ikut berkeliling.
"Ya hayu cus lah," saut Budi sambil menuntun sepedanya keluar.
"Arep muter-muter ngendi lam?" tanyanya.
"Lah tekan jembatan ya kena nanti balik lagi ke kos-kosan," jawabku.
"Ora tekan alun-alun," usulnya.
"Adoh mbok kesel alun-alun tah ngesuk wengi bae," ucapku menolak usulnya.
"Ya wis hayu," si Budi mulai mengayuh sepedanya begitu juga aku yang berada dibelakangnya.
Aku dan Budi mulai meninggalkan kos-kosan dan mulai mengelilingi sepanjang jalan Sudirman. Dan kita berdua mulai memasuki gang kompleks Sudirman.
Tiba-tiba saja kita berdua melihat anak kecil sedang diatas jembatan sendiri dan sedang bermain membuang sampah ke sungai lalu dirinya berlari ke seberang jalan untuk melihat sampah yang dibuangnya mengalir di sisi sebelahnya. Anak tersebut terlihat gembira dan terus menerus melakukan hal yang sama. Memang jalanan terlihat sepi dan jalan tak selebar jalan raya tapi jika sewaktu-waktu ada kendaraan yang lewat begitu saja dan menabraknya bagaimana. Kita berdua pun menghentikan anak yang sedang berlari ke seberang arah kami.
"Dek dek stop aja pelayon mbok tiba apa ketabrak kepriwe," panggilku menghentikan anak kecil tersebut
Anak tersebut berhenti kerana mendengar panggilan kami lalu menatap kami berdua dengan tatapan tak suka.
"Terus yoh aja dolanan ning pinggir jembatan mbok nyemplung luput engko," si Budi juga ikut menasehati.
"Hah Mas Mas iki ra asyik lah mbok seru deleng na sampah e keli," jawab anak tersebut kesal.
"Aduh ini bocil anak sapa jere?" pikir si Budi sambil menggaruk kepalanya.
"Dek ibumu mana deneng ngejorna kowe dolanan dewekan?" tanyaku pada anak tersebut.
"Sana pulang aja mainan sampah lagi," suruh si Budi agar anak tersebut pulang dan berhenti bermain
Eh malah anak kecil itu berlari ke arah berlawanan sambil menangis menghampiri Ibunya yang akan membuang sekantong kresek besar isi sampah ke sungai juga.
"Jan dasar bocah," gumamku sambil geleng-geleng.
"Ibu.. Ibu Mas kae loro nakal hiks hiks," adu anak itu pada Ibunya.
"Sapa sing buat kamu nangis nak?" tanyanya tak terima melihat anaknya nangis begitu saja tanpa sebab.
"Kae Bu hiks hiks," tunjuk anak itu pada kami berdua.
Kami berdua hendak pergi tapi dihentikan oleh ibunya anak itu
"Heh cah loro mandeg kowe," panggilnya mencegat kami.
Kami pun berhenti seketika dan menengok ke belakang.
"Ko yah bocah loro sing gawe anakku nangis," marahnya langsung pada kami.
"Ora Bu anake Ibu nangis-nangis dewek," jawab si Budi jujur.
"Aja nglombo kalian ya," marahnya lagi sambil tunjuk-tunjuk kami berdua.
"Bener Bu kita berdua ini hanya nasehati tok kon aja dolanan ning pinggir jembatan mbok nyemplung karo bahaya mbok anak ibu ketabrak kepriwe lari-larian begitu," jelasku menasehati Ibu anak itu.
"Kalian cah loro malah nyumpah na anakku," marahnya tak terima dan malah menganggap kami menyumpahi anaknya.
"Dasar ora waras," marahnya lagi sambil mengatai kami berdua.
"Heh Ibu sembarangan kita esih waras lah mulane ngemutna," jawab si Budi tak terima.
"Oh ya Bu, Ibu juga harusnya ngasih tau anaknya dan ibu juga harusnya tak membuang sampah e ke sungai mbok banjir gara-gara kebeken sampah," jelasku kembali menasehati ibu anak itu lagi.
"Lah berisik ko pada, kali ra mungkin banjir lagi terang saiki," jawabnya menyepelekan.
"Lah kur ngemutna malah domehi," ucap si Budi heran dengan sikap ibu anak itu.
"Sana lunga," usirnya pada kami berdua.
"Hayu nak bali," Ibu itu lalu menuntun anaknya pergi pulang.
"Haduh dasar menungsa," gumamku heran dengan kelakuannya.
"Hayu Bud balik wis sore," ajak ku pada Budi untuk mengakhiri sepedaan kami dan pulang saja.
"Iya lam," jawab si Budi setuju.
"Lam saiki dina apa sih?" tanyanya tiba-tiba padaku.
"Ya dina Jum'at wong tadi be jum'atan," jawabku.
"Udu koh aku ngrasa kawit wingi ana Bae masalah e," pikir si Budi mengutarakan isi hatinya padaku.
"Lah memang, pengin nglindungi alam, menungsa ne sing ra beres," ucapku yang juga merasakan perasaan si Budi.
Kami berdua mendesah bersamaan.
Aku dan Budi lalu mengayuh sepeda kami kembali menuju kos-kosan karena hari mulai menuju waktu Maghrib juga. Hari ku ini penuh dengan masalah. Ingin melindungi alam selalu saja di marahi balik. Apa salah melindungi alam ini agar bebas dari permasalahan lingkungan?. Sabar sabar menghadapi cobaan demi alam ini.
Bersambung........🍄🍄🍄🍄
...----------------...
KAMUS :
Ning: di;
ngendi: mana;
kae: itu;
bada-budu: marah-marah;
awak: tubuh;
Kon: supaya;
aja: jangan;
nggo: buat;
kandani: diomongin;
angel: susah;
adoh: jauh;
pelayon: lari-lari;
tiba: jatuh;
dolanan: bermain;
ngejorna: membiarkan;
dewekan: sendirian;
mandeg: berhenti;
deleng: melihat;
dina: hari;
ngelombo: bohong;
mulane: makanya;
luput: hilang;
ngemutna: mengingatkan;
kebeken: kepenuhan;
domehi: dimarahi;
kawit: dari;
__ADS_1
wingi: kemarin;
manungsa: manusia.