BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 37 "Bang Kris dan Mba Lili Terciduk Lagi"


__ADS_3

Malam Minggu telah tiba kembali, kami berlima pasti akan tongkrong kembali di alun-alun Purwokerto. Alun-alun Purwokerto memang kerap menjadi tongkrongan para anak-anak muda. Kami berlima juga termasuk diantaranya. Mulai dari canda tawa, makan bareng dan masih banyak lagi kami lakukan disana.


Kebetulan sekali malam Minggu di alun-alun tak seperti biasanya. Malam Minggu ini lebih banyak pengunjung dari biasanya. Dikarenakan sedang ada pasar malam disana juga. Tentu saja banyak orang yang membawa teman, keluarga bahkan pacar nya ke sini. Tak mau menunggu lama-lama setelah kami berlima berkumpul, kami langsung masuk ke dalam. "Huwaw rame ne malem kiye (huwaw ramainya malam ini)," celetuk Budi takjub dengan suasana pasar malam. "Iya Bud rame bener, wis masuk malah dadi bingung kiye," timpal ku. Karena kami berlima bingung kami memutuskan ke tempat jagung bakar saja.


Setelah sampai disana, kami berlima memesan jagung bakar sesuai dengan selera kami. Kami berlima pun menikmati jagung bakar bersama sambil menikmati pemandangan orang-orang bermain wahana permainan pasar malam.


"Tes mangan jagung, numpak undar yuh (habis makan jagung, naik komedi putar yuk)," ujar Budi mengajak yang lainnya.


"Komedi putar Bud, ah emoh ah kaya bocah, numpak sing lewih menantang wae ngapa (komedi putar Bud, ah gak ah kaya anak kecil, naik yang lebih menantang aja napa)," tolak Sinta tak setuju.


"Ya wis numpak kora-kora wae kepriwe mandang menantang kae (ya sudah naik kora-kora aja gimana cukup menantang itu)," usul ku sambil menunjuk wahana tersebut.


"Ok lah setuju!" Seru mereka sambil mengangguk.


Setelah memakan jagung bakar, kami berlima pun beranjak dari tempat duduk kami dan pergi menuju wahana tersebut. Wahana ini dibilang cukup menantang karena jantung kami semua akan dibawa melayang. Semakin lama pergerakan kora-kora akan semakin kencang, kadang bahkan akan mengakibatkan mual karena pusing dan masuk angin. Tapi sebelum pergi ke wahana tersebut, kami pergi buang sampah pada tempatnya dulu, ingat jangan tinggalkan jejak sampah di sekitar. Barulah setelah itu kami pergi ke tempat tujuan.


Kami berlima sekarang sudah duduk berjejer bersiap untuk melayang. Jantung kami terasa berdegup kencang bahkan sampai timbul keringat dingin di tangan. Setelah hitungan ketiga, kora-kora kami mulai bergerak mengayun, mulai dari pelan hingga mendadak kencang. AAAAA.... teriakan semua orang memecah suasana malam. Kami terkejut dibuatnya.


"Alah Biyung alah Bapak HUWAAA...," teriak Frank ketakutan. Rasa-rasanya jantung miliknya seakan ingin copot karena terbawa melayang begitu.


Bahkan Budi sendiri diam-diam memegangi samping baju ku dengan kencang. Aku sendiri kadang ikut berteriak karena terkejut. Kami bertiga merasa malu pada Clara dan Sinta yang tampak menikmati wahana tersebut. Mereka juga berteriak tapi teriakan nya tak se lebay kami bertiga wkwk. 15 menit akhirnya kami selesai dan turun dari wahana tersebut. Si Frank turun dengan sempoyongan karena pusing dibuatnya. Bahkan Budi juga langsung berlari turun menyerobot yang lainnya karena hendak muntah.


"Ha-ha-ha kalian bertiga para cowok masa kalah sih sama kita berdua yang cewek," ledek Sinta sambil berkacak pinggang.


"Huwee'! Sin, Clar asli weteng (perut) ku di gawe (bikin) mual jan bener-bener menantang yakin," kataku sambil memukul dadaku pelan kerena sedikit merasa mual.


"Halah! Itu mah bukan apa-apa nya untuk kami ya Clar," ujar sinta sombong.


"Buset dah kalian berdua, aku aja sampai.... huwee," kata Budi kaget lalu menghentikan kata-katanya karena mulai mual kembali.


"Lam Lam cekeli aku Lam kaya arep rubuh kiye (Lam Lam pegangin aku Lam kaya mau rubuh ini)," pinta si Frank padaku. Aku pun terpaksa menuntunnya sampai ke tempat duduk di depan.


Kami berlima duduk sebentar untuk menetralkan kondisi kami. Sinta dan Clara lalu memberikan kami bertiga air minum agar kami berhenti mual.


"Yah Lam, Bud Frank nginum sit (minum dulu)."


"Cek cek cek kalian bertiga tak lulus kriteria ku, cemen semua. Ha-ha-ha," ledek Sinta kembali sambil memandang rendah kami bertiga yang seorang lelaki.


"Woke kita lanjut main ke situ," ajak ku dengan berani sambil berdiri dan menunjuk ke wahana yang menyeramkan itu. Diriku tentu tak mau kalah juga dengan Sinta. Masa diriku kalah sama yang perempuan, kan gak cool banget.


"Waw rumah hantu. Cek cek cek berani juga kalian rupanya," celetuk Clara terkejut sambil berkacak pinggang dan menggeleng.


"Emang kalian berani?" tanya Sinta pada kami bertiga dengan tatapan merendah nya.


"Lam Lam, aja lah Lam aku wedi, pinta Frank menghentikan ide aneh ku ini dengan menarik-narik bajuku.


"Hayo koh Frank, mari kita tunjukkan kalo kita ini laki-laki yang pemberani!" bujuk ku tegas. Aku lalu menarik tangan Frank supaya berdiri.


"Bener kata Alam, hayo lah pokoke," kata Budi setuju sambil ikut menarik tangan Frank juga.


Frank yang cemen nan penakut ini, terpaksa kami berdua seret agar mau masuk ke dalam. Kini kami berlima sudah didalam rumah hantu yang tampak gelap dan menyeramkan. Baru saja masuk, si Frank sudah berteriak saja mengejutkan kami karena melihat sosok hantu didepannya.


"EMAKK...," teriak Frank tiba-tiba.


"Apa seh Frank?" tanya ku heran.


"Emang ana emak mu nang kene (emang ada ibumu disini?)," tanya Budi sambil celingukan.


"Ana Kunti Lam, kaget aku," tuturnya.

__ADS_1


"Lomboan be wedi (bohongan aja takut)," ledek Sinta padanya.


"Tiba-tiba ada yang menyenggol pundak ku, sontak aku jadi terkejut dan menjerit. Setan gendeng...," ucapku terkejut seraya mendorong kepala hantu yang menempel di pundak ku. Hantu itu terjatuh begitu saja sedangkan kami memilih berlari untuk menghindarinya


"Sialan mau diajak kenalan malah di tabok, duh sakit," gerutu hantu Kunti tersebut.


Di saat berjalan sejenak, tiba-tiba kami dikejutkan lagi, kali ini adalah sosok genderuwo yang cukup menyeramkan. HOAA... Genderuwo menakuti kami dengan suara seramnya. KABURRR.... Teriak kami bersamaan. Kami berlima berlari dan berhenti karena sudah cukup aman.


"Kentir weh lah setan ne medeni temen (gila cuy lah setan nya menakutkan sekali)," kata Frank ketakutan.


"Asem ngapa aku melu (ikut) kabur, padahal ra wedi (gak takut)," ucap Sinta heran pada dirinya sendiri.


"Berarti kamu juga takut sin haha," kataku sambil tertawa kecil.


Sinta menatap tajam kearah ku, "Berisik kamu Lam, tapi asli ini beneran bikin aku deg-degan," lanjut nya masih heran.


"Kita jalan lagi yuk biar kita bisa keluar dari sini secepatnya. Aku jadi takut beneran nih," ujar Clara sambil memegangi tangan Budi dengan sendirinya.


"Clar, tenang ya ana bang bang Budi disini," ucapnya sambil menepuk tangan Clara yang menempel di lengannya.


"Hii apaan sih Bud." Clara dengan cepat melepaskan pegangannya karena sadar dengan apa yang telah dilakukannya.


Kami berlima lalu berjalan pelan sambil mundur ke belakang. Disisi lain ternyata bang Kris dan Mba Lili juga sedang berada di area sama. Mereka juga sedang berjalan pelan, mundur ke belakang sambil memandang ke sekitar. Tiba-tiba saja pantat ku dan pantat Bang Kris bertabrakan yang membuat kami jadi terkejut kembali.


"SETAN....," teriak kami bersamaan.


Eh... perkataan ku berhenti sejenak. Seketika aku langsung memperhatikan mereka berdua yang sedang terkejut juga, rasa-rasanya seperti mengenal kedua orang itu. Dengan cepat aku memanggil, "Mba Lili, Bang Kris...," sambil menatap mereka berdua. Sontak kami semua jadi saling pandang untuk memastikan. Tapi belum selesai mengetahui satu sama lain, kami sudah dikejutkan kembali dengan hadirnya Mba Kunti yang muncul tiba-tiba tepat ditengah-tengah kami.


Huweee. Hantu itu menjulurkan lidahnya sambil menakuti kami semua.


"Set-setan....," teriak Frank gugup karena takut.


Karena terkejut kami semua berlari, Bang Kris dengan cepat menggandeng tangan Mba lili untuk ikut kabur juga. Tapi kenyataannya bukan tangan Mba Lili yang ia pegang melainkan tangan hantu tersebut. Sedangkan Mba lili masih berdiri memandang heran ke Bang Kris yang salah pegang itu.


"Heem dirimu gandeng sapa Kris." Mba Lili berdehem, bertanya sambil menatap tajam ke arah Bang Kris.


"Tangan mu lah, Li," jawabnya sedikit bingung.


"Lihat betul betul tangan siapa itu," suruhnya sambil berkacak pinggang.


Hah. Bang Kris bingung, ia pun menengok untuk memastikannya. Hantu itu memberikan cengiran padanya. Bang Kris menatap nya heran. setelah menatapnya lama, dirinya tersadar dan langsung melepas kasar gandengan nya itu. "Astaga, hayo lari Li...." dengan cepat bang Kris langsung mengganti gandengan nya ke tangan Mba Lili.


...🦉🦉🦉🦉🦉🦉...


Kami semua terpencar kembali, dan kami belum yakin kalo yang tadi kami temui itu mereka atau bukan. Selang beberapa menit akhirnya kami keluar juga. Sebelumnya kami juga dikejutkan sosok Copong eh pocong yang ikut keluar membututi kami. Kami jadi terkejut kembali dibuatnya. Kami merasa tenang setelah tau kalau pocong itu ternyata kembali ke basecamp nya karena sudah menyelesaikan tugasnya.


"Ku pikir Pak Copong mau ikut kita ternyata balik ke markas toh, walah walah," kata Sinta sambil memperhatikan pocong jadi-jadian meloncat-loncat menuju markas nya.


"Hoo iya gawe kaget wae, haish dadi kencot aku (hoo iya bikin terkejut aja, haish jadi laper aku)," timpal Budi sambil memegangi perutnya.


"Nangkring yuh nang warung bakso," ajak ku pada semuanya.


"Hayu lah cus." Semua setuju dan langsung berangkat menuju warung bakso di pinggir alun-alun yang tampak ramai itu.


Di samping itu, Bang Kris dan Mba Lili sudah berada di warung bakso sambil menunggu pesanan datang. Sambil menunggu, mereka berbincang sebentar mengenai kami berlima.


"Li, miki Alam karo liyane udu ya (Li, tadi Alam sama yang lainnya bukan ya)," ujar Bang Kris karena masih ragu dengan siapa tadi mereka berdua bertemu.


"Nang ngendi Kris (dimana Kris)?" tanyanya sambil membenarkan kerudung nya karena ada rambut yang keluar.

__ADS_1


"Ish waktu dirumah hantu, yang kita tak sengaja tabrakan dengan 5 remaja itu," jawabnya mengingatkan pacarnya itu.


"Ah itu entahlah, disana kan gelap terus habis itu ada hantu pula yang ngagetin kita. Mana kamu salah pegang lagi, masih ngambek nih," jawab Mba Lili sambil menusukkan jarum pentul ke kerudung di bawah lehernya.


"Iya iya maaf namanya juga panik salah gandeng itu biasa kali, hii mana tuh setan bencong nyengir lagi ke aku." Bang Kris bergidik merinding mengingat ekspresi setan bencong yang menggodanya. Bukan takut dengan bentuk hantunya tapi takut dengan sikapnya yang tak wajar sebagai seorang lelaki yang sama dengan dirinya.


"Ha-ha-ha dia naksir sama kamu Kris," ledek Mba Lili seketika.


"Pantes kamu cemburu," celetuk bang Kris langsung.


"Apa sih?" Mba Lili yang malu memilih memalingkan wajahnya ke samping saja


Pesanan bakso mereka datang. Mereka berdua lalu mulai bersiap menyantap bakso pesanan nya itu.


"Heee Mba Lili karo sapa kae (hee itu Mba Lili sama siap itu?)." Kami yang baru masuk ke warung bakso, tiba-tiba dikejutkan oleh Budi yang melihat senior cantik kami duduk di depan sana bersama lelaki.


"Li kamu kenapa sih?" tanya Bang Kris karena melihat tingkah pacarnya yang aneh tiba-tiba. Mba Lili yang sadar dengan kehadiran kami langsung berusaha mencari ide untuk menghindar dari kami berlima.


"Alam sama lainnya mau kesini, bisiknya pelan. Mba Lili langsung menutupi setengah wajahnya dengan kerudung agar tak ketahuan.


"Haa dimana?" tanya Bang Kris yang langsung menengok ke belakang sebelum Mba Lili memperingatinya karena terkejut.


"Jangan neng..., tapi belum selesai bang Kris sudah menengok duluan. Jadilah kami berlima memergoki mereka berdua.


"Ngok, kan ketauan di bilangin jangan nengok malah nengok." Mba Lili melanjutkan ucapannya namun tetap saja sudah terlambat, Bang Kris terlanjur menengok dan melihat kamu berlima. Kami juga sudah melihat jelas siapa mereka.


'Hayo Mba Lili sama Bang Kris lagi apa?' tanya Clara setelah tau semuanya.


"Makan bakso ini," jawab Mba lili sambil menunjukkan bakso yang ada di garpu nya. "Kalian pacaran ya," tebak Sinta spontan. Bang Kris yang lagi minum mendadak jadi keselek karenanya.


Uhuk uhuk... "Gak papa yang." Mba lili menyodorkan air minum padanya namun tak sadar dirinya keceplosan memanggil bang Kris dengan sebutan ayang.


"Yang? Fix kalian pacaran." Sinta yang mendengar nya terkejut dan langsung menebak yakin kalau ada hubungan diantara keduanya.


"Iya iya kami berdua pacaran sudah kagak penasaran kan sekarang," jawab Bang Kris terus terang karena lelah berpura-pura. Toh sudah ketahuan juga oleh kami berlima.


Kami berlima lalu duduk bergabung dengan mereka. "Eh ngapain kalian di sini?" tanya Bang Kris sewot


"Mau gabung lah Bang kagak boleh,' jawab Budi sambil menarik kursi yang hendak didudukinya.


"Kagak boleh kagak boleh kalian ganggu orang pacaran aja sana sana pergi cari bangku lain," tolak Bang Kris yang langsung mengusir kami berlima dengan kasar.


"Hush gak papa lagi Kris," kata Mba lili sambil menepuk pundak Bang Kris yang didepannya. "Hayo gabung gabung, Alam dan lainnya," suruh Mba Lili memperbolehkan kami berlima duduk bergabung. Tapi karena kami berlima juga peka kepada dua sejoli ini, aku pun menolak permintaan Mba Lili itu


"Eh gak jadi Mba, kami disana aja," tolak ku sambil menyilangkan kedua tangan, lalu menunjuk ke arah bangku kosong di dekat mereka berdua.


"Nah bagus itu," kata Bang Kris senang


Kami akhirnya duduk terpisah. Sekarang kami sudah mulai menyantap bakso pesanan kami. Frank terlihat cemburu melihat pujaan hatinya bermesraan di depannya. Dirinya dengan kesal menancapkan garpu ke bakso dan menyantapnya kasar. Tatapan si Frank tak mengenakan untuk di lihat. "Sabar sabar Frank namanya juga belum jodoh ikhlas aja Yo," kataku menasehatinya


"Hem...," balasnya sambil menusuk baksonya kembali dengan kasar.


"Kami sudah selesai rencanannya mau naik wahana terakhir, apa kalian mau gabung biar rame?" Mba Lili yang sudah selesai makan tiba-tiba saja menghampiri kami dan memberikan tawaran berupa ajakan pada kami berlima.


"Boleh boleh boleh," jawab Budi dengan antusiasnya.


Bud....


Kami berempat menatap tajam kearahnya. Si Budi ini tak memahami situasi aja. Mereka kan juga ingin berdua. Tapi setelah dipikir-pikir boleh juga gabung, masa mereka berdua terus. Ini waktunya bagi kami berlima buat ngerecokin mereka. Mari kita bersenang-senang bersama di malam Minggu ini.

__ADS_1


Bersambung....🦉🦉🦉


__ADS_2