
Keesokan harinya. Kami semua kembali turun ke Sungai Ciliwung untuk melanjutkan membersihkan sampah. Ketika kami datang tenyata disana sudah hadir belasan truk yang sudah siap mengangkut semua sampah. Begitu juga dengan kami yang mulai melanjutkan pekerjaan bersih-bersih kemarin.
"Syukurlah wingi ra (kemarin engga) banjir," ucap ku lega.
"Iya Lam padahal udan gede (hujan besar)," timpal si Budi.
"Alhamdulillah berati," kata si Frank.
"Iya mesti gara-gara sampahe wis ke angkut separo wingi (iya pasti gara-gara sampahnya udah ke angkut separo)," ujar si Budi.
"Iya Bud dadi aman kang (dari) banjir 'tuk sementara kiye (ini)," timpal ku.
"Heh Lam kowe wis ngomong durung men bang Kris tenteng idemu (heh Lam kamu udah ngomong belum ke Bang Kris tentang idemu)," celetuk si Budi mengingatkan.
"Ide apa Bud aku kok gak tau?" sela si Sinta bertanya.
"Ide itu." Tunjuk Budi ke arah letak bank sampah.
"Bank sampah? Kamu mau bangkitin itu apa Lam?" tanya Sinta padaku.
"Iya Sin men (biar) warga sini bisa saling bertukar sampah dan tidak mencemari sungai lagi," jawabku yakin.
"Ide bagus Lam harusnya Bang Kris menerima ya," puji Sinta padaku
"Aamiin.... ya udah aku ke bang kris dulu ya," pamit ku.
"Ok Lam," balas mereka mengizinkan.
Aku lalu pergi menemui Bang Kris yang tengah mengambil sampah juga di beda area. Aku memberanikan diri untuk mengutarakan usul ku padanya. Semoga saja bang Kris bisa membantu.
"Bang bisa bicara sebentar," panggil ku dari belakang.
Bang Kris menengok dan menghentikan kegiatannya. "Iya Lam ada apa toh?" tanyanya.
"Gini Bang, Abang tau ada Bank sampah disini ternyata tapi sayang kagak kepake," tutur ku.
"Tau aku Lam itu Bank Sampah sudah berhenti dari tahun kemarin," katanya.
"Sebenarnya aku memiliki usulan kalo kita bangkitkan kembali Bank sampah itu agar beroperasi kembali bagaimana," jelas ku mulai mengutarakan ideku.
"Ide yang bagus Lam, tapi apa warga di desa ini mendukung?" puji Bang Kris namun tampak ragu.
"Hem itu yang jadi permasalahan bang warga disini sepertinya akan susah diajak kompromi," jawabku.
"Ya abang bisa liat itu, coba abang ke pemerintah daerah sini dulu minta izin untuk menjalankannya kembali," usulnya.
"Baik lah Bang. Terimakasih," ucapku sambil sambil menunduk.
Bang Kris pun pergi menuju kantor pemerintah desa Ciliwung dan mengalihkan pekerjaannya padaku. Bang Kris tentu saja tak sendiri pergi kesana nya pasti ada Mba Lili yang ikut menemaninya. Bang Kris dan Mba Lili memang kemana-mana selalu bersama dan alangkah baiknya jika mereka bisa bersama.
Sementara Geng Badrol setelah kepulangan nya dari Ciliwung kemarin. Tenyata dirinya tak kapok dan malah ingin berkunjung lagi ke Ciliwung dan pasti tujuannya untuk mengerjai kami. Anak buah Badrol bahkan tak mengerti dengan jalan pikir bosnya ini. Kata tak suka dengan sampah tapi mau kesana lagi aneh bukan.
"Bos kita ke Ciliwung lagi?" tanya Made tak percaya.
"Iya lah kemarin kan kita gagal menggangu si alam dan kawan-kawannya kerena hujan," jawabnya semangat.
"Hayya aku tak mau ma aku tak ikut lah aku mau kembali saja," tolak Ling-Ling.
"Ya sudah sana," usir Badrul padanya.
"Hayya Bos aku juga tak mau meninggalkan adik ku sendiri kalian pergi saja lah," kata Lang-Lang lalu pergi menyusul adiknya.
"Ya kita bertiga saja ok Mu, De," ujar Badrul seraya menatap kedua teman sisanya.
"Anu kami...." Domu tampak bingung untuk mengatakannya.
"Apa? Kalian juga mau mengundurkan diri," tebak nya yang membuat Domu dan Made menelan ludahnya.
"Bu-bukan itu bos tapi...," jawab Made gagap lalu terpotong lagi ditengah.
"Tapi apa? Pokoknya kalian berdua harus ikut," potong Badrul tegas.
"Hufh baik baiklah Bos," jawab mereka berdua terpaksa.
Domu dan Made sebenarnya enggan pergi juga. Tapi karena mereka berdua takut pada si Badrol dan akhirnya terpaksa mengangguk menyetujuinya. Mereka bertiga lalu masuk ke dalam mobil dan pergi menuju Ciliwung kembali.
__ADS_1
Perkejaan kami menguras sampah di sungai telah selesai. Deretan truk pengangkut sampah juga satu persatu meninggalkan desa Ciliwung.
"Alhamdulillah rampung (selesai) juga," ucapku lega karena akhirnya semuanya beres. Kini sungai tampak lebih enak dipandang dari sebelumnya.
"Eh Lam Bang Kris karo (sama) Mba Lili durung (belum) balik apa?" tanya Clara padaku.
"Urung kayane, hayu tunggu ning tempat Bank sampah wae (belum sepertinya, ayo tunggu saja di tempat Bank Sampah)," ujarku mengajak yang lainnya untuk menunggu di sana saja.
"Hayu mumpung Mba Lili karo (sama) Bang Kris belum pulang kita bereskan dulu tempatnya," kata Sinta setuju.
Kami berlima pun menuju ke bank sampah. Tempat Bank sampah ini agak terlihat kotor, maka dari itu kami berlima berniat membersihkannya dulu sambil menunggu kedua Kaka senior kami kembali. Disaat kami sedang bersih-bersih tiba-tiba saja datang segerombolan ibu-ibu yang menegur kami. Mereka marah karena melihat papan berlebel buka di pintu Bank sampah.
"Saha nu wani muka bank sampah ieu, geus meunang idin ti pamarentah desa di dieu? (kalian siapa berani-beraninya buka bank sampah ini apa udah dapet izin dari pemerintah desa sini?)" Marah salah satu warga disusul warga yang lainnya. Mereka semua datang seperti mau berdemo.
"Waduh mereka ngomong opo toh lam aku ra mudeng (waduh mereka bicara apa toh Lam aku gak ngerti)," celetuk Budi kaget mendengar bahasanya.
"Pada Bud tapi sing genah kayane mereka kesuh meng dewek (sama Bud, tapi yang jelas sepertinya mereka marah ke kita)," pikir ku menebak.
"Punten Bu samentawis simkuring masih ngantosan ijin ti pamarentah pikeun ngaoperasikeun bank sampah ieu. Di dieu urang nungguan lanceuk senior urang balik ti dinya (punten pak bu untuk sementara kami masih menunggu surat izin dari pemerintah untuk mengoperasi Bank sampah ini. Ini kami sedang menunggu kaka senior kami pulang dari sana)," jelas Sinta yang ternyata berbicara bahasa mereka. Sinta bisa berbicara bahasa Sunda kerena daerah tempat tinggalnya juga sering memakai Sunda.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bang Kris dan Mba Lili datang bersama dengan seseorang yang berpakaian rapi dan sepertinya itu adalah Pak Kepala Pemerintahan Desa ini.
"Stop stop eureun, ulah ribut, hayu atuh ngajelaskeun (berhenti jangan ribut biar bapak jelaskan ya)," suruh pak kades pada warganya.
"Mereka ini adalah para mahasiswa sukarelawan dari Banyumas, mereka semua memiliki tujuan baik untuk memajukan desa kita dan mengurangi kebiasaan kita yang membuang sampah ke Ciliwung." Lalu Pak Kades menjelaskan pada warganya tentang tujuan kami.
"Kami tak setuju Pak, itu udah jadi kebiasaan kami dan akan selalu seperti itu," tolak salah satu warganya.
"Iya betul percuma saja," saut warga lain.
"Bapak-Bapak Ibu-Ibu bukan kah kita tak mau kalo desa kita terkena musibah banjir lagi. Dengan beroperasinya kembali Bank sampah kita setidaknya bisa tenang kalo ada hujan turun dan tak khawatir akan hadirnya banjir lagi."
"Selain itu kita juga bisa terbebas dari kurangnya air bersih dan terhindar dari penyakit kulit serta malaria. Apa kalian mau terus-terusan mengantri dan menunggu truk air bersih. tidak kan?" jelas Pak Kades panjang lebar berusaha menyakinkan para warganya.
"Halah pokoknya kami tidak setuju, mending kita bubar bubar aja dan ingat jangan ada yang datang menyetorkan sampahnya ke sini!" perintah Ibu-Ibu ber daster memberikan penekanan khusus pada warga yang lain. Semua warga setuju untuk tetap menolak dan memilih pergi dengan rasa kesal. Ternyata penjelasan dari Pak Kades tak di gubris sama sekali oleh warganya.
Bertepatan dengan demo nya para warga, ternyata Badrol, Domu dan Made menyaksikannya. Karena penasaran Badrol pun mencegat salah satu Ibu-Ibu dan bertanya tentang perihal yang sedang terjadi.
"Habis ada apa ya Bu?" tanyanya.
"Eh tunggu dulu Bu, maksudnya apa?" cegatnya sambil bertanya.
"Kita habis demo tentang bukannya Bank sampah kembali," jawabnya.
"Oh iya iya." Si Badrul langsung senyum-senyum sambil memegangi dagunya setelah mendengar berita itu. Sedangkan Ibu itu hanya menatap Badrul dengan tatapan heran sebentar lalu pergi melanjutkan langkahnya.
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵...
Kembali ke posisi ku dan teman-teman. Bank sampah sudah siap beroperasi sekarang. Kami semua menunggu sampai siang namun belum juga ada warga yang datang menyetorkan sampahnya. Tiba-tiba saja si Budi melihat seorang Ibu-Ibu yang membawa dua kantong kresek berisi sampah menghampiri kami. Kami semua pun merasa senang karena akhirnya ada yang datang. Wajah berseri-seri sudah tampak pada diri kami karena saking senangnya. Namun apa yang terjadi nyatanya Ibu-Ibu itu tak menghampiri kami melainkan berbelok ke arah sungai. Ibu itu lalu melemparkan sampah miliknya ke bawah.
"Hah salah arah kah?" pikir Budi heran.
"Bu buang sampahnya disini," teriak Frank memberi tahu.
"Heeh." Ibu itu menengok ke arah kami lalu memandang kami dengan tatapan sinis. Setelah itu dirinya membuang mukanya dengan kasar dan berjalan pulang kembali.
"Lah wkwk," ucapku sambil mengangkat alisku karena terasa di bohongi. Seketika aku pun jadi tertawa.
Tak hanya diriku semuanya jadi tertawa dan saling memukul satu sama lain.
"Ya Allah atiku wis seneng tengan tengan ora sida (ya Allah hatiku sudah senang ternyata eh ternyata gak jadi)," celetukku sambil mengusap air mata ku yang tiba-tiba saja keluar air mata.
"Iya Lam aduh dasar wong wong kuwe (orang-orang itu)," saut Budi sambil geleng-geleng.
"Ha-ha-ha kasian yang kena tipu." Si Badrul dan kedua temannya tiba-tiba datang meledek.
Kami yang melihat kedatangannya terkejut. "Badrul...? Ngapa ko ning kene (kenapa kamu di sini)? Melu nyambung nyambung wae kaya kabel pedot (ikut nyambung nyambung saja kaya kabel putus)," tanya Budi sambil menyindir.
"Suka suka aku lah," jawabnya santai.
"Dasar Berudul bocah ra genah (anak gak jelas)," celetuk si Frank.
"Kasian 'gak ada yang dateng ya lagian mikir dong ada yang mudah ngapa cari yang susah, jelas lah warga sini nolak orang buang sampah ke sungai lebih mudah ketimbang harus milah milah dulu apa lah itu dan bawa ke apa itu namanya bank sampah, pasti ribet lah," ledek si Badrul panjang lebar.
"Mending balik sana kamu Drul kalo gak ada urusan disini kita lagi 'gak mau ribut sama kamu," usir ku padanya.
__ADS_1
"Permisi Mas minggir," seseorang tiba-tiba saja datang dan dengan sengaja nya menabrak Domu yang ada di pinggir tumpukan sampah. Domu yang kurang keseimbangan akhirnya memilih berpegangan pada baju Badrul. Badrul yang merasa dirinya ditarik akhirnya juga berpegangan ke Made yang disampingnya. Karena sama-sama tak bisa menjaga keseimbangan mereka bertiga akhirnya terjatuh ke tumpukan sampah tadi.
"Bos Bos aku mau jatuh ini." Dengan cepat si Domu langsung meraih lengan baju Badrul untuk menahannya agar tak jatuh.
"Lah lah.... Gubrak." Tapi ternyata mereka jatuh bersamaan ke tumpukan sampah. Melihat itu semua kami jadi tak bisa menahan tawa. Si Frank seketika langsung tertawa kencang sampai terpingkal-pingkal senang melihat geng Badrul dalam derita
"Ha-ha-ha rasain," teriaknya meledek.
"Hush jangan tertawa diatas penderitaan orang lain wahaha," suruh Budi sambil tertawa juga.
"Eh stop stop udah jangan diketawain," perintah ku.
"Mas ini aku punya sampah aku setor sini kan?" Seorang warga tadi ternyata menghampiri kami dan bertanya padaku.
"Eh Bapak kemarin," ucapku terkejut tak percaya. "Iya Pak, setor sini," jawabku sambil mengarahkan nya ke tempat penyetoran sampah. Disana ada Mba Lili dan Bang Kris yang bertugas menangani penyetoran.
"Alhamdulillah akhirnya ada yang datang," ucap si Clara senang
"Yee...," si Sinta lalu mengajaknya tos bersama.
Tak tahu dengan keadaan si Badrul dengan kedua temannya itu, tau tau mereka sudah tak ada ditempat saat aku bertanya pada si Budi. Mungkin mereka malu dan langsung pergi begitu saja.
Dan benar saja sekarang geng Badrul sudah berjalan menuju ke mobil dengan sangat kesal sambil menggerutu sepanjang jalan. "Aish awas aja ya lam sudah buat aku jadi begini," gerutunya sambil membuang satu-persatu sampai kecil yang menempel di rambut dan badannya.
"Hii.... Bos bau," ledek Domu sambil menghindar.
"Kamu juga tau," celotehnya.
"Ha-ha-ha Bos dan Domu bau," ledek Made sambil nunjuk-nunjuk.
"Eh Made kamu juga apa gak nyium apa badan mu juga bau," tukas si Domu.
"Huwe." Si Made lalu mencium tubuhnya sendiri. Seketika dirinya langsung nyengir kuda, "kita semua bau haha," katanya sambil tertawa.
"Aneh," ledek Badrul, "ayo balik aku mau mandi 7 rupa biar ilang nih semua bau," ajaknya lalu berjalan duluan.
"Aku ikut Bos," teriak Domu yang meninggalkan Made di belakang.
"Lah tungguin aku dong." Made pun berlari mengejarnya.
...🪻🪻🪻🪻🪻🪻...
Gara-gara satu Bapak tadi yang menyetor kan satu kantong sampahnya. kini sudah banyak yang mencoba ikutan menyetor sampahnya juga. Pak Leman namanya, orang yang akhirnya bisa memancing beberapa warga untuk mengikuti tindakan nya. Pak Leman sempat bercerita pada beberapa warga lain kalo dirinya menghasilkan 100.000 dari hasil menyetorkan sampahnya. Para warga yang mendengar itu jadi tertarik dan mulai berbondong-bondong ikut pergi ke Bank Sampah.
"Mas Mas apa banar menyetor sampah bisa dapat uang?" tanya Ibu-ibu dengan antusias.
"Iya Bu kalo ibu mau menyetor ka sampah ibu seperti botol bekas, ember bekas, atau alat elektronik yang sudah terbuang juga bisa disetorkan ke sini," jawab Bang Kris menjelaskan.
"Barang-barang tadi memiliki nilai jual karena bisa di olah kembali nanti menjadi berbagai benda lain yang berguna," sambung Mba Lili.
"Wah kedengaran nya menarik," kata ibu itu dengan mata berbinar. "Baiklah aku sepertinya mempunyai beberapa sampah botol plastik dirumah aku mau bawa kesini, bentar ya." Ibu itu dengan cepat langsung pulang untuk mengambil sampahnya dan menyuruh kami untuk menunggu.
"Baik Bu kami akan tunggu," ucap Mba Lili sambil merapatkan telapak tangannya.
"Bapak tadi ternyata memancing semua orang untuk ke sini ya," ucap Bang Kris sambil menengok ke Mba Lili.
"Iya Kris, Bapak itu baik banget," balasnya sambil memuji.
"Wah akehe (banyaknya) padahal tadi sepi nyinyit (banget)," celetuk ku sambil keluar dari dalam ruangan. Aku cukup terkejut melihat banyak warga yang sudah mengantri di depan Bank Sampah sambil menenteng sampahnya masing-masing.
"Alhamdulillah deh warga nya udah pada sadar," ucap si Sinta lega.
"Udah sembuh mereka dari kesambet setan sampah," saut si Budi dengan candaan.
"Haha ana-ana wae kowe Bud," kata Sinta tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Dah dah jangan bercanda ayo bantu alam dan yang lainnya," suruh Bang Kris menghentikan mereka.
"Baik Bang," ucap mereka lalu pergi membantu ku dan lainnya.
Satu dua warga mulai berdatangan kami sampai kewalahan untuk menanganinya. Mereka sangat senang setelah selesai menyetorkan sampahnya. Bahkan ada Ibu-Ibu yang mendapatkan uang lebih dari 500 ribu dan memamerkan hasilnya kepada yang lainnya. Pasti nya mereka akan iri melihatnya dan karena tak mau kalah, mereka jadi kembali membawa sampah lain yang lebih besar nilainya.
Masalah untuk sementara terselesaikan. Semoga kedepannya akan terus begitu. Warga tak lagi membuang sampahnya ke sungai dan belajar memilah sampah terlebih dahulu. Pabrik pabrik disekitar semoga juga tak membuang limbahnya sembarangan lagi tanpa diolah terlebih dahulu. Jika alam bersih bumi pun akan semakin sehat tentunya. Jaga selalu Bumi kita ini ya kawan.
Bersambung......🌻🌻🌻
__ADS_1