BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 30 "Tugas Dadakan Ke Luar Kota"


__ADS_3

Pagi yang cerah di Purwokerto. aku dan Budi sekarang sedang mengendarai sepeda kami untuk menuju ke kampus. Sesampainya di kampus kami langsung menuju ke Ruang Klub. Entah akan ada apa kami berdua dipanggil kesana. Dipikiran ku mungkin akan ada diskusi seperti biasa. Kami berdua masuk dan menyapa dua cewek cantik temenku yang sudah di sana duluan.


"Pagi kanca-kanca! Iki rep ana apa ya (pagi teman-teman! Ini mau ada apa ya)?" sapa Budi sambil bertanya.


"Pagi Bud sing ceria! Aku gak tau akan ada apa?" balas Clara sambil menjawab.


"Paling diskusi maning (lagi)," tebak ku.


"Kayaknya Lam," timpal Sinta berpendapat sama.


"Weh weh ana (ada) kabar." Si Frank tiba-tiba berlari masuk sambil terengah-engah.


"Kabar apa Frank...? Be teka (baru datang) langsung gawe (bikin) penasaran," tanya Budi terheran-heran.


"Aku krungu (denger) pak Ali...." Frank tak melanjutkan perkataannya sebab pak Ali datang masuk ke ruangan dan akhirnya terpotong.


"Selamat pagi para mahasiswa yang bapak banggakan!" sapa Pak Ali sambil memuji.


"Selamat pagi Pak!" balas kami berempat.


"lho Pak Ali tumben kesini, apa ada pengumuman penting?" tanyaku terkejut.


"Iya bapak punya pengumuman tugas untuk kalian berempat," jawabnya.


"Sesuai dugaan ku," gumam Frank lirih.


Aku yang mendengarnya sedikit menengok dan menatap nya heran. Alam.... tiba-tiba diriku dipanggil dan pandangan ku jadi kembali ke depan.


"Budi, Sinta, Clara dan Frank...." eh ternyata bukan aku saja tapi semua temanku dipanggil. Kenapa? Ada apa? Kami semua bingung karena nama-nama kamu disebut tiba-tiba.


"Iya Pak Ali ada apa?" tanyaku mewakili.


"Kalian berempat akan melakukan tugas ke luar daerah untuk membantu warga disana supaya mengurangi sampah," jawabnya.


"Ah apa tugas iki kaya sing ning Desa Kranji waktu itu, Pak (ah apa tugas ini seperti yang di Desa Kranji waktu itu, Pak)?" tanyaku memastikan.


"Betul tapi ini sedikit berbeda," katanya, "kalian semua akan Bapak kirim ke Daerah Ciliwung. Daerah tersebut adalah daerah rawan banjir dan memiliki sungai yang kurang bersih," jelasnya.


"Daerah Ciliwung berarti daerah kali sing ana ning Bogor ya sing kotor e ora eram (daerah Ciliwung berarti daerah sungai yang ada di Bogor ya yang kotornya minta ampun)," ujar si Frank.


"Iya betul kalian akan melakukan survei ke sana dan akan didampingi oleh Lili dan Kris," katanya.


"Baik Pak kami akan melaksanakannya," ucapku setuju mewakili yang lainnya.


.


"Lili, Kris tolong pandu mereka nanti ya," pinta Pak Ali pada mereka.


"Baik Pak Ali, terimakasih karena telah mempercayai kami," ucap Bang Kris sambil menunduk.


Dan sekarang kami berempat sudah berpindah haluan berkumpul di kantin. Kami membahas tugas yang menurut si Frank berat.


"Lam ngapa kowe setuju nerima tugas sekang pak Ali," protes Frank padaku.


"Lah itu tugas kita sebagai penjaga alam ya harus siap terima tugas," jawabku.


"Tapi daerah Ciliwung itu be sampahnya banyak banget apa kita sanggup menguranginya," katanya.


"Kan kita bukan berempat Frank, ada petugas dari sana kita mah cuma sekedar membantu saja," jelas Sinta.


"Iya masa pak Ali tega biar na dewek (kita) nangani sendiri tanpa ana ne bantuan," timpal si Clara


"Bener juga," ucap Frank berpikir.


"Wis madang sit kalas adem bakso ku (udah makan dulu keburu dingin bakso ku)," sela Budi tiba-tiba.


"Iya iya," jawabku mengiyakan.


"Mangkat wayah kapan jere (berangkat jam berapa katanya)?" tanya si Budi sambil mengunyah baksonya.


"Mengke sore dewek langsung cus meng lokasi (nanti sore kita langsung cus ke lokasi)," jawabku.


"Aduh." si Frank membuat kami terkejut.


"Ngapa kowe (kenapa kamu)?" tanya si Budi padanya.


"Aku durung (belum) siap," jawabnya.


"Ya kudu (harus) siap Frank tugas negara kie (ini)," kata si Budi lebay.


"Halah kowe Bud wis kaya presiden bae (halah kamu Bud udah kaya presiden saja)," ledek si Frank padanya.

__ADS_1


Kami berempat tertawa bersama sambil melanjutkan makan.


...🚌🚌🚌🚌🚌🚌🚌...


Sore yang ditunggu-tunggu tiba. Kami sudah berada di kampus lagi untuk berangkat menuju ke lokasi. Sebelum berangkat, kami sudah sholat ashar terlebih dahulu dari rumah. Tidak lupa juga berdoa agar kami selamat sampai tujuan dan lancar semuanya. Aku juga tak lupa 'tuk mengabarinya orang tua ku bahwa diriku ada tugas ke keluar kota. Bapak ibuku pun turut mendoakan keselamatan kami.


Sedangkan disisi lain yang tak jauh dari tempat ku berada. Geng Badrol sedang memperhatikan kami dari warung kopi dekat kampus.


"Heh itu rombongan alam pada mau kemana?" tanya Badrol penasaran.


"Kepo lu Bos," ledek si Made.


"Lah aku bukan kepo cuma penasaran," tukasnya.


"Sama sajalah Bos," kata si Domu sambil menepuk jidatnya.


"Ah berisik lah ada yang tau mereka pada mau kemana?" tanyanya lagi.


"Emang Bos kagak tau, gak diberi tau sama paman mu," cerocos si Made.


"Gak, dia gak ada bilang," jawabnya.


"Ah ketinggalan, aku aja tau," kata si Made sombong sambil menyeruput kopinya.


"Ish cepet lah beritahu," ucap Badrol mulai kesal.


"Iya iya mereka dapet tugas dari pak Ali kata anak kelas sebelah bos," tuturnya.


"Tugas apa?" tanyanya makin penasaran.


"Mereka ada tugas untuk survei ke daerah Ciliwung katanya," jawab si Made.


"Ngapain mereka kesana, liburan??" Badrol makin terheran-heran dan penasaran dengan kami.


"Main sampah lah Bos bukan liburan bukan haha," jawab si Domu sedikit tertawa.


"Badrol diam sebentar, kita ikut juga yok," ajaknya tiba-tiba


"Hayya Bos mau main sampah juga kah kita," ucap Lang-Lang tak percaya.


"Gak lah kita kesana buat gangguin mereka," tukasnya.


Aku dan lainnya sekarang sudah berada di bis kampus. Barang bawaan kami sudah dimasukkan ke bagasi bis. Ada berbagai kebutuhan pokok juga untuk acara bansos disana. Iya ternyata selain kegiatan membatu mengurangi sampah, kami juga melakukan bansos untuk warga disana. perjalanan dari Purwokerto menuju Bogor sekitar 7 jam. Dan itu adalah perjalanan yang lumayan jauh untuk ditempuh. Kami berangkat pukul 5 sore dan akan sampai di lokasi pukul 11 malam.


Didalam bis kami tidak diam saja. Kami saling bercanda agar tak bosan. Bahkan kami bermain tebak-tebakan ala-ala. Bang Kris dan Mba Lili juga ikut serta bermain agar semakin seru.


Tebak-tebakan pertama diawali dari si Frank. Dan pertanyaan adalah, "hewan apa yang paling luas?" itulah pertanyaan yang dilontarkannya.


"Apa hewan paling luas gajah, perasaan gajah ra luas," pikir si Budi yang memutar otaknya.


"Aku ngerti kuwe ayam semesta, mbok (aku tau itu ayam semensta, kan)," jawabku langsung tanpa basa-basi.


"Halaa padu-padu ne jenenge Alam, bisa nebak bae (halaa mentang-mentang namanya Alam, bisa nebak saja)," ledek Budi padaku.


"Ya bisa lah siki gari aku ya, kali kali apa sing paling ayu pisan (ya bisa lah sekarang tinggal aku ya, sungai sungai apa yang cantik banget)? Sing (yang) bisa jawab tak kasih jajan e (snack) aku." Aku melontarkan pertanyaan sambil memberikan iming-imingan hadiah.


"Kali apa kali bedakan," tebak si Clara asal yang membuat kami jadi tertawa.


"Ha-ha-ha salah," ucapku yang masih tertawa.


"Apa sih Lam?" tanya Sinta yang mulai greget.


"Nyerah nyerah," suruhku sambil meledek.


"Sit Abang tau Kali Serayu udu (tunggu Kaka tau Kali Serayu bukan)," cegah Bang Kris sambil menebak jawabannya.


"Halaa deneng bisa nebak padahal aku seneng wong ayu kok ra bisa nebak ya (halaa kok bisa ketebak padahal aku suka orang cantik kok gak bisa nebak ya)," ucap si Budi yang merasa kecewa dan heran sendiri.


"Ngakak Bud Bud," ucapku tak berhenti tertawa.


"Hem deneng ngerti Bang, lah jajanku ilang siji (hem kok tau Bang, lah snack ku hilang satu)," ucapku yang merasa menyesal. Dengan berat aku memberikan salah satu snack ku padanya.


"He-he-he makasih Lam," ucapnya sambil terkekeh, "sekarang giliran Abang ya yang bisa jawab tak kasih 100.00," tawar Bang Kris dengan taruhan uang miliknya.


"Wih hadiah e duit kie (wih hadiahnya uang nih)," kata si Budi yang menjadi semangat.


"Hayu Bang pertanyaan e," suruh ku tak sabar.


"Kali kali apa yang susah tuk dilupakan?" Bang Kris sudah melontarkan pertanyaan tebakan nya. Kini tinggal kami yang berusaha berpikir mencari jawabannya.


"Lah kali maning, kali apa ya?" protes Frank sambil berpikir.

__ADS_1


"Bang selot suwe angel deneng (Ka lama kelamaan kok susah)," keluh si Budi.


"Penak kiye hayo satus ewu lho (mudah ini ayo seratus ribu lho)," goda Bang Kris pada kami.


"Kali apa kali ini ku tak bisa melupakanmu," jawab si Clara ngasal


"Halah malah bucin," ledek si Sinta.


"Hi-hi-hi-hi." Si Clara terkekeh.


"Kali mantan bukan Kris," sela Mba Lili yang tiba-tiba menjawab.


"Waduh Lili tau ternyata," ucap Bang Kris tak menyangka.


"Heee....Lili masa begitu tak tau, mana 100.000 ribu nya," katanya sombong sambil menagih hadiahnya pada Bang Kris.


Bis tiba-tiba saja berhenti didepan sebuah masjid. Acara tebak-tebakan pun berakhir. Ternyata ini waktunya sholat Maghrib. Kami semua turun dan melaksanakan sholat Maghrib dengan cara di qada bersama sholat isya. Aku tak tahu tepat kami semua sudah sampai mana. Tapi setahuku kami semua sudah menempuh 3 jam perjalanan. Setelah semuanya selesai sholat, kami masuk kembali kedalam bis.


Didalam bis kami tidak lagi bercanda, melainkan langsung pada tertidur lelap. Dan kini hanya tersisa satu orang saja yang masih terjaga yakni diriku. Sepanjang jalan aku hanya melihat pemandangan malam dari jendela bis. Ku tatap langit malam yang sepi tanpa adanya bintang. Namun suasana kota yang dilewati tak sesepi yang ku kira. Lampu jalan berkelap-kelip menggantikan bintang di langit. Warung-warung dan cafe pun juga masih ada yang buka. Ini adalah perjalanan pertama ku keluar kota. Perjalanan yang akan membawa ku dan teman-teman menuju pengalaman baru. Tak tersadar diriku juga terlelap dalam tidur.


...🌌🌌🌌🌌🌌🌌...


Pukul 23.00 waktu setempat. Akhirnya kami sampai juga di kota Bogor. Kami semua akan melakukan kegiatan esok pagi. Untuk sekarang kami pergi menuju asrama, tempat kami istirahat.


Bis berhenti tanda kami sudah sampai di tempat peristirahatan. Aku pun terbangun dan meluruskan jari-jemari ku sebentar. Setelah itu aku membangunkan Budi yang duduk di sampingku.


"Bud Bud wis tekan (sudah sampai), tangi (bangun) Bud." Diriku menggoyang-goyangkan tubuh si Budi dengan pelan.


"Apa Lam esih adoh sih (apa Lam masih jauh kah)," ucapnya yang masih merem melek.


"Wis tekan Bud hayu mudun (udah sampai Bud ayo turun)," ajakku.


"Kanca-kanca hayu pada tangi wis tekan kiye (teman-teman ayo pada bangun sudah sampai ini)." Aku berdiri lalu berjalan membangunkan yang lainnya.


Semua orang sudah terbangun. Mereka semua melenturkan pergelangan tangannya sebelum turun dari bis. Aku pun segera mengambil tas ku yang ku taruh di atas kursi penumpang. Kami semua sudah mengendong tas kami. Kami pun turun secara bergantian. Karena kami semua belum makan malam, kami pun pergi makan dulu barulah setelah itu kami pergi menuju kamar masing-masing yang sudah ditentukan.


"Alhamdulillah legane wis gutul (Alhamdulillah leganya udah sampai)," ucap Budi lega. Terlihat plang Asrama Jati Raya tertulis besar di pintu masuk asrama.


"Temen-temen karena kita belum makan malam jadi kita pergi menuju ke bagian prasmanan dulu baru lanjut ke kamar masing-masing." Bang Kris memberikan pengumuman sebelum masuk ke dalam Asrama.


"Siap bang!" seru kami.


Kami semua pun menuju ke ruang prasmanan. Disana kami mengambil lauk dan nasi sendiri sesuai dengan selera kami masing-masing.


"Hem.... keton (keliatan) enak-enak, pengen tak comot kabeh (semua)," celetuk si Budi yang terperangah dengan macam-macam hidangan didepannya.


"Aja kemaruk Bud (jangan serakah Bud)," saut Frank dari belakang.


"Secukupe wae Bud, mengko gari kewaregen turune ngeleder digugah angel (secukupnya saja Bud, nanti tinggal kekeyangan, tidurnya terlelap, di bangunkan susah)," saran ku padanya.


lah kowe wis kaya ibuku wae lam, katanya sambil mengambil paha ayam dan sayur kentang didepannya. Tak lupa dirinya juga mencomot 2 perkedel untuk sampingannya.


Diriku juga mengambil lauk yang sama seperti Budi. Namun aku tak mengambil perkedel melainkan bakwan jagung. Bang Kris dan lainnya juga mengambil lauk secara bergantian. Setelah selesai mengambil lauk dan nasi, kami pun duduk berhadap-hadapan di meja yang sudah bang Kris pilih. .


"Bud, kowe jimot jangan kentang cekelane malah kentang, kentang kabeh dadine ha-ha (Bud, kamu ambil sayur kentang pegangannya malah kentang, kentang semua jadinya ha-ha), ledek Frank padanya sambil tertawa kecil.


"Halah belih sing penting weteng ku wareg atiku seneng (ah biarlah yang penting perut ku kenyang hatiku senang)," tukasnya.


"Ko jimot (ngambil) apa emang Frank?" si Budi tiba-tiba mulai penasaran dengan lauk si Frank.


"Iwak bawal disanteni, enak pisan kiye (ikan bawal pake santan, enak banget ini)," jawabnya sambil menyendok nasinya.


"Hooo kowe apa Sin, Clar?" tanya si Budi yang mulai kepo dengan lainnya.


"Heh Bud makan saja makanan mu gak usah kepo in lauk kita," sela Bang Kris sedikit kesal.


"Halah iya iya Bang," ucapnya menurut.


"Wis mangan bae ra usah kakehen ngomong (udah makan saja gak usah banyak ngomong)," suruh ku padanya.


Kami semua pun melahap lauk masing-masing. Setelah selesai makan kami beranjak dan mulai mengangkat barang kami kembali untuk dibawa ke kamar. Kamar Asrama putra dan putri terpisah. Aku, Budi, Frank dan bang Kris naik kelantai atas untuk menuju kamar kami. Sedangkan para ciwi-ciwi menempati kamar yang ada di bawah saja.


Sesampainya di kamar kami berempat, kami langsung bergantian bersih-bersih. Di dalam kamar terdapat 2 ranjang tingkat. Satu ranjang tingkat berisi 2 kasur atas dan bawah. Aku memutuskan tidur di bawah sedangkan Budi diatas. Frank satu ranjang dengan Bang Kris yang berada tepat disebelah kami. Bang Kris lalu menaiki tangga menuju kasur atas sambil mengucap selamat malam.


"Selamat malam semua!" sapanya sambil menguap.


"Malam Bang," jawab kami bertiga.


Kami berempat mulai tidur. Berbeda dengan kamar para ciwi-ciwi mereka belum pada tidur. Seperti biasa mereka melakukan ritual perawatan muka terlebih dahulu sebelum tidur. Tak terasa kini sudah pukul 00.00 semua orang sudah mulai pada tidur semua. Tinggal menanti datangnya esok dan memulainya seluruh kegiatan yang mungkin akan panjang serta melelahkan.


Bersambung....🚃🚃🚃🚃

__ADS_1


__ADS_2