
Hari demi hari akhirnya warga desa mulai aktif mengumpulkan sampahnya dan di setorkan ke Bank Sampah. Karena sementara petugas bank belum ada, jadi anggota dari UKM Pencinta Alam sendiri yang akan jadi petugasnya sampai ada warga yang mau unjuk diri menjadi petugas Bank.
Petugas sementara dari kami adalah Bang Betrus, Frank dan Budi. Mereka mendapat tugas dari Bang Kris untuk menjadi petugas Bank Sampah sementara dulu. Tugas mereka ya seperti dikatakan sebelumnya yakni mencatat berat sampah yang disetorkan anggota, pengelola tabungan yang mencatat hasil setoran, dan yang terakhir adalah petugas yang melakukan negosiasi terhadap pengepul sampah kemudian menerima uang dari pengepul.
Warga desa juga ada yang turut membantu seperti Pak Handoko dan istrinya. Kami anggota UKM Pencinta Alam juga disana untuk mengarahkan warga desa yang mau menyetorkan sampahnya. Kepala desa juga datang mengecek setelah membuat buku tabungan bank sampah untuk warganya.
"Mas niki sampah sing sampun dikumpul aken, taruh pundi nggih mas? (Mas ini sampah yang sudah dikumpulkan, taruh mana ya Mas?)," tanyanya padaku sambil menunjukkan dua karung sampahnya.
"Mpun di pilah sampahe? (sudah di pilah sampahnya?)," tanya Bang Kris memastikan.
"Sampun (Sudah) Mas," jawabnya.
"Nek sampun, nulis daftar hadir kriyin nggih Bu, (kalau sudah, nulis daftar hadir dulu ya Bu)," suruhnya.
"Monggo Bu, (mari Bu)," Mba Lili mengarahkan Ibu itu ke tempat penyetoran.
"Bud Ibu iki (ini) di bantu ya," pinta mba Lili padanya.
"Siap Mba Lili," ucapnya.
"Bu, Ibu nulis nami ne Ibu teng niki nggih, (Bu, Ibu nulis namanya Ibu di sini ya)," suruhnya sambil menunjukkan buku daftar hadir dan mengarahkannya untuk menulis di lembar kertas yang sudah disediakan.
Ibu itu lalu menuliskan namanya, "Sampun (sudah) Mas," ucapnya setelah selesai.
Budi melihat mamanya yang tertera di kertas, "Bu Lasmi nggih (Ya)," ucapnya memastikan.
Ibu itu mengangguk mengiyakan.
"Nek sampun ibu kasih sampahe meng pak Handoko nggih (Kalau sudah ibu kasih sampahnya ke Pak Handoko ya)," suruhnya. Ibu itu lalu pergi ke arah penyetoran dan penimbangan.
"Bu, Ibu e sampah apa jere? (Bu, Ibunya sampah apa kalau boleh tau?)," tanyanya.
"Se kresek sampah botol plastik karo se kresek gelas plastik ora ana merek e, (satu kantong sampah botol plastik sama satu kantong gelas plastik tidak ada labelnya)," jawabnya sambil menunjukkan kedua kantong sampah yang dibawanya.
"Jo timbang sit (dulu)," suruhnya. Bejo adalah saudara dari pak Handoko yang tinggal satu Desa dengannya.
"Iya Pak," jawabnya.
"1 kg sampah botol plastik e Pak," ucapnya memberi tahu.
"1 kg berarti 5.000," ucapnya sambil menulis data yang sudah disediakan.
Lalu Bejo yang bagian mengurus penimbangan, menimbang kembali sampah yang satunya.
"Pada 1 kg gelas plastik langka (tidak ada) Lebel e (nya) 5000 yah," ucapnya memastikan.
"Iya Jo," Pak Handoko menulis kembali di kertas datanya.
"Wah sedina aku nabung sampahe olih 10000, akeh yah, (wah sehari aku nabung sampahnya dapat 10000, banyak yah)," pikir Ibunya.
"Wis ditimbang siki Ibu meng bagian pengelola tabungan ya, (dah ditimbang sekarang Ibu ke bagian pengelola tabungan ya)," ucap Pak Handoko memberi tahu lalu menyuruhnya untuk menuju ke bagian pengelola tabungan. Di bagian pengelola tabungan disana ada Bang Betrus dan si Frank.
"Bu niki tabungan ne sampun dados, disitu sampun tertera angka penyetoran sampah Ibu dina saiki nggih, (Bu ini tabungannya udah jadi, di situ sudah tertera angka penyetoran sampah Ibu hari ini ya)," ucap si Frank sambil memberikan sebuah tabungan yang telah diisi sebelumnya.
"Ibu, besok jangan lupa di bawa kembali buku tabungannya ya untuk tanda penyetoran," ucap Bang Betrus mengingatkannya.
"Iya Mas, matursuwun (Terimakasih)," ucapnya.
"Bu ini tong sampah buat ibu dari kami gratis,"
Tak lupa Mba Betti juga memberikan tempat sampah gratis pada Ibu Lasmi. Sebelumnya kami para anggota dari UKM Pencinta Alam telah mengumpulkan dana untuk membeli beberapa tempat sampah untuk dibagikan ke para warga. Mengingat perkataan Bu Sarti tentang sedikitnya warga yang memiliki tempat sampah dirumahnya.
"Alah makasih Mba," ucapnya senang.
"Iya Ibu," ucapnya.
Bu Lasmi hendak pergi tapi langkahnya terhenti karena dipanggil Bu Sarti.
"Bu Las," panggilnya.
Ibu Lasmi berhenti dan menengok.
"Eh Bu Sarti ana (ada) apa?" tanyanya.
"Olih akeh (dapat banyak) Bu Lasmi?" tanyanya balik.
"Alhamdulilah 10000 + tempat sampah gratis lumayan," jawabnya sambil senyum.
"Yo akeh (banyak) Alhamdulillah yah Bu," ucapnya ikut senang.
"Iya ternyata olih akeh (dapat banyak)," ucapnya tak mengira.
"Ngesuk setor maning ya, (besok setor lagi ya)," suruh Bu Sarti padanya.
"Iya Bu Sar. Mari," jawabnya lalu berpamitan.
Sekarang ada bapak-bapak yang menyetorkan sampahnya. Ia membawa sekarung tutup botol galon yang telah ia kumpulkan sebelumnya.
"Mas aku iki gawa sekarung tutup botol galon sing wis dikumpul na aku kait ganu, selah ngendi ya?, (Mas, aku ini bawa bawa sekarung tutup botol galon yang sudah dikumpulkan ku dari dulu, taruh mana ya?)," lapornya padaku.
"Pak Rohimin ngeneh (sini) ditimbang tapi ngisi daftar disit (dulu)," panggil pak Handoko yang ternyata mengenalnya.
"Olih akeh kae tah, (dapat banyak itu mah)," gumam Bejo sambil melihati karung yang dibawa Pak Rohimin .
Bapak tersebut lalu mengisi daftar hadir baru setelah itu, sampah punyanya ditimbang.
"2 kg," lapor Bejo pada Pak Handoko.
"1 kilo ne 3000 nek 2 kilo berarti 6000," ucapnya sambil menghitung lalu menyatakan di buku data.
"Wih akeh (banyak) Pak," kata si Bejo senang.
"Ya mesti," ucap Pak Rohimin sambil nyengir.
Bapak itu lalu pergi ke bagian pengelola tabungan, seperti Ibu tadi dirinya juga mendapatkan buku tabungan yang harus dibawanya setiap akan menyetor. Sampai seterusnya, ingat sampah-sampah yang disetorkan terdapat harga yang berbeda-beda tergantung jenis sampahnya.
Sekilas info:
Jadi, jika kita menyetorkan berbagai jenis sampah di bawah ini, terdapat harga yang kita dapat dari hasil penyetoran sampah kita.
Jika menyetorkan kertas buram atau campur dibeli bank unit dari nasabah seharga Rp 1.000 per kilogram. Kemudian majalah bekas Rp 600, dan kertas dupleks atau dus tipis dari warga Rp 300.
Untuk jenis limbah plastik, gelas plastik tanpa label dihargai Rp 5.000 per kilogram. Gelas plastik berlabel, mainan, bekas botol shampoo, emberan atau plastik kemasan yang bisa pecah, serta toples kue kering, seharga Rp 2000 per kilogram.
__ADS_1
Kelompok plastik bening, ember atau pot hitam, serta pipa paralon (PVC) seharga Rp 800. Adapun bekas tutup botol galon berharga Rp 3.000, dan tutup botol plastik bening Rp 2.800 per kilogram. Helm bekas, dispenser, dan penanak nasi elektronik, dihargai Rp 300 per kilogram.
Sementara limbah logam lebih mahal lagi, seperti panci alumunium Rp 6.000 per kilogram, tembaga bersih Rp 36 ribu, besi Rp 1.500, kaleng dan seng Rp 600 per kilogram, dan limbah stainless steel Rp 1.600 per kilogram.
Bayangan jika kita mengumpulkan sampah kita lalu disetorkan ke bank sampah, jika ditabung setiap hari pasti cukuplah untuk menambah biaya kehidupan sehari-hari.
Sampai waktu menunjukkan pukul 12.00 orang-orang masih berlalu lalang menyetorkan sampahnya. Mereka semua senang karena ternyata menyetorkan sampahnya tak sia-sia malah mendapatkan untung yang cukup besar.
...🍃☘️🍃☘️🍃☘️🍃...
Karena waktu menunjukkan tengah hari, kamu semua beristirahat untuk Shalat Dhuhur di Masjid. Setelah selesai Shalat Dhuhur kami kembali melanjutkan tugas kami di Bank Sampah.
Terdapat Ibu-Ibu yang protes pada kami saat hendak pulang setelah menyetorkan sampahnya, dirinya protes karena mendapat hasil yang sedikit setelah melihat hasil yang tertera di buku tabungan.
"Mas ini gimana katanya nyetor sampah dapat uang kok ini cuma dapat 600 perak doang," protesnya sambil menunjukkan angka yang ada didalam buku tabungannya.
"Lah emang 600 perak udu (bukan) duit ya," gumamku heran.
"Bu, Ibu memang menyetorkan sampah apa?" tanyanya.
"Padahal aku nyetor bekas rice cooker karo bekas helm," jawabnya.
"Ya iya Bu, memang ketentuannya seperti itu, helm dan rice cooker bekas harga per kilonya 300 perak Bu," jelasku.
"Lah bagaimana? Perasaan yang lainnya cuma bawa botol plastik bisa dapet 5000, 1000," protesnya lagi.
"Syukuri aja Bu, jika Ibu mau nilai yang banyak, Ibu bisa mengumpulkan sampah lainnya seperti botol plastik atau kertas yang sudah tak terpakai lah," ucap Mba Lili menasehati.
"Oh gitu Mbak, sudahlah besok aku setor yang banyak," katanya paham.
"Alhamdulillah," ucapku lega.
Ibu itu lalu pergi meninggalkan kami semua.
"Lam batiri (temani) aku yuh," si Budi tiba-tiba datang menghampiriku, meminta ku untuk menemaninya.
"Ngendi?(kemana?)," tanyaku.
"Nguyuh, wis kebelet, (kencing, dah kebelet)" jawabnya sambil menahan celananya.
"Lah gari dewekan ngapa, (lah tinggal sendirian napa)," ucapku beralasan.
"Ya wis ko (dah kamu) gantiin aku dulu," pintanya padaku.
"Iya wis nganah mbok metu kue, (iya, dah sana keburu keluar itu)," suruhku agar cepat.
Si Budi pun langsung pergi berlari ke masjid. Aku pun terpaksa menggantikan Budi yang pergi ke kamar mandi. Tapi sudah hampir 10 menit Budi belum datang juga. Karena aku mau menyusulnya, aku izin dulu ke Bang Betrus.
"Bang betrus aku pamit dulu mau nyusulin Budi," izinku padanya.
"Emangnya kemana lah si Budi juniorku?" tanyanya.
"Ke kamar mandi," jawabku.
"Ya sudahlah pergi saja," izinnya.
Di kamar mandi Masjid, si Budi masih disana baru mulai buang air kecilnya. Karena ternyata tadi si Budi tak langsung ke kemar mandi karena bertemu orang yang bertanya alamat padanya. Saat sedang menutup kancing celananya, dua orang lewat di belakang Budi.
"Cepetan kita kencingnya si Bos pasti sedang nungguin," suruh si Made sambil membuka kancing celananya.
"Domu, Made," karena mendengar suara yang familiar si Budi langsung menengok ke sebelah kanannya dan terkejut.
"Sialan si Budin," ucap si Made yang langsung menutup resleting celananya. Made sampai salah ucap nama gara-gara panik. Ngomong-ngomong Budin itu artinya singkong ya.
"Cepet kabur," suruh si Made pada Domu.
"Iya iya," si Domu juga langsung menutup resleting celananya sambil berlari keluar.
Karena buru-buru keluar dari kamar mandi. mereka berdua hampir saja menabrak ku saat mau mengecek si Budi.
"Wesh sing alon senggane, (et et pelan-pelan napa)," ucapku sambil cepat menyingkir.
"Bud wis rampung (dah selesai)," panggilku dari pintu masuk kamar mandi.
"Wis Lam, miki Domu karo Made udu? (dah Lam, tadi Domu sama Made bukan?)," ucapnya lalu bertanya memastikan.
"Mbuh kur lalar seliwat (gak tau cuma lewat selintas), tapi kayaknya iya," jawabku yang memang hanya melihat sekilas saja.
'Nek (kalau) bener, mesti si Samsung lagi di sini ini," duga si Budi sambil manggut-manggut.
"Udah ayo balik," suruhku.
"Iya," jawabnya.
"Halah Ashar hayu (ayo) sholat sit (dulu)," celetuk ku seketika berhenti karena mendengar suara adzan. Lalu aku mengecek jam di hpku dan terkejut karena waktu cepat sekali berlalu. Kami berdua pun memutuskan shalat terlebih dahulu baru kembali.
"Iya Lam," kata si Budi setuju.
Sementara di lokasi Bank sampah sudah sepi, karena orang-orang yang ada di sana sedang pergi untuk melakukan shalat ashar di masjid. Inilah kesempatan bagi Karyo, Sigit dan Wawan untuk meluruskan aksinya. Tak tanggung-tanggung mereka menuang semua sampah yang sudah ditimbang tapi belum menyelesaikan aksinya mereka bertiga kepergok oleh Pak Handoko.
"Yo, suntek kabeh apa?" tanya si Sigit padanya.
"Suntek lah asal gagian keburu wong-wong pada balik,(tuang lah asal cepetan keburu orang-orang pada kembali)," jawabnya sambil ikut menuangkan sampah di karung.
"Iya iya," jawab Sigit dan Wawan. Dengan cepat mereka bertiga menuangkan sampahnya kembali.
"Wis hayu lunga, esih aman, (dah ayo pergi, masih aman)," instruksi si Karyo pada kedua temannya.
Saat di Karyo dan kedua temannya ingin pergi, disaat itu juga Pak Handoko datang dan menangkap basah mereka bertiga. Pak Handoko tidak sholat di masjid melainkan shalat dirumah karena sekalian bersih-bersih. Makanya ia cepat kembali sebab ia sebelumnya izin pulang duluan saat sebelum adzan ashar berkumandang.
"Karyo, Sigit, Wawan mandeg ning kana," panggilnya sambil menyuruhnya berhenti.
"Gawat Pak Handoko lagi," ucap si Karyo sedikit kesal.
"Gimana, mlayu (lari) apa disini saja?" bisik si Sigit padanya.
"Iya Yo kepriwe (gimana) ?" timpal si Wawan.
"Kabur kabur aja," suruhnya agar melarikan diri saja dengan cepat.
"Malah kabur," ucap Pak Handoko marah.
"Kedikep kowe cah telu, (ketangkap kalian bertiga)," tiba-tiba saja Bejo datang tepat didepan mereka bertiga yang hendak berlari.
__ADS_1
"Jo gawa (bawa), lapor meng (ke) Pak Kades," suruh Pak Handoko sambil berteriak.
"Siap Pak," jawabnya sambil mendorong mereka bertiga agar maju.
Karyo dan kedua temannya akhirnya di bawa oleh Bejo ke Balai Desa. Sedangkan Pak Handoko pergi membereskan sampah yang sudah dituangkan, untung saja sampah belum terlanjur di campur. Tapi sebelum membereskan ia ingin mengambil data sampah tadi agar tidak salah. Eh ternyata dirinya lupa menaruh data sampahnya akhirnya ia memutuskan mencarinya terlebih dahulu.
"Perasaan aku taruh di atas meja sama daftar hadir kok gak ada, apa aku salah delah (taruh) yah," gumamnya sambil terus mencari.
Disaat Pak Handoko sedang mencari data sampah, Samsul dan kedua anteknya datang untuk melihat pekerjaan si Karyo dan kedua temannya beres atau tidak. Tapi ternyata dirinya kurang puas, lalu si Samsul menyuruh Domu dan Made mencampur semua sampah yang dituang Karyo agar tak sesuai dengan jenisnya. Sampah plastik campur dengan sampah elektronik, sampah kertas dicampur dengan sampah tutup botol, dan seterusnya.
Sedang saat mencampur sampah, Pak Handoko kembali karena mengingat kalau data sampahnya di taruh di atas meja dekat penimbangan. Dan disaat itu juga Pak Handoko lagi-lagi mendapati orang yang sedang mencampur sampahnya.
Pak Handoko sengaja diam-diam melangkah dari belakang mereka, si Samsul dan lainnya tak tahu kalau ada orang yang datang ke sana. Saat sudah dekat Pak Handoko langsung mengagetkan mereka bertiga.
"HAYO, lagi ngapain kalian," ucapnya mengagetkan mereka dari belakang.
Serentak mereka kaget dan ingin kabur tapi saat hendak kabur si Samsul dan kedua anteknya kesandung beberapa sampah di depannya sehingga mereka bertiga jatuh tersungkur bersama sampah-sampah disana. Mereka bertiga jadi malu sendiri.
...🍂🍁🍂🍁🍂🍁...
Nah saat si Samsul jatuh aku pas sekali datang bersama yang lainnya setelah Shalat Ashar.
"Hee kae deneng si Samsung pada urug-urugan haha lucu banget, (hee itu si Samsung kenapa pada tumpukan-tumpukan haha, lucu banget), ucap si Budi sambil tertawa menunjuk si Samsul.
Aku dan lainnya jadi ikut tertawa melihat si Samsul dan lainnya tersungkur bersama sampah-sampah.
"Sial ketangkap kita Bos," ucap si Made pasrah.
"Tak bisa apa-apa lagi ini aduh malu pula," timpal si Domu mulai merasa malu.
"Diam lah aku juga malu ini," gentak si Samsul.
Mereka bertiga beranjak dan berdiri. Mereka sudah tak bisa kabur lagi karena bertemu jalan buntu.
"Diem disitu," suruh Pak Handoko pada mereka bertiga.
"Wah ternyata mataku ora salah miki weruh Domu ro Made, mesti ana sing ra beres koh temenan, (wah ternyata mataku gak salah tadi lihat Domu sama Made, mesti ada yang gak beres eh ternyata bener)," ucap si Budi membenarkan dugaannya sendiri.
"Wah parah kalian bertiga yang mencampur semua sampah yang sudah dikumpulin ini," kata si Sinta sambil geleng-geleng kepala.
"Ish ish Samsul, kamu keterlaluan sekali," ucap si Clara ikut menggelengkan kepalanya.
"Sul kamu kan Anak Rektor tapi kenapa ada disini, malah berantakin sampah kamunya," tegur Bang Kris padanya.
"Oh ini taye yang namanya si Samsung," ucap Bang Opik sambil menatap mereka bertiga.
"Samsul Bang," ucapku membenarkan.
"Aku jadi ketularan si Budi manggilnya Samsung taye," katanya.
"Aduh junior ku ini sekarang bagaimana kau semua mau bertanggung jawab atau tidak," ucap Mba Betti sedikit merasa kesal.
"Pak Handoko kiye bocah telu kon beresi sampahe jere Pak Kades, (Pak Handoko ini anak tiga supaya beresin sampahnya kata Pak Kades)," suara Bejo tiba-tiba datang dari arah belakangku.
"Lah itu siapa lagi Pak?" tanyanya terkejut.
"Mereka bertiga tadi sama kaya bocah itu ngambrah-ngambrah (berantakin) sampah," jawabnya.
"Hualah wong anding maning, (hualah orang kemarin lagi)," ucap si Budi sedikit terkejut melihat Karyo dan kedua temannya.
"Kenal Bud?" tanya Mba Lili.
"Ya kenal Mba Lili, mereka itu yang kemarin buat keributan di kali sebelumnya," jawabnya.
"Jadi gimana Pak, Mas bocah telu kae arep melu dihukum kaya si Karyo karo batire ra?(jadi gimana Pak, mas anak tiga itu mau ikut dihukum kaya si karyo ra?)," tanya Bejo pada Pak Handoko dan Bang Kris.
"Pak aku aja dihukum lah aku be di prentah ning bocah telu kae, (Pak aku jangan dihukum lah, aku juga di suruh oleh anak tiga itu)," pinta si Karyo tak sengaja keceplosan bahwa dirinya itu disuruh oleh si Samsul.
"Bener gitu Sul?" tanya Bang Kris memastikan.
Si Samsul mengangguk sambil masih tertunduk tak mau mendongakkan kepalanya menghadap Bang Kris.
"Wah makin parah ini namanya untung ketangkep," ucap si Sinta makin kesal.
"Untuk hukumannya seperti yang dikatakan oleh Pak Bejo saja biarkan mereka membereskan sampahnya," kata Bang Kris setelah memikirkan hukuman yang cocok untuk si Samsul dan antek-anteknya.
"Baiklah Mas," ucap Bejo setuju begitu juga aku dan yang lainnya.
"Nganah cepet beresi aja sampe salah tak pandengi ning aku ngawasi kalian,(sana cepet beresi, jangan sampai salah tak lihat, tak awasi kalian oleh ku)," suruh Bejo pada mereka berenam yang sudah dikumpulkan di satu tempat.
"Iya iya Pak," jawab mereka berenam satu-persatu sambil menunduk.
"Sul bereskan yang bener jangan di berantakin lagi," suruh Bang Kris padanya.
"Iya Kak," jawab si Samsul nurut.
Mereka berenam akhirnya terpaksa membereskan semua sampahnya. Tapi si Samsul enggan menyentuh sampahnya. Tadi saja dirinya hanya menyuruh dua anteknya saja.
"Bos, macan mana kau ini hayo lah bereskan," suruh si Domu padanya.
"Nggak ah aku jijik," jawabnya.
"Haduh ayolah Bos, ini kan salah Bos juga," bujuk si Made.
"Heh Samsul cepat melu (ikut) malah diam aja," teriak si Karyo memperingatinya.
Karyo dan kedua temannya memiliki ide, mereka bertiga menarik Samsul dan kembali dirinya terungkap ke sampah. Sementara Karyo dan kedua temannya tertawa senang.
"Wah parah kalian bertiga main tarik Bos aja," bela si Made tak terima.
Made dan Domu pun melempar sampah botol plastik padanya karena kesal, merasa tak terima si Karyo dan kedua temannya pun membalas melempar kembali.
Kini si Karyo dan kedua temannya jadi bermusuhan dengan gengnya si samsul dan hendak berantem saling lempar sampah. Disaat itu juga Bejo datang untuk mengawasi mereka dan melihat mereka berenam akan tawuran sampah. Bejo pun berlari menghampirinya.
"Heh kalian semua malah sampahnya di buat tawuran cepet beresin," tegurnya keras.
Mereka berenam langsung diam dan berjejer menunduk.
"Cepat beresin lagi keburu malem, awas sampai malam nanti durung (belum) pada rampung (selesai), tak gitik kowe pada (tak sentil kalian pada)," ancamnya pada mereka berenam.
"Iya Pak," jawab mereka satu-persatu.
Mereka berenam kembali membereskan sampahnya. Dengan sedikit jijik si Samsul akhirnya ikut membereskan sampahnya dan memasukkan ke dalam karung kembali. Bejo masih berdiam diri mengawasi mereka disana sampai mereka selesai.
__ADS_1
Bersambung.........🍁☘️🍁☘️