
Senin harinya pukul 7. 00, aku masih berada di kos-kosan. Aku sudah lengkap dengan setelan kemeja kotak-kotak dan celana jeans hitam. Sebelum meninggalkan kos-kosan aku mengecek semua sudut ruangan apakah ada yang masih menyala atau tidak. Mulai dari kran kamar mandi, semua colokan serta lampu depan dan dalam rumah aku pastikan semuanya sudah di cabut dan di matikan.
Kalian tau kenapa aku melakukan semua itu. Tindakan itu juga bisa melindungi bumi dari musibah kekeringan dan menyelamatkan bumi dari pemanasan bumi yang meningkat. Dengan menghemat energi, bumi menjadi lebih dingin dan tidak terlalu panas. Panasnya bumi inilah yang akhirnya memicu terjadinya pemanasan global dari efek rumah kaca.
Tapi beda halnya dengan keadaan rumah si Samsul yang perbedaannya sangatlah jauh denganku. Si Samsul kini sedang berendam di bak mandi yang penuh dengan air. Lebih parahnya lagi tv di biarkan menyala sendiri padahal tidak ada yang menonton. Semua lampu masih terang benderang padahal hari sudah mau siang. Pak Samsudin juga sama dirinya lupa mematikan AC dan pergi begitu saja.
Di Universitas Jenderal Soedirman.
Aku dan Budi seperti biasa memarkirkan sepeda kami berdua sebelum masuk ke dalam. Sekarang kami berdua sudah berkumpul bersama di Kantin Kampus. Pembicaraan diawali oleh si Frank yang bergosip tentang tetangganya.
"Guys guys mulai siki pada ngirit listrik karo banyu ya (guys guys mulai sekarang pada irit listrik sama air ya)," ucapnya memberi tahu.
"Emang ngapa (kenapa) Frank?" tanya si Clara penasaran.
"Mbok kaya tanggaku gara-gara nganggo listrik berlebihan tagihan listrik e dadi bengkak (takut seperti tetangga ku gara-gara make listrik berlebihan tagihan listrik nya jadi bengkak)," jawab si Frank bergosip.
"Jerene deweke petengan sewengi golet klambi ngantek gramakan gara-gara ra ana lampu (katanya dirinya gelap-gelapan semalam nyari baju sampe raba-raba gara-gara gak ada lampu)," tambahnya.
"Halah kudu ngirit kie aja boros-boros listrik (halah harus ngirit ini jangan boros-boros listrik)," ucap si Budi.
"Mulane cah hemat listrik nek bisa ya hemat banyu juga kon kepenak (makanya hemat listrik kalau bisa ya hemat air juga supaya nyaman)," ucapku memberikan solusi.
"Carane piwe?(caranya gimana?)" tanya si Frank ingin tahu.
Aku tersenyum dan memberikan tipsnya pada temen-temen ku supaya hemat listrik dan air.
"Cara ne sing pertama matik na lampu karo alat elektronik sing ra di denggo, nek bisa aja nyalak na kipas angin suwe-suwe malah nek bisa maning kipasan e diganti karo kipas biasa kaya Ilir apa pake tugelan gerdus (caranya yang pertama matikan lampu sama alat elektronik yang gak di pakai, kalau bisa jangan nyalakan kipas angin lama-lama malah kalau bisa lagi kipasnya diganti sama kipas biasa kaya Ilir apa pake tugelan kardus)," jawabku menjelaskan. Ilir itu kalau yang gak tau bisa nyebutnya kipas tukang sate ya.
"Ya ra kerasa Lam (ya gak terasa Lam)," tukas si Budi.
"Ya kerasa bae di kenceng goli ngipasi tapi aja kekecengen juga mbok tangan ne tugel (ya terasa saja di kenceng ngipasinya, tapi jangan terlalu kencang juga takutnya nanti tanganmu patah)," bantahku sambil bercanda.
"Mbuh lah Lam (au ah Lam)," kata si Budi kesal.
"Hehe," aku tertawa kecil sebentar. "Terus sing ke loro nek adus aja kesuwen aja boros air secukupnya wae. Terus yang ketiga copot colokan sing wis ra denggo, lan sing terakhir hemat BBM mulane selain ramah lingkungan sepeda juga bisa ngirit biaya (terus yang kedua kalau mandi jangan kelamaan jangan boros air, secukupnya saja. Terus yang ketiga copot stopkontak yang sudah tidak dipakai, dan yang terakhir hemat BBM, makanya selain ramah lingkungan sepeda juga bisa ngirit biaya)," jelasku kembali.
"Oh kaya kuwe (oh seperti itu)," ucap temen-temen sambil mangut-mangut.
"Mudah mbok (kan?)," ucapku simpel.
Temen-temen ku pada manggut-manggut berbarengan lagi tanda mengerti.
Di sisi lain Samsul dan kedua anteknya malah sedang mengerjai pak Udin yang asyik menyirami tanaman di halaman belakang. mereka bertiga mulai berbuat usil dengan mematikan air yang sedang digunakan oleh pak Udin untuk menyiram. Pak Udin pun jadi bingung karena selang air yang di sambungkan nya tak keluar air. Karena heran dan juga penasaran, dirinya mengintip lubang selangnya dan di kibas-kibas supaya airnya keluar.
"lho banyu ne kok mati (lho kok airnya mati)," ucapnya heran.
Disamping itu, Samsul mulai menghitung dengan jarinya dan pada saat hitungan ketiga air di nyalakan kembali. Alhasil air muncrat ke wajah pak Udin karena ujung selang tepat di depan mukanya.
"Hwaasemm," teriaknya terkejut. Dirinya lalu menyeka wajahnya menggunakan lengan bajunya.
Pak Udin lalu melihat si Samsul bersama kedua anteknya dan mengetahui bahwa merekalah yang telah mengerjainya.
"Den Saamsull.... awas kalian bertiga tak omong na Bapak Rektor," teriaknya sambil menunjuk si Samsul dan temannya.
"Gawat kabur kabur," suruh si Samsul cepat-cepat. Dirinya melihat pak Udin hendak mengejarnya makanya dia menyuruh agar segera kabur dan menghindar dari masalah.
"Weladalah malah mlayu (lari)," marah Pak Udin sambil membuang selangnya. "Mandeg ko pada (berhenti kalian)," teriaknya lalu berlari mengejar mereka bertiga. Selang yang dilemparnya masih mengalirkan air. Pak Udin meninggalkannya begitu saja sebab beralih mengejar si Samsul dan kedua anteknya itu.
Hampir setengah jam air di biarkan mengalir membanjiri halaman belakang kampus. Pak Ali kebetulan melewati halaman belakang untuk pergi ke kantornya. Dirinya seketika terkejut melihat banyak genangan air di area itu. Dengan segera dia langsung berlari untuk mematikan kran yang disambungkan ke selang tersebut.
"Siapa ini yang membiarkan air tetep nyala? Untung aku datang," tanyanya bingung sambil menutup kran air.
"Banjir kesampak (keseluruhan)," katanya sambil berkacak pinggang dan menggeleng-geleng melihat halaman yang sudah menggenang.
"Pak Udin mana lagi..?," gumamnya.
"Cek cek cek cek," decak Pak Ali masih berkacak pinggang.
"Mubazir banyu ne (airnya) di ubah ubah," ucapnya.
Sementara Pak Udin sedang berjalan kembali sambil ngedumel sendiri.
"Dasar kampret si Samsul, anak rektor kok bandel temen (banget)," gerutunya setiap jalan.
"Eh Udin sini kamu," teriak Pak Ali karena melihat Pak Udin. Dirinya mengangkat tangan dan menyuruhnya untuk kesana.
"Alah Pak Ali mesti gara-gara banyu (air), duganya sambil berjalan cepat lalu berlari.
"Ini kenapa air selang gak di tutup banjir kan pak Udin?" tegur Pak Ali sambil bertanya.
"Maaf Pak Ali aku lali (lupa) gara-gara ngudag (ngejar) si Samsul," jawabnya.
"Apa anak pak Rektor bikin ulah lagi?" tanyanya.
"Iya Pak dia karo batire ngerjani aku (iya pak dia sama temennya ngerjain aku)," jawabnya.
"Maaf ya Pak Ali, suwun wis di pitet na (maaf ya Pak Ali dah repot-repot di tutupkan)," maaf pak Udin sambil merapatkan kedua tangannya.
"Iya ya wis aku lunga pamit (iya iya dah aku pergi pamit)," kata Pak Ali lalu pamit pergi.
"Nggih Pak monggo (iya pak silahkan)," ucap Pak Udin mempersilahkan.
...🌞☀️🌞☀️🌞☀️...
Sore harinya pukul 17.00 di Kos-Kosan Cempaka.
Bu Lastri tiba-tiba memberikan pengumuman dadakan mengenai peraturan Kos-Kosan yang baru terkait pemakaian listrik dan air.
"ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKATU," ucapnya keras sampai terdengar ke telinga orang-orang yang ada di dalam dan di luar kamar.
"Waalaikum salam warahmatullahi wa barakatu," balas para penghuni yang mendengarnya.
__ADS_1
"WARA WARA bagi penghuni kos-kosan cempaka untuk mulai hari ini dan detik ini pula pemakaian listrik dan air di batasi. Pemakaian listrik akan di tutup pukul 9 malam oleh ibu sendiri dan pemakaian air yang secukupnya saja. Mohon atas perhatiannya dikarenakan tagihan listrik dan air yang semakin tinggi hemat listrik dan hemat air. Sekian pengumuman dari saya selaku pemilik kost di sini. Terimakasih, WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKATU". Bu Lastri selesai memberikan pengumumannya. Ia pun kembali ke aktivitasnya semula. Wara Wara menurut bahasa Indonesia berarti pengumuman-pengumuman.
Sedangkan dikamar ku. aku sedang mengademkan diri dengan kipas manual dari selembar kardus. diriku langsung menghentikan pergerakan tanganku karena mendengar sebuah pengumuman tersebut. aku mendengarkan pengumuman dengan seksama dan serius. Padahal disisi ku ada sebuah kipas angin tapi aku memilih menggunakan selembar kardus untuk mengipasi diriku. Dengan begini pasti biaya selama aku ngekos bisa berkurang karena aku sudah hemat listrik dan air pula.
Malam harinya tepatnya jam setengah sembilan. Aku pergi ke kamar Budi untuk mengerjakan tugas skripsi bersama. Dirumah Budi masih menyala tapi saat sampai aku langsung mematikan lampu dan menggantinya dengan sebatang lilin. Si Budi yang melihat tingkahku langsung protes.
"Lam ngapa di pitit mbok esih ana setengah jam maning be olih di pitet (Lam kenapa di matiin kan masih ada setengah jam lagi baru boleh di matiin)," protesnya.
"Lah belih ngirit (lah biarin ngirit)," bantahku. "Eh ko deneng esih nganggo klambi miki Bud? (eh kamu kok masih pake baju tadi Bud?)," tebak ku sedikit terkejut dan bertanya karena melihat Budi yang masih memakai baju tadi pagi.
"Hehe iya aku ra adus Lam (hehe iya aku gak mandi Lam) jawabnya mengaku sambil cengar-cengir.
"Ih jorok e," ucapku sedikit jijik.
"Udu jorok Lam aku ngirit banyu jere kon ngirit (bukan jorok Lam aku ngirit air katanya harus irit)," elaknya.
"Ya ora kaya kuwe juga Bud Bud (ya bukan seperti itu juga Bud Bud)," ucapku setengah heran.
"Irit ya irit gunakan air secukupnya Bud udu malah ra adus (bukan malah gak mandi)," ucapku menasehati.
lagi-lagi si Budi hanya cengengesan cengar-cengir.
"Wis hayu garap (dah ayo ngerjain)," aku lalu mengajaknya untuk mengerjakan skripsi saja.
"Kie petengan bae?(ini gelap-gelapan aja?)" tanya si Budi memastikan.
Aku mengangguk sambil meletakkan tas ku di lantai lalu duduk.
"Lam aku ngerasa dadi kaya lagi ngepet ana lilin ana sing jaga (lam aku merasa jadi kaya lagi ngepet ada lilin ada yang jaga)," pikirnya.
"Iya Bud. Ko ya sing dadi babi ne ya (kamu ya yang jadi babinya ya)," canda ku menimpali
"Sem...barangan ko (kamu) Lam," sangkalnya cepat sambil mendorong ku hingga aku terjengkang. Aku dan Budi jadi tertawa bersama sebentar di gelapnya malam.
"Wis wis lah hayu hayu mulai. Canda wae (dah dah lah ayo ayo mulai. Canda saja)," ajakku pada si Budi.
Aku dan Budi memulai mengerjakan tugas skripsi masing-masing. Emang benar kami berdua seperti sedang melakukan ritual di tengah-tengah lilin yang menyala. Tapi ini juga mengingatkan ku tentang orang jaman dahulu yang sangat hemat listrik, bahkan dulu orang belum mengenal listrik mungkin. Mereka dulu menggunakan lentera atau lilin sebagai penerangan.
Di sela-sela kami berdua mengerjakan tugas skripsi, si Budi teringat dengan kondisi warga Israel yang pasti sedang kekurangan air bersih di sana. Temanku ini melamun sambil bergumam sendiri.
"Hufh aku ra adus be di arani jorok kepriwe karo nasib bocah Israel sing ra duwe banyu nggo adus (huh aku gak mandi di katain jorok bagaimana sama nasib anak Israel yang gak punya air buat mandi)," gumamnya sambil sangga janggut.
"Heh Bud ngapa ngalamun mikir na utang? (heh Bud kenapa ngelamun mikirin hutang?)," tebak ku sambil menggetok kepalanya menggunakan pulpen.
"Aku ra duwe utang Lam (aku gak punya hutang Lam)," bantahnya.
"Lah terus," ucapku makin penasaran.
"Aku kuwe lagi bayang na nasib e bocah Israel sing pada kurangan banyu pada mati gara-gara kena DBD (aku ini lagi membayangkan nasibnya anak Israel yang pada kekurangan air pada mati gara-gara kena DBD)," jelasnya.
"Iya Bud gara-gara wilayah e sing jarang udan dadi pada kena musibah kekeringan, dewek kudu ne bersyukur esih bisa nganggo listrik ro banyu walau di batesi (iya Bud gara-gara wilayahnya yang jarang hujan jadi pada terkena musibah kekeringan, kita harusnya bersyukur masih bisa pake listrik dan air walau di batasi)," timpalku menambahkan.
"Iya Lam," ucapnya mengangguk.
"Amin Lam," ucapnya sambil menempelkan tangannya ke muka.
Kami berdua melanjutkan tugas kami sampai akhirnya aku pulang dengan menggunakan senter untuk penerangan jalan menuju kamarku.
Sedangkan di rumah Samsul, si Samsul sudah tidur dengan posisi tv masih menyala yang kini beralih menonton dirinya. Lampu dibiarkan menerangi dirinya tanpa dimatikan terlebih dahulu. AC pun di nyalakan full untuk mendinginkan ruangan karena dirinya sebelumnya merasa panas. Padahal sudah larut malam tapi lampu masih menyala dan tak di matikan. Air kran kamar mandi pun pak Samsudin lupa mematikannya.
Untuk sementara waktu memang hanya dia dan Bapaknya yang tinggal dirumah. Sementara ibunya Samsul sedang shopping shopping healing healing bersama teman sosialitanya di luar negeri dan entah kapan pulang. Sebenarnya tindakan inilah yang memicu bengkaknya tagihan listrik. Dan korban pembengkakan listrik selanjutnya mungkin akan dialami rumah Samsul.
...✨✨✨✨✨✨...
Benar saja pagi harinya listrik rumah Samsul mati seketika. Si Samsul yang sedang asyik keramas jadi berhenti karena air di shower tiba-tiba berhenti. Dirinya belum sempat mandi karena ia keramas dahulu. Eh tapi ternyata keramas pun tak usai. Ia pun kesal dan langsung berteriak memanggil Bapaknya
"Ayah Yah Yah kenapa airnya mati," teriaknya berkali-kali
"Cepat tolong aku perih ini mataku," suruhnya masih berteriak.
"Ayah juga gak bisa nolong, ayah lagi ribet cari baju kerja ini gak nemu-nemu mana gelap lagi," teriaknya balik.
"Apa listrik juga mati Yah?" tanyanya sambil berteriak.
"Iya," jawabnya keras.
Ternyata tidak hanya air yang mati listrik pun ikutan mati. Pagi masih dikatakan awal karena jam baru menunjukkan pukul 05.00. Suasana di luar juga masih gelap gulita. Pak Samsudin penasaran apa listrik yang mati cuma terjadi di rumahnya apa tidak. Saat dirinya menengok ke luar jendela dirinya sangat marah dan terkejut karena ternyata hanya rumahnya saja yang mati sedangkan
rumah orang lain tidak.
"Hwaasemm ternyata aku seorang yang rumahnya mati listrik," marah Pak Samsudin sambil menutup korden kembali.
"Apa aku belum bayar listrik?" pikirnya.
"PING" suara notifikasi handphone Pak Samsudin berbunyi.
Dirinya ternyata mendapat pesan dadakan dari Kantor PLN yang memberi tahu bahwa tagihan listriknya bengkak sampai 68 juta. Secara otomatis Pak Samsudin langsung terkejut karena tagihan listrik nya banyak banget sampai segunung. Dengan cepat ia langsung protes ke pln lewat telepon.
"Ini gimana tagihan ku kok sampai segini 68 juta banyak banget, kalian pasti salah nomer ini," protesnya tak terima.
"Permisi bapak dengan bapak Samsudin," ucap Petugas PLN memastikan.
"Iya," jawabnya ketus.
"Sabar pak biar kami jelaskan," suruh Petugas PLN.
"Baik silahkan di jelaskan," ucapnya menurut dengan nada kesal.
"Bisa-bisanya main cabut listrik orang," gumamnya lalu mendengarkan penjelasan Petugas PLN lewat teleponnya.
"Bapak ini sudah sangat sering dan bahkan lalai untuk mematikan listrik di rumah bapak. Karena kelalaian bapak lah yang membuat tagihan listrik menjadi bengkak," jelasnya.
__ADS_1
"Terus kenapa PAM Air ku juga mati?" tanyanya mengenai masalah airnya yang mati.
"Oh setahu saya untuk seluruh wilayah Purwokerto PAM air mati gara-gara ada longsor di wilayah Baturraden," jawabnya menjelaskan.
"Oh begitu baiklah saya akan membayarnya tapi tidak sekarang tunggu saya ambil uang di ATM," ucapnya setuju untuk membayar tagihan yang melejit itu.
"Baik pak kami akan menunggu. Terimakasih," Petugas PLN mengakhiri teleponnya.
Pak Samsudin menutup teleponnya. Samsul yang tadi dikamar mandi sudah keluar dengan keadaan rambut masih penuh busa dan hanya handukkan saja. Dirinya lalu bertanya tentang masalah rumahnya yang mendadak gelap itu.
"Yah sebenarnya ada apa? Kenapa listrik dan air di rumah kita mati?" tanyanya setelah keluar kamar mandi.
"Ini semua pasti gara-gara kamu, kamu selalu tidak mematikan televisi dan membiarkannya menyala menonton kamu," tuduh Pak Samsudin langsung ke anaknya.
"Kok salah aku Yah. Emang sebenarnya ada apa?" si Samsul merasa bingung dan bertanya sekali lagi karena belum mengerti.
"Listrik kita bengkak Sul sampai 68 juta itu banyak banget," jawabnya dengan nada setengah kesal.
"Yah itu bukan salah aku juga, ayah juga lalai untuk mematikan AC dan pergi begitu saja bahkan lupa mematikan air kran," ucap si Samsul balik menyalahkan ayahnya.
"Terus maksudmu ini salah kita berdua," marah Pak Samsudin tak percaya.
"Ya mana saya tahu, udahlah aku mau minta air minum buat basuh rambutku," elaknya lalu pergi ke dapur.
Samsul lalu mengambil air putih untuk membasuh rambutnya. Dirinya lalu bersiap ke kampus dengan pakaian seadanya.
Sementara diriku dan Budi sedang akan berangkat ke kampus. Seperti biasa aku selalu menunggu Budi di depan kamarnya.
Budi keluar dan langsung menaiki sepeda miliknya. Kami berdua pun berangkat, tapi tiba-tiba Bu Lastri memanggil kami berdua dari belakang. Aku dan Budi pun langsung menghentikan laju sepada kami.
"Lam Bud tunggu dulu ibu mau ngomong," teriaknya sambil berlari.
"Ana (ada) apa Bu Las?" tanyaku sambil menengok.
"Heh apa kowe pada wingi wengi ngepet? (heh apa kalian tadi malam ngepet?)" tanyanya seketika yang membuat kami berdua terkejut.
"Astaghfirullah hal aadzim Ibu jere sapa (kata siapa)?" sangkal ku langsung, sambil balik bertanya.
"Ora, ibu soale wingi wengi weruh ko cah loro pada petengan ning kamare ko Bud lagi pada ngapa nek udu ngepet (bukan, ibu soalnya tadi malam lihat kamu berdua pada gelap-gelapan di kamarnya kamu Bud, lagi pada ngapain kalau bukan ngepet)," jelasnya masih menduga.
"Ya udu lah Bu aku karo Alam wingi wengi ngerjak na tugas (ya gak lah Bu aku sama Alam tadi malam mengerjakan tugas)," bantah si Budi menjelaskan.
"Ko sih Lam nyuruh Kon mateni lampu mbok temenan gawe salah paham wong (kamu sih lam nyuruh supaya matiin lampu kan beneran buat salah paham orang)," ucap si Budi beralih menyalahkan ku
"Iya Bu kami berdua ngerjain skripsi tadi malem, tapi aku nyuruh Budi kon mateni ( supaya matiin) lampu dan nganggo lilin bae kon irit (pake lilin saja biar irit)," jelasku kembali agar salah paham ini selesai.
"Oalah kaya kuwe toh, maning maning tah ngomong karo ibu engko tak denehi jatah lewih nganggo listrik daripada nganggo lilin engko wong-wong pada salah paham kaya ibu (oh begitu ternyata, lagi-lagi tah bilang sama ibu, nanti tak kasihi jatah lebih pake listriknya daripada pake lilin nanti orang-orang pada salah paham seperti ibu)," ucap Bu Las menasehati.
"Untung ibu sing weruh kepriwe nek penghuni kos sing liya apa ya ora heboh (untung ibu yang lihat bagaimana kalau penghuni kos yang lain apa ya gak heboh)," tambahnya.
"Iya Bu aku karo Budi bakalan ngomong nek arep nganggo listrik lewih, maaf ya Bu gawe Ibu duga sing ora-ora (iya Bu aku sama Budi bakalan ngomong kalau mau pake listrik lebih, maaf ya Bu buat Ibu duga yang tidak-tidak)," ucapku menurut dan langsung meminta maaf karena telah membuatnya berpikiran negatif.
"Iya ibu maafkan wis sana berangkat mbok telat," Bu Las memaafkan kami lalu menyuruh ku dan Budi supaya berangkat ke kampus.
"Iya Bu, kami pamit yo assalamualaikum," pamit ku sambil menekan pedal sepeda. Si Budi pun sama pamit dan mengikuti ku dari belakang.
"Waalaikum salam ati-ati," balas Bu Las sambil berpesan.
Di Kampus Jenderal Soedirman
Aku dan Budi sudah berkumpul kembali dengan teman-teman lainnya. Kami berlima berjalan bersama memasuki kelas dan melewati si Samsul yang sedang nongkrong di depan kelas. Terlihat kedua anteknya menertawai penampilan si Samsul yang aneh dan berbeda. Dirinya yang biasa kelihatan sok cool dan keren berubah jadi orang yang sangat beda. Si Samsul hanya memakai kaos oblong bisa dan celana pendek dengan rambut yang setengah berantakan. Dirinya juga dituduh tidak mandi oleh si Made.
"Bos Bos tumben kali pakai baju biasa dan tak tampak aura cool nya," panggil si Domu pada bosnya yang tengah duduk di bangku depan kelas. Dirinya tampak heran melihat penampilan Bosnya yang tak seperti biasanya.
"Iya Bos, Bos bahkan terlihat kaya belum mandi," timpalnya menebak. "Apa Bos gak mandi ke kampus?" lanjutnya bertanya. Mereka berdua akhirnya melepaskan tawanya karena tak sanggup untuk menahannya lagi.
Si Samsul hanya diam saja saat di tanyai dan ditertawakan oleh kedua temannya itu. Dirinya sepertinya pasrah dan emang tak ada mood untuk meladeni mereka. Si Budi yang mendengar Made mengatakan Bosnya gak mandi otomatis langsung meledeknya.
"Hah Sung kowe ra adus hii.. jorok e (hah Sung kamu belum mandi hii.. joroknya)," ucapnya terkejut dan langsung mengejeknya.
"Iya Bos ku kayanya gak mandi, kenapa Bos?" timpal Made setengah tertawa lalu beralih bertanya pada Bosnya.
"Berisik kamu De," suruh si Samsul marah.
"Iya lah Bos cerita kau kenapa sebenarnya," bujuk si Domu juga ingin tahu.
"Listrik ku bengkak," jawabnya singkat.
"Haha haide kena korban pembengkakan listrik ternyata," tebak si Frank sambil tertawa.
"Diem kamu Frank," suruhnya. "Lagian kenapa aku harus bilang juga sama geng mu itu," pikir si Samsul.
"Sul mesti kamu boros listrik dan air makanya listrik mu bengkak," duga ku.
"Sok tau kamu Lam," elaknya.
"Kalau bukan itu apa Bos?" tanya si Made lagi.
"Gara-gara lupa matiin tv semalem listrik jadi mati seketika," jelasnya.
"Hem itu namanya pemborosan listrik Sul," ucapku memberi tahu.
"Macam mana pula Bos ini sama saja lah makanya bos seperti aku yang tak pernah nonton tv. Nonton hp aja sambil di cas," ucap si Domu memberikan solusi absurd nya.
"Eh Domu sama sajalah menggunakan stop kontak berlebihan juga termasuk boros listrik apalagi setelah di pakai tak di cabut," kataku sambil menduga kembali.
"Eh tau aja kau Lam," ucapnya mengaku sambil cengengesan.
"Hem antek sama Bosnya sama aja," ucapku heran sambil menggelengkan kepala ku. Bukan hanya aku saja yang lainnya pun ikut geleng-geleng heran dengan sifat mereka.
Nah temen-temen makanya jangan boros listrik dan air ya kalau gak mau seperti si Samsul yang listrik rumahnya bengkak sampai segunung. Untuk sekarang Pak Samsudin juga sudah membayar tagihan listrik tersebut walaupun hanya setengahnya. Ia pun berjanji pada petugas PLN untuk lebih hemat lagi menggunakan listrik dan air.
__ADS_1
Jadi ingat ya kawan untuk hemat dalam pemakaian listrik agar tak rugi sendiri dan hemat juga dalan menggunakan air supaya Bumi tercinta kita ini terhindar dari musibah kekeringan.
Bersambung.......💦💦💦