BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 17 "Alam Di Landa Kebingungan"


__ADS_3

Di Ruang UKM Pencinta Alam kembali.


Pagi hari aku sudah berada di ruang UKM bersama yang lainnya. Bang Kris memanggil kami semua sebab akan ada pengumuman penting. Aku dan teman-teman masih menunggu kedatangan Bang Kris di ruangan. Sambil menunggu kami berempat mengobrol terlebih dahulu.


"Heh arep ana apa ya deneng bang Kris nyeluk kita? (heh mau ada apa ya tiba-tiba Bang Kris manggil kita?)" tanya Budi penasaran.


"Mbuh Bud. Enteni wae (gak tau Bud. Tunggu saja)," jawabku tak tahu dan menyuruh menunggu.


"Apa arep ngelanjut diskusi wingi?(apa mau melanjutkan diskusi kemarin?)" duga si Clara.


"Entahlah," ucapku sambil mengangkat bahuku.


"Mba Betti akan ada apa ya?" tanyaku padanya.


"Tunggulah saja nanti kau juga tau," jawabnya.


"Baiklah," ucapku menurut.


Bang Kris dan Mba Lili datang diikuti oleh Pak Ali dan seorang gadis dibelakangnya. Mata kami tertuju pada gadis tersebut yang tampak tak asing bagi kami berempat. Ya aku ingat itu Emily Larasati pacar si Samsul. Tapi kenapa dia bersama pak Ali? pikirku begitu.


"Lam kae sing karo pak Ali pacare si Samsung dudu? (Lam itu yang bareng pak Ali pacarnya si Samsung bukan?)" tebak Budi bertanya padaku.


Tapi aku masih terbengong sambil memandangi gadis itu. Lamunan ku akhirnya di sadarkan oleh si Budi yang menyenggol siku kanan ku.


"Weh Lam di takoni koh meneng bae (Weh Lam di tanyai kok diem aja)," gentak nya pelan sambil menyenggol sikuku.


"Eh apa Bud?" tanyaku seketika.


"Aku miki takon kae cah wedon kae pacare si Samsung dudu, mbok mataku sing salah (aku tadi tanya itu anak perempuan itu pacarnya si Samsung bukan, takut mataku yang salah)," jelas si Budi dengan sabar sambil menunjuk gadis itu.


"Iya Bud," jawabku singkat.


"Prok Prok Prok," instruksi Pak Ali agar kami diam dan memperhatikannya. Pandangan kami semua langsung menuju ke depan.


"Baik para mahasiswa anggota UKM Pencinta Alam bapak ingin memperkenalkan anggota baru UKM kita ini. Dia adalah Emely Larasati keponakan bapak sendiri," katanya memberitahu kami semua. Sontak kami berempat terkejut mendengar itu.


"What cek..," kaget Frank sampai berdiri.


"Pak Ali cah wadon kue keponakan ne Bapak? (Pak Ali anak perempuan itu keponakannya Bapak?)" tanyanya memastikan sambil duduk kembali.


"Iya Frank, eh ngapa muka kalian berempat kaya kaget begitu?" jawabnya lalu bertanya pada kami sebab melihat reaksi kami berbeda.


"Pak it....," melihat si Frank ingin membeberkan hubungan keponakannya itu, dengan sigap aku menendangnya untuk menghentikan ucapannya.


"Lara (sakit) Lam," bisiknya sambil menyergit kesakitan.


"Kenapa Frank?" tanya Pak Ali seketika karena melihat Frank yang kesakitan.


"Gak Pak," jawabnya sambil mengusap kakinya yang ditendang ku.


Frank tampak bingung sambil memandangiku. "Ngapa si alam kie mau geleng-geleng meng aku? (kenapa si alam ini tadi geleng-geleng padaku?)," pikirnya.


"Ayo Emely perkenalkan dirimu," suruh Pak Ali padanya.


"Baik Pakde," jawabnya mengangguk.


"Halo semua namaku Emely Larasati kalian bisa panggil aku Emely. Salam kenal semuanya," ucapnya memberikan perkenalkan singkat pada kami semua.


"Hai Emely salam kenal dari akak mu bang Betrus," saut Bang Betrus sambil mengangkat satu tangannya.


"Dan aku kembarannya mba Betti," sambungnya sambil ikut mengangkat satu tangannya.


"Salam kenal Emely," ucap Kemi berlima berbarengan.


Emely membalas sapaan kami semua dengan tersenyum manis.


Melihat itu penyakit si Budi langsung kumat kembali."Si Emely ayu juga," pikir si Budi yang memandang Emely sebentar.


"Hem kumat," ucapku pelan sambil melirik ke Budi.


"Silahkan Emely bergabung dengan yang lain dulu dan kenalkan saya Kris ketua UKM ini," suruh bang Kris sambil memperkenalkan dirinya.


"Baik Kak Kris," jawab Emely mengangguk lalu pergi duduk bergabung dengan kamu semua.


"Ya udah kalau begitu bapak pamit juga," ucap pak Ali pada kami semua. "Silahkan lanjutkan Kaka Kris," suruhnya lalu pergi.


"Baik Pak ati-ati," jawabnya sambil menunduk.


"Awas kesandung pak," teriak si bang Doel bercanda.


Pak Ali hanya tertawa kecil dan terus berjalan sambil menggelengkan kepalanya sebentar. Setelah pak Ali pergi, Bang Kris langsung memberikan pengumuman pada kami semua.


"Ok saya selaku ketua di sini ingin menyampaikan kabar gembira untuk kalian," katanya.


"Kabar gembira apa Bang?" tanya si Frank tak sabar.


"Hush sabar biar Kak Kris lanjutkan dulu," tegur Mba Lili padanya.


"Baik Mba," jawabnya menurut.


"Kabar gembira nya adalah kita semua akan mengadakan kegiatan outdoor dengan tujuan agar kita lebih melekat lagi dengan alam dan bumi ini. SETUJU!" jelasnya memberi tahu kami dan berseru.


"SETUJU!" seru kami semua kompak menyetujui. Kami semua merasa sangat senang kerena bisa keluar mengenal alam lagi.


"Setuju lah Bang. Jalan-jalan," ucap si Budi senang.


"Baik jika kalian setuju, kegiatan ini akan berlangsung besok. Kita akan berangkat ke lokasi bersama," ucap bang Kris lagi.


"Tempat yang kita akan datangi bernama Arum jeram Serayu. Lokasinya berada di Jalan Banjarnegara Km 15 Desa Randegan, Kecamatan Sigaluh, Randegan, Kec. Banjarnegara, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah," jelas Mba Betti memberitahu lokasi tempat kami melakukan kegiatan.


"Apakah kita akan hiking dan bermain arum jeram Mba?" tanya Sinta menebak.


Mba Lili dan Bang Kris mengangguk tanda iya.


"Wesh asyik mesti," ucapku tak sabar.


"Kaka apa aku boleh ikut?" tanya si Emely mengajukan diri sambil mengangkat tangan.


"Tentu saja Emely kamu boleh ikut bergabung," jawab Mba Lili mewakili.


"Makasih Ka...?" pikir Emely bingung mau memanggilnya apa.


"Panggil saja mba Lili," sambungnya cepat.


"Ok makasih Mba Lili," ucapnya sambil tersenyum.


'Weh Clar si Emely kok keliatan beda sikapnya sama waktu itu," bisik Sinta padanya.


"Iya Sin kaya ada yang aneh," jawabnya menduga.


Tanpa sadar Emely memandangi mereka berdua yang sedang berbisik tentangnya. Si Emely lalu beralih bertanya padaku.


"Alam itu namamu kan?" tanyanya memastikan.


"Iya, kamu bukan...," jawabku langsung terpotong.


"Oh aku dah putus sama Samsul," sambungnya.

__ADS_1


"PUTUS," ucap kami berempat agak terkejut.


"He e," kata Emely mengangguk sambil melihati kami berempat yang kurang percaya.


"Ya udah sekiranya itu saja pengumuman dari Kaka silahkan boleh di lanjut aktivitasnya kembali," Bang Kris mengakhiri pengumumannya.


"Jangan lupa membawa peralatan yang sudah mba Lili tulis di papan," pesannya pada kami.


"Baik Mba," ucap kami kompak.


Kami semua mencatat apa yang ditulis oleh Mba Lili di depan. Setelah itu baru kami semua keluar.


Sekarang kami berempat sudah berkumpul g


di Kafe Plants. Di namai Kafe Plants atau Kafe Tanaman, sebab banyak sekali tanaman hias di Kafe ini. Tak menunggu lama pesanan sudah tiba. Kami pun mulai makan dan minum sambil mengobrol. Obrolan di awali dengan Frank yang penasaran dengan tingkah ku saat di ruang UKM.


"Lam maksud e ko miki nendang aku karo geleng-geleng sih ngapa? (Lam maksudnya kamu tadi nendang aku sama geleng-geleng itu kenapa?)" protesnya padaku sambil bertanya.


"Maaf Frank aku ra bermaksud. Aku kuwe miki mandeg na ko supaya aja nerus na ngomong nek si Emely kuwe pacare Samsul (maaf Frank aku gak bermaksud. Aku tadi itu menghentikan mu supaya jangan ngelanjut kan omongan mu kalau si Emely itu pacarnya Samsul)," jawabku menjelaskan.


"Emang ngapa (kenapa) Lam?" tanya si Budi.


"Mbok kur dadi nambah masalah tok nek pak Ali ngerti (takutnya cuma jadi nambah masalah aja kalau pak Ali tau)," jawabku setelah menyedot minumanku.


"Oh bener juga. Lamon pak Ali ra ngerti nek Emely duwe hubungan karo si Samsung (oh bener juga. Mungkin pak Ali gak tau kalau Emely punya hubungan sama si Samsung)," timpal si Budi menebak.


"Eh eh wis aku pengin ngomong gyeh (eh eh dah aku mau ngomong nih)," ucap si Sinta menyetop obrolan kami bertiga.


"Ana (ada) apa Sin?" tanyaku.


"Bar hiking sore-sore ne dewek nonton yuh aku nemu film apik judul e Jurassic Park (pulang hiking sore-sorenya kita nonton yuk aku nemu film bagus judulnya Jurassic Park)," ajaknya mendadak.


"Kayong (kelihatan) seru. Ok" jawab si Frank setuju.


"Ya hayu ngesuk ya bar hiking jam 4 kumpul ning Bioskop Rajawali (ya ayo besok ya setelah hiking jam 4 kumpul di Bioskop Rajawali),' ucapku setuju dan memberikan janji pada mereka.


"Ok Lam," jawab mereka berempat setuju. Kami berlima kembali makan dan minum sampai selesai.


...🚣🚣🚣🚣🚣🚣...


Hari untuk hiking tiba.


"Selamat datang di Arum jeram Serayu". Begitulah tulisan yang menyambut kami semua sebelum masuk ke dalam lokasi.


Diarea Arum jeram kami semua langsung memakai alat pelindung seperti jaket pelampung. Tujuan melakukan kegiatan Arum jeram ini adalah tak lain untuk menguji debit air yang ada di sini.


Saat aku sudah selesai memakai jaket pelampung ku sendiri, Budi dan Emely memanggilku berbarengan.


"Lam..., panggil Budi terpotong. "Alam aku boleh minta tolong kencangkan jaket pelampung ku ini," pinta Emely menyerobot ucapan Budi.


"Boleh Emely," ucapku.


"Bud ana (ada) apa nyeluk (manggil) juga?" tanyaku karena tadi sempat mendengar Budi memanggil juga.


"Ora Lam angka ne arep jaluk tulung juga tapi ra sida lah. Nganah tulungi Emely (gak Lam niatnya mau minta tolong juga tapi gak jadi lah. Sana bantu si Emely)," jawabnya lalu menyuruhku pergi.


"Aku bisa teyeng dewek kayane (aku bisa melakukannya sendiri kayaknya)," tambahnya memberitahu.


"Oh ya wis (udah)," aku pun pergi membantu Emely. Sedangkan Budi masih berusaha untuk mengencangkan jaketnya sendiri.


"Ngeneh Bud tak tulungi sok sok an teyeng (sini Bud tak bantuin sok sok an bisa)," tawar Frank padanya. Frank pun membalikkan badan Budi dan mulai memasangkan sabuknya.


Heh Bud deneng si Alam malah nulungi Emely padahal ko sing nyeluk disit (heh Bud kok si Alam malah bantuin Emely padahal kamu yang manggil duluan)," ucapnya sambil menceplek sabuk pengaman Budi.


"Belih lah Frank (biar lah Frank)," katanya sedikit kecewa. "Wis rung..?(dah belum..?)," tanyanya pada Frank.


"Wis (udah)," jawabnya.


Sekarang kami semua mulai menaiki perahu karet Arum jeram satu-persatu. Setelah itu, kami mulai mendayung. Perahu karet pun meluncur dengan kencangnya. Ternyata aliran Sungai Serayu cukup deras. Sehingga membuat perahu kami saling bertabrakan dengan bebatuan. Teriakan kami semua memecah alam dan menjadi tanda bahwa ini sangatlah seru dan menyenangkan.


Saat sedang asyik-asyiknya tiba-tiba insiden terjadi pada Emely. Dirinya mendadak jatuh tercebur ke sungai yang mengalir deras. Entah apa yang sebenarnya terjadi sehingga dirinya bisa tercebur.


"Aaaa," teriak Emely ketika jatuh.


"Byurrrr," Emely tercebur dengan keras.


"Tolong tolong aku gak bisa berenang," teriak Emely berpura-pura meminta tolong.


"Astaghfirullah Emely ke cebur," ucapku terkejut saat mendengar dirinya terjatuh dan berteriak.


Aku yang melihat nya pun langsung segera menolongnya. Tapi alhasil aku juga lupa kalau diriku tak bisa berenang. Aku dan Emely pun akhirnya terjebak di sungai.


"Aduh Lam ngapa melu nyebur mbok kowe ra teyeng renang (aduh Lam Napa ikut nyebur kan kamu gak bisa berenang)," kata Budi sambil menepuk jidatnya.


"Halah Bang tulungi (bantuin) Alam sama Emely," pintanya pada Bang Kris.


Pada akhirnya kami berdua di tolong oleh bang Betrus yang melemparkan sebuah ban pada kami.


Sekarang kami semua sudah di tepi. Aku pun menanyakan pada Emely kenapa dirinya bisa tercebur.


"Emely apa yang sebenere terjadi ngapa dirimu bisa kecemplung?" tanyaku ingin tahu. Aku mengusap badanku dengan handuk yang tadi di berikan oleh Mba Lili.


"Sepertinya aku ke dorong oleh Sinta," jawabnya tak yakin


.


"Oleh ku kapan itu terjadi?" reaksi di Sinta langsung terkejut dan bingung


"Heh Emely jangan bohong kamu," marah si Clara karena tak terima.


''Bener Clar aku yang merasakan senggolan badan Sinta mengenai diriku tadi," ucapnya yakin.


"Apakah iya?" pikir si Sinta.


"Iya lah coba kamu ingat-ingat waktu kamu pindah posisi deket Clara," jawabnya cepat lalu menyuruhnya untuk mengingat kembali.


Si Sinta mulai mengingat-ingat kejadian yang belum lama terjadi. Tapi saat sedang mengigat, dirinya langsung tertuduh.


"Tapi kayaknya kamu sengaja deh biar aku jatuh," tuduh Emely mendadak.


"Apa maksud mu Emely?" tanya si Clara kaget.


"Emely aku ingat tapi aku beneran gak sengaja beneran," ucap si Sinta jujur setelah mengingat kejadian tadi.


"Tapi sepertinya kamu sengaja," tukas Emely tak mau kalah.


"Buat apa juga aku menyemburkan mu?" tanya si Sinta padanya.


"Kamu kan tak suka dengan ku," jawab Emely sambil memutar bola matanya.


"Heh Emely kudu ne kowe miki ra usah di tulungi sih," marah Clara sambil mendorong Emely. Aku pun langsung menangkap Emely dari belakang agar tak jatuh.


"Udah aja ribut langka sing salah langka Miki kue murni kecelakaan (udah jangan ribut gak ada yang salah gak ada tadi itu murni kecelakaan)," ucapku menghentikan keributan ini.


"Sudahlah jangan ribut, Lam sebaiknya kau bawa lah Emely untuk di beri obat," Bang Betrus ikut menyetop keributan itu, lalu menyuruh ku untuk membawa Emely berobat.


''Iya Lam sepertinya kaki Emely terluka," timpal Bang Kris berpendapat sama.

__ADS_1


"Baiklah Bang," ucapku menyetujui.


Aku pun pergi memapah Emely ke pos kesehatan yang telah di sediakan. Disana aku langsung memberikan obat ke luka Emely. Saat aku sedang mengobati lukanya, Emely tiba-tiba berbicara padaku.


"Emm... Lam terimakasih ya," katanya malu-malu.


"Iya Emely," ucapku sambil membuka kotak P3K.


"Oh ya Lam aku boleh minta tolong," pintanya tiba-tiba.


"Tolong apa?" tanyaku sembari memasangkan plester ke luka yang ada di lututnya.


"Tolong temani aku ke acara ulang tahun tanteku jam 4 sore nanti," jawabnya meminta.


"Tapi kan kowe pacare Samsul," ucapku sambil mendongak ke arahnya.


"Kan aku udah putus Lam," katanya


"Em...akan ku pikirkan," ucapku sembari mengangguk. Tapi entah kenapa seperti ada yang terlewatkan oleh ku.


Si Emely tersenyum puas akhirnya rencananya berhasil. Ya dirinya kemarin menguping pembicaraan ku di kafe saat bersama teman-teman. Makanya dia juga membuat janji dengan ku agar janjiku yang lain terlupakan. Aku juga tak begitu tau kenapa Emely merencanakan ini semua.


"Alam..," tiba-tiba suara mengejutkan kami berdua. Itu adalah Budi sepertinya dirinya mendengar obrolan ku dengan Emely barusan.


"Budi ada apa?" tanyaku.


"Yah hp ne," ucap si Budi ketus sambil menaruh hp ku di sampingku.


"Kesuwun Bud," ucapku berterimakasih.


Tapi Budi pergi begitu saja dengan raut kesal kepada ku. Huh alam piwe sih padahal wis janji karo batir-batir rep nonton tapi mayan antuk na ajak kan ne si Emely, ucapnya kesal dalam hati sambil berjalan.


Tak lama sebuah pengumuman keras di siarkan. Pengumuman itu berasal dari bang Kris. Dirinya memberikan pengumuman untuk makan siang.


"TEMAN-TEMAN KU SEKALIAN SILAHKAN AMBIL MAKAN dan MINUM YANG TELAH KAKA SIAPKAN" instruksi Mba Lili keras menggunakan toak. Makanan dan minuman tersebut disediakan atas donasi dari pak Ali.


"Baik Kak," jawab anggota lainnya yang ada disana.


Di samping itu aku langsung mengajak Emely keluar untuk makan siang.


"Hayu keluar wis di panggil," ajakku padanya.


"Iya Lam," ucapnya.


"Apakah masih sakit?" tanyaku sedikit khawatir.


"Tidak Lam," jawabnya sambil tersenyum.


Kami berdua keluar dan sudah mengantri untuk mengambil makan. Aku sudah mengambil makanan ku dan ingin pergi bergabung bersama yang lain. Tapi tanganku seketika di tarik oleh si Emely yang mengajak ku untuk menemaninya makan.


"Alam...," panggil teman-temanku sambil melambaikan tangan.


"Alam kita makan di sana yuk,' tarik Emely tiba-tiba.


"Tapi.....," ucapku masih berpikir sambil menunjuk ke teman-teman ku.


"Sudahlah," suruh si Emely.


"Baiklah," ucapku pasrah.


"Eh deneng menggok (eh kok belok)," kata si Frank terkejut dan heran karena melihat ku berbelok. Ya si Frank berharap aku akan menghampirinya untuk ikut bergabung. Teman-teman ku pasti merasa kecewa padaku sekarang.


"Iya malah pergi sama Emely," timpal si Sinta tak suka.


"Temen-temen maaf ya nggo dina siki tok (teman-teman maaf ya untuk hari ini saja)," ucapku dalam hati sambil memandangi teman-teman ku. Aku pun pergi makan berdua bersama Emely saja.


Sementara di tempat Budi dan lainnya. Mereka berempat memandangi ku dan Emely yamg sedang makan. mereka semua masih heran kenapa diriku tak memilih mereka.


"Apa si Alam seneng karo (suka sama) Emely yah?" pikir si Frank.


"Udu Frank kuwe tah si Emely sing seneng sama Alam (bukan Frank itu mah si Emely yang suka sama Alam)," ucap si Clara berbeda pendapat.


"Bud kowe perasaan meneng wae, ana apa? (Bud kamu perasaan diem aja, ada apa?)" tanya Sinta pada Budi.


"Aku lagi kesuh, aja di takoni (aku lagi marah, jangan di tanya)," jawab Budi semrawut.


"Kesuh kepriwe? (marah kenapa?)" tanyanya lagi.


"Hufh aku duwe kanca jerene tah setia tapi kayak ne ngelombo (hufh aku punya teman katanya setia tapi kayaknya pembohong)," jawabnya sambil menyindir ku.


"Sapa (Siapa) sih sing (yang) di maksud mu? tanya si Frank mulai gregetan.


"Alam, Bud." tebak si Sinta.


Budi tak menjawab dan memilih makan makanan nya dengan perasaan kesal.


Sedangkan di sisi lain, aku sedang berbicara dengan Emely mengenai alasan dirinya tak ingin bergabung dengan yang lain.


"Emely ngapa kamu nyuruh aku nemenin kamu makan kan kita bisa makan bersama yang lainnya?" tanyaku.


"Aku malu lam apalagi tadi aku ribut dengan Clara dan Sinta aku takut mereka menolak ku," jawabnya.


"Oh tenang mereka teman yang baik kok," ucapku memberitahu. Aku lalu membuka nasi box ku.


"Oh ya aku pengin nanya kowe deneng bisa putus sama Samsul?" tanyaku lagi karena penasaran.


"Oh itu, aku putus karena tak tahan dengan sikap Samsul yang terus memaksa ku keluar rumah dan menuruti keinginannya," jawabnya sambil menuangkan lauk ke nasi.


"Oh iya iya," ucapku mengangguk lalu memakan kembali makanan ku sampai habis.


...🧗🧗🧗🧗🧗🧗...


Jam sudah menunjukkan pukul 11. 30. Tanda kegiatan hari ini selesai. Aku pun pulang ke rumah bersama Budi. Tapi di sepanjang perjalanan Budi diam saja dan tak mengajak ku mengobrol.


Di kos-kosan cempaka. Aku berpisah dengan Budi sambil mengucap kata perpisahan. Tapi seperti tadi dia mengabaikan ku tanpa alasan. Budi hanya menjawab pamitan ku dengan singkat dan padat.


"Bud aku pamit balik (pulang)," pamit ku.


"Hem," jawab si Budi singkat.


"Aja kelalen (jangan lupa)," ucapnya ketus lalu berjalan masuk ke kamar.


"Aku pengin ngerti ko bakalan milih lunga karo sapa lam, batir mu apa Emely (aku mau tau kamu bakalan milih pergi sana siapa Lam, temanmu apa Emely)," batinnya. Ya si Budi ingin mengujiku apakah aku teman yang setia atau bukan.


Sekarang aku sudah di kamar dan sedang beristirahat setelah shalat dhuhur. Aku memikirkan perkataan si Budi tadi.


"Aja kelalen, kelalen (jangan lupa, lupa) apa ya?" pikirku sambil menatap langit-langit.


Seketika aku langsung bangun karena tersadar. "Astaghfirullah aku juga ana janji karo batirku mengko," ucapku kaget setelah mengingatnya.


"Aduh piwe iki arep batal na janjiku karo Emely tapi ra duwe nomor e (aduh gimana ini mau batalin janjiku dengan Emely tapi gak punya nomornya)," aku mulai bingung dengan pilihan ini.


"Halah dadi bingung, arep maring ngendi (halah jadi bingung, mau ke mana)," ucapku semakin bingung.


"Aku hiking malah dadi ruwet bingung milih sing ngendi (aku hiking malah jadi pusing, bingung milih yang mana)," ucapku lagi sambil mengacak-acak rambutku.


"Jan aku di landa kebingungan kiye (ini)," pikirku semakin tambah bingung.

__ADS_1


Ya begitulah aku sekarang. bingung ingin menepati janji ke siapa. Memilih teman atau Emely menurut kalian!Aku pun jadinya berpikir keras sekarang siapa yang harus ku temui dulu. Hingga pada akhirnya aku terlelap tanpa sadar.


Bersambung......🚣🚣🚣


__ADS_2