
Sudah 2 hari ini, Budi marah padaku. Sudah 2 hari ini juga, aku dan Budi tak berangkat dan pulang bersama. Aku sungguh kangen bercanda gurau bersamanya. Kali ini aku bertekad harus bisa menjelaskan ini semua pada Budi dan yang lain. Tapi sebelum itu, kami semua mau melanjutkan materi kemarin. Tentu saja materi akan disampaikan lewat pak Ali.
Di Kelas FMIPA.
Aku mencoba duduk didekat si Budi dan teman-teman. Namun saat aku mau menghampiri mereka, Emely datang menyapa ku dan memintaku duduk bersamanya.
"Alam," panggilnya.
Aku menengok dan bertanya, "Ada apa Mely?"
"Mau kemana kamu Lam?" tanyanya balik.
maaf Emely aku mau bersama teman-teman ku, aku pergi dulu, tolak ku lalu pergi meninggalkannya. Aku sengaja menghindari Emely. karena sepertinya dia selalu menghalangi ku disaat aku ingin bergabung bersama teman-teman ku.
Di bangku Budi.
"Heh deleng si alam nolak Emely, malah arep nyamperi dhewek (heh liat si Alam nolak Emely, malah mau menghampiri kita)," ucap si Frank sambil menepuk pundak si Sinta.
'Eh iya Frank," kata si Sinta saat melihatku berjalan menghampiri.
"Halo man teman!" sapaku sambil mengangkat tangan.
"Halo juga Alam," balas si Sinta dan Clara.
"Jagong jagong ning sebelah Budi (duduk duduk di sebelah Budi)," suruh Frank padaku.
Frank, Sinta,dan Clara sangat senang melihatku menolak permintaan si Emely. mereka bertiga bahkan mempersilahkan aku duduk di sebelah Budi. Tentu saja dengan senang hati aku duduk disampingnya. Walau si Budi merasa risih dengan adanya aku disebelah. Tapi dirinya tak mau beranjak pergi meninggalkan ku.
'Halo Bud!" sapaku sambil suduk.
"Hem," jawabnya singkat.
Tak lama Pak Ali datang masuk ke kelas. Dirinya langsung membuka laptop dan membuka gulungan layar kain didepan. Setelah semuanya selesai, Pak Ali mulai membuka pembelajarannya.
"Selamat pagi para mahasiswa ku!" sapanya pada para mahasiswa di kelas.
"Pagi Pak!" seru kami semua.
"Materi kali ini akan membahas lanjutan materi yang kemarin. Silahkan semuanya menghadap ke depan dan melihat materi yang ada di LCD," ucapnya lalu menyuruh kami semua untuk memperhatikannya.
Kami semua menurut dan pandangan mata kami tertuju ke depan layar LCD. Kami semua kini sudah siap mendengarkan dan menyimak penjelasan Pak Ali.
"Ok bapak akan mulai menjelaskan materinya," ucapnya.
"Sekarang bapak mau tanya, ada yang tau manfaat melestarikan hewan dan tumbuhan tidak?" tanya Pak Ali sebelum memulai lebih lanjut.
"Aku taunya biar gak punah Pak," jawab si Sinta.
"Bener itu salah satunya," ucapnya membenarkan. Lalu Pak Ali menjelaskan lagi lebih detail nya.
"Manfaat melestarikan hewan dan tumbuhan yang langkah juga sangat berguna bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia harus menjaga keberlangsungan atau kelestarian hidup mereka. Dengan adanya keberlangsungan atau pelestarian dari hewan dan tumbuhan akan terjadi keseimbangan ekosistem. Hal ini ditandai dengan rantai makanan yang tidak terputus. Adapun, perubahan pada salah satu komponen bisa memengaruhi komponen lainnya. Sehingga, pelestarian hewan dan tumbuhan adalah cara menjaga keberlangsungan hidup mereka di alam. Dengan begitu, keseimbangan ekosistem tetap terjaga." Pak Ali menjelaskan sambil berjalan.
"Lalu bagaimana cara melestarikannya, ada 2 cara untuk melestarikan hewan dan tumbuhan langka tersebut. Yaitu pelestarian ex situ dan in situ," lanjutnya.
"Ada yang tau penjelasan dari 2 cara tadi?" tanyanya lagi pada kami semua.
"Apa Pak jelaskan? Aku kuwi kelalen makanya jaluk di jelas aken (aku ini lupa, makanya minta dijelaskan)," jawab si Frank.
"Oh...ok lah Frank," ucapnya sambil manggut-manggut.
"Jadi pelestarian ex situ adalah pelestarian keanekaragaman hayati di luar habitat aslinya. Hewan atau tumbuhan yang akan dilestarikan dibawa keluar dari habitatnya dan masuk ke dalam habitat baru yang lebih terkontrol. Bentuk pelestarian ex situ adalah: kebun binatang, kebun raya, kebun plasma nutfah, tempat penangkaran hewan langka, serta tempat budidaya tumbuhan langka," jelasnya lantang.
"Nek (kalau) pelestarian in situ apa pak. aku taunya in itu di dalam?" tanyaku sambil mengacungkan tangan.
"Sedangkan pelestarian in situ itu, hewan dan tumbuhan dilestarikan dengan cara menjaga habitat tinggalnya. Bentuk pelestarian in situ adalah cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, dan hutan lindung," jelasnya menerangkan lagi.
"Oh begitu Pak," ucapku manggut-manggut mengerti.
"Pak mau tanya selain pelestarian ke dua itu apa ada cara pelestarian lainnya?" sekarang giliran si Sinta yang mengacungkan tangannya.
"Tentu ada Sinta," jawabnya. "Selain usaha pelestarian secara in situ dan ex situ, kita dan juga pemerintah harus ikut mengusahakan agar hewan dan tumbuhan langka tidak punah."
"Contoh lain yang dapat dilakukan untuk membantu melestarikan hewan dan tumbuhan langka adalah: Membuat dan menegakkan undang undang yang melarang perburuan liar dan penebangan liar. Menyikapi tindakan pelanggaran undang undang perlindungan hewan langka. Menyelamatkan hewan hewan langka yang dipelihara di rumah secara ilegal. Melaporkan para pemelihara hewan langka ilegal. Ikut serta dalam program pelepasan hewan langka ke alam liar habitat aslinya, misalnya program pelepasan tukik ke lautan. Mencegah adanya penjualan hewan hewan langka di pasar lokal maupun internasional secara illegal," jelasnya panjang lebar sambil mondar mandir.
"Nah dah pada ngerti sekarang?" tanyanya memastikan.
"Alhamdulillah cukup di mengerti Pak," jawabku keras mewakili.
"Baiklah kita akhiri saja kalau begitu, silahkan melakukan aktivitas sesuka kalian ya," kata Pak Ali lalu mengizinkan kita semua untuk melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
"Terimakasih Pak!" seru kami serentak.
Pak Ali mengakhiri pembahasan materi lanjutan tersebut dan pergi meninggalkan kelas. Sedangkan di sisi berbeda, si Emely sedang di tarik oleh Samsul menuju tempat lain saat sedang keluar kelas. Sekarang mereka berdua sudah berada di gudang belakang. Si Emely lalu bertanya pada Samsul alasan membawanya.
"Sul lepasin," suruhnya, "kamu mau apa narik aku kesini?" tanyanya.
Si Samsul melepaskan pegangan tangannya dan bertanya balik, "Emely aku mau tanya sama kamu, kita masih pacaran kan?"
"Siapa bilang? Kita dah putus," jawabnya mantap.
"Hah kapan kita putus Emely?" tanyanya tak percaya.
"Ya udah kita putus sekarang," kata si Emely memperjelas.
Si Emely tanpa basa-basi langsung memutuskan hubungannya dengan Samsul. Mendengar itu hati si Samsul langsung retak dan sakit. Si Samsul protes karena dirinya tak terima di putusin
"Kok tiba-tiba, gak bisa gitu dong," protesnya tak terima.
"Seterah kamu mulai detik ini kita putus, lagi pula diriku sudah menyukai orang lain," jelasnya.
"Udahlah aku pergi," pamit Emely pergi meninggalkan Samsul.
"Tapi Mely tunggu," cegatnya. Emely terus berjalan tanpa menengok sedikit pun kepadanya.
"Haaargg," marah Samsul mengacak-acak rambutnya. Hati si Samsul hancur seketika karena diputusin. Dirinya lalu pergi dengan keadaan loyo meninggalkan gudang belakang.
Si Emely dan si Samsul akhirnya putus karena alasan Emely sudah tak suka dengannya. Sepertinya dirinya sudah menyukai orang lain selain Samsul. Apakah mungkin itu diriku? Heh percaya diri sekali diriku ini ya.
...🌿🌿🌿🌿🌿🌿...
Di Kantin Kampus.
Si Budi, Frank, sinta dan Clara sedang duduk di kantin dan makan di sana. Aku tak ikut karena aku sedang mengumpulkan tugas dulu. Setelah itu aku baru menyusul mereka. aku pun sampai di kantin dan langsung menyapa mereka. Saat aku di suruh duduk oleh si Frank dan lainnya, si Budi malah pamit pergi.
__ADS_1
"Hai kanca-kanca (teman-teman)!" sapaku.
"Eh Lam wis rampung apa (eh Lam dah selesai apa)?" tanya si Frank.
"Wis (udah) Frank," jawabku.
"Jagong jagong (duduk duduk) Lam," suruhnya.
"Iya Frank." Aku pun duduk tapi si Budi malah beranjak.
"Eh arep ngendi (mau kemana) Bud?" tanya si Sinta.
"Iya, Alam be teka nawin (Alam baru datang tau)," timpal si Clara.
"Halah, aku weruh (lihat) Alam langsung mules aku pergi sit yo," katanya sambil memegangi perutnya.
"Emang e aku sambel toh Bud, gawe weteng lara (emangnya aku sambel apa Bud, buat sakit perut)," tukas ku.
"Wis (udah) lah aku pergi," pamitnya lalu pergi.
"Si Budi kenang apa toh (kenapa ya)?" tanya si Frank heran.
"Wis ra usah diurusi (udah gak usah diurusi)," jawabku, "aku pengen jaluk tulung tapi seurung kuwe aku jaluk panganpunrane sit (aku mau minta tolong tapi sebelum itu aku mau minta maaf dulu). Maaf ya aku anding ra isa teka, batal nonton dadine (maaf ya aku kemarin gak bisa datang, batal nonton jadinya)," pintaku lalu meminta maaf.
"Emang bener lam kowe lunga karo Emely (emang benar Lam kamu pergi sama Emely)? tanya si Sinta memastikan.
"Ora kanca-kanca aku iku (gak teman-teman aku itu)...? jawabku berhenti seketika.
"Kenang ngapa koh? Ben dewek jelas kiye
dadi ra salah paham maning (kenapa sih? Supaya kita jelas nih jadi gak salah paham lagi)," tanya si Frank tak sabar.
"Jan aku isin (aduh aku malu)," ucapku sambil menunduk.
"Apa toh?" tanya si Frank semakin penasaran.
"Janji sit aja guyu ya (janji dulu jangan ketawa ya)," pintaku.
Mereka bertiga mangut-mangut bersama. Lalu dengan berat hati aku mengaku apa yang sebenarnya terjadi padaku waktu itu.
"Aku ke jungkel sekang pit, terus mlebu got (aku terjungkal dari sepeda, lalu masuk ke selokan),"ucapku mengaku.
"Bwaha-ha-ha-ha." tawa si Frank seketika keluar diikuti si Sinta dan Clara yang tertular tertawa
Lam Lam bisa bisa ne kowe ke jungkel (Lam Lam bisa-bisanya kamu terjungkal), Alam alam," ucap si Frank yang terus tertawa.
"Gara-gara ayam melesat dadakan Frank," kataku lagi.
"Bwaha-ha-ha, gara-gara ayam maning." Si Frank dan lainnya tawanya makin menjadi.
"Aduh aku wetenge lara dadine (aduh aku perutnya sakit jadinya)," kata si Frank sambil terus tertawa sambil memegangi perutnya.
"Iya Frank aku ra isa mandeg guyu (iya Frank aku gak bisa berhenti tertawa)," timpal si Sinta. Tak terasa air matanya menetes sedikit karena kebanyakan tertawa. Dirinya lalu mengelap air matanya sambil terus tertawa.
"Aduh kepriben (gimana). Begitu juga dengan si Clara yang mengelap air matanya seperti si Sinta.
Mereka bertiga tertawa senang menertawakan diriku ini. Padahal dah janji gak ketawa tapi ujung-ujungnya ketawa juga. Aku yang merasa malu langsung menghentikan tawa mereka.
"Tulung apa Lam? Biasa ne be wa disit (tolong apa Lam biasanya juga WA dulu)," tanyanya masih sedikit tertawa.
"Aku hp ne ilang pas kejungkel, lagipula wis ketemu ngapa wa (aku hpnya hilang waktu terjungkal, lagipula dah ketemu napa WA)," jawabku.
"Oh iya ya," ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya.
Seketika aku menepuk jidat ku gara-gara si Frank. Sebelum aku menjelaskan permintaan ku, aku meminta maaf terlebih dahulu pada yang lainnya.
"Pertama-tama aku jaluk panganpunrane sit ya karo kalian, maaf wis gawe kecewa ko ko pada (pertama-tama aku mau minta maaf dulu ya sama kalian, maaf sudah mengecewakan kalian)," ucapku tulus.
"Iya Lam kita maafkan, tapi mbuh karo si Budi (tapi gak tau sama si Budi)," katanya mewakili.
"Iya sayang Budi ne lunga, nek ra kan dadi ngerti penyebabe (iya sayang Budinya pergi, kalau gak kan bisa tau penyebabnya)," timpal si Frank.
Hatiku senang dan lega mendengar si Sinta dan yang lainnya memaafkan ku, tapi aku sedikit sedih karena Budi tak ada di sini mendengarkan penjelasanku. Karena itu aku membuat kejutan kecil yang tak diketahui oleh mereka. Tapi aku harus meminta beberapa temanku untuk membujuk si Budi, kalau tidak begitu pasti si Budi tak akan datang.
"Maka dari itu, aku jaluk tulung bujuk Budi ya kon meng UKM (maka dari itu, aku minta tolong bujuk Budi ya supaya ke UKM)," pintaku pada ketiga temanku.
"Arep ana apa Lam (mau ada apa Lam)?" tanya si Frank penasaran.
"Bujuk wae (saja)," ajak si Budi kalian juga ya, pada dateng. Aku dah izin sama bang Kris dan katanya mengizinkan," ujarku.
"Yo wis (sudah) lah Lam, bujuk Budi mbok (kan)? Dah dadi (jadi) urusan ku itu," kata si Frank.
Aku mengacaukan jempol ku padanya. Si Frank berencana akan berbohong pada Budi dan bilang ada diskusi lagi di ruang UKM. Dia lalu pergi menemui Budi dan mengatakan hal tersebut. Budi pun terkena jebakan si Frank, dia setuju untuk datang ke UKM jam 2 siang.
Ya aku sebelumnya sudah izin terlebih dahulu pada bang Kris untuk meminjam tempatnya. setelah aku menjelaskan maksud ku, bang Kris setuju dan mengizinkanku untuk memakainya saat jam 2 siang nanti.
"Bud Bud tunggu sit," cegat si Frank.
"Apa Frank?" tanyanya setelah menengok.
"Ana diskusi sekang bang Kris jam loro awan kumpul ya ning ruangan biasa (ada diskusi dari kaka Kris jam dua siang di ruangan UKM)," jawabnya memberi tahu.
"Diskusi maning (lagi), bahas apa jere (katanya)?" ucapnya lalu bertanya balik.
"Aku kurang ngerti bahas apane, gari teka bae lah (aku kurang tau bahas apanya, tinggal datang saja lah)," jawabnya.
"Oh ya iya," ucap si Budi setuju.
Seperti itulah Budi percaya akan ucapannya si Frank. Moga aja dengan cara ini si Budi tak marah lagi denganku ya.
...☘️☘️☘️☘️☘️☘️...
Di ruang UKM Pencinta Alam.
aku menyulap ruangan UKM menjadi bioskop mini sendirian. Aku mulai dari menata kursi agar menghadap ke depan semua. Lalu diteruskan dengan membuka gulungan layar lcd dan yang lainnya. Aku lalu membuka laptop yang ku pinjam dari Bang Kris untuk mengunduh sebuah film. 1 jam mungkin cukup untuk aku mengunduh film dan kebetulan sinyal WiFi sedang lancar-lancar nya.
Aku mencari film Jurassic Park terbaru yang kemarin baru tayang. Setelah ku menelusuri akhirnya aku menemukan filmnya. Judulnya Jurassic world:Dominio, yang bercerita tentang dinosaurus yang dihidupkan kembali dengan latar waktu empat tahun setelah hancurnya pulau eksperimen Isla Nublar. Film ini dirilis pada taun kemaren, tapi kebetulan aku dan lainnya belum pernah nonton.
Tak perlu waktu lama film berhasil di unduh. Semuanya juga sudah tertata rapi tinggal menunggu yang lainnya datang.
"Alam ana apo iki (ada apa ini)?" tanya si Frank sambil berjalan masuk kedalam diikuti yang lainnya.
Aku yang sedang membenarkan bangku menengok, "Eh kanca-kanca wis pada teka (eh teman-teman dah pada datang)," ucapku.
__ADS_1
"Bud, syukurlah kowe gelem teka (syukurlah kamu mau datang)," kataku senang.
"Set (tunggu), kiye arep (ini mau) diskusi apa ya? tapi kok kaya arep nonton film bae (saja)," tanyanya bingung sambil memegangi pipinya.
"Em sebenere ora ana diskusi Bud, Frank terpaksa ngelomboni ko (em sebenarnya gak ada diskusi Bud, Frank terpaksa menipumu),' jawabku.
"Iya maaf ya Bud. nek ora kaya kuwe kowe mesti ra gelem teka (kalau gak begitu kamu pasti gak bakal datang)," timpal si Frank.
"Aku juga minta maaf Bud, aku ra nepati janjiku anding (kemarin)," ucapku juga.
"Hemm," jawabnya singkat lagi.
"Terus siki arep ngapa Lam (terus sekarang mau apa Lam)?" tanya si Sinta.
"Iya Lam kamu mau kita nonton, apa?" tebak si Clara karena melihat kursi yang berjejer dan suasana yang seperti di bioskop.
"Iya Clar," jawabku. "Jagong sit, aku rep muter film me sit (duduk dulu, aku mau muter filmnya dulu)," suruhku lalu pergi ke depan.
Teman-teman ku semua pada duduk berjejer. Sedangkan aku memulai memutar filmnya. saat aku mengklik tombol putar, semua temanku terkejut.
"Jurassic World Dormination," ucap mereka kompak
"Wah keren," kata si Sinta kagum.
Film sudah mulai menyangkan adegan pertamanya. Aku lalu duduk di sebelah Budi untuk ikut menonton. Disaat menit ke 21 film, aku mendadak mengejutkan semuanya.
"Astaghfirullah," ucapku terkejut seketika.
Teman-teman ku semuanya pada melirik ke aku, "Ana (ada) apa Lam?" tanya si Frank penasaran.
"Ora ora, ora ana apa-apa (gak gak, gak ada apa-apa)," elak ku.
"Oh," balas mereka serentak lalu kembali menghadap ke depan.
Sebenarnya diriku kaget gara-gara ada adegan ciuman antara si Claire dan si Owen di film tersebut. Tapi untung tak ada yang mengetahui hal itu selain diriku. Tak lama setelah aku membuat kaget yang lain, kini tinggal si Clara yang mengejutkan kami dengan sebuah teriakan.
"Aaaaaa," teriaknya kencang. Kami berempat langsung melirik ke arah si Clara duduk.
"Kowe kenang apa Clar (kamu kenapa Clar)?" tanya si Sinta seketika.
"Ora, anu aku kaget bae pas dinosaurus se arep nyerang wong (gak, cuma aku terkejut saja saat dinosaurusnya mau nyerang orang)," jawab si Clara.
"Oooooo," ucap kami berempat lalu kembali melanjutkan menonton filmnya
Selama 1 jam kami menonton film dengan sorak-sorai kami berlima. Si Budi juga sepertinya menikmati filmnya terlihat dari ekspresi wajah Budi yang begitu serius. Aku tersenyum kecil sambil melihat teman-teman yang sangat menikmati filmnya. Kadang diantara kami juga ada yang berteriak ketika melihat adegan dinosaurus yang menyerang manusia seperti tadi. Adegan terakhir film ditutup dengan sempurna.
Sesingkat cerita yang ku tahu film Jurassic Park ini menceritakan planet bumi yang dikuasai oleh para kawanan dinosaurus. Alangkah menakutkannya bukan jika bumi ini dikuasai oleh makhluk lain. semoga saja hal itu tidak terjadi pada bumi kita ini. cukup terjadi hanya di film film saja.
Setelah selesai menonton film, aku dengan dibantu temanku membereskan ruangan UKM supaya kembali seperti sediakala. Saat aku sedang menggulung kain layar, aku merasakan kesusahan. Tiba-tiba saja Budi mengambil sisi kain layar lalu digulung mengarah padaku.
"Suwun yo Bud (makasih ya Bud)," ucapku sambil tersenyum.
"Hemm," jawabnya yang terus begitu.
"Kiye si Budi apa esih kesuh karo aku, denengan jawabane hemm maning ya (ini si Budi apa masih marah padaku, kok jawabannya hemm lagi ya)," pikirku sambil menaruh gulungan kain layar di meja.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Teman-teman ku sudah berpamitan padaku dan mengucapkan terimakasih atas kejutan kecil yang ku buat. Mereka semua sangat puas menikmati bioskop mini buatanku. Ya walau bukan bioskop yang gede pada umumnya tapi setidaknya aku bisa menembus janjiku yang tertinggal.
Kini tinggal aku yang pulang sendirian. Budi sudah keluar untuk menuju parkiran dari tadi. Aku sebenarnya ingin mengajak Budi pulang bareng. Tapi sepertinya Budi masih sedikit marah padaku terlihat, ya tadi dirinya hanya mendehem saja ketika menjawab ku.
Saat ini Aku sedang berjalan menuju halte bus di depan. Tiba-tiba terdengar suara klakson mengklakson diriku.
"Alam...," sebuah suara memanggil ku, aku pun menengok.
"Budi? Ana apa (ada apa)? Ku pikir wis bali (dah pulang)," tanyaku terkejut.
"Aku goleti nawin, malah wis metu tengan (aku nyariin tau, malah dah keluar ternyata)," jawabnya.
"Emang ana (ada) apa?" tanyaku.
"Hayu balik (pulang) bareng," ajaknya tiba-tiba.
"Kowe wis ra kesuh karo aku (kamu dah gak marah sama aku)?" tanyaku memastikan.
"Hemm," jawabnya mendehem lagi.
"Lah kuwe jawab e hemm tok (lah itu jawabnya hem tok)," tukas ku.
"Aduh, aku kaya kie nu aku lagi sariawan lam (aku seperti ini gara-gara lagi sariawan Lam)," jelasnya sambil menyergit menahan sakit.
"Wis hayu, bibirku lara nek ngomong kedawan (dah ayo, bibirku sakit kalau ngomong panjang)," ajak si Budi lagi sambil memegangi pipinya.
"Oh kaya kuwe ya (oh begitu ya)," ucapku manggut-manggut. Ternyata eh ternyata si Budi sudah gak marah lagi denganku. Dia seperti itu karena efek si sariawan.
"Hemm," jawabnya.
"Ok lah gasken," ucapku senang sambil melangkah ke motor Budi. Aku lalu memakai helm yang di sodorkan Budi padaku.
Sekarang aku sudah menaiki motor si Budi. Si Hero, motor Budi siap melaju. Diperjalanan kami berdua saling saut menyauti untuk mengobrol. Ya kami melakukan ini karena kami jadi budeg kalau memakai helm. Jadi kami berdua mengeraskan suara agar bisa mendengar satu sama lain. Padahal si Budi lagi sariawan tapi mengajak ku untuk terus berbicara.
"Lam kowe temenan ra lunga karo Emely (Lam kamu beneran gak pergi sama Emely)?" tanya si Budi sedikit keras.
"Ora Bud, aku tiba kang pit wektu arep nusul ko (gak Bud, aku jatuh dari sepeda pas mau nyusulin kamu)," jawabku berteriak.
"Halah ko ra papa (halah kamu gak papa)? tanyanya terkejut.
"Ora Bud, Alhamdulillah kur lara beyekan tok (gak Bud, Alhamdulillah cuma sakit pinggang saja)," jawabku.
"Syukur nek kaya kue (syukur kalau begitu)," ucapnya lega.
"Maaf ya wis kesuh karo ko (maaf ya dah marah sama kamu)," katanya sambil menengok ke belakang.
"Iya Bud pada pada (sama-sama) aku ya minta maaf, ucapku.
"Iya," sahutnya. Aduh bibir ku tambah lara (sakit)," keluhnya sambil melepaskan satu tangannya lalu memegangi pipinya sebentar.
"Ya wis aja ngomong bae ngomonge di prei sit (ya sudah jangan ngomong terus, ngomongnya di liburkan dulu), suruhku.
"Hemmm," jawabnya mengangguk.
Begitulah percakapan ku dengan si Budi di setiap perjalanan. Akhirnya aku dan Budi kembali berteman seperti biasa. Lega rasanya masalah sudah terselesaikan. Setelah mengobrol panjang tadi, kami berdua kini diam dan menikmati perjalanan pulang kami. Sampai akhirnya kami berdua sampai ke kos-kosan.
Bersambung.......💮🌸💮
__ADS_1