BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 21 "Liburan Semester"


__ADS_3

Tak terasa akhir liburan semester sudah datang. Kami berlima berencana untuk pergi liburan ke rumah ku. Temen-temen ku katanya ingin berkunjung ke rumah ku. Seputar info rumah ku ini berada di Desa Cikakak, kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa kawasan wisata Masjid Saka Tunggal. Mungkin banyak yang tidak tau tentang wisata ini.


Kami berlima berangkat dari Purwokerto menggunakan mobil Frank. Ya sangat Alhamdulillah, temanku ini mau meminjamkannya mobilnya untu mengusung kami berlibur.


Aku dan Budi sekarang sedang menunggu jemputan datang. Sekiranya setengah jam kami menunggu jemputan dari si Frank. Si Budi yang tak sabaran terus tengah tengok ke jalan raya alih-alih mobil Frank lewat.


"Bud aja celingak-celinguk ngapa (Bud jangan celingak-celinguk napa)?" tegur ku padanya.


"Aku lagi delengi mobil liwat, sapa ngerti si Frank kebablasen (aku sedang melihati mobil lewat, siapa tau si Frank terlewatkan)," jawabnya sambil terus celingak-celinguk.


"Lah ya ora, mbok wis di wa ya ra bakal ke liwat (lah ya nggak, kan udah di wa ya gak bakal terlewat)," ujarku.


Tak lama mobil si Frank pun datang dan berhenti di samping kami. Kaca mobil diturunkan ole si Frank.


"Hayu mlebu (masuk) Lam Bud," suruhnya.


"Suwe ne (lamanya) Frank," keluh si Budi.


"Deleng jero ana sapa (lihat di dalam ada siapa)," suruhnya lagi.


"Clara Sinta??" ucapku terkejut ketika mendapati seorang yang ku kenal.


"Hehe iya Alam melu (ikut) liburan ya," kata si Sinta sambil tertawa kecil. Sedangkan si Clara melambaikan tangannya sambil menyengir.


Ternyata yang ada di dalam mobil si Frank adalah Clara dan Sinta. Si Frank lama karena menjemput mereka berdua dulu baru ke kos-kosan cempaka menjemput kami.


Aku dan Budi memasukkan barang-barang kami ke bagasi mobil. Setelah itu baru kami berdua masuk kedalam. Frank lalu menyuruh pak Rohim supir mobilnya untuk berangkat. Mobil pun melaju menuju rumah ku. Kami berangkat dari Purwokerto jam 07.00 WIB dan akan ada sampai di tempat ku sekitar pukul 08.00 WIB. Ya jarak Purwokerto dengan desaku hanya berkisar satu jam saja.


Selama di perjalanan kami semua berbincang bincang dan bercanda gurau. Tak terasa kami sudah sampai di Ajibarang tempat asal Budi. mobil kami ternyata melewati rumah Budi. Tampak bapak Budi yang sedang bersenandung sambil memotong daun teh tehan. Si Budi pun dengan sengaja memanggil Bapaknya.


"Bapak...," panggilnya dari dalam mobil.


Bapak Budi terkejut dan menengok ke jalan raya yang di kira sebagai sumber suaranya. Tapi saat dirinya menengok tidak tampak siapa-siapa.


"Perasaan aku kerungu suara ne anakku (perasaan aku dengar suaranya anakku)," pikirnya sambil melihat ke jalan raya.


"Aku mampir bali mengko ya....(aku mampir pulang nanti ya...)," teriaknya lagi.


"Uuh Bapak e aku rajin temen (uuh bapaknya aku rajin banget)," gumamnya bangga sambil membenarkan posisi duduknya.


Tapi mobil sudah melewati bapaknya Budi jauh. Di mobil aku bertanya pada Budi, karena penasaran dengan orang yang ia panggil Bapak tadi.


"Bud kae (itu) Bapak mu apa?" tanyaku penasaran.


"Iya Lam," jawabnya mengangguk.


"Apa iya Bud kur memper dean (apa iya Bud cuma mirip kali)," timpal si Frank tak percaya.


"Apa iya yah," pikirnya ragu.


"Yee...." ucap kami berempat.


"Hehe," ucap si Budi terkekeh.


Kami berlima tertawa dibuatnya. Pak Rohim yang sedang menyetir juga sesekali tersenyum tipis melihat kami lewat kaca depan.


Sementara di rumah ku, Desa Cikakak. Ibu ku tampak sibuk membuat berbagai macam makanan untuk menjamu kami. Ya sebelumnya aku telah mengabari ibuku kalau teman-teman ku akan datang bersama ku untuk berlibur. Disaat Ibuku sibuk malah Bapakku pergi memancing. Untung ada Nenekku yang membantunya. Nenek ku bernama Mulyani. Dia adalah Ibu dari ibuku.


Ibu ku sampai gregetan karena Bapak gak pulang pulang. Sementara sebentar lagi aku dan teman-teman akan segera sampai. Ibuku lalu menelpon Bapak untuk segera kembali.


Di area pemancingan, Bapak ku sedang asyik memancing dengan bersenandung. Baru saja ada ikan yang berhasil memakan umpannya. Handphone nya bergetar dan membuat dirinya kaget sehingga ikannya terlepas kembali.


"Halo Bu! Ana apa toh (ada apa ya)?" tanyanya ditelepon.


"Balik anakmu arep teka malah kelayapan (pulang anakmu mau sampai malah kelayapan)," omelnya.


"Iya-iya padahal dela maning arep olih iwak gede (iya-iya, padahal bentar lagi mau dapat ikan besar)," ucapnya.


"Pangan bera gagian balik (makanan banyak cepetan pulang)," omelnya lagi.


"Iya-iya iya," Bapakku akhirnya menyetujuinya dan memilih untuk pulang.


Mobil yang kami tumpangi sudah sampai di pintu masuk Desa Cikakak. Plan selamat datang menyambut kami. Mobil melewati lapangan yang disisi kirinya terdapat hamparan sawah yang lumayan luas.


"Hem tempat mu sejuk banyak sawah e ya Lam," kata si Sinta di balik kaca sambil terus memandangi hamparan sawah diluar.


"Iya amba amba maning (iya luas luas lagi)," timpal si Frank dari sisi jendela mobil.


Mobil pun berhenti tanda kami semua sampai di depan rumah ku. Terlihat ibuku tengah menanti ku bersama nenekku di depan rumah. Saat kami berlima turun, Bapakku baru sampai ke rumah.


Aku memeluk Ibuku dan Nenekku untuk melepas rindu sebentar. Setelah itu barulah teman-teman ku bergiliran untuk bersalaman pada Ibu dan nenekku.


"Bu sehat?" tanyaku sambil menyalami nya lalu memeluknya.


"Alhamdulillah," jawab Ibuku sambil di peluk olehku. Setelah aku selesai memeluknya aku beralih memeluk nenekku.

__ADS_1


"Bu...," panggil Budi sambil mengulurkan tangannya tanda ingin disalami.


"Sapa iki?" tanya ibuku bingung.


"Budi," jawabnya sambil menyalaminya.


"Frank"


"Sinta"


"Clara"


Temen-temen ku bergiliran untuk bersalaman sambil menyebutkan namanya masing-masing. Tak lupa mereka juga bersalaman dengan nenekku.


"Alhamdulillah cucuku gutul warah slamet (Alhamdulillah cucuku sampai dengan selamat)," ucapnya setelah memelukku.


"Nggih ni (iya Nek)," jawabku.


"Lam wis tekan (Lam udah sampai)?" tanya bapakku sambil berjalan menghampiri kami.


"Wis lah ra weruh apa (sudah lah gak liat apa)," saut ibuku ketus.


"Lah Bapak tes sekang ngendi (lah Bapak habis darimana)?" tanyaku heran.


"Kae sedina mancing bae ora kemutan nek anake rep bali gawa bala (itu seharian mancing terus gak ingat kalau anaknya mau pulang bawa temen)," jawab ibuku mewakili sambil menyindir.


"Lah aku kie mancing enggo istriku tersayang (lah aku ini mancing buat istriku tersayang)," bantahnya sambil merayu.


"Sayang sayang dengkul (lutut) mu," ucap Ibuku yang masih kesal.


"Terus endi siki olih e (terus sekarang mana hasilnya)?" tanya Ibuku menagih.


"Ucul maning gara-gara ditelepon (lepas lagi gara-gara di telepon)," jawab Bapakku pasrah.


"Huh dasar jere mancing tapi olih e kur mancing emosi ku tok (huh dasar kata mancing tapi hasilnya cuma mancing emosi ku saja)," sindirnya.


"Eram babar blas," gumamnya kesal. Begitulah Bapak Ibuku jika sedang berantem. Senamun begitu mereka tetap sayang satu sama lain kok.


"Wis lah Sri isin senggane di delengi ning batire Alam (dah lah Sri malu tau di lihatin sama temennya Alam)," ucap nenekku menghentikannya


"Walah lali maaf ya adek-adek (walah lupa aku maaf ya adik-adik)," celetuk Ibuku minta maaf. Teman-teman ku hanya tersenyum tipis padanya.


"Iya ra papa Ibuke alam (iya gak papa Ibunya Alam)," balas si Frank.


"Eh iya supir e, ra medang sit (eh iya supirnya, gak makan dulu)," tawar nenekku.


"Mboten (gak) usah repot-repot Nek," tolaknya.


"Ya wis Pak Rohim ati-ati ya," pesan si Frank mengizinkan.


"Ati-ati gali nyupir (hati-hati nyetirnya)," pesan Ibuku juga.


Pak Rohim mengangguk lalu masuk kedalam mobil. Mobil pun di setir kembali menuju tempatnya yakni kota Purwokerto.


"Hayu masuk lenggah sit (ayo masuk duduk dulu)," ajak nenekku pada teman-teman.


"Nggih Nini ne Alam (iya Neneknya Alam)," jawab si Sinta sambil tersenyum. Teman-teman ku pun masuk mengikutiku, Ibu dan Nenek.


"Hayu Lam ngerewangi Ibu sit (ayo Lam bantuin Ibu sebentar)," perintahnya padaku.


"Iya Bu," jawabku lalu berpamitan pada yang lain.


"Tak tinggal sit ya kanca-kanca, jagong sit anggap bae umahe dewek (tak tinggal sebentar ya temen-temen, duduk dulu anggap aja rumah sendiri)," pamitku. Teman-teman ku menjawab ku dengan mengangguk.


Aku lalu pergi mengikuti Ibuku ke dapur. Beberapa makanan dan cemilan serta minuman untuk yang lainnya sudah disediakan. Aku dipanggil ternyata untuk membawakan semuanya ke depan.


"Kanca-kanca panganan wis teka (teman-teman makanan sudah datang)," ucapku sambil menaruh makanan yang di nampan


"Monggo dicobi rencang rencange alam pada medang aja isin isin (silahkan dicoba temennya Alam, pada dimakan jangan malu-malu)," suruh ibuku mempersilahkan.


"Nggih Ibu ne Alam (baik Ibunya Alam)," jawab mereka berempat.


Setelah selesai acara makan-makan, aku dan teman-teman pergi berjalan kaki untuk mengunjungi wisata di desaku. Wisata tersebut bernama Masjid Saka Tunggal dan Taman Kera. Ya mereka katanya penasaran dengan wisata desaku. Sebelum berangkat aku dan teman-teman sudah berpamitan kepada Ibuku.


...🏡🏡🏡🏡🏡🏡...


Di Masjid Saka Tunggal. Setelah 15 menit berjalan akhirnya kami berlima sampai di lokasi. Banyak kera menyambut kami berlima. Kera-kera disini memang dibiarkan terlepas, bebas berkeliaran. Namun kadang kera-kera tersebut meresahkan warga sebab selalu mencuri makanan dan merusak gendeng setiap rumah warga. Tapi senamun begitu mereka membiarkannya. Karena ada cara unik dan jitu yang dilakukan warga untuk menakutinya. Yakni sebuah ban. Iya ban entah kenapa kera-kera disana takut dengan benda hitam melingkar ini. Cukup unik bukan. Teman-teman ku juga begitu pada heran dan penasaran.


"Deneng akeh ban Lam (kok banyak ban Lam)?" tanya si Sinta heran.


"Iya ketek ning kene pada wedi karo ban (iya kera disini pada takut sama ban)," jawabku.


"Lah kok bisa cerita ne piwe jere (lah kok bisa ceritanya gimana itu)," timpal si Budi ingin tahu.


"Lah aku be ra ngerti aku tah jere wong (lah aku juga gak tau aku kata orang)," kataku.

__ADS_1


"Cek, barang jere di percaya (barang katanya dipercaya)," sindir si Frank dengan decakan.


"Tapi emang iya deleng kae (tapi emang iya lihat disana)," suruh Budi pada kami, "ana wong medeni keteke karo ban, keteke langsung ngacir (ada orang menakutinya dengan ban, keranya langsung lari)," tunjuknya mengarah ke seorang nenek yang sedang melempar ban ke beberapa kera.


"Iya manjur berarti," ucap si Clara yang sudah percaya.


"Hayu pengin deleng jero masjid saka tunggal e ra (ayo pengin lihat dalam masjid saka tunggal gak)," tawarku tiba-tiba pada semuanya.


"Ya hayu," jawab mereka. Kami berlima pun berjalan kembali menuju Masjid Saka Tunggal berdiri. Sampai lah kami di tempat yang di tuju.


"Set nek mlebu jero kudu izin sit meng juru kunci ne (tunggu kalau mau masuk harus izin dulu sama juru kuncinya)," ujarku menyuruh mereka menunggu.


Juru kunci adalah penjaga atau pemegang kunci di kawasan wisata ini. Ada 3 kunci yang terdapat disini. Yakni kunci duwur (atas), kunci tengah, sama kunci ngisor (bawah). Orang yang aku temui untuk di beri izin adalah kunci paling bawah atau kunci ngisor.


"Oh kaya kuwe (oh begitu)," kata si Budi.


"Nganah izin ko sing wong kene (sana izin kamu yang orang sini)," suruh si Sinta padaku.


"Iya sabar toh," jawabku lalu pergi.


Aku pun mengetuk pintu rumah salah satu kunci di sana. Setelah berbicara apa tujuan kami. Akhirnya kami berlima di izinkan. Juru kunci yang kami temui bernama kunci Sulam. Dia adalah salah seorang yang menjaga dan merawat masjid tersebut.


"Hayo masuk adek-adek," suruh Pak Sulam mempersilahkan.


Kami berlima masuk mengikutinya dari belakang. Sampai lah kami ke tempat benda pusaka Masjid ini. Yakni saka berukuran besar dengan kincir diatasnya. Kami berlima kagum dengan ukiran kaligrafi yang terukir di tiang tersebut. Setelah cukup puas melihat, kami berlima keluar dan berlanjut memberi makan kera-kera di sini.


"Yah," ucapku sambil menyodorkan tanganku yang di beri segenggam kacang tanah.


Satu kera datang menghampiri dan mengambil kacang yang ku taruh ditangan. Kera tersebut pergi dan tak lama datang kembali membawa pasukannya. Semakin dan semakin banyak kera yang berdatangan, sampai kami berlima kewalahan. Bahkan Clara menjerit karena terkejut. Dirinya terkejut sebab ada kera yang memegangi tali tasnya.


"Astaghfirullah," teriak dirinya yang langsung beranjak. Si Clara teriak, kera tadi pun ikut terkejut dan langsung berlari.


Berawal dari dirinya yang sedang asyik menonton ku dan lainnya memberi makan. Saat menengok ke belakang ternyata ada kera diam-diam mengutak-atik tasnya. Sebab itulah dirinya berteriak.


"Ana apa Clar?" tanyaku.


"Ketek e usil, kaget aku ijig-ijig ning mburi ku (keranya usil, kaget aku tiba-tiba ada dibelakang ku)," jawabnya.


"Kayane keteke penasaran karo isi tas mu, Clar (sepertinya keranya penasaran dengan isi tas mu, Clar)," tebak si Budi.


"Hem ketek penasaran," katanya pelan.


"Wah ra krasa wis Ashar (wah gak kerasa udah Ashar)," ucap ku setelah melihat jam tangan ku. "Hayu sholat sit terus balik istirahat (ayo sholat dulu terus pulang istirahat). Aku pun mengajak yang lainnya sholat dulu di Masjid Saka Tunggal. Barulah setelah itu kami pulang.


iya Lam, kata Budi setuju. Teman-teman lainnya juga mengangguk setuju.


Kami berlima pun segera mengambil wudhu dan shalat berjamaah. Setelah selesai kami kembali ke rumah ku dengan berjalan kaki kembali.


Suasana di kawasan wisata ini tampak sejuk dan asri ditambah deru aliran sungai yang mengalir deras. Padahal banyak rumah disekitar tapi serasa di alam yang sejuk. Tidak ramai banyak orang dan hanya terdengar suara ciutan kera yang saling berinteraksi satu sama lain. Ada kera yang besar juga itu dinamakan babon. Ada juga kera yang sedang menggendong anak-anaknya. Sesekali anak-anak mereka diganggu oleh kera lain. Ibu dari anak kera tersebut jadi marah dan mengejarnya. Seperti manusia saja bukan.


Kawasan wisata ini emang lagi sepi dan akan ramai jika ada perayaan hari besar seperti Lebaran atau Rajaban saja. Atau kadang sesekali ada pengunjung yang datang dari daerah lain untuk berziarah di makam dekat Masjid Saka Tunggal tersebut.


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Malam harinya di rumah Samsul.


Samsul sudah terbebas dari hukumannya. Tapi dirinya masih belum move on dari si Emely. Samsul pun pergi ke rumah Emely untuk bertemu. Tapi setelah sampai, ternyata orang yang di cari telah pergi pindah ke Jakarta. Ia akhirnya terpaksa kembali dengan perasaan loyo. Dirinya sudah mencoba menelpon tapi ternyata tak diangkat oleh olehnya.


Sekarang Samsul sudah kembali ke rumah. Namun baru masuk Samsul di suruh sama pak Samsudin untuk duduk di depannya.


"Samsul kemari kamu," suruh ayahnya saat baru masuk rumah.


"Ada apa sih yah?" tanyanya malas.


"Yah." Pak Samsudin melempar surat pemindahan dirinya ke kampus lain.


"Ini apa?" tanyanya lalu membaca isi tiap lembar kertas tersebut.


"Mulai semester depan kamu akan pindah kuliah di Singapura, kau akan bersama Ibumu disana," jelasnya.


"Tapi Yah," potongnya.


"Ini pilihan terbaik Ayah dari pada kamu disini membuat masalah terus mending kau disana bersama Ibumu," lanjutnya lagi.


"Aku akan pikirkan dulu," ucapnya lalu pergi ke naik ke atas.


"INGAT jika sudah memilih beritahu ayah," teriak Pak Samsudin.


Di kamar, Samsul merebahkan dirinya sambil menatap langit-langit. Dia berpikir sejenak sambil bergumam, "Apa aku terima saja tawaran ayah ya lagi pula aku bisa move on dari Emely," gumamnya sambil berpikir.


"Tapi bagaimana dengan dua sahabat ku Domu dan Made. Tidak ada aku pasti mereka kesepian karena tak ada yang mentraktirnya lagi," pikirnya panjang.


Lama ia berpikir dan bingung untuk memilih. Dirinya pun akhirnya terlelap sendiri, tidur dan belum memutuskan untuk menerima atau menolak keputusan ayahnya.


Bersambung.......🐒🐒🐒

__ADS_1


__ADS_2