BUMI KITA

BUMI KITA
BAB 29 "Gimana kabar Samsul???"


__ADS_3

Singapura waktu setempat.


Ini lah keadaan Samsul sekarang. Dirinya bukanlah menjadi bos seperti biasa. Melainkan menjadi seorang pesuruh. Lah kok bisa? Berawal dari pertama kali ia menginjakan kakinya di asrama kampus. Kala itu asrama kampus sedang direnovasi, namun tak sengaja si Samsul menghancurkan segalanya. Mulai dari cat yang tak sengaja ditendang nya saat berjalan. Saat dirinya berjalan mundur sambil minta maaf malah dirinya tak sengaja menabrak ibu kos yang sedang membawa tumpukan sampah. Ibu penjaga asrama kaget dan membuat sampah yang di bawanya berhamburan berserakan di area depan asrama. Intinya baru datang si Samsul sudah terkena sial.


"Don't you have eyes when walking (apa kamu tidak pake mata ketika berjalan)," marah ibu itu.


"Sorry sorry ma'am I didn't do it on purpose (maaf maaf Bu saya tidak sengaja)," ucap si Samsul sambil merapatkan kedua tangannya.


"Look what you've done and it looks like you're new here (lihat apa yang kamu lakukan dan sepertinya kamu orang baru disini)," marahnya lagi sambil menebak. Area sekitarnya jadi berantakan gara-gara ulah si Samsul yang tidak disengaja itu.


"Yes i was just suddenly here and i am a freshman in Singapore National university (ya aku baru tiba disini dan aku mahasiswa baru di Universitas Nasional Singapura)," ucap Samsul menjelaskan.


"Oh it's appropriate but if you are new here I will free you from this mess okay (oh pantas tapi walau kamu orang baru tetap saja kamu harus menerima hukuman dariku, oke)," katanya.


"OK, what's the law then (ok, apa hukuman itu)?" ucapnya setuju sambil bertanya tentang hukuman nya.


"You will be mother's helper while in this hostel. Either in terms of cleaning or anything else (kamu akan menjadi pembantu ibu selama di asrama ini. Baik dalam hal kebersihan atau yang lainnya)," jawabnya.


"What?Why? (Apa? kenapa?)," tanya Samsul tak terima.


"Yes because you have to be responsible for all of this (ya karena kamu harus bertanggungjawab atas semua ini)," jelasnya.


"And introduce my name is madam Mery the caretaker of this hostel (dan kenalkan nama ku madam Mery penjaga asrama ini)." Madam Merry lalu memperkenalkan dirinya ke Samsul. Madam Merry Ini adalah penjaga asrama yang memiliki tubuh gempal, dia terlihat menyeramkan namun hatinya baik dan lembut selembut kapas.


"Both madam and my name is Samsul (baik madam dan namaku Samsul)," ucap Samsul memperkenalkan diri juga.


"Ok Samsul I hope you feel at home here (ok Samsul semoga kamu betah disini)," katanya.


Rasanya si Samsul ingin menolak hukuman itu tapi dirinya tak bisa. Dirinya takut akan terjadi apa-apa apalagi itu bukan di negeri sendiri. "Sial sekali bukannya baru datang aku mendapat sambutan hangat malah ini harus kena apes begini," batin Samsul kesal. Dirinya lalu masuk ke dalam asrama untuk menuju ke kamarnya.


Untung si Samsul pintar berbahasa asing kalo tidak pasti dirinya akan bingung. Oh iya mengenai kampus baru Samsul yakni universitas Nasional Singapura adalah Universitas terbaik yang tergolong murah biaya katanya. Bagi pak Samsudin sepertinya itu bukan apa-apa dan masih mampu untuk membayarnya.


Dan saat ini si Samsul sedang melakukan tugasnya yakni membersihkan toilet asrama. Dirinya sangat tak bersemangat untuk melakukan pekerjaannya. Saat sedang menggosok lantai kamar mandi dirinya malah di ganggu oleh mahasiswa lain yang hendak ke kamar mandi. Seorang bertubuh besar dan tinggi menendang sikat yang digunakan Samsul dengan kuat, hingga membuat sikat terlempar jauh ke belakang.


"Hey you're a new person, just clean the clean one, just be careful, this bathroom is still dirty because you didn't clean it (hey kamu orang baru, bersihin yang bersih ya awas aja kamar mandi ini masih kotor gara-gara kamu gak bersih bersihinnya)," maki mahasiswa itu.


Samsul hanya diam saja dan memilih untuk tua menanggapinya.


"Idih sapa kowe," batinnya sambil melangkah menggambil sikatnya kembali.


"You're done, let's go ('dah selesai yo pergi)," ajaknya ke beberapa temannya, "remember to be clean (ingat harus bersih), ucapnya pada Samsul lalu pergi.


"Sini tak gosok sekalian kau," marah Samsul dibelakang sambil menggerakkan sikat WC nya. Saat sedang marah-marah datanglah mahasiswa berkulit sawo matang menghampirinya.


"Punten masnya dari Indonesia juga?" tanya mahasiswa itu sopan.


"Hooh," jawab Samsul singkat.


"Walah aku juga," katanya senang.


"Dah tau itu bisa bahasanya," ucap Samsul dingin.


"He-he-he iya, kenal kan namaku Karsun," ucapnya lalu memperkenalkan diri. Karsun mahasiswa dari Tegal yang berhasil kuliah di Singapura. orangnya ceria dan suka membantu. Dia akan menjadi teman Samsul selama di Singapura.


"Mobil matahari," canda Samsul padanya


"Walah iya yah," ujar Karsun terkekeh.


"Huahahay," tawa Samsul seketika.


Si karsun melihat Samsul yang bekerja sendiri jadi merasa kasian. Dirinya lalu menawarkan bantuan padanya


"Tak bantuin ya," tawarnya.


"Boleh bro," jawab Samsul langsung setuju.


Mereka berdua sekarang menjadi teman dan si Karsun sering membantu nya juga dalam mengerjakan tugas hukuman si Samsul juga.


Kembali ke Indonesia tepatnya di bumi belahan Purwokerto.


Di Kampus Unsoed.


Aku dan yang lainnya sedang duduk-duduk mengobrol di kelas setelah pembelajaran materi kuliah selesai. Kami tiba-tiba membahas kabar Samsul karena telah lama tak mendengarnya.


"Heh aku ijig-ijig koh penasaran karo kabare si Samsung ya (heh aku tiba-tiba kok penasaran sama kabarnya si Samsung ya)," ujar Budi tiba-tiba.


"Tumben bener kowe Bud nakoni (tanya) kabare si Samsul," kataku heran.


"Mbuh kiye koh pengin wae ngerti kabare (entahlah aku hanya ingin tau kabarnya saja)," katanya.


"Hem kowe kangen karo celukane ko meng Samsul ya (hem kamu kangen sama panggilan mu ke Samsul ya)," tebak si Frank.


"Iya dean (mungkin)," jawabnya tak yakin.


"Heh Frank berani banget kamu ngeprank kita kemarin." Tiba-tiba Badrol and the gang datang dan langsung menggebrak meja depan Frank. Aku dan lainnya jadi terkejut.


"Punten Badrol ngeprank opo ya maksudnya?" tanyaku padanya karena tak mengerti.


"Tanya sama temen mu yang doyan Prank itu," jawab Badrol sambil melirik ke Frank.


"Si Frank," tebak ku.


Si Badrol dan lainnya mengangguk.


"Heh berudul aja (jangan) nuduh sembarangan lah," bela Budi tak terima.


"Hanya kita tak tuduh ma oe liat sendiri kalo si Frank yang prank ma," jelas Lang-Lang mewakili.


"Iya aku yang ngeprank kalian," ucap Frank tiba-tiba mengaku. "Dasare kenang apa geng mu bisa ning utan padahal kowe pada gak ikut kemah (dasarnya kenapa geng mu bisa di hutan padahal kamu pada gak ikut kemah)?" tanyanya pada Badrol.

__ADS_1


"Suka suka aku lah," jawabnya ketus.


"Iya sekarep mu, Drul lah," ucapku mengiyakan saja.


"Heh Berudul kowe pasti duwe niat jahat ya kalo ora duwe niatan aneh-aneh mana mungkin kowe gelem nyusul kita (heh Berudul kamu pasti punya niat jahat ya kalau bukan punya niatan aneh-aneh mana mungkin kamu mau nyusul kita)," tebak asal Budi.


"Aku emang ada niatan tapi tak jadi karena banyak gangguan," katanya.


"Kau tau Geng Alam, kami semua kena sial udah di takuti di kejar babi hutan lagi," tutur Made keceplosan.


"Bu-wa-ha-ha sungguh kasihan," tawa Frank menggelegar setelah mendengarnya.


"Diem kamu Frank," marah Badrol padanya.


"Eh tunggu kowe pada nginep ning ngendi wingi (eh tunggu kalian tinggal dimana kemarin)?" tanyaku tiba-tiba penasaran.


"Ada pondok disana kami berlima tidur disana," jawab Domu mewakili.


"Ko pada ra di wedeni hihihi (kalian pada gak ditakuti hihihi)," tanya si Frank pada Geng Badrol.


"Hihihi apa? Kunti ?Maksudmu?" tebak si Badrol langsung.


"Hooh," kata si Frank mengangguk.


"Kan kamu kunti nya," jawab Badrol sambil menunjuk dirinya.


"Ah udahlah kok aku jadi bahas semua ini sama kalian," ucap Badrol tersadar.


"Lah iya juga," kataku yang jadi heran.


"Au ah bro kita cabut," ajak Badrol pada gengnya.


Geng Badrol lalu pergi meninggalkan kami berlima kembali.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Sementara di Ruang UKM Pencinta Alam.


Bang Kris terlihat serius melihati piagam penghargaan Klub yang didapatnya saat acara kemarin. Ya Klub kami adalah pemenang event di acara Hari Bumi kemarin sebagai kategori tim terkompak. Bang Kris pun memajang piagam tersebut di tembok. Dirinya perlahan mundur dan sambil berkacak pinggang melihati benda tersebut.


"Hem sungguh indah piagam itu," gumamnya.


"Duar." Suara datang dari belakang mengejutkan dirinya.


"Lili kamu mengagetkan ku saja," katanya.


"He-he-he maaf Kris itu hadiah kemarin kah?" ucapnya lalu bertanya.


"Iya Lili bagus kan?" jawabnya sambil menanyakan pendapat.


"Iya bagus seperti dirimu," jawabnya memuji sambil tersenyum kearahnya.


"Hish terserah kamu sajalah," ucap Mba Lili sebal.


"Wkwkwkwk...," Bang Kris tertawa melihat ekspresi Mba Lili yang ngambek.


"Hey kau dua orang asyik sendiri tak ajak pun," panggil Mba Betti sambil berjalan menghampiri.


"Betti lihat piagam ke 10 kita bagus dan berkilau," ucap Mba Lili sambil menunjukkan benda tersebut padanya.


"Iya tak sia-sia kita memilih Alam dan kawan-kawannya," katanya bangga.


Para senior merasa bangga dengan kerja keras kami berlima. Mereka tak sia-sia memilih kami berlima untuk ikut kegiatan tersebut.


"Assalamualaikum bang Mba," sapa kami berlima yang baru datang.


"Waalaikum salam, eh para juara telah datang," jawab Mba Lili sambil memuji kami.


"Juara? Lah juara apa kita?" tanya Budi yang bingung.


"Juara lomba acara kemarin Bud," jawab Mba Lili.


"Kita menang sih Mba?" tanyaku memastikan.


"Iya kalian menang," ucapnya menyakinkan.


"Ngapusi lah aku durung percaya kie (bohong lh aku belum percaya ini)," kata Budi yang masih tak percaya.


"Junior ku, kau baca itu yang dipajang ditembok," suruh Mba Betti padanya.


Aku pun dan lainnya ikut melihat ke arah tembok dan membaca isi piagam tersebut. "Selamat Tim UKM kalian...," kami berlima membaca bersama.


"HUWAAAA...," teriak Budi tiba-tiba.


"Astaghfirullah aku kaget," kata Clara yang terkejut karena berada disebelahnya.


"Kita temenan (beneran) menang," kata Budi senang.


"Hooh Bud tim kita menang," ucapku menimpali.


"Senangnya diriku," gumam Sinta senang.


"Nah untuk merayakan keberhasilan kalian kami para senior sudah berunding untuk mentraktir kalian makan sepuasnya di Warung satenya Paman nya Bang Opik." Bang Kris memberikan pengumuman kepada kaki tentang acara perayaan yang diadakannya untuk kami.


"Kiye temenan (ini beneran) Bang Opik?" tanyaku padanya.


"Te sate kita sate sepuasnya taye," jawabnya.


"Wah asyike madang gratis madang gratis (wah asyiknya makan gratis makan gratis)," ucap Budi yang gembira layaknya mendapatkan sebuah jackpot.

__ADS_1


Kami berlima sangat senang dan gembira. Si Budi bahkan menjabat tangan satu-persatu Bang Kris dan lainnya.


"Kesuwun (terimakasih) Bang Kris," katanya.


"Kesuwun kesuwun kesuwun pokoke (terimakasih terimakasih terimakasih pokoknya)." Si Budi tak berhenti menyalami para senior satu-satu sebagai rasa syukurnya. "Kapan maning aku mangan gratisan (kapan lagi aku makan gratisan)," ucapnya senang setelah selesai bersalaman.


"Ko wis sering madang gratisan ning tempat ku Bud (kamu sudah sering makan gratisan di tempat ku Bud)," sindir ku padanya


"Hush aja ngomong ngomong (hush jangan bilang-bilang)," katanya sambil menepuk pundak ku.


"Huh Budi si doyan gratisan," ledek Sinta dan Clara.


Kami semua tertawa bersama mengisi ruangan Klub.


...🌾🌾🌾🌾🌾🌾...


Malam harinya di Warung Sate Pak Marjuki.


Semua anggota klub UKM berkumpul tak terkecuali aku dan ke empat temanku. Beberapa tusuk hidangan sate telah tersusun rapi dimeja dan terlihat sangat menggoda. Bumbu kacang yang banyak aroma yang harum, membuat perut kita semua tak sabar ingin merampas nya.


"Halah kesuwen bang, aku comot sit olih wis ra tahan kiye (halah makasih bang, aku boleh comot dulu boleh dah gak tahan ini)," ujar si Budi meminta izin.


"Te sate comot gari comot taye wis di sanding iki (ambil tinggal ambil sudah tersedia kok)," kata bang Opik mengizinkan.


"Ayo mulai makan kelamaan nanti ra enak taye," suruh bang Opik pada lainnya.


"Hem.... aroma ne kue enak banget (hem.... aromanya itu enak banget)," ucapku sambil mencium bau sate yang ada di depanku.


"Iya Lam, hem.... lezat," timpal si Sinta sambil mengambil satu sate dan mencium aromanya.


Aku mulai mengambil satu sate juga dan memakannya. Aku baru makan 2 tusuk sate sedangkan si Budi sudah 10 tusuk sate yang dimakannya. Saat menengok ke arahnya aku terkejut.


"Masyaallah Bud kowe kencot apa doyan (masyaallah Bud kamu lapar apa suka)," sindir ku padanya.


"Loro-loro ne (dua-duanya)," jawabnya dengan mulut penuh


"Jan jan deleng sing liyane be mangan pirang iji, kowe wis 2 piring isi sate ludes ning ko, lara weteng engko Bud (duh aduh lihat yang lainnya baru makan beberapa, kamu udah 2 piring isi sate ludes di kamu, sakit perut nanti Bud)," kata si Frank yang heran padanya.


"Hush aja berisik Frank nek ko ketungkul ngomong bae, ludes kabehan ning aku ini sate (hush jangan berisik Frank kalau kamu kebanyakan omong saja, ludes semua di aku ini sate)," ucapnya sambil terus memasukkan satenya ke dalam mulut.


"Hem.... ngeneh.... kowe dilarang mangan maning (hem....sini.... kamu dilarang makan lagi)." Si Frank tiba-tiba merebut piring yang sedang di pegang Budi yang masih menyisakan 4 tusuk sate. Dirinya lalu berlari dan memakannya di tempat yang aman.


"Hee.... Frank kuwe (itu) sate ku," teriaknya.


"Wis wis aja pada ribut, Abang pesena maning (dah dah jangan pada ribut Abang pesankan lagi)," ucap Bang Kris melerai mereka.


"Wih akeh duwit ceritane Bang (wih banyak uang ceritanya Bang)," godaku padanya.


"Ora deleng dompet ku kur gari cepe (enggak lihat dompet ku cuma tinggal cepe)," jawabnya sambil menunjukkan isi dompetnya.


"Aduh ngapa ngarep pesen maning taye (aduh kenapa mau pesan lagi)," ucap Bang Opik sambil tepok jidat.


"Dasar Kris kau ini lucu juga," ledek Mba Lili sambil tertawa kecil.


"He'em kie sepiring maning bonus sekang bapak (he'em ini sepiring lagi bonus dari bapak). Suara bapak-bapak tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa sepiring sate dan menaruhnya di meja.


"Lik Juki aku ra kepenak taye, tapi suwun (Lik Juki aku gak enak, tapi makasih)," kata bang Opik yang merasa kurang enak pada dirinya.


"Heh bocah kiye ana maning (heh bocah ini ada lagi)," panggil Pak Juki pada Frank dan Budi. Mereka berdua masih merebutkan 2 tusuk sate yang tersisa.


"Asyik aku disit (dulu)," ucap Budi senang lalu berlari.


"Apa sih aku disit (dulu)," tarik Frank dari belakang saat sudah di depan meja.


Si Frank dan si Budi masih saja rebutan untuk mengambil satenya. Aku dan yang lainnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja.


Di tempat ku tertawa riang dan senang tapi sedangkan di Singapura Samsul bersedih kerena kangen dengan kedua temannya. Dimalam hari yang dingin dia duduk sendirian di bangku taman.


"Ah aku pengen pulang rasanya. Tak ada Domu Made tak seru, disini berharap bisa jadi bos luar malah jadi kaya TKW aku," gumamnya sedikit kesal sambil melempar batu ke jalan.


"Hey Sul lagi apa ko disini?" suara seseorang memanggilnya dari kejauhan. Ya itu Karsun, dirinya lalu berjalan menemui Samsul.


"Mobil matahari masih keluar," ledeknya setelah tiba.


"Lah ya masih," ucapnya, "eh jenengku (namaku) Karsun udu mobil matahari," protesnya setelah tersadar.


"Ah iya Karsun kamu sendiri lagi apa disini?" tanya Samsul padanya.


"Aku mau ke warnet main game kau mau ikut," jawabnya lalu mengajak Samsul untuk ikut bersamanya.


"Main apa kau disana?" tanyanya lagi.


"Mobile lagends," jawabnya.


"Wih hayu lah aku ikut aku jago dalam main itu," katanya bersemangat.


"Ya ayo tapi ati-ati lawan wong Singapura angel pada wis tingkat master kabeh (ya ayo tapi hati-hati lawan orang Singapura susah pada udah tingkat master semua)," ucapnya setuju sambil memberitahu.


"Ra peduli aku malah penasaran gas lah lumayan aku lagi bosen ini kagak ada temen," katanya mengabaikan dan malah makin bersemangat.


"Aku bisa jadi temenmu disini," katanya menwarkan diri.


"Thanks Bro Karsun ayo kita lest go aku yang bayar," ucap Samsul senang bahkan berniat mentraktir Karsun. Samsul merasa mendingingan sekarang dia bahkan telah melupakan rasa rindunya pada teman-temannya.


"Mantap!" ucap Karsun sambil mengacungkan jempol padanya.


Samsul dan Karsun kini menjadi teman, mereka berdua pergi ke warnet bersama sambil saling merangkul satu sama lain.


Bersambung....🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2