
Keesokan harinya di Purwokerto yang agak mendung. Aku dan Budi kini sudah kembali seperti dulu. Tapi untuk sementara ini aku harus nebeng dulu ke Budi. Ya kalian tau si Onel telah pergi sebab kecelakaan waktu itu.
Sepertinya cuaca hari ini tidak begitu mendukung. Awan gelap mulai menyelimuti awan putih. Aku pun menyuruh Budi agar cepat-cepat berangkat sebelum hujan mengguyur kami berdua nanti.
"Bud hayu wis mendung mbok kudanen (Bud, ayo sudah mendung takut kehujanan)," suruh ku padanya.
"Iya Lam gian gian (iya Lam cepet cepet)," ucapnya langsung berlari menaiki motornya.
"Wis Lam," instruksi si Budi padaku.
"Wis Bud," sahutku dari belakang.
"Berangkat.... " si Budi lalu menjalankan motornya dan melaju menuju kampus.
Kami dan hujan datang bersama. Aku sampai di kampus hujan juga sampai di bumi belahan Purwokerto. Kami berdua segara berlari ke kelas supaya tak basah. Tapi al hasil kami berdua tetap basah walau sedikit. Pagi-pagi sudah hujan membuat orang malas saja. mungkin hampir semua orang berpikiran seperti itu. Tapi tidak dengan ku dan Budi walau hujan datang, hal itu tak akan mampu menghalangi semangat belajar kami berdua. Belajar adalah kunci pertama kami. Tak peduli basah tubuh ini asal pelajaran tak tertinggal. Begitulah pemikiran kami berdua.
Saat aku dan Budi melewati area belakang kampus, ternyata selokan kampus meluap. Belakang kampus jadi tergenang air dari selokan. Untung saja hanya banjir kecil biasa tak sampai meluap ke dalam kampus. Entah apa yang menyebabkan air selokan menjadi meluap seperti itu. Pikiran pertama yang terlintas adalah sampah. Kalau bukan sampah apalagi coba. Ternyata, masih ada warga kampus yang membuang sampah sembarangan ya.
Di kelas FMIPA.
Aku dan Budi sudah sampai ke kelas. Kami berdua disambut oleh teman yang lainnya. Mereka bertiga sangat senang melihatku dan Budi kembali akur.
"Wih akhire Alam karo Budi balik akur maning, kan enak nek di sawang (wih akhirnya Alam sama Budi kembali akur lagi, kan enak kalau di pandang)," kata si Frank senang melihat kami berdua bersama.
"Iya Alhamdulillah, aku emang di takdir na kancaan karo si Budi (iya Alhamdulillah, aku memang ditakdirkan berteman sama si Budi)," ucapku, "yoh Bud." sambung ku sambil mengangkat alis ke arah Budi.
"Cek ...," decak nya sambil membentuk pistol ditangan. Lalu kami berdua tos bersama.
"Yeah," ucapku bersama Budi setelah bunyi tepokan tangan.
"Masa kur Budi tok sing di tosi kita ora (masa cuma Budi saja yang di tosi kita enggak)," protes si Frank.
"Iya iya hayu hayu tos bareng bareng (iya iya ayo tos sama-sama)," ujarku.
Kami berlima pun tos bersama. Tak jauh dari sisi kami, terlihat si Domu dan Made yang mengobrol tanpa adanya si Samsul. Entah pergi kemana dirinya itu.
"Mu kasihan ya si bos kena skor ayahnya," ujar si Made.
"Iya, macam mana pula bos ini bisa teler di tengah jalan kemarin malam," sambungnya sambil berpikir.
Ditempat ku tak sengaja mataku tertuju pada mereka berdua. Lalu aku pun menanyakan hal terkait itu pada teman-teman.
"Heh si Samsul meng ngendi yah? Tumben antek e tok sing keton (heh si Samsul kemana ya? Tumben anteknya saja yang kelihatan)," ujarku bertanya.
"Ngapa ko goleti Lam, bukane langka Samsung dadi ayem (kenapa kamu nyariin Lam, bukannya gak ada Samsung jadi tenang)," ujar si Budi.
"Aku kur (hanya) penasaran tok (saja) tumben loh," sangkal ku.
"Sit aku tak celuk rong kucrut kae (entar aku akan manggil dua kucrut itu)," ujar si Frank.
Si Frank lalu memanggil mereka berdua, "Made Domu, sini sebentar."
Domu dan Made yang merasa dirinya dipanggil, langsung saling pandang bertukar pikiran. Setelah cukup lama bertukar pikiran, mereka berdua akhirnya beranjak menghampiri kami berlima.
"Ada apa? Kenapa kamu panggil kita?" tanya si Made.
"Mau tanya dong, bos mu kemana ya?" pinta si si Frank berbalik tanya.
"Bos ku di skor," jawab si Made langsung.
"Hush Made kenapa kamu bilang!" tegur Domu padanya.
"Lah kan ditanya ya jawab," bantahnya.
"Haduh." si Domu menepuk dahinya. Dirinya heran dengan si Made yang selalu keceplosan dan asal bicara.
"Bosmu di skors?? Priwe ceritane (gimana ceritanya)?" ucapku terkejut lalu bertanya.
Si Made terlihat bingung ingin jawab dan cerita apa tidak. Ia bahkan melirik pada Domu untuk memberikan izin. Tapi si Domu malah melotot balik kearahnya.
"Halah cerita bae (saja) gak usah takut sama si Samsul," suruh si Frank pada kedua antek Samsul.
"Lah tapi kata bos jangan kasih tau nanti kita di gantung lagi." Domu dan Made tampak enggan bercerita kerena takut dengan bosnya.
"Ora bakalan lah Samsung be ra nana (gak bakalan lah Samsung aja gak ada)," timpal si Budi.
"Ok lah jadi...?" mereka berdua mulai bercerita.
Flash back.
Kemarin malam tepatnya jam 22.00 waktu Indonesia Purwokerto. Si Samsul dan kedua anteknya sedang berkumpul di emperan toko dekat Prapatan. Mereka bertiga sedang merokok dengan sandingan beberapa botol minum keras jenis ciu. Apalagi si Samsul yang hatinya sedang dilanda kehancuran gara-gara di putusin.
"Bos sudah lah jangan minum lagi kau udah teler itu," suruh si Domu. Dirinya berusaha menghentikan bosnya yang sudah mabuk itu.
"Aaah berisik kau Domu aku masih sadar," sangkalnya lalu menenggak minumannya. "Glegek glegek."
"Hayo lah Bos lupakan lah si Emely carilah yang baru," suruh si Made padanya.
"Hush Made," Domu yang disebelah nya langsung menyuruh dirinya untuk diam saja.
"Lah bener kan," katanya.
"Kalian berdua bisa diam gak hah. Ingat aku ini cuma suka dengan si Emely!" marah Samsul pada mereka.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Waktu dimana para polisi patroli keliling area Purwokerto. Pak Bambang salah satu polisi yang pernah menghukum Samsul juga ikut bergabung.
"Selamat malam adek adek!" sapa Pak Bambang.
"Weh ada Pak Polisi," ucap si Made sambil beranjak.
"Malam Pak!" si Domu dan Made membalas sapaannya sambil menunduk.
"Kalian bertiga lagi ngapain disini?" tanyanya.
"Gak ngapa-ngapain Pak kita hanya kumpul biasa," jawab si Made.
"Itu ada botol isinya ciu nya," tebaknya.
"Hehe iya Pak tapi kami berdua hanya menenggaknya satu kali," kata si Domu mengaku sambil menggaruk kepalanya.
"Itu dibelakang temen kalian kah?" tanyanya memastikan.
"Iya Pak," jawab mereka mengangguk.
"Coba panggil kesini," suruhnya.
Domu dan Made pergi memanggil Samsul sementara Pak Bambang mengecek barang yang lainnya. Si Samsul dengan susah payah berhasil berdiri dan di bawa oleh kedua anteknya menghampiri pak Bambang.
"Ya ampun kamu bukannya anaknya pak Samsudin." Pak Bambang terkejut ketika mengetahui kalau anak itu adalah si Samsul.
"Hehe iya Bapak siapa ha? Ah aku tau bapak...? Polisi waktu itu.... Pak Bangbang Tut. Halo Pak Bangbang Tut," ucap si Samsul ngelantur sambil menyapa. Dirinya berdiri dengan sempoyongan seakan-akan sedang diterjang angin.
"Bicara yang benar, kamu teler pasti," suruh pak Bambang sambil menduga.
"Pak Bangbang Tut.... aku sedih aku di tinggal pacar ku," rengeknya langsung sambil memeluk Pak Bambang. Dirinya terkejut dengan reaksi si Samsul yang tiba-tiba. Ia pun berusaha melepaskan pelukannya.
"Heh Samsul lepaskan bapak. Bapak ini bukan tiang listrik yang jadi senderan mu," suruhnya sambil terus berusaha melepaskan pegangan si Samsul.
$Heh kalian ngapa diam, cepat bantu temanmu ini," suruhnya pada Domu dan Made.
__ADS_1
"Baik baik Pak,' ucap mereka berdua langsung berlari untuk melepaskan si Samsul.
"Sul lepaskan Bapak Polisi," suruh si Domu.
"Iya Bos lepasin," ucap si Made juga.
"Aaahh berisik kalian," katanya sambil menyingkirkan mereka berdua.
Dengan susah payah akhirnya si Samsul melepaskan pegangannya. Pak Bambang lalu menyuruhnya berdiri tegak. Tapi si Samsul malah oleng, dirinya tak bisa berdiri dengan tegap.
"Berdiri yang benar bisa gak, "suruh Pak Bambang lantang.
"Baik Pak Bangbang Tut," ucap si Samsul yang masih sempoyongan.
"Coba sekarang hafalkan Pancasila aku ingin menguji coba kesadaran mu," suruhnya tegas.
Eh si Samsul malah merem melek sambil menggoyang-goyangkan badannya. Tubuh si Samsul terasa tak seimbang karena setiap berdiri lurus, dirinya pasti oleng.
"Cepat hafalkan!" suruh Pak Bambang lagi dengan tegas.
Si Samsul mulai menghafalkan. Tapi baru saja mengucap kata Pancasila dirinya sudah salah dan seterusnya selalu salah. Dirinya malah mengubah kata Pancasila dan isinya dengan asal bahkan Pak Bambang sampai tepok jidat sendiri.
"Pancacinta," lafal kata Samsul yang asal.
"Lho... Pancasila!" ucapnya membenarkan. "Pancacinta itu apa?" tanyanya sambil geleng-geleng.
"Pancasila. 1 hanya Emely yang ku suka." si Samsul melanjutkan hafalannya.
Si Domu dan Made yang melihatnya jadi pengin tertawa mendengar Bosnya yang salah hafal.
"Sapa Emely?" pikir Pak Bambang kesal sambil menepuk jidatnya.
"Pacarnya Pak eh mantannya," saut si Domu sedikit tertawa.
"Yang bener!" Pak Bambang kembali menyuruh si Samsul untuk serius.
"2 kebahagiaan ku hanya untuknya," lanjut si Samsul.
"Makin ngayag (gak jelas) nih bocah," pikir pak Bambang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkacak pinggang.
"Coba kamu Pancasila yang bener berdua." suruhnya pada Domu dan Made.
Domu dan Made pun menurut. dengan lantang dan tegas mereka akhirnya lolos dari hukuman. Ya iyalah secara mereka berdua hanya satu tegukan ciu ya masih bisa sadar. emang si Samsul yang 10 botol ciu habiskan semua.
"Bagus kalian lolos dari hukuman. Kalian boleh pulang sekarang," katanya lalu menyuruh mereka berdua untuk pulang.
"Aku gimana Pak? he-he-he." tanya Samsul sambil tertawa.
"Kamu ikut bapak ke kantor. Tunggu bapak mu menjemput mu," suruhnya.
Flash of.
...🍄🍄🍄🍄🍄🍄...
"Kami berdua bahkan susah sekali menanganinya," sambung Made setelah bercerita.
"Iya sampai pak polisi datang pula," timpal si Domu.
"Lah ngapa si Samsung nginum ciu, jelas-jelas haram Samsung kan Islam," pikir si Budi heran.
"Islam opo bud? Islam setugel (Islam apa bud? Islam setengah)," saut si Frank.
"Si bos di putusin sama Emely katanya," tutur si Made pada kami.
"Hwa-ha-hay potek ati tengan (hwa-ha-hay patah hati ternyata)." tawa si Frank menggelar.
"Lah nasib bos mu gimana kemarin?" tanyaku penasaran.
"Hualah melasi ne (kasian sekali) si Samsung yang malang wakakay," pikir si Budi sambil tertawa.
Kami berlima tertawa mendengar cerita si Domo dan Made. Tapi aku agak kasihan juga dengan si Samsul yang jadi diskor gara-gara frustasi di putusin Emely.
Sementara di rumah Samsul. Dirinya terlihat berantakan menyendiri di kamar. Ya dia juga di kurung sama pak Samsudin sebagai hukuman atas perbuatannya. Pak Samsudin merasa malu karena selalu di panggil oleh pak Bambang, kenalannya untuk menjemput dirinya. Pak Bambang bahkan terus menasehati pak Samsudin untuk menjaga anaknya dengan baik. Dirinya juga marah pada si Samsul karena ternyata anaknya seperti itu karena di putusin pacarnya.
"Emely sebenarnya siapa yang sudah merebut hatimu." pikirnya penasaran.
"Aku ini masih cinta padamu," katanya.
"Huh siapa yang berani menikung ku," ucapnya kesal.
"Awas saja!" ancamnya sambil menjotos guling di depannya.
Si Samsul terus berbicara sendiri memikirkan orang yang telah merebut hati si Emely darinya.
Kembali ke kami berlima yang sekarang sudah berkumpul untuk berdiskusi. Diskusi kali ini tentang limbah cair dan cara pengolahannya.
Berikut ini adalah materi yang disampaikan bang Kris pada kami semua :
Limbah cair adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, perdagangan, perkantoran, industri maupun tempat-tempat umum lainnya yang biasanya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan hidup. Limbah cair terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan, terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.
Setelah kami semua mengetahui apa itu limbah cair, Bang Kris lalu lanjut menjelaskan indikator limbah cair berdasarkan karakter fisiknya. Indikator tersebut adalah padatan , keruhan, bau, dan suhu.
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 68 tahun 2016 tentang Baku Mutu Limbah Domestik, terdapat beberapa parameter fisika dan kimia dalam air limbah yaitu: pH (tingkat keasaman); Biochemical Oxygen Demand (BOD); Chemical Oxygen Demand (COD); Dissolved Oxygen (DO); TSS; TDS; Minyak dan Lemak; Amoniak; serta Suhu.
"Untuk sejauh ini ada yang ingin ditanyakan?" tanya Bang Kris pada kami semua.
"Bang Kris aku ingin tau bagaimana pengolahan limbah cair yang benar agar tak mencemari lingkungan?' tanyaku sambil mengangkat tangan.
"Baiklah," ucapnya. Lalu Bang Kris mulai melanjutkan penjelasannya.
"Pengolahan limbah sendiri adalah usaha untuk mengurangi atau menstabilkan zat-zat pencemar sehingga saat dibuang tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan. Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi kandungan bahan pencemar terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme alami. pengolahan limbah cair yang benar adalah melalui proses terlebih dahulu sebelum limbah di lepaskan ke sungai," jelasnya panjang lebar.
"Oh begitu Bang Kris, terimakasih atas penjelasannya." ucap ku sambil mengangguk mengerti.
"Sama-sama Lam," balasnya.
"Baiklah sampai disini saja penjelasan kali ini kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya." Bang Kris mengakhiri diskusinya hari ini.
"Baik Bang," seru kami semua.
Bang Kris telah menyelesaikan diskusinya hari ini. Oh iya jika kalian ingin mengetahui lebih dalam tentang istilah tersebut, kalian bisa menanyakan itu semua pada Mbah kita yakni mbah google ya. Sebab jika ikut dijelaskan akan sangat panjang episode ini nanti.
Saat ini kami berlima sudah keluar ruangan. Tiba-tiba saja diriku di panggil oleh Emely. Ia memanggil ku setelah keluar juga dari ruangan UKM.
"Alam...," panggilnya.
Aku pun menengok ke arah Emely yang tidak jauh di belakang ku.
"Bisa bicara sebentar," kata si Emely.
"Kanca-kanca aku di celuk Emely sedela olih (teman-teman aku di panggil Emely sebentar boleh)," izin ku pada lainnya. Aku memutuskan untuk izin pada teman-teman sebab aku takut mereka bakal salah paham lagi.
"Ya wis nganah (ya sudah sana)," ucap si Frank mengizinkan.
"Iya lunga bae, aku enteni ko ning parkiran (iya pergi saja, aku tungguin kamu di parkiran)," ujar si Budi.
"Ya wis suwun Bud lan liyane, aku pamit sit (ya sudah makasih Bud dan lainnya, aku pamit dulu)," ucapku lalu berpamitan pada lainnya.
Aku lalu pergi mengikuti Emely. Kami berdua berhenti di gudang belakang. Tempat dimana sebelumnya Emely dan si Samsul putus.
__ADS_1
"Emely ada apa?" tanyaku.
"ALAM AKU SUKA DENGANMU," ucapnya langsung yang membuat ku terkejut.
"Apa??" sontak aku terkejut dengan pengakuan cintanya. "Tapi maaf Mely aku belum mau pacaran aku mau fokus belajar dan melindungi Bumi ini dulu," tolak ku setelah itu.
"Oh begitu," ucap lirih si Emely yang kecewa.
"Maaf ya Mely," ucapku."Kalau begitu aku lunga sit," pamitku setelah itu.
Aku pun pergi meninggalkan Emely sendirian disana. Setelah kepergian ku, si Emely sangat kesal dan kecewa karena telah ditolak olehku.
"Sial si Alam menolak ku," ucap si Emely kesal.
"Tau begini aku gak bakal putus sama Samsul," ucapnya lagi. Dirinya merasa menyesal karena telah memutuskan si Samsul.
"Huh aku mau balik sama si Samsul tapi gengsi," pikir si Emely. "Au ah," ucapnya lalu pergi meninggalkan area.
...🏵️🌼🏵️🌼🏵️🌼...
Jam 4 sore aku dan Budi sudah sampai di Kos-Kosan Cempaka. Aku turun dari motor si Budi, sedangkan Budi memarkirkan motornya di depan rumah. Lalu tiba-tiba si Budi bertanya padaku sebab dirinya melihat seseorang yang sedang berdiri di depan kamarku.
"Lam kae sapa ya sing ngayer ngayer ning ngarep kamarmu (Lam itu siapa ya yang berdiri tepat di depan kamarmu)?" tanyanya sambil melirik ke arah kamarku.
"Mbuh Bud tapi perawaka ne kayong ra asing (gak tau Bud tapi perawakannya kata gak asing)," jawabku sambil memperhatikan tubuh orang itu.
"Hualah Bapakku Bud," ucapku setelah menyadari kalau itu ternyata Bapakku.
"Bapak mu." ucapnya terkejut, "set set aku melu nyapa (tunggu tunggu aku ikut menyapa)," katanya sambil mengambil kunci motor.
Kami berdua pun menghampiri seseorang yang tengah berdiri di depan kamar ku. Dia tak lain adalah Bapakku.
"Bapak...," panggilku.
Seseorang itu menengok, "Anakku akhire balik juga (anakku akhirnya pulang juga)," katanya senang.
"Iya Pak ana apa tumben mengrene (iya pak ada apa tumben kesini)?" tanyaku.
"Kiye aku di prentah ibumu kon jujug sepeda mu sing anyar. Jere Ibumu sepedamu bodol (ini aku di suruh Ibumu supaya ngantar sepeda mu yang baru. Kata Ibumu sepedamu rusak)," jawabnya.
"Alah pit ayar ku kiye, kesuwun ya meng Ibu (alah sepeda baru ku ini, makasih ya ke Ibu)," ucapku senang sambil mengecek bagian sepeda baruku.
"Deneng meng Ibu tok meng bapak ora. Mbok iki tuku nganggo duwite bapak (kok ke Ibu saja ke bapak enggak. Kan ini yang beli pake uangnya bapak)," protesnya.
"Iya iya Bapakku emang sing terbaik," ucapku sambil mangut-mangut.
"Lam iki Bapakmu apa?" tanya Budi yang sedari tadi memperhatikan kami berdua. Dia bertanya untuk memastikan.
Aku mengangguk untuk menjawab tebakannya si Budi.
"Kuwe sapa Lam (itu siapa Lam)?" tanya Bapakku padaku.
"Batir (teman) ku Pak," jawabku sambil merangkul si Budi.
"Aku Budi, kanca ne Alam. Jenengku Budi Utomo (aku Budi, temennya Alam. Namaku Budi Utomo)," kata Budi memperkenalkan diri sambil menyalami Bapakku.
"Ooh bocah Jibarang sing ko cerita ya Lam (ooh anak Ajibarang yang kamu ceritain ya Lam)," tebak Bapakku sambil melirik ke arahku saat menyalami Budi.
"Iya Pak," jawabku mengangguk.
"Nama ne apik Budi Utomo, Budi pekerti sing utama ya (namanya bagus Budi Utomo, Budi pekerti yang utama ya)," puji Bapakku padanya.
"Hehe Bapake Alam bisa ae," kata si Budi malu sambil menggaruk-garuk pelan kepalanya.
Ya begitulah Bapakku. Bapakku ini bernama Waluyo Setiawan.Waluyo berarti selamat dan setia pada kawan. Perawakannya gagah makanya diriku ini gagah dan tampan juga. Pekerjaan Bapakku setiap harinya adalah memancing dan menggarap sawah milik nenekku.
"Pak Ibu ra melu (Pak Ibu gak ikut)," protes ku tiba-tiba.
"Ora Ibumu lagi ada gawean ning balai desa (enggak Ibumu lagi ada kegiatan di Balai Desa)," jawabnya. Ya Ibuku ini juga salah seorang yang aktif di desaku.
"Oh lah Bapak gawa pit ku piwe (oh lah Bapak bawa sepeda ku gimana)?" tanyaku lagi.
"Ko ra weruh truk pick up mejejer ning ngarep (kamu gak lihat truk pick up terparkir di depan)," jawab Bapakku sambil menunjuk mobil yang terparkir di depan pintu Kos-Kosan.
"Ah kayane truk pick putih lam sing ning ngarep miki (ah mungkin truk pick up putih Lam yang di depan tadi)," tebak si Budi.
"Iya bener Bud, aku nyilih truk e kang Badri (iya benar Bud, aku minjem truknya kang Badri)," kata Bapakku membenarkan.
"Oh kaya kuwe. Ya wis hayu mlebu Pak (oh begitu. Ya sudah ayo masuk Pak)," tawarku pada Bapak.
"Ra usah Lam wis sep. Bapak ana lomba mancing (gak usah Lam dah sore. Bapak ada lomba mancing)," tolak Bapakku. Dan satu lagi Bapakku ini adalah seorang pemenang sejati lomba mancing.
"Ning (di) Embung?" tanyaku menebak. Embung adalah nama tempat pemancingan di Desa ku.
"Udu tapi ning Jembatan Gantung Ajibarang (bukan tapi di Jembatan Gantung Ajibarang)," jawabnya. "Yah hp ne bapak nggo ko, jere hp mu ilang juga (yah hp milik bapak buat mu, katanya hp mu hilang juga). Bapakku lalu memberikan hp miliknya padaku. Ya soalnya selama hp ku hilang, aku selalu memberikan kabar dengan meminjam hp milik Bu Las.
"Lah Bapak kepriwe (gimana)?" tanyaku khawatir. Aku merasa ragu untuk menerima hp pemberian Bapakku.
"Bapak esih duwe hp Nokia. Bapak tah wong tua kur perlu nggo nelpon karo SMS iki, ra kaya cah enom sing akeh tugas (bapak masih punya hp Nokia. Bapak tah orang tua cuma perlu buat nelpon sama SMS aja, gak kaya anak muda yang banyak tugas)," jawabnya.
Oh... ya suwun temen pak (oh... ya makasih banget pak), ucapku sangat berterimakasih pada bapakku
"Ya wis bapak pamit," katanya. Aku dan Budi lalu menyalaminya.
"Iya pak ati-ati," ucapku setelah mencium tangannya.
Bapakku yang sudah berjalan pergi tiba-tiba saja kembali lagi. Rupanya ada sesuatu yang tertinggal.
"Eh Lam kuwi ning stang pit ana kresek, isine wajik kletik nggo ko sekang ibu (eh Lam itu di stang sepeda ada plastik, isinya wajik kletik buat mu dari ibu)," pesannya.
"Alah kesuwun Pak, wis repot-repot (alah makasih Pak, dah repot-repot)," ucapku kembali.
Setelah kepergian bapakku aku melihat lihat sepeda baruku. Warnanya hitam merah dan sangat keren. Aku pun berpikir untuk memberikan nama padanya. Onal ya itu cocok untuknya.Ya karena Onel telah tiada, maka onal saudaranya datang.
"Lam kowe jenengi pit mu ONAL (Lam kamu namai sepedamu ONAL?)" tanyanya terkejut. Si Budi jadi makin heran dengan tingkah aneh ku ini.
"Iya dadi ngapa? Kan siki Onel wis di kubur ngarep umah wis di kurungi terpal (iya terus kenapa? Kan sekarang Onel dah di kubur depan rumah dah di bungkus terpal)," jawabku sambil menunjuk Onel yang sudah tertutup terpal.
"Ya golet jeneng sing apik toh. Kaya aku ya jenengi pit ku Rider, keren kaya pembalap (ya cari nama yang bagus lah. Seperti ku ya namai sepedaku Rider, keren kaya pembalap)," kata si Budi bangga.
"Endi si Rider? Onal rep kenalan jerene (mana Rider? Onal mau kenalan katanya)," ujarku.
"Sit (tunggu)," katanya.
Beberapa menit si Budi kembali dengan membawa si reader sepedanya.
"Kiye Lam, hayu kenalan karo Rider Nal (ini Lam, ayo kenalan sama Rider Nal)," ujar si Budi.
Aku lalu memainkan setang sepeda ku seolah-olah sepedaku yang sedang berbicara.
"Halo reader salam kenal aku Onal pengganti ne Onel," kataku.
"Salam kenal Onal moga kita dadi kanca apik ya (salam kenal Onal, moga kita jadi teman baik ya)," balas si Budi yang sama menggerak sepedanya seperti diriku.
Kami terus seperti itu hingga ada beberapa orang yang lewat dan melihati tingkah kami. Mereka yang lewat menggeleng-geleng heran pada kami. Bahkan diantara mereka ada yang mengatai kami gila.
"Dasar gendeng (gila) kurangen kerjaan," kata seseorang yang lewat sambil geleng-geleng.
Setelah mendengar kata itu kami tertawa bersama hingga perut kami berdua sakit.
__ADS_1
Bersambung......💮🍄💮🍄💮