
Malam hari yang masih rame di alun-alun, jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. Kami berlima masih berada diarea pasar malam bersama Bang Kris dan Mba Lili. Ya kami jadi bergabung bersama mereka berdua setelah dari warung bakso tadi. Mba Lili mengajak kami semua menaiki wahana paling indah di pasar malam ini. Wahana itu adalah bianglala.
"Naik itu yo," ajaknya, "kita berpasangan Mba sama Bang Kris, Alam.... sama Sinta wae lah, Budi.... ya sama Clara, terus.... Frank...." Mba Lili, lanjut nya sambil menentukan pasangan untuk kami. Karena bingung dengan pasangan si Frank, Mba lili jadi berpikir dulu.
"Dah aku sendirian saja lah," potong Frank seketika.
"Hoo ya sudah ayo naik." Mba Lili mengiyakannya lalu mulai mengajak kami naik.
Putaran bianglala berhenti, pintu keranjang bianglala dibuka oleh petugas dan Bang Kris bersama Mba Lili masuk untuk naik duluan. Disusul aku dan Sinta, Budi dan Clara. Giliran saatnya untuk Frank yang masuk dan naik ke dalam keranjang bianglala. Tampak pintu belum tertutup, Pak petugas pun bertanya padanya kenapa sendirian sedangkan yang lain berpasangan.
"Hee Mas, kowe deneng dewekan? Endi pasangan mu? (hee Mas, kok sendirian? Mana pasangan mu?)" tanyanya.
"Iya aku ra keduman batir, wis lah tutup bae (iya kau gak kebagian kedapatan tema, dah lah tutup aja)," jawabnya sambil menyuruh untuk menutupnya saja.
"Ooo." Pak petugas hanya membulatkan bibir nya tanda mengerti. Dirinya segera menutup pintu keranjang bianglala, namun berhenti karena ternyata ada satu orang yang ingin naik juga. Seorang gadis dengan dress panjang masuk dengan cepat sambil menangis. Pak petugas nampak heran sambil menutup pintu keranjang dan menguncinya. Frank juga sedikit terkejut karena tiba-tiba ada seorang gadis yang duduk di depannya sambil menangis. Gadis tersebut tak tau kalo disitu ternyata ada orang lain selain dirinya. Dirinya tersadar setelah Frank bertanya padanya.
"Hem.... Mba kenapa ya kok nangis begitu ada masalah kah?" tanya Frank tampak sedikit ragu.
"Eh maaf Mas aku gak tau kalau ada orang selain diriku disini." Gadis itu terkejut melihat seseorang didalam selain dirinya. "Gak papa kok Mas cuma masalah hati saja," jawabnya sambil mengusap air matanya.
"Hoo habis diputusin ya," tebak Frank langsung.
Gadis itu mengangguk pelan tanda tebakan si Frank benar. "Mas sendirian disini?" tanyanya balik.
"Tadi iya tapi sekarang udah gak, 'kan ada kamu disini," candanya sambil tersenyum.
"Oh iya ya." Gadis itu mengangguk malu.
"Iya aku sendirian, jomblo sendiri aku, yang lainnya dapet pasangan, aku kagak," jawab Frank mengaku.
"Oh begitu." Gadis itu manggut-manggut seolah mengerti.
Sedangkan di sisi lain, aku tak sengaja melihat ke arah keranjang Frank, aku pun menjadi bingung karena dia tak sendirian disana. Ada seseorang lagi yang menemani nya. "Sin Sin, kowe liat si Frank kae karo sapa ya? (Sin Sin, kamu liat si Frank itu sama siapa ya?)" Untuk memastikannya aku bertanya pada Sinta tentang perihal itu.
"Mana Lam aku ra weruh (mana Lam aku gak liat)," kata Sinta sambil melongok ke keranjang si Frank. Pantas lah si Sinta tak melihatnya ternyata gadis itu sedang menunduk membenarkan tali sepatunya yang lepas.
Dan kebetulan sekali aku yang melihat kembali ke arah Frank sudah tak mendapati gadis itu. Aku pun berpikir mungkin diriku yang salah lihat. "Ah masa sih tadi perasaan ada seseorang masa iya itu setan. Ih kok aku jadi merinding ya." Aku bergidik sendiri lalu duduk kembali.
"Kowe (kamu) kenapa Lam?" tanya Sinta heran dengan tingkah ku.
"Gak papa Sin cuma rada dingin aja ya," jawabku berbohong.
"OOO." Sinta hanya membulatkan bibir nya saja.
Mba Lili dan Bang Kris sangat menikmati bianglala yang dinaiki nya. Ditambah sinar rembulan yang menerangi dua sejoli itu pas berhenti ditengah-tengah. "Rembulan nya cantik ya Kris," kata Mba Lili sambil menunjuk sang rembulan.
"Iya cantik kaya kamu." Tanpa sadar Bang Kris malah memuji dirinya.
"Apaan sih Kris." Mba Lili yang tersadar langsung berekspresi malu sambil menutup mukanya.
Malam semakin berlarut. Sinar rembulan menerangi mereka semua yang ada di bianglala. Bang Kris dan mba Lili yang saling menggoda. Budi dan Clara yang saling berdebat. Aku dan Sinta yang biasa saja dan cuma aku yang merasakan senang. Ada juga Frank yang sedang berbicara dengan wanita asing yang ditemuinya.
...🌸💮🌸💮🌸💮...
Rembulan yang terang kini menghilang dan berganti dengan sinar mentari pagi yang hangat. Aku dan Budi sudah datang dan berkumpul kembali di ruang UKM. Saat aku tiba, Frank tampak sedang melamun sambil senyum-senyum sendiri. Dirinya masih mengingat momen kemarin malam bersama sang gadis yang tak tau namanya itu. Mengingat wajah nya, matanya, hidung nya semuanya ia ingat dan mengagumi kecantikannya. Dan sangat disayangkan gadis tersebut harus putus dengan seorang laki-laki yang Frank sendiri mengenal nya.
Flash back malam itu....
"Kau kenapa menangis tadi? Kau bilang kau diputusin. siapa yang berani mutusin gadis secantik dirimu?" tanya Frank bertubi-tubi karena penasaran.
"Itu itu hiks.... Dia dia sudah tak menginginkan ku lagi, dia dia menganggap ku hanya sebagai mainan nya saja," jawab gadis itu sambil terisak.
"Kurang ngajar sapa itu orangnya jahat sekali." Mendengar itu Frank langsung naik darah dan membuat gadis itu terkejut.
"Eh maaf aku erosi," ucap Frank sambil menggaruk kepalanya dan menyeringai.
"Emosi ka," kata gadis itu membenarkan ucapannya.
"Iya itu, siapa dia kayak apa ja ne orang yang tega menyiakan gadis cantik sepertimu ini?" ujarnya kesal.
"Namanya Badrul ka aku taunya dia itu mahasiswa Unsoed," tuturnya.
"Hoo dasar, si Badrul ternyata, kasihan sekali kau harus bertemu cowok modelan begitu. Kamu harusnya jangan percaya dengan rayuan nya dia, ujungnya malah akan mempermainkan dirimu seperti ini, 'kan." Mendadak Frank lebih marah lagi setelah mengetahui orang yang telah membuat gadis itu bersedih. Dirinya lalu memberikan nasehat padanya. Tapi apa yang terjadi? Gadis itu malah semakin sedih dibuatnya.
"Huwaaa aku sungguh bodoh ka...." Bianglala berhenti, pintu terbuka. Dengan cepat gadis itu turun sambil terus menangis. Frank hanya bisa menatap kepergiannya saja. Dia berpikir dirinya salah ucap makanya langsung pergi begitu saja. "Apa aku salah ya?" pikir nya. Tapi senyuman gadis itu berhasil membuat nya tersepona eh terpesona maksudnya.
Flash back selesai....
"Ngalamun wae mikiri apa sih Frank?" tanya ku yang sudah curiga padanya.
"Cengar-cengir dewek maning kaya wong stres (cengar-cengir sendiri lagi udah kaya orang stres)," timpal Budi mengejek.
"Hem ora ana apa-apa," jawabnya santai sambil tersenyum.
"Ckk lah laga (gaya) mu mencurigakan," kata ku tak percaya.
"Haish udah lah aku cerita wae, aku kuwi kemarin pas di bianglala aku ra sengaja ketemu cewek." Frank menyerah dan akhirnya bercerita.
"Masa, perasaan aku liat kowe ngejomblo nang jero bianglala," ucapku tak percaya.
__ADS_1
"Ada cewek tau, dia cantik tapi sayang dia habis di putusin," katanya.
"Tapi pas mandeg kowe metu dewekan langka wong liya, Frank (tapi pas berhenti kamu keluar sendirian gak ada orang lain, Frank)," tambah ku lagi.
"Iya lombo ya kowe (iya bohong ya kamu)." Yang lainnya juga tak mempercayainya.
"Ish temenan kebetulan cewek ne wis melayu disitan (ish beneran kebetulan ceweknya dah lari duluan)," kata si Frank menyakinkan.
"Loh kok bisa?" tanya Sinta penasaran.
"Haa wedi karo ko ya mulane melayu (haa takut sama kamu ya makanya lari)," tebak Budi sambil meledek.
Kami berempat tertawa senang setelah meledek si Frank. Tak lama para senior dan pak Ali masuk. Dibelakang Pak Ali ada seorang gadis yang menunduk malu.
"Selamat pagi para junior ku!" Bang Kris dan Mba Lili menyapa, sedangkan senior lain pergi ke tempat duduk yang kosong di dekat kami.
"Pagi mahasiswa tercinta ku!" Pak Ali juga ikut menyapa kami semua.
"Pagi juga ka Kris dan semua." Mereka mengangkat tanda membalas sapaan kami kembali.
"Pagi juga Pak Ali!" sapa kami padanya juga.
"Dia.... siapa pak?" tanya ku penasaran sambil menunjuk gadis yang berada dibelakang Pak Ali.
"Oh Sintya," celetuknya, "ayo kemari kenalkan dirimu," ajak Pak Ali padanya.
"Dia anggota baru kalian mahasiswa pendatang baru dari Solo," jelas Pak Ali menjawab pertanyaan ku tadi.
Frank yang sedari tadi kesal karena diledek oleh kami, mulai mengangkat wajahnya ke depan. Dan tak diduga dirinya langsung menyeringai senang karena gadis itu adalah gadis kemarin malam.
"Haa dia...." Sintya juga terkejut setelah mata mereka saling bertemu. Dia astaga malu sekali diriku," batinnya lalu langsung menunduk kembali.
"Kenapa Frank melongo begitu, kowe kenal?" tanyaku karena melihat ekspresi yang tak biasa darinya.
"Hush kae cewek yang kemarin ku temui," bisiknya.
"Dia? Wah cantik juga ya," kagum Budi pada gadis itu.
"Sintya, lho ko meneng wae, hayo perkenalkan dirimu," panggil Pak Ali yang tampak heran karena Sintya diam saja.
"Eh iya Pak Ali maaf," celetuknya terkejut.
"Halo semua, perkenalkan nama ku Sintya Bella dari Solo. Moga kita bisa berteman akrab disini. Terimakasih." Gadis itu lalu langsung memperkenalkan dirinya pada semua.
"Salam kenal dari kami semua Sintya," jawabku mewakili yang lain.
"Hai Sinta! Hai Clara!" jawabnya sambil menyeret kursinya lalu duduk.
"Aku Alam.... aku Budi aku Budi." Aku juga memperkenalkan diri ku yang langsung di terobos oleh si Budi yang tak sabaran.
"Haish biasa aja ngapa," kataku sebal. Gini nih kalau ketemu orang yang cantik pasti kumat penyakitnya.
"Hush Frank, diem diem wae kagak mau kenalan kamu sama kanca anyar," panggil Budi padanya.
"Hai aku Frank! Yang kemarin bersama mu." Frank memperkenalkan dirinya dengan dingin.
"Iya aku inget btw terimakasih ya," jawabnya tersenyum.
"Hemm." Frank hanya berdehem tapi didalam hatinya ia sangat senang karena gadis itu mengingatnya.
"De ini data kegiatan acara di UKM ini pahami baik-baik ya De." Mba Lili tiba-tiba datang sambil memberikan sebuah buku pada Sintya. Namun ada sesuatu yang membuat kami jadi terkejut. Yakni kata "de" yang membuat kami jadi berpikir.
"Baik Mba, oh ya Mba nanti pulang aku ke kos-kosan Mba ya," katanya sambil memberitahu hal lain.
Aku dan lainnya menatap mereka berdua seakan bingung dengan hubungan diantara keduanya.
"He'em." Aku berdehem, lalu sambung bertanya, "kalian berdua dah saling kenal kah?" tanya ku sambil menunjuk mereka berdua.
"Iya Sintya ini sepupu mba yang di Solo," jawab Mba Lili dengan senyuman.
"Weh ngomong-ngomong Solo, tetangganya Pak Jokowi ya." Si Budi tiba-tiba saja jadi teringat dengan kota asal presiden kita ini.
"Haish mentang-mentang dari solo gitu makanya tetangga Pak Jokowi belum tentu leh," sela Clara yang kesal.
"Bukan Bud, rumah Pak Jokowi masih jauh dari tempat asalku," tukas Sintya.
"Oh begitu, kirain hehe." Budi menggaruk kepalanya karena malu.
Sementara di basecamp tempat tongkrong Badrul and the gang. Mereka semua sedang berkumpul dan sedang berbicara santai seperti biasa.
"Bos pacar bos yang sapa itu dah diputusin kah?" tanya Made seketika penasaran.
"Hayya pacar bos banyak ma, yang mana itu?" kata Ling-Ling menyela.
"Haish yang rambut hitam panjang itu yang manis kaya aku," jelas Made.
"Dih," desis Ling-Ling sambil memutar bola matanya kesal.
"Oo itu iya dah putus kemarin malam," jawab Badrul enteng.
__ADS_1
"Alamak perasaan baru seminggu kan ya," kata Domu yang terkejut.
"Emang kenapa? Gak boleh?" tanya Badrul ketus
"Hoo boleh kok, boleh," jawab Domu sambil melanjutkan game nya.
...🪴🌵🪴🌵🪴🌵...
Dan kini di area belakang kampus, tampak Sintya tak sengaja berpapasan dengan Badrul disana. Sintya pun menghampiri Badrul dan menanyakan alasan dirinya diputusin.
"Drul Drul, tunggu tunggu," teriak Sintya memanggil.
"Sintya? Kok bisa disini?" Kaget Badrul setelah melihat siapa yang memanggilnya. Badrul berhenti begitu pula Sintya yang langsung menjawab pertanyaan nya.
"Aku mahasiswa baru dan baru datang pagi ini," jawabnya sambil sedikit ngos-ngosan.
"Hoo begitu ya sudah betah betah di sini ya." Badrul kembali berjalan namun langkah nya dihentikan kembali oleh Sintya
"Et tunggu Drul, aku mau tau kenapa kamu mutusin aku kemarin malam?" Cegah Sintya langsung bertanya.
"Haish aku dah bosan sama dirimu sudah lupakan aja ya," jawab Badrul enteng lalu berjalan kembali.
"Tunggu dulu Drul," cegahnya lagi.
"Hee.... Badrul kurang ngajar." Frank yang kebetulan sedang berjalan menuju kantin, tak sengaja melihat Badrul dan lainnya bersama Sintya. Frank juga kebetulan mendengar semua obrolan mereka. Karena sudah tak tahan lagi, Frank pun mempercepat langkah kakinya dan langsung menonjok si Badrul sampai terluka di bagian sudut bibirnya.
"Macam mana pula kau Frank, datang main tonjok aja," marah domu sambil mendorong si Frank agar menjauh.
"Tuh Bos mu enak saja dia melukai hati seorang perempuan. Memang dia pikir mainan apa yang mudah buat dimainin ha. Ckk laki-laki bajingan kamu Drul," ucap Frank penuh amarah.
"Frank jaga mulut mu ya, berani-beraninya mengatai bos kami," bela Made sambil menunjuk-nunjuk.
"Hust...." Badrul menyuruh temannya diam saja.
"Heh Frank jangan ikut campur lah, lagian aku sama Sintya juga udah selesai, kalau kau mau ambil saja sana," ujar Badrul enteng.
"Dasarr Kam-, jangan Frank." Frank yang marah hendak memukulnya kembali namun terhenti oleh Sintya yang menahan tangannya.
"Ckk sudahlah ayo guys cabut," decak Badrul songong lalu mengajak yang lainnya untuk pergi.
"Ayo Bos lest go!" seru yang lainnya. Mereka pergi sambil berbalik dan meledek Frank dengan tangan nya.
Badrul dan gengnya pergi meninggalkan Frank dan Sintya yang masih diam disitu sambil menatap kepergian mereka. Frank menatap tajam ke arah belakang Badrul rasanya dia belum puas untuk memukulnya kembali.
"Frank, kamu tak apa?" tanya Sintya memastikan.
Frank terkejut lalu menoleh kearahnya dan menggeleng, "kau sendiri bagaimana?" tanyanya balik.
"Aku baik, terimakasih ya sudah membela ku tadi," jawabnya tersenyum.
Frank membalas senyumannya, "sama-sama. Kalo begitu aku pamit dulu yang lain sudah menunggu ku di kantin," ujarnya.
"Hemm." Sintya mengangguk.
"Eh kamu boleh ikut jika tak keberatan Tya," tawar Frank sebelum dirinya benar-benar pergi.
"Lain kali saja," tolaknya sopan.
"Baiklah, sampai ketemu lagi." Frank mengerti lalu pamit pergi.
Di kantin aku dan lainnya sedang menunggu kedatangan si Frank. Dia pamitan ke kamar mandi daritadi tapi menunggunya seabad. Bahkan Budi saja sudah habis dua mangkuk bakso, tapi belum juga kelihatan.
"Ckk si Frank kok suwe temen, meng kamar mandi pa meng luar angkasa ngabade (ckk si Frank kok lama banget, ke kamar mandi apa ke luar angkasa, ngabad nya)," ujar ku yang merasa kesal.
"Embuh koh (entahlah)," timpal Budi sambil mengangkat bahunya.
"Eh kae deneng (eh itu dia)", kata Sinta memberitahu.
"Hee Frank deneng ngabad (hee Frank kok lama)?" tanyaku langsung.
Si Frank yang ditanyai malah asyik dunianya sendiri, senyum-senyum kagak jelas. "Woi kena sawang ya ko, cengar-cengir dewek (woi kesambet ya kamu, cengar-cengir sendiri)," teriak Sinta padanya.
"Haish ada deh tapi yang jelas aku waras ya," tukasnya.
"Dah ayo pesen, durung (belum) pesen mbok (kan)," tawar Frank pada kita-kita.
Wis wareg, deleng si Budi be tepar, kewaregen (dah kenyang, lihat si Budi sudah tepar, kekeyangan)," kataku sambil menunjuk Budi yang menyenderkan tubuhnya ke belakang.
"Haish padahal mau tak traktir," kata Frank memancing.
Mendengar kata traktir, si Budi langsung bangun dan duduk tegak. "Traktir? Boleh tuh."
"Ckk kata kenyang denger kata traktir langsung mencicil, perut pa karung beras kencot bae," sindir Clara padanya.
"Asal cilik wae ra dadi masalah (asal kecil terus tidak jadi masalah)," kata Budi sambil memegangi perutnya.
Kami pun setuju untuk membeli beberapa makanan lagi, kata si Frank ini sebagai gantinya karena terlambat datang. Kami semua makan sampai kekenyangan kembali. Dan pada akhirnya jam menunjukkan pukul 3 sore barulah kami beranjak dari kantin lalu menuju masjid kampus untuk sholat ashar berjamaah.
Bersambung....🌻🌻🌻
__ADS_1